A Great Story Comes With Great Stupidity : Let's Drive!

Let's Drive!

Gue mirip dengan Sponge Bob.

Bukan, gue bukannya berbentuk kotak, berwarna kuning dan memiliki hewan peliharaan berupa keong racun. Tapi ini soal gue gak bisa nyetir mobil.


Sebenernya dari dulu gue sudah disuruh belajar nyetir, tapi saat itu gue punya prinsip kalo gue di masa depan bakal jadi koaya roaya, punya mobil banyak lengkap dengan supir pribadi, jadi… buat apa bisa nyetir?

Iya, gue emang gampar-able.

Selain soal prinsip tadi, yang bikin gue males belajar untuk nyetir adalah karena biaya kursus menyetir itu lumayan mahal. Kalo berusaha belajar secara gratisan alias minta ajarin temen, gue takut dia belum ikhlas kalo mobilnya terbelah menjadi 4 bagian saat gue pake latihan dan nabrak pohon.

Jadi, biarlah gue gak bisa nyetir.

Tahun pun silih berganti dan gue mulai ngerasa kok kayaknya gue kurang macho ya kalo gak bisa nyetir mobil? Apalagi temen-temen gue yang cewek juga mulai banyak yang bisa nyetir, masa gue sebagai cowok gak bisa nyetir sih? Masa gue disetirin sama cewek sih? Masa gue harus selalu pura-pura cedera hamstring tiap kali disetirin cewek sih? HARGA DIRI, BOS!

Belum lagi dalam proses pencarian kerja seperti saat ini, skill apapun bisa menjadi poin plus saat proses interview. Termasuk skill menyetir mobil. Gue pernah waktu itu interview, awalnya proses interview berjalan lancar, hingga akhirnya di akhir  interview, beliau menanyakan sebuah pertanyaan yang simpel, tapi kesannya menjatuhkan semua pencitraan yang gue bangun selama proses interview tadi. Menghancurkan segala kesan yang sudah gue bangun kalo gue bakal berguna di perusahaan itu.

“Kamu… bisa nyetir mobil?” Tanya bapak-bapak yang ada di hadapan gue.

DEG!

“Saya belum bisa nyetir, Pak.” Jawab gue pelan, disusul senyum sekenanya.

“Oh. Oke.” Bapak pimpinan cabang itu mengangguk. “Terima kasih atas waktunya. Silakan ditunggu hasil interviewnya, jika lolos kami akan hubungi lagi untuk tahapan selanjutnya.”

Dari nada bicara “Oh. Oke”-nya si bapak tadi gue tau kalo gue gak bakal lanjut. Gue pun mengiyakan, mengucap terima kasih, lalu keluar ruangan diiringi perasaan pesimis. Gue gak dapat golden ticket.

…dan beneran. Hari demi hari berganti menjadi minggu, dua minggu terlewati dan tidak ada panggilan untuk tes selanjutnya. Saat itu gue masih bener-bener belum terima gue gagal lolos tes. Bukan karena apa, itu gue ngelamar posisi administrasi keuangan, APA HUBUNGANNYA SAMA SKILL MENYETIR WOY?! LAGIAN DI SYARATNYA GAK ADA TULISAN PERSYARATAN MUSTI BISA MENYETIR! JANGANKAN TULISAN BISA MENYETIR, “MEMILIKI SIM C” AJA GAK ADA DI PERSYARATANNYA!

Kecuali nih, gue ngelamar posisi driver, gue gak bisa nyetir, terus gak lolos, ya… wajar. Lagian orang gak bisa nyetir ngapain ngelamar di posisi driver. Eh gimana?

Berhubung sekarang gue masih banyak waktu luang, akhirnya gue pun memberanikan diri untuk latihan menyetir. Bersama kakak gue, kami mendaftar di sebuah LPK.

Bukan, LPK-nya bukan kayak gambar di atas. Itu cuma ilustrasi.

Setelah melakukan pendaftaran, kami memilih jadwal latihan. Kami berdua memilih jadwal latihan yang fleksibel aja. Kalo lagi gak sibuk ya latihan. Kalo sibuk ya kasih kabar, jangan tiba-tiba ngilang tanpa alasan. :)

*****

Hari pertama latihan gue deg-degan setengah mampus. Gue sama sekali gak tau apa-apa soal menyetir. Jangannya nyetir, cara nyalain mobil aja gue gak tau. Satu-satunya yang gue tau adalah ban mobil itu ada empat. Ehe.

