A Great Story Comes With Great Stupidity

kenyamanan adalah koentji

Sekitar 2 tahun terakhir sebenernya gue pengin melakukan beberapa perubahan untuk blog ini. Iya, blog ini terhitung tampilannya gini-gini aja, padahal blog ini sudah aktif mulai tahun 2010. Yang paling parah jelas header blog. Header-nya sudah gak ganti 3 tahun lebih sodara-sodaraaaa!!! Udah mirip sama Bang Toyib yang gak pulang-pulang.

Berhubung gue udah gak se-excited dulu pas awal-awal ngeblog, di mana gue belajar kode-kode buat modusin blogger cewek HTML buat design blog, sekarang gue pasrah aja tampilan blog ini begini saja. Yang penting kontennya. Tul tidak? 

*anjrit, gaya banget padahal update aja sebulan sekali*

Kekuatan super yang muncul saat UAS

Menjelang tahun 2015, ketakutan gue menghadapi tahun itu adalah karena gue akan magang. Menjelang tahun 2016 kemaren, gue lagi-lagi mengalami ketakutan. Tahun ini gue udah mulai skripsian. Iya, Di awal tahun 2016 ini gue baru saja menuntaskan UAS semester 7. Mau bahagia karena liburan pun dilema karena udah kepikiran,


“JUDUL SKRIPSI GUE APAAN, YA?”

“GUE BISA LULUS TAHUN INI GAK, YA?”

“MANTAN UDAH NGAPAIN AJA SAMA PACAR BARUNYA, YA?”

Jadi mahasiswa semester akhir gini amat ternyata.

Nah, selama kuliah 7 semester itu tentunya gue udah 7 kali menghadapi yang namanya UAS. Bagi adik-adik yang berpikiran kalo UAS anak SMA dan Kuliahan itu sama, kalian salah! UAS itu jadi penentu nilai (IP) kalian untuk bisa ngambil berapa banyak mata kuliah di semester depan. Semakin tinggi, semakin banyak bisa ngambil mata kuliah semester depan, semakin cepet lulus. Gitu. 

Makanya UAS itu menjadi momen special, di mana para mahasiswa tiba-tiba memiliki kekuatan ajaib agar bisa mendapat IP bagus. Misalnya aja kekuatan seperti ini…

1.Kekuatan untuk datang super cepet

Kelakuan temen-temen sekelas gue pas perkuliahan biasa adalah sering telat. Jadwal kuliah mulai pukul 8.30 pagi, mereka datang pukul 8.45. Pernah juga ada yang datang pukul 9.30. Untungnya dia diperbolehkan masuk ke kelas oleh sang dosen setelah menggunakan alasan klasik “ban bocor”, padahal gue tau kalo temen gue itu kesiangan, atau di rumahnya gak ada teknologi bernama jam.

Nah, saat UAS, kelakuan mereka berubah 180 derajat. UAS dimulai pukul 8.30, gue pun berangkat dari rumah pukul 7.45 karena perjalanan dari rumah ke kampus itu 30 menit. Masih bisalah pilih tempat duduk di belakang, pikir gue.
Pukul 8.15 gue sampai kampus dan segera menuju ruang ujian. Begitu buka pintu… KELASNYA SUDAH PENUH! GUE DAPET KURSI PALING DEPAN! *nangis*

Besoknya, gue berangkat lebih cepet. Gue berangkat pukul 7.30 dari rumah. Sesuai perkiraan, gue sampai kampus pukul 8.00. Begitu sampe kelas… KELASNYA SUDAH PENUH LAGI! 

Gue penasaran, gue Tanya sama temen-temen gue, “Kalian jam berapa sih sampe kampus?”

“Pukul 7.30.”
 “….”

Begitu dahsyatnya UAS, yang tukang telat saat perkuliahan biasa aja bisa datang cepet.

2.Kekuatan untuk bisa menulis di mana saja

Selain agar bisa ngambil barisan kursi paling belakang, niat gue datang UAS 15 menit sebelum mulai adalah agar bisa melakukan persiapan untuk mencontek. Iya, gue gak munafik kalo gue masih nyontek karena kadang materi yang di-UAS-kan itu banyaknya minta ampun. Belum lagi rata-rata soal UAS itu berformat sebutkan dan jelaskan serta berikan contoh! Jadi, kadang gue suka nyatat poin-poin materi yang gue rasa bakal keluar di soal nanti.

Di mana kah gue nyatat?

Karena gue gak ahli dalam mengeluarkan catatan atau fotokopian yang sudah dimikro, gue nyatat di… telapak tangan dan meja. Iya, meja anak kuliahan yang begini:

Nemu di gugel dengan keyword: kursi anak kuliah. Nice info, kan?
Biasanya gue bakal pilih yang warna mejanya hitam, jadi bisa gue tulisin pake pensil. Kalo udah selesai, tinggal hapus untuk menghilangkan jejak. Ehe.

