A Great Story Comes With Great Stupidity

Sebuah petualangan dan perkenalan

“Permisi, bang. Bisa tolong ajarin saya main bicep tricep, gak?” tanya seorang pemuda berbadan tegap, kulitnya coklat mengkilap karena basah oleh keringat, poninya yang panjang hampir menutupi matanya yang memakai kacamata berframe kotak. Aura wibunya kuat sekali.

Malam itu gue lagi gym seperti biasa bersama temen gue, Yassa. Mendapat pertanyaan seperti itu, gue menghentikan aktifitas gue, yang tadinya mau minum, jadi pengen mukul pemuda itu. DIA INI GAK SALAH ORANG UNTUK MINTA TOLONG APA GIMANA YA?

Ada beberapa alasan yang bikin gue bingung. Pertama, secara fisik, badan dia lebih gede daripada gue. Kedua, gue nge-gym juga levelnya masih pemula banget, bukan hal yang tepat deh kalo gue ngajarin orang. Ketiga, gue nge-gym modal nekat dan nonton video dari tiktok.

“Gak salah nih minta ajarin ke saya?” gue berusaha menolak.

“Iya, bang. Beneran. Saya gak tau gerakannya main bicep tricep.”

“Kayaknya aku pernah liat deh kamu main tricep pake cable di ujung sana?” selidik gue.

Mari flashback sebentar.

Gue pertama kali ngeliat dia di gym itu di bulan April. Saat itu dia datang langsung lari di treadmill selama 20 menit, lalu main hamstring curl, kemudian leg press beban 100kg. Melihat penampilan luarnya, first impression gue: dia adalah monster. Seorang korban bullying dan ingin memperkuat diri dengan latihan keras di gym untuk membantai para pembully-nya. Mirip arc balas dendam main character di anime.

ORANG GILA MANA YANG AWAL GYM LANGSUNG LEG DAY COBA?! BETISNYA GEDE COY KAYAK UBI UGANDA. PASTI DIA BUKAN PEMULA!!!

Beberapa kali jadwal latihan gue di gym sering berbarengan dengan kemunculan dia di gym. Bahkan bisa dibilang sering, tapi kami gak pernah saling bertegur sapa. Hingga akhirnya di awal bulan Agustus, dia tiba-tiba minta ajarin main bicep tricep.

HEY WALAUPUN KITA GAK KENAL DAN GAK TEGURAN BUKAN BERARTI SAYA GAK LIATIN ORANG LAIN DI GYM YA? ANDA CUKUP SERING TIBA-TIBA AMBIL DUMBBELL 10KG DAN LANGSUNG BICEP CURL, YA!

“Iya sih kemarin itu main tricep pake cable,” Balas pemuda tadi sambil nyengir. “tapi emang bener gerakannya itu?”

“Uhhh… kayaknya sih bener.” Balas gue-yang-gym-modal-nonton-gerakan-di tiktok. “Ini aku lagi jadwal leg day. Jadi kayaknya aku gak bisa deh ajarin kamu buat main bicep tricep.”

“Oh lagi main leg ya?” pemuda tadi malah sumringah, memamerkan deretan giginya yang rapi. “Aku gak jadi bicep tricep deh kalo gitu, main kaki aja.”

“….”

“Saya join leg day, ya?”

“….”

“OKE KITA LEG PRESS 200 KILOOOO.”

“….”

Ya, itulah awal perkenalan gue dengan Rifki. Sosok pemuda dengan aura wibu yang sangat kuat. Bahkan kontak whatsapp-nya gue simpan dengan nama Rifki Wibu.

Setelah kejadian tadi, kami jadi sering latihan bareng di gym. Dari yang gue latihan berdua dengan Yassa, sekarang ketambahan Rifki wibu. Jadwal latihan kami bikin berbarengan supaya bisa saling support untuk mengembangkan otot-otot kami yang lama tertidur pulas. Kami latihan mengangkat beban sampai failure dengan motivasi dikatain, “AYOOO SEGITU DOANG MASA GABISA? LEMAAAHHH.”

“NENEKKU BISA ANGKAT BEBAN LEBIH DARI KAMU, CUPUUUUHHHHH.”

“HIDUP JOK-“

Dari gym bareng, kami juga jadi sering nongkrong bareng bertiga. Dari situ lah kami mulai akrab satu sama lain. Suatu hari, tercetuslah sebuah ide yang cukup menarik: gimana kalo kita menggulingkan pemerintah.

Oke, bukan.

Gimana kalo kita nge-trip alias bepetualang bareng, menyatu dengan alam dan pergi dari hiruk pikuk kota sejenak.

Ide ini muncul setelah gue melihat feeds Instagram Rifki sering jalan-jalan menjelajahi alam. Ada yang ke air terjun, ada yang ke gunung, ada juga ke penangkaran rusa. Pokoknya ijo-ijo banget. Sebagai budak korporat yang sehari-hari menatap layar komputer doang, tentunya gue juga pengen liat yang seger-seger nan ijo-ijo. Mengajak Rifki yang berstatus sebagai akamsi untuk berpetualang, berbekal pengalaman dan keahlian Rifki, harusnya akan jadi petualangan yang aman dan menyenangkan. Itu yang ada di pikiran gue.

.

.

.

“YOOOOG… RIFKI NGAMUK-NGAMUK DI ATAS SANA SAMBIL NENDANG-NENDANG MOTORNYA!!!” Yassa berteriak panik, sambil berlari menuruni bukit menuju arah gue yang sudah kelelahan di atas motor.

“HAH? SERIUSAN?” Gue segera turun dari motor, meninggalkan Yassa dan lari menaiki bukit, jalan terjal menanjak penuh dengan bebatuan membuat langkah gue makin berat. “KIIII??? ARE YOU OKAY???”

Gue melihat Rifki hanya diam, tidak menjawab pertanyaan gue. Dia masih berusaha memaju mundurkan motornya dengan kasar. Usahanya tampak sia-sia, motornya tetap tidak bergeming di antara bebatuan dan tanah liat.

“Aku belum pernah liat Rifki sengamuk itu selama kenal dia.” Ujar Yassa pelan di samping gue, sambil berusaha mengatur nafasnya. “Dia kayak orang kesurupan. Tadi semua kata-kata kasar diucapin. ****, ******, lalu ********.”

“seriusan Rifki bilang ******?”

“Iya, Yog.”

“lalu ***** juga?”

“Iya, Yog. Paraaaah pokoknya.”

“Astaghfirullah. Kacau sih.”

Orang di sebelah gue adalah Yassa.

