A Great Story Comes With Great Stupidity

Barbershop Story - Tunggu, ya...

Awal bulan ini gue baru aja potong rambut.

Sebenernya gue selalu malas untuk potong rambut. Entah kenapa tiap kali bercermin, gue selalu lebih suka rambut gue agak gondrong dibandingkan pendek, rapi dan klimis. Gue jadi kurang percaya diri karena menurut gue, rambut pendek dan rapi itu tidak cocok dengan kontur kepala dan struktur wajah gue. Atau dengan kata lain, rambut pendek mengurangi tingkat kegantengan gue yang sudah minus ini.

Alasan lain yang bikin gue malas untuk potong rambut adalah… malas antre.
Bagi sebagian orang, hal paling membosankan di dunia ini adalah menunggu. Entah menunggu antrean, menunggu panggilan kerja, sampai menunggu gebetan putus dari pacarnya. :’)

Gue sendiri termasuk golongan orang-orang di atas. Bukan, gue bukan golongan orang-orang yang nunggu gebetan putus dari pacarnya. Gue golongan orang yang gak suka menunggu.

Makanya, tiap mau potong rambut, gue selalu pergi ke barbershop tiap abis maghrib. Menurut gue, ‘abis maghrib’ itu adalah jam di mana enggak terlalu banyak aktifitas yang terjadi di luar rumah. Jadi, gue menyimpulkan kalo barbershop yang gue tuju pasti sepi. Bebas dari antre. Happy ending! ^_^

Dasar Majikan Jahat!

Dear hooman...

Di sini, aku, si Blaszczykowsky mau cerita lagi dikit.


Hmmm… sepertinya hasil membajak blog ini sebelumnya cukup sukses, ya? aku bacain komentar-komentar yang masuk di tulisanku itu. Ada yang bilang tulisanku lebih bagus daripada tulisannya si Yoga, ada minta aku aja terus yang nulis di blog ini, sampai-sampai ada yang bilang begini.


Yoga ngeblog dari tahun 2011 seumur-umur belum pernah dikomentarin begitu, aku baru sekali ngepost udah dapet komen begitu. Mhihihihi….

Blaszczykowsky 1 – 0 Yoga.

Tapi, ya aku bingung juga sih musti seneng atau sedih pas baca komentar yang masuk. Seneng karena enggak nyangka aja banyak yang suka sama tulisanku, sedih karena… gara-gara komentar itu, jatah makanku dikurangin sama Yoga! Dia iri dan dengki sekali sama aku.

Kalo biasanya aku makan 3x sehari, setelah tulisan itu terbit, aku cuma dikasih makan 2x. Itupun porsinya dikurangin setengah. Jangankan bikin kenyang, buat ngotorin gigi aja gak berasa.

Cerita Saat Pulang Sekolah

Tadi dari balkon rumah gue ngeliat gerombolan anak SMP pulang sekolah dengan cara jalan kaki.

Sebuah pemandangan yang kayaknya sudah jarang banget gue liat dalam beberapa tahun ke belakang. Soalnya, sekarang ini gue lebih sering ngeliat anak SMP pulang sekolah naik tank. 

Ya enggaklah! 

Naik motor motor maksud gue, padahal kan secara hukum seharusnya mereka belum boleh.
ASTAGHFIRULLAH. POLISI MANA POLISI?!
Anak-anak SMP itu harusnya pulang sekolah kalo gak naik angkutan umum, dijemput orang tua/ojek, ya… jalan kaki. Apapun alasannya, mereka belum boleh mengendarai sepeda motor sendiri. Entah karena emang skill mengendarai motornya udah kayak Valentino Rossi atau emang orang tuanya yang terlalu memanjakan anaknya, menurut gue anak SMP yang mengendarai motor itu salah. Apalagi dia naik motornya dengan posisi kayang.

Selain gak suka dengan anak SMP yang naik motor, gue juga jadi kasihan sama mereka. Kasihan dalam artian mereka enggak bisa merasakan kenikmatan pulang sekolah berjalan kaki.

Ketika memutuskan pulang berjalan kaki, ada banyak cerita dan kegiatan yang muncul. Bandingkan dengan naik motor? Paling ceritanya cuma ban bocor, kehabisan bensin, ditabrak tronton. Udah! Gak seru!

Gue sendiri dulu pas SMP pulang sekolah ya jalan kaki. Padahal jarak SMP dengan sekolah gue itu jauh. Kalo di usia sekarang gue disuruh jalan kaki dari SMP ke rumah, baru setengah jalan juga gue bakal order ojek online. Hebatnya kok dulu gue kuat, ya?

Dari SMP yang letaknya ada di sekitar perumahan, kami akan berjalan ke luar menuju jalan umum, lalu menyebrang dan berjalan melewati pasar, setelahnya kami akan berjalan lurus mengikuti jalan hingga kami akan berpisah satu per satu karena emang rumah kami semua se-arah tapi beda daerah perumahan.

Serius, gue kalo lagi naik motor kadang suka mikir, “Dulu kemana-mana jalan kaki, kok kuat ya? Sekarang mah biar naik motor aja masih kerasa capek.”
pulang sekolah jalan kaki
Gue jadi flashback ke masa SMP gue dulu dan sepertinya mendapatkan jawaban dari pertanyaan gue tadi. Mungkin alasan kenapa dulu gue kuat jalan kaki ya karena gue selalu pulang beramai-ramai bersama teman gue. Jadinya sepanjang jalan menuju rumah kami saling bertukar cerita atau melakukan banyak kegiatan bodoh, kayak gini…

Barbershop Story - Basa-Basi Macam Apa Ini?!


Gue kadang iri sama orang yang punya kemampuan untuk gampang akrab sama orang lain yang baru aja ditemui, apalagi orangnya jauh lebih tua dari usia kita. Temen gue, Dana, dia gampang banget akrab dengan orang tua, baik orang tua gue, orang tua pacarnya atau orang tua di bungkus wafer tango.

Orang-orang tipe ini selalu aja gampang menemukan topik yang bisa dijadikan bahan pembicaraan, walaupun cuma basa-basi doang.

Jujur, gue paling gak bisa ngobrol sama orang tua gitu. Paling hanya basa-basi di awal, lalu yaudah… diem kayak gambar jpeg.

Orang-orang seperti gue ini jika diajak ngobrol sama orang yang lebih tua, jawaban yang gue punya hanya:
1. Iya hehehe
2. Oh hahaha
3. Ehe

Sebenernya gue bukannya gak bisa. Bisa sih, tapi takut salah dalam memilih kata dan salah topik pembicaraan. Misal nih gue jemput pacar lalu ketemu bokapnya si pacar dan diajak ngobrol. Mau ngomongin sepak bola (karena biasanya laki-laki suka sepak bola), takut beda tim favorit. Mau ngomongin politik, takut beda pandangan politik. Mau muji anaknya dengan kalimat, “Anak om leh uga…” takut digampar. :(