Di sinilah gue, duduk di ruang tunggu, menunggu sang instruktur datang. Gue bolak-balik liat jam, emang sih gue kecepetan 10 menit dari jadwal gue pukul 11 pagi. Makin berkurangnya waktu, makin deg-degan gue. Untuk mengurangi rasa deg-degan gue nyoba ngobrol sama si Ibu pemilik LPK.

“Bu, ini hari pertama langsung ke jalan? Biasanya ini rute latihannya ke mana?”

“Iya, Mas. Terserah instrukturnya aja, tapi kalo masnya ini baru pertama biasanya keliling sekitaran sini aja.”

Gue hanya meng-ooohhh-kan jawaban si Ibu tadi.

“Oiya, Maaf ya, Mas. Ini buku teori menyetirnya lagi habis, belum di-foto copy.” Lanjut si Ibu LPK. “Nanti langsung dikasih tau aja sama instrukturnya pas di mobil, daripada teori doang mending sekalian praktik, kan?”

“….”

Okey. Gue akan naik mobil dengan 0% kemampuan dan pengetahuan.

“Sudah, Mas. Jangan takut. Rileks aja.” Kata Ibu pemilik LPK yang sepertinya tau kalo gue sudah mulai bayangin mobil mundur di tanjakan saat gue latihan nanti.

“Hehehe. Iya, Bu.” Gue iyain aja, padahal mah mau nyoba serileks apapun, pasti tetep aja takut.

“Pokoknya kalo masnya rileks, dengerin apa kata instruktur, fokus, pasti cepet mahir.” Si Ibu LPK kembali ngasih wejangan.

Gue kembali mengiyakan disertai jurus menjawab tapi bingung mau jawab apaan: “Ehe”.

“Di sini instrukturnya gak bakal membantu, tapi hanya mengarahkan sekaligus mengawasi. Jadi nanti mas berusaha sendiri. Kalo dibantu terus ya gak bisa-bisa, tapi tenang aja, Insya Allah aman.”

Gue mencoba mencerna kata demi kata yang terlontar dari mulut si ibu LPK.

(((GAK BAKAL DIBANTU)))

(((BERUSAHA SENDIRI)))

(((TENANG AJA)))

KAYAKNYA GUE SALAH DEH NGAJAK NGOBROL IBU INI. GUE MALAH MAKIN TAKUT.

Di saat gue lagi deg-degan maksimal begini, muncullah seorang cewek yang kayaknya berusia lebih muda daripada gue, dia masuk dengan muka sedih dan nafas sedikit tersengal, lalu dia menaruh kunci di atas meja, tempat si ibu pemilik LPK duduk. Kemudian disusul seorang om-om bercelana pendek yang langsung melipir masuk ke arah belakang gedung LPK, kayaknya sih itu dapur.

“Gimana tadi? Lancar?” Tanya si ibu LPK ke cewek yang duduk di hadapannya. “Hari ketiga latihan udah agak lancar dong?”

“ Tadi hampir nabrak motor…” jawab si cewek dengan nada sedih.

WANJER HAMPIR NABRAK. UDAH LATIHAN TIGA KALI LOH ITU!

“…Dua kali.” Lanjut si cewek tadi.

OH GOD.

Gue langsung speechless. Gue sudah sama sekali gak fokus dengerin permbicaraan antara si Ibu LPK dengan cewek tadi. Beberapa kali gue denger si Ibu LPK berusaha menenangkan dan menyemangati si cewek.

Om-om bercelana pendek tadi muncul. Gue tatap dia, dia natap gue. Kami saling tatap-tatapan. Dari tampangnya gue tau si om ini kayaknya pendiam, jarang senyum dan suka makan makanan bergizi.

“Ini Mas Yoga mau latihan juga, Om.” Kata si ibu LPK. “Baru hari pertama.”

Si om bercelana pendek mengangguk lalu berjalan menuju luar ruangan. “Yuk.”

Gue mengambil kunci mobil yang tadi tergeletak di atas meja dengan ragu, lalu menyusul si om bercelana pendek yang sudah berada di dalam mobil. Tangan gue sudah di handle pintu, gue tarik nafas panjang-panjang, mengucap basmallah, membuka pintu mobil lalu menodongkan senjata api dan membawa kabur mobilnya.

YA ENGGAKLAH.

Gue masuk ke dalam dan duduk dengan tampang bloon. Lalu gue inget di film Sponge Bob. Langkah pertama sebelum menyetir adalah: pakai sabuk pengaman! Gue segera memasang sabuk pengaman.

