A Great Story Comes With Great Stupidity : jalan-jalan

Sebuah petualangan dan perkenalan

“Permisi, bang. Bisa tolong ajarin saya main bicep tricep, gak?” tanya seorang pemuda berbadan tegap, kulitnya coklat mengkilap karena basah oleh keringat, poninya yang panjang hampir menutupi matanya yang memakai kacamata berframe kotak. Aura wibunya kuat sekali.

Malam itu gue lagi gym seperti biasa bersama temen gue, Yassa. Mendapat pertanyaan seperti itu, gue menghentikan aktifitas gue, yang tadinya mau minum, jadi pengen mukul pemuda itu. DIA INI GAK SALAH ORANG UNTUK MINTA TOLONG APA GIMANA YA?

Ada beberapa alasan yang bikin gue bingung. Pertama, secara fisik, badan dia lebih gede daripada gue. Kedua, gue nge-gym juga levelnya masih pemula banget, bukan hal yang tepat deh kalo gue ngajarin orang. Ketiga, gue nge-gym modal nekat dan nonton video dari tiktok.

“Gak salah nih minta ajarin ke saya?” gue berusaha menolak.

“Iya, bang. Beneran. Saya gak tau gerakannya main bicep tricep.”

“Kayaknya aku pernah liat deh kamu main tricep pake cable di ujung sana?” selidik gue.

Mari flashback sebentar.

Gue pertama kali ngeliat dia di gym itu di bulan April. Saat itu dia datang langsung lari di treadmill selama 20 menit, lalu main hamstring curl, kemudian leg press beban 100kg. Melihat penampilan luarnya, first impression gue: dia adalah monster. Seorang korban bullying dan ingin memperkuat diri dengan latihan keras di gym untuk membantai para pembully-nya. Mirip arc balas dendam main character di anime.

ORANG GILA MANA YANG AWAL GYM LANGSUNG LEG DAY COBA?! BETISNYA GEDE COY KAYAK UBI UGANDA. PASTI DIA BUKAN PEMULA!!!

Beberapa kali jadwal latihan gue di gym sering berbarengan dengan kemunculan dia di gym. Bahkan bisa dibilang sering, tapi kami gak pernah saling bertegur sapa. Hingga akhirnya di awal bulan Agustus, dia tiba-tiba minta ajarin main bicep tricep.

HEY WALAUPUN KITA GAK KENAL DAN GAK TEGURAN BUKAN BERARTI SAYA GAK LIATIN ORANG LAIN DI GYM YA? ANDA CUKUP SERING TIBA-TIBA AMBIL DUMBBELL 10KG DAN LANGSUNG BICEP CURL, YA!

“Iya sih kemarin itu main tricep pake cable,” Balas pemuda tadi sambil nyengir. “tapi emang bener gerakannya itu?”

“Uhhh… kayaknya sih bener.” Balas gue-yang-gym-modal-nonton-gerakan-di tiktok. “Ini aku lagi jadwal leg day. Jadi kayaknya aku gak bisa deh ajarin kamu buat main bicep tricep.”

“Oh lagi main leg ya?” pemuda tadi malah sumringah, memamerkan deretan giginya yang rapi. “Aku gak jadi bicep tricep deh kalo gitu, main kaki aja.”

“….”

“Saya join leg day, ya?”

“….”

“OKE KITA LEG PRESS 200 KILOOOO.”

“….”

Ya, itulah awal perkenalan gue dengan Rifki. Sosok pemuda dengan aura wibu yang sangat kuat. Bahkan kontak whatsapp-nya gue simpan dengan nama Rifki Wibu.

Setelah kejadian tadi, kami jadi sering latihan bareng di gym. Dari yang gue latihan berdua dengan Yassa, sekarang ketambahan Rifki wibu. Jadwal latihan kami bikin berbarengan supaya bisa saling support untuk mengembangkan otot-otot kami yang lama tertidur pulas. Kami latihan mengangkat beban sampai failure dengan motivasi dikatain, “AYOOO SEGITU DOANG MASA GABISA? LEMAAAHHH.”

“NENEKKU BISA ANGKAT BEBAN LEBIH DARI KAMU, CUPUUUUHHHHH.”

“HIDUP JOK-“

Dari gym bareng, kami juga jadi sering nongkrong bareng bertiga. Dari situ lah kami mulai akrab satu sama lain. Suatu hari, tercetuslah sebuah ide yang cukup menarik: gimana kalo kita menggulingkan pemerintah.

Oke, bukan.

Gimana kalo kita nge-trip alias bepetualang bareng, menyatu dengan alam dan pergi dari hiruk pikuk kota sejenak.

Ide ini muncul setelah gue melihat feeds Instagram Rifki sering jalan-jalan menjelajahi alam. Ada yang ke air terjun, ada yang ke gunung, ada juga ke penangkaran rusa. Pokoknya ijo-ijo banget. Sebagai budak korporat yang sehari-hari menatap layar komputer doang, tentunya gue juga pengen liat yang seger-seger nan ijo-ijo. Mengajak Rifki yang berstatus sebagai akamsi untuk berpetualang, berbekal pengalaman dan keahlian Rifki, harusnya akan jadi petualangan yang aman dan menyenangkan. Itu yang ada di pikiran gue.

