Baca
cerita sebelumnya di sini.
Supir taksinya lewat
jalan tikus. Sampai stasiun jam 6.20. Stasiunnya baru buka. Satpam yang jaga
masih pengen ngulet di kasur.
Yaudahlah, daripada
ketinggalan kereta, mending datang duluan.
Malang, I”m coming!
*****
Stasiun Wonokromo.
Setelah
pemeriksaan tiket oleh satpam yang terlihat rohnya ketinggalan di kasur. Gue
dan kakak gue, Ryan, duduk di stasiun nunggu kereta. Di dalam masih sedikit
orang yang menunggu kereta, gue bener-bener kepagian datangnya.
Seperti
kebiasaan anak masa kini, apa-apa di-tweet-in. Ini yang gue lakuin, karena ini
pertama kalinya naik kereta api, gue jadi excited 20% dan norak 80%. Banyak
yang ngasih gue petuah untuk naik kereta. Salah satunya adalah jangan duduk di
atas gerbong. Saran ini jelas gue abaikan karena gue gak bakal duduk di atas
gerbong, gue lebih kepikiran gelantungan di bawah gerbong. Biar greget!
Semakin
dekat dengan waktu keberangkatan, stasiun mulai ramai. Ada yang makan, ada yang
numpang nge-charge hp, ada juga yang makan chargeran hp.
Menunggu
kereta di stasiun Wonokromo pun menurut gue gak bosenin amat karena ada
electone-nya, kalo mereka capek nyanyi ya mereka puter lagu. Pas gue nunggu
kebetulan lagu yang diputer pas banget,
Never mind, I'll find
someone like you
I wish nothing but the
best for you too
Don't forget me, I beg
I remember you said,
"Sometimes it
lasts in love but sometimes it hurts instead,
Sometimes it lasts in
love but sometimes it hurts instead
Kampret.
Jadi, galau.
Jam
7.10 ada pengumuman kalo kereta gue, Penataran Express sudah mau tiba, gue
segera berdiri di samping rel.
Kereta
pun tiba. Gue segera naik. Gue deg-degan. Gue bingung padahal ini pertama
kalinya naik kereta, bukan pertama kalinya ngupil depan gebetan. Pokoknya
deg-degan.