“Ini saya baru pertama lho, om.” Kata gue, pelan, berusaha mencairkan suasana, sekaligus berusaha mempertegas kalo gue benar-benar buta soal mobil.

“Masukin kuncinya.” Kata dia.

YA ALLAH GUE GAK DIHIRAUKAN.

GUE GAPAPA KOK. :’)

Daripada gue dismekdon, dengan cekatan gue masukin kunci mobil ke lubang hidung omnya. Ya enggaklah, gue masukin ke lubang kunci.

“Sekarang coba injak kopling.” Kata dia, lagi.

“Ko-kopling yang mana, Om?” IYA GUE EMANG BENER-BENER GAK TAU ANJER. JADI KALO DARI SINI SAMPAI BAWAH GUE BANYAK NANYA YA WAJAR.

Kalo kata seorang filsuf sih, “Wajar kalau orang gak bisa menyetir mobil sepertimu banyak bertanya kepada instrukturnya.”

Lanjut.

“Kopling yang paling kiri, tengah rem, kanan gas.” Si om langsung memberikan pencerahan.

Mendengar penjelasan beliau, kaki kiri gue langsung menginjak pedal kopling. Suara besi berdecit terdengar syahdu. Oiya, di bagian bawah kursi sebelah tempat sang instruktur duduk ternyata juga ada pedalnya (kopling dan rem). Jadi, kalo gue nginjek kopling, kopling di kursi sebelah juga bergerak. Hati gue sedikit lebih tenang.

“Belum full itu koplingnya.”

“Tapi kaki saya sudah mentok, Om.” Kata gue, ragu.

“Berarti kursinya kurang maju. Coba diatur, dulu…”

Gue bengong.

DI FILM SPONGE BOB GAK ADA ADEGAN NGATUR KURSI!

DI FILM FAST AND FURIOUS JUGA GUE GAK PERNAH LIAT DOMINIC TORETTO NGATUR-NGATUR KURSINYA DULU SEBELUM BALAPAN!

Gue pun celingak celinguk nyari ‘sesuatu’ yang keliatannya bisa dipakai untuk mengatur posisi kursi. Semenit kemudian gue stres. INI GIMANA NGATUR KURSINYA YA ALLAH…

“Coba cari besi di bawah kursi, kalo ketemu, tarik.” Si om instruktur kembali memberi pencerahan.

Tangan kiri gue segera meraba bagian bawah kursi, lalu gue menemukan sebuah besi. Tangan gue mencengkram dengan erat, tapi belum gue tarik karena gue takut. Iya, gue takut kalo pas gue tarik, eh kursinya terbang.

TAPI KAYAKNYA GAK MUNGKIN DEH, YA?!

Gue tarik besi itu ke atas, dan kursi gue mulai longgar, gue gerakkan pinggul gue ke depan, kursi pun ikut bergeser ke depan. Sambil menginjak-injak kopling sampai gue terasa posisi gue nyaman, gue lepas besi tadi dan voila, tempat duduk gue sudah aman. Yang terpenting: kopling sudah bisa terinjak dengan full dengan kaki nyaman.

“Tahan kakinya di kopling, sekarang coba hidupkan mobilnya.” Si om kembali memberi instruksi.

Berbekal pengetahuan di film-film horror yang kalo panik dikejar setan langsung naik mobil dan biasanya mobilnya gak nyala. Gue tau cara nyalain mobil ya jelas dengan cara… menghubungkan dua kabel sampai timbul percikan listrik.

YA ENGGAKLAH!

Gue putar kunci mobil ke kanan dan… Brrrmmmmmmm.

MESIN MOBIL SUDAH MENYALA SODARA-SODARA.

“Nah sekarang kita coba mundur. Pelan-pelan aja, sambil setirnya putar kiri, kita coba jalan ke jalan raya.”

“Hgggg… cara mundur itu… gimana, om?”

Si om diem sepersekian detik. Mungkin otaknya berpikir apa dosanya tadi pagi sehingga kedapatan murid kayak gue. Atau enggak dia sadar kalo belum jelasin soal perpindahan persneling (gigi). Dia pun menjelaskan secara singkat soal gigi 1 sampai 5, lalu juga gigi mundur (R). “Kalo mau pindah gigi, harus injek kopling full. Baru lepas kopling pelan-pelan.”

Oke. Untuk poin tadi gue lumayan ngerti karena selama ini gue naik motor juga yang berkopling. Ternyata cara kerjanya sama.