.

.

.

“YOOOOG… RIFKI NGAMUK-NGAMUK DI ATAS SANA SAMBIL NENDANG-NENDANG MOTORNYA!!!” Yassa berteriak panik, sambil berlari menuruni bukit menuju arah gue yang sudah kelelahan di atas motor.

“HAH? SERIUSAN?” Gue segera turun dari motor, meninggalkan Yassa dan lari menaiki bukit, jalan terjal menanjak penuh dengan bebatuan membuat langkah gue makin berat. “KIIII??? ARE YOU OKAY???”

Gue melihat Rifki hanya diam, tidak menjawab pertanyaan gue. Dia masih berusaha memaju mundurkan motornya dengan kasar. Usahanya tampak sia-sia, motornya tetap tidak bergeming di antara bebatuan dan tanah liat.

“Aku belum pernah liat Rifki sengamuk itu selama kenal dia.” Ujar Yassa pelan di samping gue, sambil berusaha mengatur nafasnya. “Dia kayak orang kesurupan. Tadi semua kata-kata kasar diucapin. ****, ******, lalu ********.”

“seriusan Rifki bilang ******?”

“Iya, Yog.”

“lalu ***** juga?”

“Iya, Yog. Paraaaah pokoknya.”

“Astaghfirullah. Kacau sih.”

Orang di sebelah gue adalah Yassa.

Kebetulan dia adalah tetangga sebelah kost gue. Perkenalan gue dengan Yassa terjadi di bulan Juni. Saat itu gue pulang kerja dan lagi menuju kamar kost, tiba-tiba ada sosok pemuda memakai kaos kutang dengan celana  bahan sedang menyapu teras kamar kost yang selama ini tampak kosong. Iya, tampak kosong karena tiap kali gue pergi kerja, orangnya sudah pergi kerja duluan. Pas gue pulang, orangnya belum pulang. NAMUN KALI INI DIA PULANG LEBIH DULU SODARA-SODARAAA….

Gue melewati kamar kost dia sambil menegur sekenanya, “Mas. Ehe.”

“Iya, Mas. Ehe.”

Oke, sepertinya kita sama-sama introvert. Canggung abis. Gue segera mengeluarkan kunci kamar dan baru aja mulai mengarahkan ke lubang kunci, tiba-tiba ada suara dari belakang gue.

“Mas…”

Gue noleh, di belakang gue ada pemuda tadi menyodorkan kartu namanya dengan tangan kanannya, tangan kirinya masih memegang sapu. Gue segera mengambil kartu nama yang dia sodorkan, karena gue takut digebuk pake sapu.

“Saya Yassa, Mas.”

“Oh iya, saya Yoga, Mas.” Jawab gue sambil melihat kartu nama yang dia kasih. Dari situ gue tau ternyata dia kerja di bank.

“Sudah lama ngekost di sini, Mas? Kok saya baru liat.”

“Lumayan sih, saya dari bulan November tahun lalu. Lagi mutasi kena penempatan di Penajam ini. Saya aslinya dari Balikpapan.”

“Wah lama juga tuh, saya baru dari bulan April kemarin.” Kata si Yassa, “Saya juga mutasi dari kantor, kena penempatan di Penajam juga. Aslinya dari Samarinda.”

Sebagai orang yang jarang basa-basi dan punggung gue sudah meronta-ronta ingin rebahan, gue sejujurnya ingin percakapan ini cepat selesai, tapi mulut ini malah melanjutkan, “Wah sama dong.”

Untungnya Yassa tidak melanjutkan dengan, “Jangan-jangan kita…”

Horror abis.

“Bentar deh,” kata gue, “Kayaknya aku pernah liat kamu di tempat gym. Apa mirip doang ya?”

“Gym yang di atas sana?” Yassa menunjuk arah luar gang dengan sapu di tangan kirinya, bulu keteknya kemana-mana. “Iya, kemarin sempat main di sana. Kok aku gak liat kamu?”

“Kayaknya pas aku udah selesai latihan, kamu baru datang tuh tolah-toleh nyari alat.”

“Iya, pas aku datang, penuh banget tuh. Sampe bingung mau main apa.”

“Aku biasa latihan jam 7, pulang jam 8. Kalo jam 7 masih sepi, kalo jam 8 tuh sudah rame, daripada antri alat, mending aku udahan dan pulang.”

“Entar malam gym gak?”

“Gym sih.”

“Join ya?”

“….”

Ya, itulah awal mula gue kenal dengan Yassa.

Rifki akhirnya mendatangi kami berdua. Wajahnya tertunduk lesu. Nafasnya tampak berat. “Ayo kita turun dulu, tinggalin aja motormu di atas, kita cari solusi bareng.” Kata gue. “Ini motornya Yassa juga stuck sih, tapi harusnya bisa dituntun ke bawah pelan-pelan.”

