A Great Story Comes With Great Stupidity

Basa-Basi Macam Apa Ini?!

Gue kadang iri sama orang yang punya kemampuan untuk gampang akrab sama orang lain yang baru aja ditemui, apalagi orangnya jauh lebih tua dari usia kita. Temen gue, Dana, dia gampang banget akrab dengan orang tua, baik orang tua gue, orang tua pacarnya atau orang tua di bungkus wafer tango.

Orang-orang tipe ini selalu aja gampang menemukan topik yang bisa dijadikan bahan pembicaraan, walaupun cuma basa-basi doang.

Jujur, gue paling gak bisa ngobrol sama orang tua gitu. Paling hanya basa-basi di awal, lalu yaudah… diem kayak gambar jpeg.

Orang-orang seperti gue ini jika diajak ngobrol sama orang yang lebih tua, jawaban yang gue punya hanya:
1. Iya hehehe
2. Oh hahaha
3. Ehe

Sebenernya gue bukannya gak bisa. Bisa sih, tapi takut salah dalam memilih kata dan salah topik pembicaraan. Misal nih gue jemput pacar lalu ketemu bokapnya si pacar dan diajak ngobrol. Mau ngomongin sepak bola (karena biasanya laki-laki suka sepak bola), takut beda tim favorit. Mau ngomongin politik, takut beda pandangan politik. Mau muji anaknya dengan kalimat, “Anak om leh uga…” takut digampar. :(

The Trickster

"Mayor, please…”

Kami semua diam, menatap Joni dengan datar. Sesekali salah seorang dari kami menggelengkan kepala, tidak percaya dengan semua argumen dia. Kami semua yakin bahwa dia adalah pembunuh yang kami cari selama 2 malam terakhir.

“Tolong, mayor…” mohonnya lagi. “Kalian salah orang! Aku orang baik.”

“Jangan percaya, mayor! Pasung aja! Bakar!” Ucap Irfan penuh semangat.

“Pasung atau bakar, nih?” Tanya sang mayor. “Yang konsisten, dong!”

“Pasung, lalu bakar!” Irfan menjawab dengan lantang.

Aku menatap pimpinan desa ini alias sang mayor, Febri, dia menatap Joni dengan tajam. Bibirnya ia gigit, lalu membuang pandangannya ke luar. Joni memasang tampang memelas, sorot matanya meminta belas kasihan dari sang mayor.

“Gak! Aku gak percaya! Eksekusi dia!” Tunjuk Febri ke arah Joni.

“YEAAAH! BAKAAAR!!!” Seluruh penduduk desa tampak senang dengan keputusan Febri sang mayor.

Wajah Joni menjadi pucat pasi.

Dengan penuh semangat puluhan warga desa menggiring Joni ke ujung desa, melewati hutan yang tak terawat. Pohon tua dan rumput menjuntai tinggi menjadi pemandangan yang mengerikan. Langkah penduduk desa terhenti di sebuah batang pohon tua yang besar sekali. 


Pohon itu adalah tempat para warga desa mengeksekusi warga yang bersalah. Sang tersangka akan dipasung ke sebuah dahan yang runcing, tepat di bagian jantungnya, kemudian tubuhnya diikat dan dibakar habis. Tulang dan abu sisa seorang warga yang dieksekusi kemarin tampak berserakan di samping akar yang besar.

Dua orang warga desa bertubuh besar mencengkram kedua tangan Joni yang masih berusaha melepaskan diri. Mereka siap menggangkat tubuh Joni dan memasungnya.

Penduduk desa mulai menyirami bensin ke tubuh Joni dengan penuh semangat, seakan-akan Joni adalah tumbuhan dan bensin adalah airnya. Febri selaku mayor berdiri paling depan dengan obor menyala di tangannya.

“Ada kata-kata terakhir?” tanyanya.

Dear Hooman

Meow!

Oh maaf, sepertinya aku musti pakai bahasa manusia untuk menyapa pembaca blog ini (itu pun paling yang baca udah diancam aib keluarganya bakal diumbar). Jadi, aku ulang deh.

Halo!

Aku cuma mau ngasih tau kalo saat ini, blog ini statusnya adalah sedang aku bajak. Yoganya sudah aku kunciin di tempat yang paling aku benci, yaitu kamar mandi. Lagian dia lama banget di kamar mandi, habis-habisin sabun aja.