Kebetulan dia adalah tetangga sebelah kost gue. Perkenalan gue dengan Yassa terjadi di bulan Juni. Saat itu gue pulang kerja dan lagi menuju kamar kost, tiba-tiba ada sosok pemuda memakai kaos kutang dengan celana  bahan sedang menyapu teras kamar kost yang selama ini tampak kosong. Iya, tampak kosong karena tiap kali gue pergi kerja, orangnya sudah pergi kerja duluan. Pas gue pulang, orangnya belum pulang. NAMUN KALI INI DIA PULANG LEBIH DULU SODARA-SODARAAA….

Gue melewati kamar kost dia sambil menegur sekenanya, “Mas. Ehe.”

“Iya, Mas. Ehe.”

Oke, sepertinya kita sama-sama introvert. Canggung abis. Gue segera mengeluarkan kunci kamar dan baru aja mulai mengarahkan ke lubang kunci, tiba-tiba ada suara dari belakang gue.

“Mas…”

Gue noleh, di belakang gue ada pemuda tadi menyodorkan kartu namanya dengan tangan kanannya, tangan kirinya masih memegang sapu. Gue segera mengambil kartu nama yang dia sodorkan, karena gue takut digebuk pake sapu.

“Saya Yassa, Mas.”

“Oh iya, saya Yoga, Mas.” Jawab gue sambil melihat kartu nama yang dia kasih. Dari situ gue tau ternyata dia kerja di bank.

“Sudah lama ngekost di sini, Mas? Kok saya baru liat.”

“Lumayan sih, saya dari bulan November tahun lalu. Lagi mutasi kena penempatan di Penajam ini. Saya aslinya dari Balikpapan.”

“Wah lama juga tuh, saya baru dari bulan April kemarin.” Kata si Yassa, “Saya juga mutasi dari kantor, kena penempatan di Penajam juga. Aslinya dari Samarinda.”

Sebagai orang yang jarang basa-basi dan punggung gue sudah meronta-ronta ingin rebahan, gue sejujurnya ingin percakapan ini cepat selesai, tapi mulut ini malah melanjutkan, “Wah sama dong.”

Untungnya Yassa tidak melanjutkan dengan, “Jangan-jangan kita…”

Horror abis.

“Bentar deh,” kata gue, “Kayaknya aku pernah liat kamu di tempat gym. Apa mirip doang ya?”

“Gym yang di atas sana?” Yassa menunjuk arah luar gang dengan sapu di tangan kirinya, bulu keteknya kemana-mana. “Iya, kemarin sempat main di sana. Kok aku gak liat kamu?”

“Kayaknya pas aku udah selesai latihan, kamu baru datang tuh tolah-toleh nyari alat.”

“Iya, pas aku datang, penuh banget tuh. Sampe bingung mau main apa.”

“Aku biasa latihan jam 7, pulang jam 8. Kalo jam 7 masih sepi, kalo jam 8 tuh sudah rame, daripada antri alat, mending aku udahan dan pulang.”

“Entar malam gym gak?”

“Gym sih.”

“Join ya?”

“….”

Ya, itulah awal mula gue kenal dengan Yassa.

Rifki akhirnya mendatangi kami berdua. Wajahnya tertunduk lesu. Nafasnya tampak berat. “Ayo kita turun dulu, tinggalin aja motormu di atas, kita cari solusi bareng.” Kata gue. “Ini motornya Yassa juga stuck sih, tapi harusnya bisa dituntun ke bawah pelan-pelan.”

“Ayo kita ke Devi dulu. Sendirian tuh dia di bawah sana.” Ajak Yassa. “MBA DEEEEV… AMAN KAH DI BAWAH SANA???”

“Amaaaan…” Sayup-sayup suara Devi terdengar, bercampur dengan suara serangga khas dalam hutan, “Kalian makan siang dulu. Kita belum ada makan dari pagi lho.”

Ya, di sinilah kami berempat, pukul 12 siang, terjebak di dalam hutan dan gak tau harus apa.

Yang lebih horror: besok Senin.

 


(To be continued)

BANG ADA SEKUELNYA GAK???

Kayaknya ’hal random’ dan ‘Yoga’ adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan.

Hari Sabtu kemarin, gue kerja seperti biasanya. Karena di kantor lagi agak gabut, seperti para pekerja pada umumnya, kami berinisiatif membuka LinkedIn dan mulai mencari lowongan kerja.

Oke. Bercanda.

Gue membuka twitter untuk melihat ada pertikaian apalagi di timeline hari ini. Baru aja scroll dikit, tiba-tiba tab mention gue muncul sebuah notifikasi. Sebuah kejadian yang cukup langka terjadi di sini karena gue jarang banget nge-tweet, apalagi sampai ada yang mention.

Karena penasaran, gue klik tab mention dan mendapati sebuah mention yang cukup random tapi sukses membuat gue overthinking:

Sebentar. Tarik nafas. Hembuskan. Oke. Gue akan menanggapi pertanyaan dari Anto Boleng Underscore.

Biasanya, di usia gue yang sudah 29 tahun ini, pertanyaan yang sering muncul adalah: kapan nikah?

INI KENAPA NANYA APAKAH GAK KELUARIN BUKU LAGI? BUKU PERTAMA GUE ITU 10 TAHUN YANG LALU LHO, GAK USAH DITUNGGUIN SEKUELNYA. :’)

Random sekali…

Yaaaa memang sih film TOP GUN aja baru dapat sekuelnya yaitu TOP GUN: MAVERICKS setelah 36 tahun, tapi untuk kasus buku kedua gue, sebenernya ya jelas pengen nerbitin lagi, sialnya untuk saat ini kayaknya keadaannya tidak memungkinkan deh.

Jadi gini, pada tahun 2013, gue berhasil menerbitkan sebuah buku yang cukup menggemparkan toko buku, yaitu: Senior High Stress.

Buku itu bercerita tentang kejadian absurd, ngenes dan kesialan selama gue hidup sebagai anak SMA, di mana kejadiannya di tahun 2009-2012. Saat itu gue iseng menulis naskah buku itu di tahun 2012, setelah lulus SMA dan menunggu masuk kuliah.

Isengnya ya karena temen-temen gue pada kuliah di luar kota, sedangkan gue enggak. Untuk mengobati rasa kangen masa-masa SMA itulah gue iseng kumpulin beberapa tulisan di blog ini, lalu gue tambahkan beberapa cerita yang belum pernah di posting di sini, hingga akhirnya naskah itu selesai dan akan gue baca ulang kalo kangen. Bener-bener gak ada niat “Ini naskah harus tembus ke penerbit dan terbit di toko buku se-Indonesia raya! Lalu aku akan menguasai dunia hahahahaha!”

Gak ada. Bener-bener iseng. Gue kirim naskah pun ke satu penerbit doang.

Ajaibnya, naskah itu diterima dan terbit.

…And, the rest is history.