“Ayo kita ke Devi dulu. Sendirian tuh dia di bawah sana.” Ajak Yassa. “MBA DEEEEV… AMAN KAH DI BAWAH SANA???”

“Amaaaan…” Sayup-sayup suara Devi terdengar, bercampur dengan suara serangga khas dalam hutan, “Kalian makan siang dulu. Kita belum ada makan dari pagi lho.”

Ya, di sinilah kami berempat, pukul 12 siang, terjebak di dalam hutan dan gak tau harus apa.

Yang lebih horror: besok Senin.

 


(To be continued)

Ketika Roaming Bahasa

Bepergian ke suatu daerah, selalu mendapatkan hal-hal di luar perkiraan kita. Biasanya sih berupa pengalaman selama di perjalanan. Entah pengalaman yang menyenangkan, tidak menyenangkan atau membingungkan; ini menyenangkan atau enggak sih? Bingung.

Sama halnya seperti bepergian, bertemu orang baru di daerah tertentu juga bakal membawa sebuah pengalaman baru. Pengalaman paling seru biasanya karena adanya perbedaan budaya dan bahasa. Kadang dari roaming bahasa itulah muncul pengalaman tak terduga, atau bahasa filsuf-nya sih “memunculkan reflek tawa yang patut untuk dipertimbangkan.”

Di bulan Desember tahun 2015, gue lupa tanggal berapa, gue lagi di Samarinda, bersama teman gue, Dana. Dia yang menyetir motor, gue yang dibonceng. Kami berdua menuju sebuah motel untuk menjemput teman lainnya.

Ketika Menonton Sendirian Di Bioskop

Manusia itu aneh.

Ada kalanya kita bingung mau ngapain padahal banyak waktu luang.

Ada kalanya kita kesepian tapi males untuk bertemu orang lain.

Ada kalanya juga kita merasa orang lain gak bisa ngertiin diri kita.

Gue sedang mengalami komplikasi dari ketiga hal di atas. Hari-hari gue sebagai mahasiswa tingkat akhir ya… gitu-gitu aja. Bangun, makan, kepikiran skripsi, repeat. Menjadi mahasiswa tingkat akhir ternyata benar-benar gak enak.  Ketika sudah stuck mengerjakan skripsi, malah jadi bingung mau ngapain lagi coba? Yang ada cuma bengong, tiduran, nyelip pacar teman. Kadang malah dalam sehari gue gak ngapa-ngapain, termasuk gak nyentuh sama sekali si skripsi. Jika sebulan gak gue sentuh, bukan cuma kelulusan gue yang terancam, tapi si skripsi juga akan menjadi jablay.

Dengan aktifitas gue yang hanya skripsian aja, dikombinasikan dengan status jomblo berakreditas A, tentunya kadang gue kesepian. Kadang, lho. #IniSerius #BukanPencitraan

Tapi, sebagai jomblo berakreditas A, saat kesepian kita pantang untuk menunjukkan kalo diri kita kesepian. Kita harus berusaha bahagia sendiri yaitu dengan cara melakukan ‘Me Time’. Jika level kebosanan gue udah tinggi banget, gue sering melakukan ‘Me Time’ versi gue, yaitu jalan sendirian ke mana aja yang penting gue senang dan lupa sama masalah-masalah gue. Biasanya gue ke toko buku, menghabiskan berjam-jam di sana untuk berkeliling mencari cewek cakep berkacamata yang lagi baca buku, ke restoran fast food untuk ngopi sambil ngetik, atau kadang ke perpustakaan, menghabiskan berjam-jam untuk ngadem, karena di sana AC-nya kenceng.

Walaupun sering jalan-jalan sendiri, bimbingan skripsi sendiri dan mandi sendiri, tapi ada hal yang gak pernah gue lakuin saat jalan sendirian: nonton di bioskop sendirian.

Si Cemen vs Bendol KW

Gue anak motor.

Bukan, maksud gue anak motor itu bukan anak-anak yang hobi kebut-kebutan dan utak-atik motor, misalnya aja kayak ganti knalpot pake knalpot racing, ganti ban pake ban sepeda roda tiga, ganti lampu motor pake senter. Maksud gue anak motor adalah ke mana-mana gue selalu naik sepeda motor, untuk menunjang aktifitas sehari-hari gue.

Pertama kali gue bisa mengendarai sepeda motor adalah saat kelas 6 SD. Tapi masih sebatas keliling komplek dan harus membonceng kakak gue biar aman. Untuk ke jalan raya, gue baru melakukannya saat kelas 2 SMA, setelah gue punya SIM C.

(Sok-sokan) Camping Part 2

Baca cerita sebelumnya di sini
 
Kami semua mulai membaca doa-doa dan melanjutkan perjalanan dengan lebih tenang. Gak ada becandaan dan celetukan lagi sampai kami tiba di spot yang bakal dijadikan tempat kami bermalam.

“Oke, di sini tempatnya.” Kata Dani. “Ini kita di pinggir tebing, kalo mau ke pantai tinggal turunin tebing ini.”

