A Great Story Comes With Great Stupidity

Berburu Makanan Enak di Semarang? Yuk, Datangi 3 Tempat Wisata Kuliner Ini

Indonesia sudah terkenal akan kelezatan kuliner dari setiap wilayahnya, mulai dari Sabang sampai Merauke. Begitu pula dengan kuliner Semarang yang mempunyai keragaman kuliner dengan cita rasa yang boleh diadu dengan daerah lain. Berbeda dengan suasana di warung maupun restoran, mengunjungi pujasera akan lebih menghemat waktu Anda. Penasaran apa saja kuliner nikmat yang ada di pujasera Kota Atlas ini? Berikut adalah tempat wisata kuliner di Semarang yang tersohor akan kelezatannya.

1. Pasar Semawis
sumber: exploresemarang.com
Ingin mencoba semua kuliner Semarang tapi waktu liburan hanya sebentar? Jangan khawatir, datang saja ke Pasar Semawis yang buka di waktu malam  tiap hari Jumat hingga Minggu. Di tempat ini, setidaknya terdapat 100 kedai yang menawarkan aneka kuliner dari yang tradisional sampai modern. Anda bisa menikmati ikon kuliner Semarang, seperti lumpia, tahu petis, tahu pong, wedang tahu, dan lain sebagainya. Bagi yang ingin mencoba camilan modern, Anda bisa dengan mudah menemui pedagang yang menjual martabak aneka topping, takoyaki, churos, okonomiyaki, hingga burger.

Bagi wisatawan muslim sebaiknya bertanya terlebih dahulu apakah makanan yang dijajakan mengandung daging/ minyak babi. Hal ini wajar karena Pasar Semawis berada di kawasan pecinan Semarang yang mayoritas beragama Konghucu. Jika Anda dari kawasan Simpang Lima, pasar ini berjarak kurang lebih 5 km melalui jalan Gajah Mada.

Selain menawarkan aneka makanan dan minuman, di pasar ini Anda bisa berbelanja pakaian, aksesori, maupun mencoba ramalan menggunakan kartu tarot. Di pintu masuk, Anda akan disambut penampilan pengamen yang berasal dari kalangan pelajar yang bergiliran menghibur pengunjung. Apabila datang di hari besar Tionghoa, Anda bisa menyaksikan berbagai pertunjukan, misalnya barongsai, kelompok musik klasik, hingga pementasan Wayang Potehi yang hanya ada satu di Semarang.

2.   Taman Menteri Supeno
Taman yang berada di jalan Menteri Supeno Mugassari Semarang Selatan  ini biasa dikenal dengan nama Taman KB oleh warga Semarang. Dinamakan demikian karena di tengah taman ini terdapat patung seorang ibu bersama dua orang anak yang merupakan propaganda pemerintah untuk menjalankan program keluarga berencana. Kawasan wisata kuliner ini beroperasi tiap hari Senin-Jumat mulai pukul 16.00 WIB dan Minggu pagi saat car free day berlangsung.

Pedagang kaki lima yang berjualan di taman ini merupakan pedagang pindahan dari Jalan Pahlawan. Saat ini, Taman KB telah dilengkapi dengan banyak tempat duduk serta lampu yang menambah kenyamanan pengunjung taman. Sehingga taman ini kerap digunakan sebagai tempat berkumpul anak muda Semarang.

3.   Jalan Pandanaran
Sumber : hellosemarang.com
Berwisata ke suatu kota pasti tidak akan lengkap tanpa membawa oleh-oleh untuk keluarga dan sahabat. Saat Anda mengarah ke Tugu Muda dari Kawasan Simpang Lima Semarang, Anda akan melalui sebuah jalan bernama Jalan Pandanaran. Jalan yang berada di pusat kota Semarang ini merupakan pusat penjualan oleh-oleh berupa makanan khas Semarang, seperti lumpia, wingko babat, tahu bakso, dan aneka olahan bandeng.

Di sini bandeng tidak hanya dioleh dengan cara dipresto, tapi juga dibuat menjadi otak-otak, dibumbui teriyaki, bandeng vacuum, serta bandeng boneless. Selain oleh-oleh berupa makanan, Anda juga bisa berburu suvenir di jalan yang selalu ramai ini.

Bagi Anda yang ingin berburu kuliner di Semarang, Anda harus menyiapkan hotel terbaik agar puas mencicipi kuliner khas Semarang. Tersedia beragam pilihan hotel murah di Semarang seperti Airy Rooms.

Dengan tujuh jaminan fasilitas di setiap kamarnya (kamar tidur bersih dan nyaman, AC, kamar mandi dengan shower air hangat, perlengkapan mandi, air minum, tv layar datar, dan wifi gratis), pemesanan kamar yang praktis, serta pembayaran yang fleksibel, liburan Anda pasti akan lebih menyenangkan.