Temen-temen SMA gue yang kuliah di luar kota pada beli buku gue.

ini harus di-create ulang lalu dipakein hashtag #10YearsChallenge

Tiba-tiba diajak ketemuan sama wartawan untuk interview sebuah Koran.

Banyak yang tiba-tiba mention gue di twitter, katanya abis baca buku gue.

Ada yang komentar positif, ada yang negatif. Komentar positif bikin gue semangat untuk bikin buku lagi, sementara komentar negatif ya gue terima (karena memang benar wkwkwk) dan gue usahain untuk gak terjadi di buku selanjutnya.

Gue berusaha menulis lebih baik lagi, karena gue percaya, tulisan yang bagus itu adalah tulisan yang awalnya jelek. Semakin sering kita menulis, semakin mahir nantinya. Gue mencoba tetap konsisten menulis di blog sambil berusaha menguasai dunia membuat naskah baru saat itu.

Tapi pada perjalanannya, kayaknya gue sudah mengubur mimpi gue untuk punya buku kedua di tahun 2015. Saat itu gue ke toko buku dan rata-rata gue lihat, buku yang terbit adalah novel fiksi yang di-cover-nya ada tulisan “TELAH DIBACA SEKIAN JUTA KALI DI WATTPAD”.

Buku-buku lain yang bergenre sama kayak tulisan gue pun sudah dikuasai oleh selebtweet atau komika yang tentunya mereka diajak kerjasama oleh penerbit untuk menerbitkan buku.

Peran media sosial kayaknya bener-bener jadi penentu kalian bisa menerbitkan buku atau enggak. Seberapa meng-influence kalian di media sosial, berapa jumlah followers, seberapa menarik konten kalian kayaknya jadi gerbang utama untuk penerbit datang dan menawarkan untuk kerja sama.

Yaaa sepertinya balik lagi ke faktor bisnis perusahaan/penerbit. Dengan menerbitkan buku dari orang yang sudah ‘terkenal’ (misalnya dengan followers ratusan ribu/jutaan) atau karyanya sudah dikenal duluan (TELAH DIBACA SEKIAN JUTA KALI DI WATTPAD), penerbit gak perlu khawatir lagi bukunya gak laku di pasaran karena orang-orang tersebut suda punya basis massa-nya sendiri, kan?

Kayaknya sudah gak ada lagi penerbit waras yang mau ambil resiko dengan menerbitkan naskah orang random out of nowhere gak dikenal siapa pun. Kalo ada, infokan titik kordinat karena siapa tau gue bisa nerbitin di situ. Ehe.

Nah, apakah dengan followers banyak itu privilege? Bisa dibilang iya. Tapi gue sama sekali tidak iri. Mereka berhasil mem-branding dirinya sendiri, membangun relasi, sampai punya banyak followers, hal itu dilakukan dengan kerja keras dan konsisten, dan itu gak mudah, lho. Jadi, ya… ketika mereka diajak kerjasama oleh penerbit untuk menerbitkan buku ya itu bonus dari kerja keras mereka di awal tadi.

Selama fenomena buku-buku dari wattpad atau selebtweet itu menyerang toko buku, gue cuma berusaha konsisten menulis di blog. Tapi ya sambil tipis-tipis nyusun naskah, karena gue masih sedikit berharap bisa menerbitkan buku lagi, walaupun gue seperti yang bilang, tahun 2015 adalah akhir di mana keinginan gue menerbitkan buku lagi.

Di akhir tahun 2016, naskah gue selesai gue tulis. Gue inget banget nulis naskah itu barengan dengan nyusun skripsi. Jadi, pas gue stuck ngerjain skripsi, gue malah lanjut ngetik calon naskah.

Cerita-cerita dalam naskahnya pun lebih personal daripada Senior High Stress. Ketika naskah itu beres, gue malah bingung mau diapain nih? Mau kirim ke penerbit lagi entah kenapa gue ragu. Dari yang awalnya dulu berani kirim karena iseng, gue malah takut mengirim karena “tau” keadaan di luar sana belum berubah. Gue udah kayak orang yang pengen ngechat mantan buat ngajak balikan.

Akhirnya ya… enggak gue kirim.

Gue malah kirim ke Kresnoadi, temen seperjuangan gue ngeblog. Kami saling tukar naskah untuk di-review, karena kebetulan saat itu dia lagi bikin naskah juga. Beres dari Kresnoadi, gue mulai meng-edit naskah, menambah dan mengurangi beberapa kalimat hasil saran dari Kresnoadi. Setelah gue rasa selesai, gue kembali bingung bin ragu. INI NASKAH MAU GUE APAIN YA?!

Tahun 2017 gue sudah mulai kerja, kesibukan gue di dunia kerja perlahan mulai membuat gue meninggalkan dunia tulis menulis ini. Blog sudah hampir gak pernah gue update, naskah itu pun berakhir di mengendap di laptop gue.

Selain Kresnoadi, pacar gue, oiya mantan gue adalah orang yang pernah baca naskah itu. Respon dia saat itu malah suka baca cerita soal mantan gue. Entah emang suka ceritanya atau buat bahan berantem semisal gue lakuin kesalahan. Entahlah.

Sekarang, tahun 2023, 10 tahun buku gue terbit. Jujur, gue masih bangga dengan terbitnya buku itu, walaupun secara kualitas ya mungkin tidak terlalu bagus. Karena pada proses pembuatannya cuma iseng, tulisan gue masih amburadul khas curhatan anak SMA, komunikasi saat proses editing dari penerbit dan gue yang kurang maksimal dan tau-tau terbit, tapi ya itu tetap ‘anak’ gue.

Untuk naskah lama itu, calon ‘anak’ kedua gue, kadang gue buka untuk edit-edit kembali, supaya jokes-nya masih relate dengan zaman sekarang. Pas lagi ngedit itu, kadang gue pernah mikir, apa taruh di wattpad aja? Apa terbitin sendiri aja di penerbit indie? Apa gue fokus menguasai dunia aja, ya?

Sampai sekarang, gue gak tau harus ngapain.

Any idea?

 

 

---

Nb: Oiya, Kresnoadi akhirnya berhasil nerbitin buku juga di tahun 2023! Tentunya ini bukan naskah yang dia kirim ke gue untuk saling review waktu itu.



Selamat, ya!

Penerbit kita sama, lho. Bisa kali...

BERCYANDAAA~

 

How's Life?

Hai.

Ehe. Hehe…

Ummm… How’s life?

Ehehe.

Di tahun 2022 begini, masih ada gak sih yang nulis di blog? Kalo sudah enggak ada, ya kayaknya emang sudah bukan zamannya. Kalo masih ada, oke gue tambahin populasinya. Iya, sama-sama.