Angin laut berhembus kencang, membuat jaket tebal yang gue pakai seperti tidak berfungsi. “Ayo bikin api unggun, lalu bangun tenda.” Gue coba ngasih usul.

Kenapa musti bikin api unggun? Selain untuk penerangan, kami juga gak bawa lampu charge atau lampu portable lainnya. Senter aja gak bawa, apalagi lampu. Awalnya kami mau bawa lampu gitu, tapi disindir oleh Mas Ge, “Camping apaan bawa lampu.” 

Kampret memang.


“Iya cepet bikin api unggun. Baru bangun tendanya.” Bamz setuju dengan ide gue.

“Oh iya, mana tendanya? Air galonnya juga mana?” Ega melihat ada sesuatu yang janggal.

“Tenda sama air galonnya ditinggal di motor. Bilangnya Mas Ge ini survey tempat dulu.”  Jawab Angga polos.

DANI KAN SUDAH SURVEY TEMPAT INI DULUAN PAS KEMAREN-KEMAREN. JADI GAK ADA ISTILAH SURVEY LAGI, WOI!!!

Kami semua menatap Mas Ge dengan tatapan membunuh.

“Yaudah, bikin api unggun aja dulu. Istirahat bentar, baru ntar 2 orang ambil tenda dan gallon ke atas. Sisanya cari kayu buat api unggun.” Mas Ge memberi ide. Sambil berusaha menyelamatkan diri.

Yang jadi masalah adalah: siapakah orang berhati malaikat yang mau naik ke atas, lalu turun lagi membawa gallon dan tenda?

Setelah perdebatan panjang, akhirnya Ega dan Aris yang diutus untuk naik lagi ke atas. Gue, Dani dan Angga berusaha bikin api unggun. Bamz dan Mas Ge nyari kayu tambahan. Karin? Dia diem aja. Useless.

Agak susah bikin api unggun karena angin laut yang berhembus kencang. Daun yang kami bakar sebagai pancingan untuk membakar ranting selalu padam duluan sebelum dia membakar ranting-ranting pohon. Hampir 15 menit lebih kami tidak berhasil membuat api unggun.

“Minggir-minggir. Biar kukasitau cara membuat api unggun yang benar.” Mas Ge jongkok di sebelah kami. “Polisi itu juga diajarin bertahan hidup di alam liar. Self defense!”

Mas Ge mengatur ranting-ranting pohon sedemikan rupa, membakar daun, menaruhnya di bawah tumpukan ranting dan… voila! Api unggunnya nyala! Kami semua terkagum dan segera mengarahkan tangan kami ke api unggun. Hangat!

Beberapa menit kemudian Aris dan Ega pun datang membawa tenda dan air gallon.

“Ayo kita masak dulu, udah lapar nih!” Mas Ge menepuk-nepuk perutnya. “Angga, bawa panci, kan?”

“Bawa, mas!” balas Angga sambil pergi menuju tasnya. “Tunggu sebentar, ya!”

Beberapa menit kemudian Angga kembali sambil menunjukkan pancinya. Benda yang dibawa Angga tampak berkilau, tanda masih baru. Kami jadi gak tega mau masak pake panci itu.

“Itu panci baru, Ngga?” Tanya Mas Ge.

“Enggak, Mas. Ini bawa dari rumah.”

“Gak dimarahin ibumu bawa yang bagus gitu?”

“Tadi aku ijin ke Ibu, “Bu, Aku mau camping. Aku bawa panci, ya.” Malah disuruh bawa panci yang paling bagus. Yaudah kubawa aja.”

“….”

Mungkin ibunya Angga gak tau definisi camping adalah kita bakal masak secara barbar dan membuat panci menjadi gosong.

Air pun dituang ke dalam panci yang disusul gerakan menaruh panci di atas api. Ega mengeluarkan 4 bungkus mie instan dan meremukkannya. Menunggu air mendidih dengan api yang apa adanya begini ternyata cukup menyita waktu. Perut sudah mulai berontak. Gue, Dani, Angga, Ega dan Bamz bengong di depan api unggun menatap panci yang mulai gosong.

“Ayo makan dulu!” Mas Ge tiba-tiba muncul dari belakang sambil membawa… nasi kotak.



“Ini namanya self defense! Bertahan hidup!” Mas Ge ngeles.

Demi kelangsungan hidup, nasi kotak yang dibawa Mas Ge kita makan rame-rame. Dalam hitungan detik, nasi kotak tadi lenyap seketika.

Kembali ke api unggun. Air yang ditunggu-tunggu akhirnya mendidih juga. Ega segera memasukkan mie instan yang udah diremukin ke dalam panci dan mulai memasak. Iya, sengaja pake kata ‘memasak’ biar keliatan keren aja, padahal kan cuma masukin mie dan bumbu lalu diaduk-aduk doang.

Mie pun matang. Muka-muka kelaparan mulai mengelilingi panci berisi mie rebus tadi. Rupanya nasi kotak tadi gak cukup kuat untuk sekedar mengganjal perut. Ada yang menghirup aroma mienya, ada yang ngiler dan ada yang baru sadar kalo kita… gak bawa piring dan sendok.