3.Kekuatan untuk bisa membaca tulisan kecil

Kelanjutan dari kekuatan bisa menulis di mana saja adalah para mahasiswa mendapatkan kekuatan bisa membaca tulisan kecil. Gak mungkin dong kita nulis di meja, tapi tulisannya gede-gede kayak paha badak? Pasti kita akan menulis sekecil mungkin! Dan karena faktor itulah, kita mendapatkan kekuatan membaca tulisan kecil untuk mengisi jawaban dari soal UAS.

Saat mendapatkan contekan dari temen berupa gumpalan kertas juga isinya pasti tulisan kecil, gak mungkin 1 folio. Jadi, kekuatan ini bener-bener bermanfaat demi meraih IP tinggi.

4.Kekuatan untuk berbicara dan mendengar tanpa suara

Apabila semua contekan yang sudah kita buat gak ada yang keluar di soal, kita bener-bener gak tau jawabannya, pilihan 50:50 sudah dipakai, phone a friend gak bisa digunakan karena saat UAS dilarang membawa hape, maka satu-satunya cara agar lembar jawaban terisi adalah dengan bertanya ke temen.

Jika bertanya bisa menggunakan kode lewat jari, memberi jawaban akan lebih ribet karena kita harus mendiktekan jawaban ke temen tanpa suara.

TANPA SUARA! *sengaja diulang biar keren*

Tiba-tiba aja kita bisa ngomong tanpa mengeluarkan suara, hanya melalui gerakan bibir, kerennya temen kita bisa ngerti kita ngomong apaan dan segera mencatat jawabannya. Keren.

5.Kekuatan merasakan tatapan tanpa melihat

30 menit awal di UAS, biasanya para mahasiswa akan berusaha mengerjakan soalnya sendiri. Tanpa tolah-toleh, pandangannya terfokus pada lembar soal dan kertas folio. 30 menit awal sudah terlewati, kita mendadak punya kemampuan merasakan tatapan. Kita mendadak ngerasa orang di belakang atau sebelah kita membutuhkan bantuan, dan kita segera menoleh. Setelah menoleh, orang yang kita tatap tadi langsung menggunakan kode di tangannya untuk bertanya nomor soal yang dia tidak tau jawabannya. Iya, dengan menatap orang lama-lama, dia akan tau kalo dia ditatap. Kekuatan yang mengerikan!


6.Kekuatan gak mau rugi
“Ssssttt!”

“Uhuk!”

Cara-cara di atas adalah cara klasik jika kekuatan tatapan mendadak tidak berfungsi. Biasanya temen yang dikodein begini adalah temen yang pinter tapi mendadak budek pas ujian. Dikodein gak noleh, dipanggil gak noleh, dilempar bom nuklir dia mati. 

Gue menyimpulkan, mahasiswa tipe ini berusaha mendapatkan IP bagus dengan kekuatan pura-pura budek. Dia gak mau temen-temen lainnya mendapat IP bagus seperti dia. Mahasiswa begini, halal dikucilkan dari pergaulan.

Kayaknya itu aja kekuatan-kekuatan yang muncul (yang gue sadari) saat berlangsungnya UAS. Mungkin ada kekuatan lainnya yang gak gue sadari, tapi ya namanya juga mahasiswa, selalu menghalalkan segala cara agar dapet IP tinggi, bisa ngambil banyak mata kuliah semester depan, semakin cepet juga galauin skripsi… Eh.

Magang dan Quentin Jacobsen

Sudah di penghujung tahun 2015. Seperti kebiasaan para blogger, momen ini dijadikan bahan postingan, entah untuk membahas apa saja pencapaian di tahun 2015 atau resolusi untuk tahun 2016. Iya, momen ini bener-bener membantu blogger murtad yang sering kehabisan bahan buat diposting, kayak gue.

Tahun 2015 merupakan tahun yang epic bagi gue. Awalnya gue takut banget menghadapi tahun 2015 karena di tahun ini gue semester 7, gue bakal magang, karena gue kuliah jurusan pendidikan maka gue magangnya jadi ikan. Oke, bukan. Jadi guru.

Bisa dibilang gue kuliah tanpa bener-bener minat kuliah. Magang tentunya sudah jadi ketakutan bagi gue. Jangankan ngajar, kuliahnya aja gak minat. Gue takut menyesatkan calon penerus bangsa ini. Untungnya, magang gue selama 3 bulan dari bulan Agustus sampai Oktober berlalu tanpa hambatan. Emang bener, cara paling mudah menaklukan ketakutan kita adalah dengan menghadapinya. #SokBijak #SokPesanMoral #YogaGanteng
yay!
Selain magang, di tahun 2015 ini juga gue bener-bener keluar dari zona nyaman gue. Setelah lama berdiam diri di rumah aja, gue akhirnya ke luar kota. Terakhir kali gue ke luar kota itu tahun 2013, gue ke Surabaya dan Malang. Kenapa gue jarang ke luar kota? Sebenernya simpel. Gue buta arah. Gue bukan pengingat dan penghafal jalan yang baik. Gue masuk ke gramedia aja tersesat nyari pintu keluar.