Terakhir kali gue update blog kayaknya tahun 2020, itu artinya sudah 2 tahun yang lalu. Dalam kurun waktu tersebut, banyak hal yang terjadi di kehidupan gue. Dari hal yang bikin bahagia kayak punya pacar, sampai hal yang bikin sedih kayak bapak gue meninggal dunia.

Bahas Komentar dan Tali Sepatu


Sebenarnya salah satu alasan kenapa tiba-tiba gue update blog lagi kemaren adalah karena ini.


(((SEMOGA DIA TENANG)))

Gue belum meninggal ya heyyyyy. Tolong jangan mengadi-ngadi!

Terus alasan lainnya adalah kayaknya gue baru sadar kalo menulis itu salah satu cara ‘pelarian’ gue untuk melepas stress di dunia nyata, ya walaupun yang gue tulis juga tidak penting. Seperti ada ‘beban’ yang lepas dari kepala gue setiap kali selesai nulis.

Tapi, kadang gue juga minder ketika mau ngetik postingan, lalu inget blog temen-temen yang lain isinya lebih berfaedah daripada tulisan gue. Kayak blognya Haw yang bahas teori fisika dikaitkan dengan kejadian di dunia nyata, blognya Adi dengan proyekan kerennya, blognya Yoga Sholihin dengan tulisan fiksinya, blognya Ichsan yang… sama sampahnya kayak gue wkwkwk. *toss*

Sebenernya pengen gitu nulis sesuatu yang berfaedah, yang menunjukkan kecerdasan dan bisa menambah ilmu pengetahuan serta berkepribadian luhur, tapi kok gak bisa. Jadi, yaudah kita bahas dikit komentar di postingan sebelumnya. (Gimana bridging-nya? Mantap, kan?)

Oke, kita mulai.

Balada Membeli Sepatu


ASTAGHFIRULLAH.

BENTAR. INI KOK TAU-TAU SUDAH BULAN APRIL SAJA HEY?!

Perasaan baru kemaren di akhir tahun 2019 udah wacanain bakal update di bulan Januari dengan opening klise, “Wah, gak kerasa gue sudah setahun gak update blog ini.” karena terakhir kali gue update blog itu bulan Januari 2019.

Kalo sudah bulan April gini kan gue jadi harus revisi opening-nya.

WAH, GAK KERASA GUE SUDAH SETAHUN EMPAT BULAN GAK UPDATE BLOG INI.

Mantap.

Ummmm… Bagaimana tahun 2020 sejauh ini?

Firasat


Seperti sebuah tradisi, para blogger murtad akan mulai ngeblog lagi di akhir tahun atau awal tahun baru. Iya, ini gue sedang melakukannya.

Tahun 2018 kemarin secara gak sadar gue vakum ngeblog. Semua tulisan yang gue ketik sesempatnya hanya berakhir di draft, gak ada yang gue posting. Dunia kerja bener-bener sudah mengambil alih waktu gue. Setiap kali pulang dari kantor, ketemu kasur, gue langsung tidur. Selemah itulah gue dengan kasur.

By the way, gara-gara teman kantor nyetel lagunya Marcell yang ‘Firasat’, gue jadi kepikiran buat nulis lagi. Bukan, tulisan kali ini bukan mau review lagu itu dalam bahasa Polandia, tapi pas bagian reff-nya ituloh yang bikin gue merasa berdosa sama blog ini karena  1 tahun tidak di-update.

“cepat pulang, cepat kembali jangan pergi lagi~”

Buat yang masa remajanya dihabiskan dengan mendengar lagu Young Lex, FYI aja, itu reff-nya. 

“Pospiesz sie, Popsiesz sie, nie odchodz~”

Nah, kalo itu versi bahasa Polandia, FYI aja.

Kombinasi mendengar lagu itu berulang-ulang dan inget terakhir kali gue nulis itu bulan Januari tahun lalu, lirik yang seharusnya romantis itu berubah menjadi,

“Cepat pulang, cepat kembali ayo ngeblog lagi~”

Jadi, yaudalah gue update tulisan ini. Selain itu gue juga mulai capek gara-gara sering ditanyain, “kapan update blog lagi?”

Bertemu Pemilik Blog Sarang Maksiat, Sesuatu Banget sob!

Sempet semangat ngeblog lagi di tahun 2016, pas masuk ke tahun 2017, eh kendor lagi. Tahun 2016 waktu itu emang gue bikin komitmen ke diri sendiri untuk nge-post seminggu sekali, jadi dalam sebulan ada 4 postingan. Hal ini ternyata gak bisa gue ulangi pas tahun 2017. Udah mirip kayak ngebet banget ngejar gebetan, pas sudah jadian, eh berasa enakan jomblo.

Salah satu faktor yang bikin semangat ngeblog gue membara di tahun 2016 mungkin karena gue secara gak sengaja membuat geng blogger Wahai Para Shohabat (WPS). Sebulan sekali kami membuat proyekan menulis, jadi setidaknya gue cuma mikirin 3 ide tulisan doang karena 1 ide dari proyekan ini.

Tahun 2017, WPS mulai vakum bikin proyekan karena kami sibuk.

Terima Kasih Tahun 2017!

Sudah lama enggak nulis di blog, sekarang gue bingung mau nulis apaan. Hehe. Oiya, siapa tau ada yang bingung kenapa blog ini sudah sebulan lebih gak di-update (dan sepertinya gak ada juga sih yang peduli tapi tetep aja gue jelasin buat panjangin tulisan), itu karena sebulan terakhir ini gue sudah mulai membangun Negara baru. 

Oke, becanda.

Gue sudah kerja dan… dunia kerja benar-benar mengambil alih waktu gue di dunia maya. Jadi, buat yang ngira gue lagi di penjara karena nabrak orang saat latihan menyetir mobil (karena postingan terakhir gue soal latihan nyetir), simpan kembali dugaan kalian. Gue sibuk beradaptasi dengan rutinitas baru ini.

Jadi, gue pergi kerja pukul 7 pagi karena letak kantor yang di pusat kota sedangkan rumah gue di pinggiran. Pulang kantor pukul 7 malam karena pulang pukul 5 sore adalah hal mustahil di unit gue. Sampai rumah gue langsung ngemil bodrex, meluk kasur, mengistirahatkan punggung yang lelah karena duduk seharian, gak lama gue ketiduran. Begitu kegiatan gue selama 5 hari kerja.

Hari Sabtu gue tetap masuk kerja, setengah hari sih. Tapi lagi-lagi pulang tepat waktu adalah mitos di unit gue. Gue baru bisa pulang pukul 2 siang. Biasanya tiap hari Sabtu sepulang kerja gue langsung pulang dan tidur untuk malam mingguan di malam harinya. Hari Minggu gue pake untuk tidur seharian yang tujuannya adalah mengisi ulang tenaga karena besoknya… sudah Senin lagi.