INI MAKANNYA GIMANA?!!!

LANGSUNG PAKE TANGAN?!! MELEPUH KAMPRETTT!!!!

Awalnya gantian gitu, makan langsung dari pancinya memakai sendok bekas dari nasi kotak yang dibawa Mas Ge. Tapi kalo menggunakan cara ini, bisa dipastikan akan menimbulkan konflik rebutan sendok. Angga pun mengeluarkan ide jenius: dia mengambil ranting pohong, dipatahkan menjadi dua bagian dan voila! Jadi sumpit! Gue segera ikuti cara Angga dan mulai makan dengan susah payah.

Mas Aris gak kalah jenius, dia tau makan secara bersamaan di satu panci gak akan membuat kenyang, dia membagi botol air mineral untuk dijadikan… mangkok! Jenius!

Selesai makan dengan susah payah dan gak kenyang, Karin dan Dani teriak, “Ada p*op mie nih 4 biji.”

Gue menoleh dengan cepat ke sumber suara, menyiapkan suara terbaik dan bilang, “MINTA SATU!!!!”

“AKU JUGA!!!” Bamz ikutan.

Gue segera merebus air lagi untuk masak po*p mie. Self defense!

Beberapa menit kemudian air pun matang, gue tuang ke api unggunnya. Eh enggak, gue tuang ke gelas po*p mie-nya. Baru aja mau nuang, gerakan gue terhenti oleh perkataan Karin, “Airnya kotor kemasukan abu api unggun gitu, Yog.”

“Kalo mikir bersih atau kotor ya mati kelaparan, ntar. Udah, gak apa-apa.” Air pun gue tuang. Selanjutnya kami makan dengan khidmat dan lumayan kenyang. *tepuk-tepuk perut*

Malam itu kami habiskan untuk ngobrol-ngobrol, sambil nikmati bintang di langit, nyeruput kopi hangat, dibelai dinginnya angin laut, dipeluk hangatnya api unggun tanpa sibuk sendiri dengan handphone masing-masing karena gak ada sinyal di sini. Bener-bener sempurna.
 
terima kasih sudah menghangatkan kami semalaman!
Malam itu juga kami terbagi menjadi 2 kelompok. Kelompok anak muda, gue, Karin, Bamz dan Dani. Kelompok bau tanah ada Mas Ge, Aris, Ega dan Angga. Kelompok anak muda tidur duluan, kelompok bau tanah jagain kami karena mereka asik ngobrol. Gue terbangun pukul 2 malam, Karin, Dani dan Bamz juga ikut kebangun. Keadaan sekitar kami sepi. Api unggun yang ada di dekat kami juga hampir mati, kelompok bau tanah gak keliatan sama sekali. Gue berjalan ke pinggir tebing dan mendapati mereka lagi asik ngobrol di pinggir pantai, dengan api unggun baru.

Kami berempat yang udah terlanjur terbangun akhirnya membuka sesi curhat. Dani nyeritain soal keluarganya dan kisah percintaannya yang selalu berakhir setelah nge-date alias “kita pernah dekat zoned”. Karin nyeritain pacar barunya yang sayangnya harus terpisah oleh jarak. Gue sendiri cukup jadi pendengar yang baik bagi mereka. Yang paling kampret si Bamz, dia cerita habis nolak cewek. Ngehe memang.

Sekitar pukul setengah 4 gue tidur lagi. Gue musti nyimpan tenaga buat besok pulang ngelewatin padang pasir lagi.

Gue terbangun, keadaan sekitar gue udah terang. Gue cek hape yang ada di sebelah gue dan ternyata udah pukul 5.45. Gue segera bangunin yang lain untuk liat matahari terbit dan… ternyata gak ada. Kabut tebal membuat matahari yang gue tunggu-tunggu gak muncul. Gue pun turun ke bawah tebing untuk ke pantai dan… pipis.
 
ceritanya nunggu sunrise.
di foto dari bawah (pantai), orang berdiri itu tempat kita camping
Selesai pipis yang gak perlu gue ceritain bagaimana prosesnya, gue dan Angga membuat api unggun lagi, untuk bikin sarapan. Kali ini kami udah gak usah pusing-pusing makan pake apa. Ada gelas po*p mie semalem + garpunya!


Pukul 7, semua orang sudah bangun dan mulai sarapan secara beringas. Selesai sarapan Mas Ge, Karin, Aris, Bamz dan Dani turun ke bawah, mereka mau mainan di pantai. Gue sendiri gak ikut ke pantai karena takut kecapean dan gak bisa bawa motor nantinya. Gue, Angga dan Ega tinggal di atas. Cukup lama mereka berlima mainan di pantai, dari atas tebing gue ngeliat mereka jalan kaki jauuuuuuh banget. Ega mutusin untuk tidur lagi, sisa gue berdua ngobrol sama Angga.

“Yog, Aku mau jujur nih.” Angga membuka obrolan.

“Ju-jujur?” gue menatap Angga dengan pandangan hina. Takut kalo angga nyatain perasaannya ke gue.