“Oke, sekarang masuk ke R.”

Kaki kiri gue menginjak kopling, tangan kanan di setir, tangan kiri gue arahkan ke R.

“Sekarang turunin rem tangan.”

Bentar. APAPULA REM TANGAN INI?!

Untungnya om instruktur segera memberitahu letak rem tangan. Ternyata batangan yang ada di deket tuas persneling itu adalah rem tangan. Hampir aja gue nunduk terus ngarahin tangan gue buat pencet rem yang ada di kaki. Ehe.

“Coba lepas pelan-pelan koplingnya.”

Gue angkat sedikit kaki kiri gue, dan mobil mulai berjalan mundur secara pelan.

“Sambil kombinasi dengan rem, ya. Karena ini kita sudah di jalanan agak menanjak, jadi mundur tanpa digas juga bisa.”

Gue mengarahkan kaki kanan di rem, sambil kaki kiri mulai pelan-pelan melepas kopling.

“Putar ke kiri setirnya.”

Gue putar.

“Putar lagi.”

Gue putar lagi.

“Lagi.”

Oke.

“Lagi.”

O-oke.

“LAGI.”

INI KAPAN BERENTI MUTER SETIRNYA WOY?

“KURANG BANYAK.”

Gue putar berkali-kali ke arah kiri sampai logo mobil yang ada di stirnya sudah terbalik.

“KEBANYAKAN. PUTAR KANAN!”

FAAAAAKKK!!!

“TERUS MUNDUR. TERUUUUUS…” kata si om instruktur sambil memperhatikan spion kiri.

Gue liat dari spion kiri mobil sudah masuk ke jalan raya. Beberapa motor dan mobil mulai memelankan lajunya. Posisi mobil gue pasti menutup jalan.

“Injek kopling full, injek rem.” Perintah si om instruktur. “Masuk gigi 1. Ayo!”

Gue bengong.

GIGI SATU TADI GIMANA YA ALLAH…

BELOM SEMPAT DI-SAVE SUDAH DI-LOAD AJA PELAJARANNYA!

Tin… Tin… Tin…

Riuh rendah suara klakson mobil dan motor yang jalannya terhalang oleh mobil gue terdengar menyeramkan.

JANGAN PANIK.

JANGAN PANIK.

JANGAN… YA ALLAH PANIK DIKLAKSONIN.

“Pojok kiri atas.” Om instruktur  akhirnya memberitahu letak gigi 1.

Tangan kiri gue dengan cekatan mengarahkan tuas persneling ke posisi pojok kiri atas. Lalu siap melepas injakan kaki kiri gue di kopling. Kaki kanan siap di pedal gas. Tangan kanan gue siap mengarahkan setir ke kanan untuk meluruskan mobil.

Kaki kiri gue angkat pelan-pelan dari pedal kopling, mobil mulai berjalan pelan, gue arahkan setir ke kanan. Baru aja mau injek gas…

MOBILNYA MATI!

MOBILNYA MATIIIII!!!

Tin… Tin… Tin…

Riuh rendah suara klakson mobil dan motor yang jalannya kembali terhalang oleh mobil gue terdengar makin menyeramkan.

Gue mau nangis.




[TO BE CONTINUED]




--
Sumber gambar:
https://i.makeagif.com/media/6-25-2015/QKoQXb.gif
https://www.theodysseyonline.com/5-reasons-spongebob-squarepants-the-best-childhood-cartoon
http://pyurio.blogspot.com/2016/04/belajar-cara-memindahkan-gigi-mobil-dan.html
https://siebersaudara.wordpress.com/2014/11/24/cara-menguasai-kopling-mobil-transmisi-manual/  
https://giphy.com/gifs/spongebob-season-4-spongebob-squarepants-l1Kuhowoq07juj4hG



 

35 comments

ntap euy bisa bawa mobil. dijamin abis ini langsung punya pacar, terus jadi tukang antar jemput buat ngemall & nyalon. sip.

aku juga dulu bawa mobil, tapi sejak ngekos ngga pernah bawa lagi karna ribet. terus sekarang malah lupa caranya nyetir hhhhh :( untung aku cewe, jadi ngga masalah gabisa bawa motor/mobil. kalo cowo gabisa bawa kendaraan mah pasti udah dijadiin bahan ceng-cengan ya :b

Reply

Asli. klo cowok gak bisa bawa kendaraan itu malu abis. Gak dikerjaan, gak di tempat tongkrongan di bully abis. Kecuali kita horang kaya yang pake supir pribadi. Itu aman. Hahaha

Gue juga baru bisa nyetir nih, alhamdulillah. Dan gue masih sering keluar keringet dingin klo lagi tertekan di dalam mobil. Maklum newbie. wkwwkw

Reply

Itu intrukturnya kalo misalnya nabrak bisa ngelembung gak ya, kayak Nyonya Pam (spongebob) 😀

Reply

Hanjir. Ceritanya walau kocak tetap mengedukasi nih, Jok!