Sesuai dengan salam yang kuucapin pertama tadi, kalian pasti tau siapa aku. Belum tau? Baiklah, aku adalah seekor kucing peliharaan Yoga bernama Black, Nama asliku sebenarnya adalah Item, tapi karena terdengar kampungan, namaku diganti menjadi Blaszczykowsky, lalu diganti lagi menjadi ‘Black’, biar gampang disebut dan mengurangi risiko lidah keseleo.

Psikotes Oh Psikotes

Menjadi sarjana yang salah jurusan itu ternyata bisa fatal banget. Saat mencari kerja, jadi susah banget. Karena jurusan yang dipilih enggak sesuai minat dan gak pengin terjebak di dunia kerja yang salah juga, saat mencari pekerjaan, mau enggak mau ya harus mencari lowongan kerja yang sesuai minat tapi persyaratannya adalah menerima semua jurusan.

Dan itu sulit banget.

Satu lagi, gue lah sarjana salah jurusan itu.

Dengan gelar sarjana pendidikan ekonomi ini, seharusnya gue melamar pekerjaan sebagai guru. Entah kenapa, jiwa gue bilang kalo gue gak bakal cocok jadi guru. Gue pernah mengajar sebelumnya (saat magang), asik sih sebenernya, tapi… kok rasanya bebannya berat banget.

Masa depan puluhan anak-anak polos di sekolah itu di tangan gue. Salah-salah ngasih ilmu bisa-bisa mereka malah tersesat. Harusnya gue kasih ilmu ekonomi, malah gue kasih ilmu kebal. Kan bahaya. Entar makin banyak Limbad di Indonesia.

Kebimbangan di hati gue itulah yang mendorong gue untuk melamar kerja tidak sebagai guru. Gue yakin, masa depan bangsa ini akan menjadi lebih baik karena keputusan gue ini. Gue juga yakin, Pak Anies Baswedan pasti sedih kalo baca tulisan ini.

Posisi atau pekerjaan yang gue incar jelas yang berhubungan dengan ekonomi, biar ilmu gue gak terlalu mubazir, selain itu gue juga mengincar posisi ODP (Officer Development Program) atau MT (Bukan, ini bukan Mario Teguh, tapi Management Trainee). Biasanya bank atau perusahaan gitu yang membuka lowongan seperti ini. Kedua posisi itu intinya adalah kalo gue keterima, gue bakal training selama 1 tahun, lalu lulus dan jadi manager. Pokoknya jabatannya lumayan tinggi gitu. Gue juga enggak terlalu paham sih, ini juga dikasitau sama temen gue.

***

Malam itu gue dapet sebuah e-mail yang memberitahukan bahwa gue lolos seleksi berkas. Gue baca baik-baik e-mail tersebut, kata demi kata.

Kepada Yth.
Bapak/Ibu Peserta Tes Management Trainee

Kami dari PT. XXX mengucapkan SELAMAT ANDA LOLOS tahap seleksi berkas. Kami mengundang Bapak/Ibu untuk mengikuti seleksi tahap berikutnya yaitu psikotest dan FGD yang akan dilaksanakan pada:
….

Gue langsung jerit kegirangan! Lari mengitari lapangan sambil selebrasi buka baju.

Gimana gak girang coba kalo gue lolos seleksi berkas untuk posisi MT, cuy! EM TE!!! MARIO TEGUH, EH MANAGEMENT TRAINEE!!!

Lima detik kemudian gue langsung googling: APA ITU FGD YA ALLAH?!

Setelah googling dan akhirnya menemukan titik terang bahwa FGD itu adalah Focus Group Discussion yang artinya adalah… bentar, gue buka google translate dulu.

Oke, jadi FGD sendiri merupakan sebuah kelompok diskusi yang terdiri dari 6 sampai 8 orang dalam sebuah ruangan dan duduk membuat lingkaran. Mereka akan mendiskusikan sebuah topik yang diberikan oleh HRD atau moderator FGD dalam kurun waktu tertentu. Serta dalam FGD, biasanya moderator juga, dibantu oleh seorang penilai atau notulen (red-perusahaan/HRD).

Sampai di sini gue takut, karena gue gak pernah melakukan FGD sebelumnya. Saat di kampus, dosen gue gak pernah menggunakan metode FGD. Paling banter juga presentasi kelompok, itupun yang ngasih pertanyaan juga hasil kongkalikong sebelum kelas dimulai.

Mahasiswa yang mau presentasi: “Ntar kalian Tanya ini, ya.” *ngasih kertas pertanyaan yang jawabannya sudah terekam jelas di otak*

Mahasiswa yang jadi penonton: “Oke! Biar sama-sama dapat nilai!”