“Iya, sebenernya aku…”

“Wait!” gue ngacungin telunjuk ke muka angga. “Ini bukan nyatain perasaan, kan?!”

“Anjirrrr bukan!”

Gue menghela nafas. Lega rasanya.

“Gini, aku takut aja kalo tiba-tiba ada orang datang terus teriak, “Woy! Ngapain kalian di sini!!!” sambil bawa tombak atau panah gitu. Kalo kejadian gitu gimana nasib kita, ya?”

“….” Gue bingung harus komentar apa.

“Pernah nonton film Wrong turn, gak? Itu yang kanibal-kanibal di hutan gitu.”

“PLIS YA. INI BUKAN SAAT YANG TEPAT NGOMONGIN FILM ITU!” Gue protes.

Gue pun menjauh dari Angga, meninggalkan dia sendirian yang asik menghisap rokoknya. Gue ke arah pohon dekat jalan turun ke pantai. Gue jadi agak parno apa yang ditakutin Angga beneran terjadi.

“AAAAAAAAAKKKKK~”

Gue. Denger. Suara. Jeritan. Cewek.

Bulu kuduk gue berdiri.

Gue menoleh cepat ke Angga dan Ega. Angga ngeliat ke arah gue, mukanya tampak bingung. Ega kebangun dari tidurnya. “Denger, gak?” Tanya gue. Mereka berdua mengangguk.

Dari posisi gue berdiri, gue dapat ngeliat mereka berlima yang main di pantai itu posisinya jauh banget. Kalo pun itu suara Karin, gak mungkin senyaring yang gue denger. (INI GUE NGETIKNYA MERINDING, KAMPRET!!!)
 
pas denger suara jeritan cewek, mereka ber-5 lagi di lingkarang merah. jauh banget!
“Yog! Tadi itu suara apa?!” Angga mulai panik dan ngambil kayu. “Self defense!”

“Entah lah. Ayo beres-beres aja dulu, pas mereka naik ke atas, biar langsung pulang.” Jawab gue.

Angga mulai membereskan semua bawaan kita. Api unggun disiram biar gak terjadi kebakaran hutan. Gue melambai-lambaikan tangan ke arah pantai, berharap salah seorang dari mereka melihat gue dan segera kembali. Usaha gue berhasil, mereka tampak berjalan kembali ke arah kami.

Barang bawaan kami sudah beres disusul dengan kedatangan mereka. “Kenapa sih, Yog?” Mas Ge tampak kesel belum puas main di pantai udah gue panggil.

“Tadi kalian ada teriak?” Tanya Angga.

“Gak ada, kita semua foto-foto aja di sana.”

Gue menatap Angga dan mulai memegang belakang leher kami masing-masing.

“Ayo siap-siap pulang sudah.” Ega buka suara.

“Kalian kenapa sih?!”

Kami pun ceritain kejadian yang kami alami dan mereka segera siap-siap pulang.
teroris kangen kasur :')
Cukup 2 kejadian horror aja yang kami alami untuk camping saat ini. Pukul 9 pagi kami meninggalkan lokasi, dengan segala keseruan, kehororan, kebersamaan, gue berhasil buang stress yang muncul di kepala gue. 

Yeah, we had so much fun.

(sok-sokan) camping

Manusia hanya bisa berencana, tapi tetap Tuhan yang menentukan. Gue bener-bener percaya hal ini, apa lagi ketika gue sudah memasuki bulan September. Rencananya gue bakal update blog ini dengan pengalaman gue selama magang di sekolah, nyatanya Tuhan melalui perantara tugas-tugas, laporan serta jurnal mingguan yang musti gue buat mengagalkan rencana gue itu.


Biasanya gue buka laptop untuk mengetik draft postingan, kali ini hanya untuk mengerjakan kewajiban gue selama magang. Tiap harinya aktivitas gue cuma begitu-begitu aja, dan ini bikin gue sempet stress, pusing, mual, bibir pecah-pecah.

Satu yang gue tau: gue butuh piknik!

Gayung pun bersambut. Beberapa temen dari komunitas stand up comedy Balikpapan berencana untuk ngadain camping. Tanpa pikir panjang gue memutuskan untuk ikut dengan misi berusaha melupakan sejenak kegiatan magang gue yang menggila.

Hari sabtu, 19 September pukul 5 sore, gue bersama Mas Ge, Dani, Karin, Aris, Ega, Angga dan Bamz berangkat menuju tempat camping.  Selain Dani, kami semua belum pernah ke sana sebelumnya. Nama daerah yang akan kita tuju adalah Ambalat. Bukan, ini bukan Ambalat yang ada di perbatasan Indonesia-Malaysia. Ambalat yang kita tuju berada di daerah Samboja, kabupaten Kutai Kartanegara. Perjalanan memakan waktu sekitar 30 menit lebih dari kota gue, Balikpapan.

Ambalat emang udah lumayan terkenal bagi warga Balikpapan buat camping, tapi itu di daerah pantainya. Yang akan kita tuju adalah hutannya. “Pokoknya ini tempatnya keren banget, biarpun hutan tapi kita masih bisa ke pantainya.” Kata Dani penuh semangat kayak penjual obat kuat. “Di sana bener-bener alam liar, orang ke sana cuma buat ngambil pasir.”