Bertemu Pemilik Blog Sarang Maksiat, Sesuatu Banget sob!

Sempet semangat ngeblog lagi di tahun 2016, pas masuk ke tahun 2017, eh kendor lagi. Tahun 2016 waktu itu emang gue bikin komitmen ke diri sendiri untuk nge-post seminggu sekali, jadi dalam sebulan ada 4 postingan. Hal ini ternyata gak bisa gue ulangi pas tahun 2017. Udah mirip kayak ngebet banget ngejar gebetan, pas sudah jadian, eh berasa enakan jomblo.

Salah satu faktor yang bikin semangat ngeblog gue membara di tahun 2016 mungkin karena gue secara gak sengaja membuat geng blogger Wahai Para Shohabat (WPS). Sebulan sekali kami membuat proyekan menulis, jadi setidaknya gue cuma mikirin 3 ide tulisan doang karena 1 ide dari proyekan ini.

Tahun 2017, WPS mulai vakum bikin proyekan karena kami sibuk.

Terima Kasih Tahun 2017!

Sudah lama enggak nulis di blog, sekarang gue bingung mau nulis apaan. Hehe. Oiya, siapa tau ada yang bingung kenapa blog ini sudah sebulan lebih gak di-update (dan sepertinya gak ada juga sih yang peduli tapi tetep aja gue jelasin buat panjangin tulisan), itu karena sebulan terakhir ini gue sudah mulai membangun Negara baru. 

Oke, becanda.

Gue sudah kerja dan… dunia kerja benar-benar mengambil alih waktu gue di dunia maya. Jadi, buat yang ngira gue lagi di penjara karena nabrak orang saat latihan menyetir mobil (karena postingan terakhir gue soal latihan nyetir), simpan kembali dugaan kalian. Gue sibuk beradaptasi dengan rutinitas baru ini.

Jadi, gue pergi kerja pukul 7 pagi karena letak kantor yang di pusat kota sedangkan rumah gue di pinggiran. Pulang kantor pukul 7 malam karena pulang pukul 5 sore adalah hal mustahil di unit gue. Sampai rumah gue langsung ngemil bodrex, meluk kasur, mengistirahatkan punggung yang lelah karena duduk seharian, gak lama gue ketiduran. Begitu kegiatan gue selama 5 hari kerja.

Hari Sabtu gue tetap masuk kerja, setengah hari sih. Tapi lagi-lagi pulang tepat waktu adalah mitos di unit gue. Gue baru bisa pulang pukul 2 siang. Biasanya tiap hari Sabtu sepulang kerja gue langsung pulang dan tidur untuk malam mingguan di malam harinya. Hari Minggu gue pake untuk tidur seharian yang tujuannya adalah mengisi ulang tenaga karena besoknya… sudah Senin lagi.

Wuuuuuussshhhhh!!!

...baca cerita sebelumnya di sini.

Kaki kiri gue angkat pelan-pelan dari pedal kopling, mobil mulai berjalan pelan, gue arahkan setir ke kanan. Baru aja mau injek gas…

MOBILNYA MATI!

MOBILNYA MATIIIII!!!

Tin… Tin… Tin…

Riuh rendah suara klakson mobil dan motor yang jalannya kembali terhalang oleh mobil gue terdengar makin menyeramkan.

Gue mau nangis.

“Ayo jangan panik. Coba injak kopling, terus nyalakan lagi mobilnya.” Kata om instruktur. 

Ya Allah... gue gak nyangka di balik wajahnya yang tampak tidak bersahabat, ternyata om instruktur ini punya sisi lembut juga, dia peduli sama gue. Untungnya gue masih normal dan gak suka om-om, kalo enggak, sudah gue peluk nih.

Oke. Fokus.

Kaki kiri gue menginjak kopling, tangan kanan gue memutar kunci ke kanan. Mobil kembali menyala.

“Lepas kopling setengah, sampai mobilnya bergetar, tahan.” Kata dia lagi. Seperti robot, gue turuti kalimat yang barusan gue dengar.

“Nah, sekarang lepas remnya pelan-pelan.”

Kaki kanan gue yang ada di pedal rem gue tarik pelan-pelan. Mobil pun berjalan lurus ke depan dengan pelan. Wow! Gue nyetir mobil, coy! Baru aja mau syukuran karena bisa jalanin mobil, tiba-tiba terdengar suara om instruktur, “SETIRNYA BALAS KE KANAN! CEPAT! KALO GAK KITA MASUK SELOKAN!!!”