Gue pun berusaha tenang, berpikir keras perihal FGD ini, lalu menyimpulkan bahwa poin penting dari FGD adalah kita bisa memecahkan suatu masalah, yang artinya adalah gue musti punya ilmunya, biar gak asal ngasih solusi.

Gue segera bongkar rak buku gue, mencari buku ilmu manajemen gue saat kuliah semester 2 lalu, kemudian gue belajar. Membaca dari awal buku ilmu manajemen yang tebalnya bisa dipakai untuk membuat sapi gegar otak gue lakuin, demi suksesnya gue saat FGD.

Psikotes? Gampang! Beberapa minggu sebelumnya gue sempet ikut psikotes juga di suatu perusahaan dan lolos, tapi gagal di interview terakhir. Jadi, psikotes itu gampang lah, ya?

***

Pukul setengah 9 gue tiba di tempat tes. Dari parkiran sudah ada beberapa orang yang gue yakini adalah satu spesies seperti gue, yaitu pencari kerja. Jumlah mereka ada sekitar 5 orang. Setan di kepala gue tiba-tiba muncul dan bilang, “Mereka sainganmu, ayo celakakan mereka! Sliding tackle satu per satu biar mereka tidak bisa ikut tes! Lumayan sainganmu akan berkurang!”

Untungnya malaikat segera menyadarkan gue.

“Jangan lalukan itu Yoga. Ingat, rezeki itu sudah ada yang mengatur. Ingat juga, kamu pakai pantofel, sepatumu bakal rusak kalo melakukan sliding tackle di aspal. Kamu mau rugi apa?”

Sampai di tempat tes, gue melakukan registrasi, gue lihat-lihat, yang ikut tes ini lumayan banyak. Sekitar 70-an orang.

Gue pun masuk ke dalam ruangan, lalu memilih meja yang letaknya agak belakang. Dinginnya AC membuat gue mengurungkan niat gue untuk melepas jaket. Gue menggosok-gosokkan kedua tangan gue biar hangat. Seorang laki-laki bertubuh tinggi besar duduk di bangku kosong sebelah gue.

“Kosong, Mas?” tanyanya, ramah.

Gue mengangguk. Dia pun duduk, meletakkan tasnya di samping meja. Lalu melihat ke arah gue dan menjulurkan tangannya. “Saya Steve, Mas.”

“Yoga.” Jawab gue.

Lalu diem-dieman. Ya mau ngobrolin apalagi coba? Tapi kalo diem-dieman begini gak enak juga. Entah berapa jam ke depan, dia bakal bersama-sama gue mengerjakan psikotes. Gue musti berinteraksi dengan dia. Tapi, gimana caranya? Gue pengin membuka percakapan dengan mengatakan, “dingin, ya?” tapi takut dianggap kode minta peluk. Akhirnya gue Tanya-tanya aja soal kuliahnya dia. Ternyata dia lulusan universitas kota tetangga, baru lulus 2016 kemaren kayak gue, tapi dia satu angkatan di atas gue. Ternyata dia juga kakak kelas gue pas SMA, tapi gue enggak kenal. Balikpapan sempit, bos!

Kami lalu disuruh mengisi formulir untuk mengikuti tes ini, sambil mengisi formulir, seorang bapak-bapak bertubuh tambun berdiri di atas panggung, dengan mic di tangan, dia berkata, “LET’S MAKE SOME NOISEEEE!!!

Ya enggaklah!

Beliau ternyata adalah orang yang mengirim e-mail, beliau kemudian menjelaskan apa sih MT itu? bagaimana tahapan yang musti dilalui agar terpilih? bagaimana jenjang karirnya? bagaimana kalo yang dibilang teman sama pacarmu itu ternyata selingkuhannya?

Setelah semua penjelasan tadi, tanpa basa-basi, soal pun dibagikan.

Gue berusaha setenang mungkin. Karena katanya poin penting dari psikotes adalah kita musti tenang, gak boleh tegang. Karena kalo tegang bakal bahaya banget, entar yang harusnya mengeluarkan alat tulis, malah mengeluarkan alat vital. Astaghfirullah.

Seingat gue tes waktu itu ada 9 sesi, di mana setiap sesi itu terdiri dari 20 soal dengan berbagai jenis tes. Dan tiap sesi saat itu diberi waktu hanya 6 menit.

Sesi 1 tes pengetahuan umum (ah, gampang!).

Sesi 2 tes persamaan kata (masih gampang!).

Sesi 3 tes hubungan kata. (Gak ada yang lebih sulit nih?)