Sekitar pukul 6.15 kami sampai di Ambalat. Perjalanan kami hentikan karena ban motor yang dikendarai Ega dan Angga bocor. Kami sempet kebingungan bagaimana mengatasi masalah ini karena hari sudah mulai gelap dan gak ada tukang tambal ban yang buka. beberapa opsi tercetus untuk mengatasi masalah ini sayangnya semua ide ditolak dengan berbagai alasan:

1. Menggendong motor sampai di tempat camping tidak mungkin dilakukan karena perjalanan masih sekitar 20 km lagi.

2. Meninggalkan motor di pinggir jalan dan bonceng 3 ke tempat camping tidak mungkin dilakukan juga selain karena mirip cabe-cabean, resiko saat selesai camping motornya Angga hanya tersisa platnya saja kemungkinan besar akan terjadi.

3. Membeli pembalut untuk mengatasi kebocoran juga tidak mungkin. Ini motor, bukan menstruisasi.

Bamz dan Aris pun pergi mencari tukang tambal ban 24 jam. 10 menit kemudian mereka kembali dengan kabar gembira: ada tukang tambal ban… 20 meter dari tempat kita berhenti.

Sambil menunggu Angga dan Ega menambal ban, kami sempet ngobrol-ngobrol. Mas Ge membuka percakapan, “Yog, bawa pisau atau parang?”

DEG!

Jujur, camping ini gue cuma bawa diri, biskuit dan air mineral. Gue sama sekali gak kepikiran buat bawa benda penting kayak gitu. “Enggak bawa, Mas. Ini aja asal ikut buat pelepas stress.” Kata gue.

“Wah parah kamu, Yog! Kita ntar di hutan, loh! Pisau itu buat self defense.” Jawab Mas Ge.

“Emang Mas Ge bawa?”

“Bawa, dong!” Mas Ge membuka ritsliting jaketnya dan mengambil sesuatu dari dalam lipatan celananya. “Nih! Cutter!”

Hening.

“Awalnya udah mau bawa, tapi ketinggalan.” Lanjutnya.

Double hening.

Satu jam kemudian Angga dan Ega kembali, perjalanan segera dilanjutkan. Kami segera menggeber motor. “Ntar kita titip motor aja di rumah warga, soalnya jalanannya pasir. Agak susah dilewatin motor, kita nebeng mobil pick up yang masuk ke dalam aja. Semoga ada. Kalo gak ada, ya jalan kaki.” Kata Dani sebelum kita melanjutkan perjalanan. Kami iya-iya aja karena emang cuma Dani yang pernah ke sana dan kita gak tau kondisi aslinya bagaimana.

Setengah jam berlalu, jalanan yang kami lewati sudah mulai bercampur pasir, ditambah hari sudah gelap dan penerangan yang minim, ini membuat beberapa kali gue hampir jatuh. Dani meminta kami semua berhenti di depan rumah seorang warga, “Ini rumah terakhir, kalo kita masuk ke dalam, sudah gak ada rumah.” Dani menunjuk arah jalan yang tampak gelap. “Tapi ini masih setengah jalan. Titip motor apa gimana?”

Melihat keadaan yang sudah malam, gak ada mobil pick up yang masuk ke dalam untuk mengambil pasir, kalo kami jalan kaki kemungkinan besar bakal nyampe pas tengah malam, itu pun kalo kita gak pingsan di tengah jalan. Akhirnya kita memutuskan untuk mencoba masuk dengan tetap mengendarai motor.

Awalnya baik-baik aja, jalanan yang kami lewati emang berpasir, tapi sudah dicor. Gue sempet suudzon kalo Dani berusaha mendramatisir keadaan dengan misi terselubung membesarkan betis kami semua, karena jarak dari tempat yang direncanakan untuk titip motor dengan jalan yang sudah kami lalui itu bener-bener jauh. NAIK MOTOR AJA CAPEK APALAGI JALAN KAKI?!

Hingga akhirnya jalanan-dicor-bercampur pasir tadi berganti menjadi padang pasir. Untuk melewatinya kami mengikuti jejak ban mobil yang sudah tercetak di atas pasir. Temen-temen yang dibonceng segera turun dari motor karena keadaannya gak memungkinkan untuk boncengan. Beberapa kali motor kami terjebak dalam pasir dan harus didorong. Sulitnya lagi adalah ketika salah mengambil jalur, kita bakal susah untuk berpindah jalur lagi. Buat yang baru bisa naik motor, pasti bakal nangis kalo terjebak dalam keadaan seperti ini.

Jalanan pasir yang kami lewati ternyata panjang banget. Beberapa kali gue Tanya Dani, “Udah deket dari tujuan kita?”

“Masih jauh, Yog!” jawabnya tanpa dosa.

Gue nelen kopling motor.