Saya juga pernah diajari nyetir sama temen. Wkwkwk. Di parkiran pabrik cuma muter-muter doang. Abis itu langsung puas dan ngerasa udah bisa. Nanti deh belajar lagi kalau udah kebeli mobil.

Reply

Ngelamar jd admin keuangan tp ditanyain bsa nyetir apa enggak... Mgkin biar nyambi jd supir boss nya kali? Haha. Klo di bengkel sih misalnya ngelamar jd mekanik apa gtu suka dtnyain "bsa nyetir gak?" soalnya buat mindah2in mobil dri ujung ke ujung, ke stall trtntu. Gak wajib jg, tp jd nilai plus, paling enggak bsa ngringanin kerjaan sndiri gtusi.

Baca ini kok udh brasa kek baca tutorial mnyetir mobil yak? Sumpah gue jg gak tau apa2 soal dalemannya mobil dan cara gerakinnya :') Klo di sponbob mah apaan, msukin kunci trs lgsg ngegas gtu aja mobilnya jalan. Gue rasa mobilnya sponbob matic dah? Eh, mobil ato perahu sih itu yg dia bawa?

Ikutan deg2an jg bacanyaa. Klakson org2 d jln tuh emg bkin nerpes sih :( Mana itu dpt instrukturnya yg jutek bgtu... Gue mah jd lu udh ga mo dtg lg dah. Etapi sayang si klo udh bayar. Wkwk.

Reply

Jog, pukul 11 udah masuk siang, bukan pagi lagi. Btw kalo nangis jangan diceritain di blog ya. Kurang macoh.

Reply

Kayaknya tulisan ini bikin gue jadi takut nyetir mobil deh. :(

Apalagi tinggal di Jakarta yang sering macet. Naik motor aja, terus kalau kejauhan bisa kereta komuter. Pilihan itu udah paling mantap. Wqwq.

Tapi bisa bawa mobil emang enak, sih. Temen gue yang tadinya kurir pakai mobil. Eh, lama-lama malah jadi supir pribadi bos di kantor itu. Gajinya ternyata gede juga, Jog. Nanti kalau udah bisa nyetir, lu ngelamar kerjanya nggak usah jadi admin keuangan. Jadi supir aja! Supir truk kontainer. Yang kalau ngelindes orang, udah kayak ngelewatin polisi tidur. XD

Reply

Ujian sebenarnya itu pas di jalan menanjak yog, pake kopling setengah, kalo nggak pas, bisa mundur mobil lo, kaki lo kram, lalu masuk jurang di bukit soeharto.

Kesalahan paling sering juga waktu mau lepas rem tangan, Kebanyakan orang fokus ngeliat rem tangan sampai ngabaikan pengelihatan ke jalan raya, padahal mah lepas rem tangan gak usah diliatin, lepas mah lepas aja, paling mobilnya mati hahahah.

Reply

wkwkw seru nih kayaknya kalo gue ikutin, gue sebenrnya di umur segini juga belum bisa nyetir mobil, gue harus bisa lebih baik dari lo, biar ga malu maluin wkwkw

Reply

Mantap, saya jadi belajar cara nyetir mobil bang meskipun tetep ga paham karna belom ada mobilnya wkwkwk

Nah kayanya seru bang kalo belajar nyetir pake mobilnya mr. bean

Reply

Setelah baca postingan ini, gue makin yakin buat belajar motor dan nunda belajar mobil. Kayaknya belajar motor dulu lebih realistis. :')

Tools (emangnya photoshop?) di mobil ribet banget ya. Antara gas, rem, dan kopling bisa salah injek. Udah enakan sepeda buat gue sekarang. :D

Reply

Sedih bangey bang dengernya. Gw juga waktu itu grogi parah sih pas pertama kali bawa mobil.

Reply

Huahahahaa gue baru aja kemarin belajar nyetir sm ayah. Tapi ga seabsurd elu bang. Huahahaa

Eh eh btw leh uga nih kalo kita berkolaborasi menyetir di dalam sebuah mobil yang kita kenal dengan sebutan faxe taxi.