Wuuuuuussshhhhh!!!

...baca cerita sebelumnya di sini.

Kaki kiri gue angkat pelan-pelan dari pedal kopling, mobil mulai berjalan pelan, gue arahkan setir ke kanan. Baru aja mau injek gas…

MOBILNYA MATI!

MOBILNYA MATIIIII!!!

Tin… Tin… Tin…

Riuh rendah suara klakson mobil dan motor yang jalannya kembali terhalang oleh mobil gue terdengar makin menyeramkan.

Gue mau nangis.

“Ayo jangan panik. Coba injak kopling, terus nyalakan lagi mobilnya.” Kata om instruktur. 

Ya Allah... gue gak nyangka di balik wajahnya yang tampak tidak bersahabat, ternyata om instruktur ini punya sisi lembut juga, dia peduli sama gue. Untungnya gue masih normal dan gak suka om-om, kalo enggak, sudah gue peluk nih.

Oke. Fokus.

Kaki kiri gue menginjak kopling, tangan kanan gue memutar kunci ke kanan. Mobil kembali menyala.

“Lepas kopling setengah, sampai mobilnya bergetar, tahan.” Kata dia lagi. Seperti robot, gue turuti kalimat yang barusan gue dengar.

“Nah, sekarang lepas remnya pelan-pelan.”

Kaki kanan gue yang ada di pedal rem gue tarik pelan-pelan. Mobil pun berjalan lurus ke depan dengan pelan. Wow! Gue nyetir mobil, coy! Baru aja mau syukuran karena bisa jalanin mobil, tiba-tiba terdengar suara om instruktur, “SETIRNYA BALAS KE KANAN! CEPAT! KALO GAK KITA MASUK SELOKAN!!!”

Let's Drive!

Gue mirip dengan Sponge Bob.

Bukan, gue bukannya berbentuk kotak, berwarna kuning dan memiliki hewan peliharaan berupa keong racun. Tapi ini soal gue gak bisa nyetir mobil.


Sebenernya dari dulu gue sudah disuruh belajar nyetir, tapi saat itu gue punya prinsip kalo gue di masa depan bakal jadi koaya roaya, punya mobil banyak lengkap dengan supir pribadi, jadi… buat apa bisa nyetir?

Iya, gue emang gampar-able.

Selain soal prinsip tadi, yang bikin gue males belajar untuk nyetir adalah karena biaya kursus menyetir itu lumayan mahal. Kalo berusaha belajar secara gratisan alias minta ajarin temen, gue takut dia belum ikhlas kalo mobilnya terbelah menjadi 4 bagian saat gue pake latihan dan nabrak pohon.

Jadi, biarlah gue gak bisa nyetir.

Tahun pun silih berganti dan gue mulai ngerasa kok kayaknya gue kurang macho ya kalo gak bisa nyetir mobil? Apalagi temen-temen gue yang cewek juga mulai banyak yang bisa nyetir, masa gue sebagai cowok gak bisa nyetir sih? Masa gue disetirin sama cewek sih? Masa gue harus selalu pura-pura cedera hamstring tiap kali disetirin cewek sih? HARGA DIRI, BOS!

Barbershop Story - Sudah, Om. Sudah.


Gue kadang iri sama cewek. Bukan, ini bukan perkara mereka selalu bisa menganggap diri mereka selalu benar dan cowok selalu salah, atau selalu menjadikan PMS sebagai alasan untuk marah-marah ke cowok, atau juga soal mereka bisa dapet 1.7863.089 love di instagram hanya dengan nge-post foto selfie dilengkapi caption yang sama sekali gak nyambung dengan fotonya sedangkan cowok kalo nge-post foto selfie akan di-block massal.

Ini semua soal rambut.

Lebih tepatnya, soal salah potong rambut.

Menurut gue, ada ketidak adilan yang terjadi saat cewek dan cowok salah potong rambut. Cewek akan bertindak penuh drama dan penyesalan saat salah potong, seakan-akan salah potong rambut adalah sebuah akhir dari dunia, padahal mereka sehari-harinya… berhijab.

YAKAN GAK KELIATAN JUGA. HHHHH…

Kalo pun mereka sehari-harinya enggak berhijab, masih banyak model rambut pendek yang membuat mereka tetap tampak cantik.

Sekarang, mari bandingkan dengan cowok.

Maaf Untuk Keputusan Ini


Ada sebuah kalimat klise yang sering kita semua dengar: hidup adalah pilihan.

Mungkin banyak yang meremehkan atau menganggap kalimat itu hanya sebuah jargon semata, tapi sebenarnya jika kita telaah dan resapi dalam-dalam, kalimat itu benar adanya. Kalimat itu ada di setiap langkah kaki kita, dalam menghadapi hidup ini.

Dalam hidup ini tentunya kita sering banget terjebak dalam situasi yang membuat dilema. Kita harus memilih salah satu dari sekian banyak pilihan, untuk mencapai tujuan hidup kita. Dalam film Kingsman: The Golden Circle, Eggsy dan Merlin hanya akan berakhir dengan mabuk-mabukan jika Eggsy tidak melihat alamat Statesman di botol birnya dan pergi ke Kentucky untuk menyelamatkan dunia.

Begitupun dalam hidup gue. Sering kali gue dihadapkan dalam situasi yang di mana gue harus mengambil sebuah keputusan sulit. Sebuah keputusan yang mungkin dan bahkan masih gue sesali sampai sekarang.

Muncul di Koran

Bagi sebagian orang, bisa masuk koran itu merupakan suatu kebanggaan. Gue pun juga merasa begitu. Seperti ada kebahagiaan tersendiri ketika ada satu keinginan di dunia ini yang akhirnya bisa dicoret dari whistlist. Untungnya gue bukan anggota Kingsman, jadi peluang untuk masuk koran, masih terbuka.


Gue sudah pernah beberapa kali masuk koran. Bukan, ini masuk koran bukan karena melakukan aksi kriminal dan pelecehan seksual, tapi berupa sesuatu yang positif. 

Positif memakai narkoba. Ehe.

YA ENGGAKLAH!

Suatu kegiatan yang positif, membanggakan, layak diganjar piala adipura. Pokoknya yang masuk koran dan efeknya gak bikin jadi menambah aib keluarga lah.

Pengalaman pertama kali wajah gue nongol di koran itu di awal tahun 2012, pas gue kelas 12 SMA. Waktu itu kota Balikpapan lagi mau ulang tahun. Temen gue, Alip punya kenalan seorang wartawan. Berkat dialah wajah gue dan teman-teman se-geng gue sukses merusak mata mengisi di salah satu halaman Koran yang isinya ucapan dan harapan kami terhadap kota Balikpapan di ulang tahunnya.