Gue mulai kehilangan fokus karena kelelahan. Beberapa kali gue hampir jatuh dan salah jalur karena gak bisa ngendaliin motor gue sendiri. Perjalanan di pasir ini bener-bener panjang dan menguras tenaga serta pikiran, gue sempet khawatir ini gue bukan di Ambalat, tapi di Arab. Dan ini bukan perjalanan menuju tempat camping, tapi ke Ka’bah.

“Ayo masuk ke sini. Udah hampir sampe nih.” Teriak Dani di ujung sebuah gang.

Mendengar ucapan Dani, kami para pemotor yang melihat jalan yang ditunjuk Dani kayak melihat wc saat kebelet boker. Kami segera menuju ke arah Dani, memasuki gang dengan hati-hati karena pasirnya makin tebal, melewati gang itu, kami pun sampai di… padang pasir lagi. Tempat kami berhenti saat ini mirip planet yang ditinggal penghuninya, banyak bolongan bekas galian di mana-mana.

“Camping di sini?” kata kami heran.

“Bukan, kita masuk ke hutan sana.” Dani menujuk ke arah depan, “Parkir motornya di sini aja. Aman kok.”

Kami pun turun dari motor, merenggangkan badan yang mulai pegal. Menghirup dalam-dalam udara dan menghembuskannya perlahan. Sayup-sayup gue denger suara deburan ombak. “Eh, itu laut?” gue menujuk arah depan.

“Iya, di bawah hutan ini pantai ambalat.” Jawab Dani. “Kalo mau ke pantai, tinggal turun aja, semoga lautnya lagi surut.”
kira-kira begini keadaannya.
Jam sudah menunjukkan pukul 8.20, kami mulai memasuki hutan dengan penerangan senter dari… hape. Iya, kami gak bawa senter beneran. Pelan-pelan kami melewati jalan setapak yang menurun. Jalan setapak ini cuma bisa dilalui satu orang, jadi kami jalan dengan urutan Aris, Dani, Ega, Bamz, Gue, Karin, Angga dan Mas Ge.

“Ayo sekalian ambil kayu untuk bikin api unggun ntar.” Kata Dani.
Kami mengiyakan dan mulai pelan-pelan mengambil dahan-dahan pohon kering yang kami lewati.

“Taunya ntar di bawah ada yang jual kayu bakar.” Celetuk mas Ge.

“Bukan, mas. Sekalinya ntar di bawah ada yang jual api unggun.” Balas Angga.

“HAHAHAHAHA!!!”

Becandaan ditambah jalan sambil mungutin dahan pohon membuat terciptanya jarak antara barisan Dani dan Bamz. Meninggalkan Dani dan Aris di depan. Beberapa kali Dani meneriaki kami agar mempercepat langkah. “Ayo cepet, Mas Aris udah jauh di depan tuh.”

Kami berusaha mempercepat langkah. “Yang paling belakang ntar diculik hantu!!!” goda Mas Ge. Karin sebagai cewek satu-satunya yang ikut langsung ketakutan dan  berusaha mengambil posisi gue. Angga juga ikut-ikutan. Mas Ge juga. Aris juga.

Oh wait…

Kami semua kaget, tiba-tiba ada Aris di belakang. “Loh? Perasaan kamu paling depan berdua sama Dani, Ris?” Bamz heran.

“Iya, aku juga liat Dani berdua sama kamu di depan.” Kata gue.

“Aku loh dari tadi di belakang, ngobrol sama Mas Ge.” Jawab Aris polos.

Kami pun bertemu Dani lagi. “Loh? Kamu kok ada di belakang, Ris?” Dani pasang muka bingung.

“Seriusan. Aku dari tadi paling belakang, ngobrol sama mas Ge.” Kata Aris lagi dengan ekspresi serius.

Jadi, yang tadi jalan di depan sama Dani itu siapa?


[TO BE CONTINUED]

Samarinda: what a day!

[Cerita PART. 1]
[Cerita PART. 2]


Cari penginapan di daerah D.I Panjaitan itu kayak pipis sambil kayang. Susah! Rata-rata bangunannya adalah toko pinggir jalan. Mendadak terbayang kalo gak nemu penginapan, gue dan Dana bakal tidur ngemper di depan toko. Sambil saling berpelukan. Bayanginnya aja udah bikin gue merinding. “Pokoknya harus segera nemuin penginapan!” batin gue.


Jalan sudah berganti nama, gue lupa waktu itu gue masuk ke jalan apa namanya. Kalo gak salah jalan P.M Noor. Jalan dengan kecepatan sedang sambil tolah-toleh nyari penginapan. Hasilnya sama, nihil! Gue pun menepi ke pinggir jalan dan segera buka google, lalu segera mengetik kalimat “hotel mesum samarinda” oke, becanda. Gue ketik keyword “penginapan murah samarinda” di kolom pencarian. Setelah hasil pencariannya muncul, gue buka satu link dan bener aja, daftar hotel dan penginapan murah terpampang, lengkap dengan alamat dan harganya. Harganya rata-rata cuma Rp 100.000/malam. 

Kampretnya: KITA GAK TAU ALAMATNYA ITU DI MANA.