Sesi 4 tes pengertian kata (Mana soal yang sulitnya woy?)

Sesi 5 tes aritmatika (Hgggg... TADI BECANDA AJA YA ALLAH INI KOK JADI SULIT BENERAN?)

Sesi 6 tes deret angka (Mampus gue! Mampus!)

sesi 7 tes potongan gambar (Ah! Lumayan bisa nih)

sesi 8 tes kemampuan ruang (speechless)

sesi 9 tes menghafal cepat (WAKTUNYA 1 MENIT DOANG NIH?!)

Selesai dengan 9 sesi, otak gue mulai korslet dan mengeluarkan asap. Apakah selesai? Oh belum! Masih ada tes Koran. Bukan, tes Koran ini artinya bukan disuruh untuk menjual Koran, apalagi disuruh membuat karya seni dari bubur Koran. Tapi… disuruh menjumlahkan deretan angka, dari atas ke bawah.
Deretan angkanya kayak gini dan banyak, ini cuma 1/8-nya doang
1 jam kemudian, tes terkutuk itu akhirnya selesai juga. selesai ngerjain tes ini rasanya pengin ngemil bodrex extra. Aslik! Pusing banget kepala gue!

Bapak-bapak tambun tadi kembali berdiri di atas panggung, menjelaskan bahwa tes Koran tadi adalah tes terakhir dari psikotes ini. Kami semua dipersilakan keluar ruangan dulu dan disuruh kembali 2 jam kemudian untuk mengecek hasilnya, jika lolos, baru deh FGD.

Hening.

KIRAIN LOLOS ENGGAKNYA KE TAHAP SELANJUTNYA ITU DARI REKAPAN HASIL PSIKOTES DAN FGD!

Gue keluar ruangan dan memilih untuk mencari makan karena sudah pukul setengah 1 juga. bersama Steve dan temannya (Gue lupa namanya karena orangnya asik sendiri sama hp, mungkin kita namakan saja dia Tukijo), kami bertiga pergi ke sebuah warung yang letaknya enggak jauh dari tempat tes itu.

Sambil makan siang, kami bertukar cerita sudah memasukkan lamaran ke mana aja, bertukar info soal lowongan kerja, lalu bertukar nomor hape. Enggak, gue masih normal. Tukaran nomor hape kan biar gampang infoin kalo ada lowongan. Jangan suudzon begitu, ya!

2 jam kemudian kami kembali ke tempat tes.

Gue lumayan deg-degan walaupun lebih banyak pesimisnya sih, karena soal tesnya emang susah banget. Di sesi aritmatika dan kemampuan ruang gue jawab cuma dikit. YA 20 SOAL DALAM 6 MENIT MANA BISA, YA! BARU MO NGITUNG WAKTUNYA JUGA UDAH ABIS DULUAN! WHY WE FALL IN LOVE WITH PEOPLE WE CAN’T HAVE?!
Sampai di depan ruangan tes yang tertutup, di sana sudah ada beberapa peserta lain yang tampak lemas, sepertinya mereka enggak lolos. Kami bertiga menuju ke depan pintu, di sana tertempel sebuah kertas berisi daftar nama yang lolos untuk FGD dan cuma 5 orang doang. Iya, 5 doang. Ini mau sesi FGD apa main futsal sebenernya sih?

Dari 5 nama itu ojelas… enggak ada nama gue.

Untungnya gak ada nama si Steve dan Tukijo juga. Jadi gak nyesek-nyesek amat pas tau kenyataan bahwa gue gagal. Kami bertiga saling tatap-tatapan, lalu menghela nafas dan mulai berbalik badan, untuk kembali ke parkiran sambil berusaha tegar. “Belum rejeki.”

***

Di perjalanan pulang gue jadi mikir, selain belum rejeki, kayaknya gue gagal karena terlalu meremehkan psikotes dan terlalu fokus untuk FGD. Seharusnya gue fokus di psikotes yang jelas-jelas tahapan pertama yang musti gue lalui. Gue juga enggak berusaha sebaik mungkin padahal jelas-jelas saingan gue banyak. Mungkin karena itulah Tuhan menegur gue, bahwa MT di perusahaan ini bukan rejeki gue.

Baiklah, masih ada panggilan tes kerja lainnya, semoga kali ini rejeki gue.






--
Sumber dan referensi:
http://www.kompasiana.com/febyunsoed/tips-dan-trik-menghadapi-focus-group-discussion-fgd_550d7f71a33311211e2e3b3d
http://saungdejavu.blogspot.co.id/2013/04/tes-koran.html