Pilek Ini Membunuhku

Tiap pagi, cuaca di kota Balikpapan belakangan ini selalu turun hujan. Ini membuat hubungan gue dan kasur menjadi semakin sulit untuk dipisahkan. Enggak cukup sampai di situ, tiap bangun tidur juga hidung gue mendadak mampet, badan anget, kepala pusing. Iya, itu tandanya gue mau cedera hamstring.

YA ENGGAKLAH!

Tandanya gue mau pilek.

Memang cemen sih penyakit gue. Tapi biar cemen begitu, jangan pernah meremehkan penyakit pilek. Kita semua tau kalo pilek bisa menyebabkan hidung mampet, badan lemes dan kepala bernanah (ini kenapa jadi serem begini?). Kombinasi hidung mampet dan badan lemes itu tentunya bakal mengganggu kita dalam melaksanakan aktivitas sehari-hari. Entah kerja, kuliah atau merampok bank.

Gue pernah waktu itu lagi pilek parah. Ingus gue warnanya sampe ijo, kental, lengket, susah dibuang. Seakan-akan si ingus itu ngontrak di dalam hidung gue. Hidung berasa sudah penuh sama ingus, pas coba dikeluarin, eh gak ada ingusnya. Kalo pun ada, jumlahnya dikit banget. Bahkan lebih banyak janji-janji manis pacar dulu daripada ingus yang keluar. Gue pun jadi susah untuk bernafas. Karena belum mau mati karena cuma gara-gara sakit pilek, gue pun bernafas menggunakan… pori-pori. Ehe. YA PAKE MULUT LAH.

Makan, aja. Makan.

Kayaknya waktu berjalan cepat banget. Kemaren gue lagi ‘bersih-bersih’ laptop. Hapusin file-file yang gue rasa sudah gak penting karena menuh-menuhin memori. Mulai dari foto-foto sama mantan sampai revisian skripsi, gue hapus! Huahahahaha! Terus pas lagi ubek-ubek folder seputar kuliah, gue nemu folder “PLP”. PLP sendiri merupakan singkatan dari Praktik Latihan Profesi, alias magang, saat gue kuliah semester 7 lalu. Karena lupa isinya apaan, gue buka, ada folder “tugas”, buka lagi, folder “data”, buka lagi, voila! koleksi fake taxi!

Ya enggaklah!

Di dalam folder PLP itu isinya data dan file document selama gue magang mengajar di sebuah SMA pada tahun 2015 lalu. Enggak hanya itu, ada juga folder foto yang isinya tentu saja koleksi fake taxi. Astaghfirullah. Fokus. Fokus. Isinya yaaaa foto-foto selama gue magang di sekolah itu bersama 5 teman gue.

Ngeliat foto-foto itu gue jadi mikir, “Gila! perasaan baru kemaren magang, taunya udah 2 tahun lalu!”

Sebuah Upaya Untuk Tidak Menjadi Anak Durhaka

Kayaknya hampir semua anak di dunia ini pasti pengin bahagiain orang tuanya. Kalo pun gak bisa bahagiain, minimal gak nyusahin. Misalnya dulu lahirnya brojol sendiri. Ehe. *dikeplak*

And yeah… gue termasuk dalam golongan anak-anak yang pengin bisa bahagiain orang tuanya. Gue gak mau bikin mereka kecewa, apalagi sampai durhaka, terutama ke ibu gue. Ya bayangin aja perjuangan Ibu mengandung selama 9 bulan, terus melahirkan, tapi pas sudah gede malah durhaka, pasti beliau kecewa, kan? Astaghfirullah! Keren juga gue bisa nulis begini!

Mungkin kita semua sudah sering baca atau denger soal cerita Malin Kundang.


Buat yang belum tau, gue ceritain dikit. Jadi, itu kisah yang menceritakan tentang anak yang durhaka kepada ibunya. Si Malin merantau dan berpisah dengan ibunya. Hari demi hari terus berganti, sang Ibu terus menunggu kepulangan si Malin, tapi si Malin tak kunjung pulang hingga bertahun-tahun.

Suatu hari, Malin akhirnya pulang. Tapi, Malin Kundang yang sekarang sudah ganteng dan koaya roaya. Ibunya dengan penuh suka cita menyambut kedatangan si Malin. Bukannya senang bertemu dengan Ibunya, dia malah gak ngakuin ibunya yang miskin. Jelas ibunya kecewa dong, ya? Karena kecewa, dengan the power of emak-emak, si Ibu mengutuk Malin menjadi…

[spoiler alert]

Pemuda Ini Disuruh Bugil, Alasannya Bikin Netizen Geleng-geleng Kepala

Setelah takut dengan ‘kutukan’ angka 23, ternyata hasil tesnya sesuai harapan gue, alias gue lolos ke tahap selanjutnya. Uhuy!

Tes selanjutnya adalah tes kesehatan alias medical check up (MCU) dan psikiatri. Jarak antara pengumuman dan tes selanjutnya sekitar 3 minggu, jadi dalam waktu 3 minggu itu gue jadi rajin jogging, berusaha tidur di bawah jam 12 malam, makan wortel. Pokoknya biar sehat aja gitu.

Setelah 3 minggu melaksanakan kegiatan penuh pencitraan itu, akhirnya hari yang ditunggu-tunggu pun datang juga. Bagi gue, selama pencarian kerja, ini pertama kalinya gue tes kesehatan. Jadi, ya… gue deg-degan lah! Takut dibius tanpa sadar, terus dipegang-pegang, terus divideoin dan disebar di internet. Hmmm… kayaknya gue kebanyakan nonton fake hospital, deh.

Pukul 7.10 pagi gue sampai di rumah sakit yang sudah ditunjuk untuk tes kesehatan ini. Menurut pengumuman, tesnya sih mulai pukul 8 pagi. Di parkiran ada beberapa orang yang berpakaian sama seperti gue; kemeja putih-celana hitam-pantofel, khas pengangguran orang lagi cari kerja. Gue ikuti langkah mereka menuju sebuah gedung. Tiba-tiba setan di kepala gue kayak bisikin gitu, “Sliding tackle mereka dari belakang biar mereka cedera dan gagal di tes kesehatan!”

Untungnya iman gue kuat. Gue langsung zikiran. Niat jelek itupun hilang.

Sampai di dalam gedung, kami bertemu security yang mengarahkan kalo tesnya di lantai 3. Kami segera menuju lift dan masuk ke dalamnya. Beberapa detik kemudian lift yang membawa kami ke lantai 3 terbuka dan… UDAH RAME ANJER!