Alasan satu-satunya bagi gue si buta arah ini keluar kota adalah karena gue saat itu LDR-an Balikpapan-Samarinda. Iya, gue di Balikpapan, pacar gue di Samarinda.

Dua tahun sebelumnya, gue pernah juga LDR-an Balikpapan-Samarinda, tapi guenya gak pernah ke Samarinda karena si doi emang seminggu sekali pulang. Gak pengin ngulang kesalahan di hubungan sebelumnya, gue coba keluar dari zona nyaman gue: gue samperin dia ke Samarinda.

Mungkin, emang dia bukan belum jodoh gue. Hubungan kita harus berhenti setelah 5 bulan. 

Lima bulan berlalu, kadang gue suka keinget sama mantan gue itu. Bayangan masa lalu dari pertama kita kenalan, kita ketemuan, chating tiap hari, jadian, ngambek-ngambeknya, ditinggal ketiduran, ke fun city mainan kayak ababil lepas, ke pasar malam naik kora-kora KW yang bikin gue mau muntah ectoplasma, bangunin dia tidur biar gak telat kuliah, ke Samarinda cuma buat bilang kalo gue kangen pengin ketemu. Gue gak pernah seserius itu pacaran, apa lagi statusnya LDR-an.

Awalnya, beberapa bulan setelah kami putus, gue sempet nyesel mengiyakan saat dia minta putus. Belakangan ini gue sadar, bahwa gak semua yang diperjuangin bakal kita dapatin. Mungkin ada hal-hal lain di luar kesadaran kita yang bisa kita dapat dari perjuangan kita tadi. 

Gue jadi ingat film Paper Towns, di mana si Quentin Jacobsen berusaha nemuin si Margo Roth Spiegelman, cewek yang menjadi cinta pertamanya sejak kecil yang dianggapnya suatu ‘keajaiban’. Quentin mencari Margo yang menghilang lewat petunjuk-petunjuk yang ditinggalkan oleh Margo. Bersama ke-4 temennya, Quentin melalukan perjalanan dari Orlando ke New York untuk menuju paper towns (kota kertas atau fiktif) bernama Agloe. Sampai di Agloe, Quentin bertemu Margo dan nyatain perasaannya, ternyata si Margo ninggalin petunjuk bukan untuk ditemukan atau disusulin, cuma pengin ngasih tau kalo dia baik-baik aja. Nyeseknya, Margo cuma nganggap Quentin sebagai teman. Awalnya Quentin kecewa, perjalanan jauhnya terasa sia-sia. Tapi dia sadar, bahwa karena Margo-lah dia bisa nemuin “keajaiban” bernama pengalaman, jati diri, juga persahabatan bersama 4 orang temennya yang nemenin dia buat nyari Agloe.

Sama seperti Quentin, berkat ‘dia’ gue bisa keluar dari zona nyaman gue. Perjalanan gue ke luar kota naik motor untuk pertama kali. Iya, gue jadi tau gimana rasanya encok naik motor bolak-balik Balikpapan-Samarinda.

Gue juga tau rasanya masuk angin parah karena maksa pulang hujan-hujanan dari Samarinda karena gue gak ijin sebelumnya ke orang tua gue mau ke luar kota. (Ini jangan ditiru, karena ijin orang tua adalah yang paling utama). 

Pertama kali gue bolos kuliah cuma untuk nonton konsernya dia karena cuma pengin liat dia bahagia gue datang ke konsernya. Tau bahwa kesibukannya main biola sama sekali gak mengganggu hubungan kita, bahkan itu yang bikin gue bangga sama dia.

Mungkin bagi orang lain, ini tampak bodoh, tapi bagi gue… ini spesial.

Perjalanan gue selalu ditemani sohib gue, Dana, dan kita berdua selalu sepakat, “Bukan masalah bertemunya yang bikin berkesan, tapi… perjalanannya itu loh.”

Semua perjalanan, pengalaman dan perjuangan gue mungkin adalah ‘keajaiban’ yang gue dapat dari hubungan itu. Gue sendiri gak tau kabarnya dia bagaimana sekarang. Mungkin sekarang ‘Margo’ sedang bahagia dengan dunianya yang baru, di ‘paper towns’ tanpa gue.

Iya, gue.

Si Quentin Jacobsen.

Si Cemen vs Bendol KW

Gue anak motor.

Bukan, maksud gue anak motor itu bukan anak-anak yang hobi kebut-kebutan dan utak-atik motor, misalnya aja kayak ganti knalpot pake knalpot racing, ganti ban pake ban sepeda roda tiga, ganti lampu motor pake senter. Maksud gue anak motor adalah ke mana-mana gue selalu naik sepeda motor, untuk menunjang aktifitas sehari-hari gue.

Pertama kali gue bisa mengendarai sepeda motor adalah saat kelas 6 SD. Tapi masih sebatas keliling komplek dan harus membonceng kakak gue biar aman. Untuk ke jalan raya, gue baru melakukannya saat kelas 2 SMA, setelah gue punya SIM C.