Reply

((SENYUM SEKENANYA))

Pencitraan. Itu pasti kamu lagi mengeluarkan senyum mesum andalanmu kan? Ngaku aja deh, Yogs.

Ngakak banget pas bagian cewek yang curhat sama Ibu LPK. Menimbulkan reflek takut bagi manusia lemah sepertimu. Terus yang kamu bilang kalau itu baru pertama kali ke om pengajarnya, kok aku jadi ngebayangin settingnya berubah dari dalam mobil jadi di dalam hotel ya. Perpaduan kata "pertama," dan "om" itu sungguh nganu. Aku mikirnya kayak baru pertama kali melakukan permainan tabu. Mhuahahahahaa.

Reply

Gue udah pernah latihan, tapi sampe sekarang belum bisa mundur, mundurnya kecepetan. Sama belum berani ke jalan raya. Dan setelah baca ini gue membatin satu hal, "Alhamdulillah Ya Allah, cowok cemen bukan cuma gue." :'D

Reply

Melihat alur cerita seperti ini, kayaknya akan ada part di mana abang-abangnya minta resign. Ehe.*kabur

Reply

wakkakakakaka
dunia emang ga berjalan sesuai harepan. terkadang php kayak gebetan.
hah, itu emak nyonya puff kali yak dan oh please, bandingin ama dom fast, mobil aja uda beda ya Allah yog...

Reply

INI KOK GUE MALAH JADI TAKUT YA :"

Katanya emang gitu sih, kalo sudah bisa nyetir terus lama gak nyetir jadi lupa caranya.

Reply

paling sering di tongkrongan sih, apalagi kalo tongkrongannya cowok-cewek. Harga diri di deoan cewek langsung menciut.

Reply

(((mengedukasi)))

ayok latian lagi, bg!

Reply

kalo mekanik, apalagi mekanik mobil sih kayaknya emang musti bisa nyetir lah wkwkwk

(((baca tutorial menyetir)))

kalo sponge bob mah itu perahu matic, bukan manual, persnelingnya cuma ke arah depan sama belakang wkwkwk

Reply

kalo gue liat macetnya jakarta emang ampun ampun, mending naik tj aja dah wkwkwk

Reply

betul sekali. kalo koplingnya terlalu cepat dilepas juga mesin mobil langsung mati :"

kalo rem tangannya keras juga bahaya sih. setir bisa goyang. hhhhhh...

Reply

wkwkwk yok belajar biar macho \o/

Reply

mobilnya mr bean yang ada sofanya di atas? :)))

Reply

naik angkutan umum aja, Rob. jalanan ibu kota juga mengerikan. :))

iya bisa sala injek. apalagi gas sama rem :v

Reply

SEBUAH AJAKAN YANG TIDAK BOLEH DILEWATKAN BEGITU SAJA!!!

Reply

SENYUM MESUM BAJUMU COMPANG CAMPING!!!

Emang kok ya, orang yang sering bepergian dengan om-om pasti akan berpikir lain ketika membaca dialog itu.

Reply

huahaha iya mundur agak susah tuh. apalagi pas parkir paralel :'))

Reply

ya nanti beli mobilnya Dom. :')

Reply

Ebangsat. Bentar deh, itu dapat FAKE DRIVING SCHOOL juga darimana deh? Kok adaaa ajaaa. Referensimu lengkap sekalih, Yogaaa :')))

Ini sih LPK-nya nggak terpercaya. Berasa kayak:

"INI MOBIL. INI KUNCINYA. INI INSTRUKTURNYA. UDAH KAMU NYETIR SANA."

Nggak dibimbing pelan-pelan apa gimana deh. Kzl saya bacanyaaa. Sini saya bakarin LPK-nya. Nggak kompeten gitu ah. Kalau dulu saya pernah ikutan kursus beginian, di pertemuan awal tuh dijelasin dulu bagian-bagian mobil dan fungsinya masing-masing. Nggak "langsung masuk" aja kayak om-om yang ngajarin kamu. Serius deh. Baru seminggu juga udah mahir.

Ini yakin deh emang ngehe LPK-nya, Yogs. Pindah aja :(

Reply

Post a Comment

Terima kasih sudah meluangkan waktu kalian untuk membaca postingan gue. Gak perlu ninggalin link blog untuk dapet feedback, karena dari komentar kalian pasti dapet feedback yang sepadan kok.

Terima kasih!