Gue segera mengambil formulir dan mengambil nomor antrian. Gue dapet nomor 39. Gila nih, jam 7 pagi aja sudah dapet nomor 39, yang dapet nomor 1 itu nginap apa gimana?!

Gue pun mengisi formulir tadi dan mencari tempat duduk. Oiya, malam harinya, mulai pukul 8 malam, kami sudah disuruh untuk puasa makan dan hanya diperbolehkan minum air putih. Entahlah gue bakal dipanggil jam berapa dan nambah berapa jam lagi puasanya.

Pukul 8 pagi, satu per satu nomor antrian mulai dipanggil. Gue ngobrol-ngobrol dan kenalan dengan beberapa peserta tes di situ, mulai dari pertanyaan standar soal nama dan posisi yang kami pilih, sampai hal penting kayak ‘ntar diapain aja, ya?’

Lalu ada yang mulai cerita, dia sebenernya sudah punya pekerjaan, terus nyoba-yoba rekrutmen ini dan lolos, jadi dia sudah pernah MCU sebelumnya, katanya entar di salah satu tahapan disuruh bugil untuk pemeriksaan hernia dan ambeien.

“Bu-bugil?” Tanya gue.

“Iyalah. Terus biasanya sih entar pantat kita ditusuk pake alat gitu.” Lanjut dia.

“Di…tusbol?” Tanya orang yang duduk di sebelah gue. “Gak perjaka dong kita entar?! Disodomi, cuk!”

“Ya… emang gitu. Terus biasanya sih kayak di-korek gitu.”

“ANJER NGILU! FAAAK!!!”

“Te-terus, tau enggaknya ambeien dari mana?” Tanya gue.

“Kalo kamu teriak kesakitan, nah berarti ambeien. Kan kalo ambeien ada benjolan gitu di sekitar lubang 'itu'.” Jawab dia.

Oke. Kalo pas ditusbol gak merasa sakit berarti gak ambeien, tapi itu juga bisa berarti… sudah terbiasa ditusbol. Karena sesehat-sehatnya orang, kalo ada ‘benda asing’ nyasar ke ‘situ’, pasti teriak juga, lah!

Pukul 10.20 akhirnya nomor urut gue dipanggil. Gue segera menuju meja registrasi, menyerahkan nomor antrian, menyerahkan formulir yang gue isi di awal tadi, menyerahkan undangan tes, menyerahkan mahar, ijab Kabul, sah menikah. *lho*

Di meja registrasi itu gue diberi formulir lagi untuk diisi, lalu diberi daftar tes apa saja yang musti gue lakukan beserta nomor ruangannya, lalu juga disuruh pilih mau makan apa. Pilihannya ada 4: nasi goreng, burger, sandwich, roti bakar. Asoy, ya? Kirain bakal dikasih makanan rumah sakit alias bubur. Setelah itu gue menandatangani daftar hadir dan ternyata peserta tesnya… 87 orang.

MAMPUS YANG URUTAN TERAKHIR!

UNTUNG PAKE NOMOR ANTRIAN BUKAN BERDASARKAN ABJAD!

KALO ENGGAK, GUE YANG TERAKHIR!

Tes pertama: ambil darah, tes urine, anjer pipisnya over capacity! Beres.

Tes kedua: pemeriksaan berat dan tinggi badan, tekanan darah dan suhu badan. Lalu tes buta warna dan tes mata.

“Sehari-harinya pake kacamata?” Tanya si dokter.

“Enggak, Dok. Masih normal kayaknya ini.”

Jadi, gue duduk, dipakein kacamata, di hadapan gue ada dinding yang jaraknya lumayan jauh dari tempat gue duduk, kira-kira... 50 kilometer lah. 

Di dinding itu ada deret huruf dan gue disuruh baca. Ukuran hurufnya ganti-ganti, kadang kecil, kadang gede, kadang 36B. Tiap kali merasa susah baca, akan ditambah atau dikurangi lensanya.

Hasil tesnya: GUE MINUS SODARA-SODARAAAA. Mata kanan gue minus 0.75, mata kiri 0.5. Yah, kayaknya gue musti sering-sering makan wortel nih biar sehat.

Tes ketiga: rekam jejak jantung.
Bukan, ini gue bukannya disuruh nelan kamera untuk merekam aktivitas jantung gue. Gue masuk ke ruangan si dokter. Kemudian si dokter menurunkan letak kacamatanya, menatap gue dengan tajam. “Buka bajunya, lalu baring di tempat tidur.”

Terus gue nurut-nurut aja. Gue buka baju, baring di kasur. Dada gue digrepe diusap dengan kapas yang kayaknya sudah dikasih alkohol gitu di beberapa titik. Ada rasa dingin setelah diusap pakai kapas tadi. Lalu badan gue dipasangi beberapa kabel di titik-titik yang terasa dingin tadi. Gue sudah kayak bahan percobaannya dokter franskenstein. 


Lalu gue disuruh bernafas secara normal, jangan panik, jangan mencret, biasa aja. Terus ya… udah. Hasilnya keluar. Selesai. Pake baju lagi.

Tes keempat: rontgen
Gue masuk ke ruangan rontgen, disuruh buka baju lagi, lalu disuruh memegang semacam ‘papan’ gitu yang ukurannya se-badan gue, lalu disuruh hadap tembok. lalu… udah.

CEPET BANGET!

Tes kelima: sarapan
WAINI YANG PALING DITUNGGU-TUNGGU! SUDAH PUASA HAMPIR 15 JAM! LAPAR, BOS!

Jadi, waktu sarapan ini dicatat dan 2 jam kemudian gue sudah musti ambil darah lagi. Inilah kenapa gak ada menu soto babat ataupun kambing guling.

Tes keenam: Gue lupa namanya apaan, pokoknya ini tes yang disuruh bugil. :v

Abis sarapan seharusnya gue kenyang, lah ini apaan, gue deg-degan! Gue teringat obrolan pas tadi pagi. Soal ditusbol. Pantat gue langsung deg-degan.

Satu hal yang patut gue syukuri saat itu adalah ruang tesnya dibedakan antara cowok dan cewek. Jadi, peserta tes cowok bakal diperiksa oleh dokter cowok, begitupun sebaliknya. Bayang-bayang fake hospital langsung sirna.

Setiap kali ada cowok yang keluar dari ruangan dokter, gue jadi makin deg-degan. Dia keluar dengan langkah berat, tatapan kosong, seperti hidupnya beda setelah keluar dari ruang itu.

Setelah gue menunggu kurang dari satu jam, seorang dokter keluar dari ruangannya dan menyebut nama gue. Gue menarik nafas dalam-dalam, lalu berdiri dari sofa menuju ruangan si dokter, diiringi doa oleh peserta tes lain yang duduk bareng gue tadi.

Gue masuk, lalu dipersilakan duduk, ditanya-tanya soal riwayat penyakit yang gue dan keluarga gue punya. Setelah ngobrol-ngobrol bentar, bagian gak enaknya dimulai nih.

“Silakan buka bajunya, lalu baring di kasur.” Kata om dokter.

Gue langsung buka baju gue. Setelah bertelanjang dada, gue mengarahkan tangan ke ikat pinggang gue.

“Celananya nanti.” Cegah si dokter. “Sabar.”

“….”

Gue langsung naik ke kasur, berbaring. Om dokter kemudian menekan di beberapa titik di badan gue. Dari atas menuju bawah. Kayaknya sih jantung, hati, lambung, titit.

“Oke, sekarang duduk menghadap saya.” Kata om dokter sambil menyalakan senter.

Lalu beliau menyenteri mata, telinga dan mulut gue. Mencatat beberapa poin, entahlah apa yang ditulis gue enggak tau.

“Silakan turun dari kasur.” Om dokter ngeloyor pergi meninggalkan gue. “Lalu buka celananya untuk pemeriksaan hernia dan ambeien.”

WAH INI BAGIAN GAK ENAKNYA.

Dengan berat hati, gue mulai membuka ikat pinggang gue, lalu memisahkan kancing celana gue yang awalnya terpasang erat, menurunkan ritsliting dan membiarkan celana gue turun sendiri. Suara kepala ikat pinggang gue yang menghantam lantai terdengar syahdu.

Om dokter kembali menemui gue, lalu menatap ke arah bawah, arah anaconda gue. “Hmmmm… itu celana dalamnya juga diturunkan.”

“Ehehehe.”

USAHA GUE UNTUK TIDAK BUGIL GAGAL SODARA-SODARA.

Dengan sangat terpaksa akhirnya pertahanan gue satu-satunya bobol juga. Celana dalam gue ikut turun. Ini untuk pertama kalinya gue bugil di depan cowok. Si om dokter menatap sebentar, lalu memberikan komentarnya.

“Yoga, titit kamu bagus, mantap dan cerdas! KOMPOR GASSSS!”

Oke, enggak gitu. Beliau cuma bilang, “Oke, sekarang hadap samping.”

Gue nurut. Om dokter kembali memperhatikan dengan seksama. “Sekarang balik badan dan… nungging.”

NUNGGING, CUY!

BAGIAN PALING GAK ENAK DARI BAGIAN GAK ENAKNYA DIMULAI NIH.

Karena gue pengin tes ini cepet selesai, yaudahlah gue balik badan dan sedikit membungkukkan badan. Suara sarung tangan karet yang terpasang terdengar di telinga gue. Gue gak berani noleh ke belakang, gue bener-bener berusaha fokus untuk gak teriak, apalagi mendesah.

“Oke, sudah. Silakan pakai lagi celananya.” Kata om dokter.

“Su-sudah, Dok?” Tanya gue.

“Iya, sudah.”

“Cepet amat! Gak berasa!” Gue ngomongnya dalam hati. Takut aja dokternya ngira gue minta ditusuk lagi.

Om dokter kemudian membuang sarung tangannya ke tempat sampah, lalu kembali ke mejanya, sementara itu gue kembali berpakaian dan segera menuju meja si dokter. Beliau kemudian mengecek tes apa saja yang sudah gue lalui seharian ini dan ternyata sisa 1 tes lagi.

“Ini tinggal ambil darah lagi baru selesai. Jam berapa tadi sarapan?” Tanya beliau.

“Setengah sebelas, Dok.”

Beliau menatap jam tangannya. “Berarti tunggu 40 menit lagi, ya.”

Gue mengangguk, ijin untuk keluar ruangannya sambil mengucapkan terima kasih.

Tes ketujuh: tes darah kedua.
Setelah menunggu 40 menit sambil ngobrol-ngobrol, gue masuk ke ruangan yang sama saat pertama kali ambil darah. Jika sebelum sarapan gue diambil darah melalui lengan kanan, kali ini lengan kiri gue jadi sasaran.

Semua tes kesehatan sudah gue lalui, gue menyerahkan check-list tes yang sudah gue lalui ke meja registrasi di awal, lalu diperbolehkan pulang. Sekitar pukul 12.45 gue pulang meninggalkan rumah sakit.

*****

Besoknya, gue lanjut tes psikiatri. Ini semacam tes kepribadian gitu. Cuma disuruh jawab pertanyaan dengan jawaban ‘iya’ atau ‘tidak’ aja.

Kelihatannya gampang dan gak mungkin ada hambatan, kan? Oh, jangan salah!

Sampai di ruangan tesnya bersama ke-87 peserta lain, gue dibikin pusing.
1. Soal tesnya ternyata menggunakan LJK dan musti diisi pakai pensil 2B.
2. Gue gak bawa kotak pensil karena di pengumumannya disuruh bawa pulpen. Namanya juga cowok, ada pulpen sebiji di dalam tas juga udah bagus.
3. Untungnya ada pensil 2B sebatang di tas gue, tapi penggaris buat hitamin LJK-nya gak ada
4. Soal tesnya 565 soal
5. Waktu tesnya 2,5 jam

Akhirnya gue hitamin LJK secara manual. Awalnya lancar-lancar aja, tapi lama kelamaan tangan gue sakit. Gue noleh ke belakang, waktu sisa 30 menit lagi dan gue masih kurang 100-an soal lagi.

Jika di awal gue menggunakan metode baca soal, hitamin jawaban. Kali ini gue mengganti strategi. Baca soal, titikin jawaban, baca soal selanjutnya, hitaminnya belakangan. Cara ini lumayan efektif, dalam 10 menit, 100 soal tadi selesai di angka 564.

LAH. KELEWAT SATU SOAL INI MAH!

Gue kembali telusuri soal dan jawabannya, ternyata bener, gue kelewat 1 soal yang berbunyi: “Apakah anda pengguna marijuana (ganja)?”

Dan jawaban gue: “IYA”

Untung gue teliti dan segera mengganti jawaban gue, kalo enggak, pasti gue lagi diperiksa BNN dan postingan ini enggak bakal ada. Lima menit sebelum waktu tes selesai, gue mengumpulkan lembar jawaban gue, istirahat sebentar lalu pulang.

Yah, doakan aja gue lolos lagi ke tahap selanjutnya. Perjalanan gue masih panjang sih. Sekarang, yang bisa gue lakuin cuma berdoa.






---
sumber gambar:
https://www.kaskus.co.id/thread/583bf55556e6af4b2c8b456a/ini-dia-cara-efektif-menghentikan-kebiasaan-makan-banyak/
http://harga.web.id/info-terbaru-biaya-tes-rekam-jantung-elektrokardiogram-ekg.info