A Great Story Comes With Great Stupidity

Barbershop Story - Sudah, Om. Sudah.


Gue kadang iri sama cewek. Bukan, ini bukan perkara mereka selalu bisa menganggap diri mereka selalu benar dan cowok selalu salah, atau selalu menjadikan PMS sebagai alasan untuk marah-marah ke cowok, atau juga soal mereka bisa dapet 1.7863.089 love di instagram hanya dengan nge-post foto selfie dilengkapi caption yang sama sekali gak nyambung dengan fotonya sedangkan cowok kalo nge-post foto selfie akan di-block massal.

Ini semua soal rambut.

Lebih tepatnya, soal salah potong rambut.

Menurut gue, ada ketidak adilan yang terjadi saat cewek dan cowok salah potong rambut. Cewek akan bertindak penuh drama dan penyesalan saat salah potong, seakan-akan salah potong rambut adalah sebuah akhir dari dunia, padahal mereka sehari-harinya… berhijab.

YAKAN GAK KELIATAN JUGA. HHHHH…

Kalo pun mereka sehari-harinya enggak berhijab, masih banyak model rambut pendek yang membuat mereka tetap tampak cantik.

Sekarang, mari bandingkan dengan cowok.

Maaf Untuk Keputusan Ini


Ada sebuah kalimat klise yang sering kita semua dengar: hidup adalah pilihan.

Mungkin banyak yang meremehkan atau menganggap kalimat itu hanya sebuah jargon semata, tapi sebenarnya jika kita telaah dan resapi dalam-dalam, kalimat itu benar adanya. Kalimat itu ada di setiap langkah kaki kita, dalam menghadapi hidup ini.

Dalam hidup ini tentunya kita sering banget terjebak dalam situasi yang membuat dilema. Kita harus memilih salah satu dari sekian banyak pilihan, untuk mencapai tujuan hidup kita. Dalam film Kingsman: The Golden Circle, Eggsy dan Merlin hanya akan berakhir dengan mabuk-mabukan jika Eggsy tidak melihat alamat Statesman di botol birnya dan pergi ke Kentucky untuk menyelamatkan dunia.

Begitupun dalam hidup gue. Sering kali gue dihadapkan dalam situasi yang di mana gue harus mengambil sebuah keputusan sulit. Sebuah keputusan yang mungkin dan bahkan masih gue sesali sampai sekarang.

Muncul di Koran

Bagi sebagian orang, bisa masuk koran itu merupakan suatu kebanggaan. Gue pun juga merasa begitu. Seperti ada kebahagiaan tersendiri ketika ada satu keinginan di dunia ini yang akhirnya bisa dicoret dari whistlist. Untungnya gue bukan anggota Kingsman, jadi peluang untuk masuk koran, masih terbuka.


Gue sudah pernah beberapa kali masuk koran. Bukan, ini masuk koran bukan karena melakukan aksi kriminal dan pelecehan seksual, tapi berupa sesuatu yang positif. 

Positif memakai narkoba. Ehe.

YA ENGGAKLAH!

Suatu kegiatan yang positif, membanggakan, layak diganjar piala adipura. Pokoknya yang masuk koran dan efeknya gak bikin jadi menambah aib keluarga lah.

Pengalaman pertama kali wajah gue nongol di koran itu di awal tahun 2012, pas gue kelas 12 SMA. Waktu itu kota Balikpapan lagi mau ulang tahun. Temen gue, Alip punya kenalan seorang wartawan. Berkat dialah wajah gue dan teman-teman se-geng gue sukses merusak mata mengisi di salah satu halaman Koran yang isinya ucapan dan harapan kami terhadap kota Balikpapan di ulang tahunnya.

Pilek Ini Membunuhku

Tiap pagi, cuaca di kota Balikpapan belakangan ini selalu turun hujan. Ini membuat hubungan gue dan kasur menjadi semakin sulit untuk dipisahkan. Enggak cukup sampai di situ, tiap bangun tidur juga hidung gue mendadak mampet, badan anget, kepala pusing. Iya, itu tandanya gue mau cedera hamstring.

YA ENGGAKLAH!

Tandanya gue mau pilek.

Memang cemen sih penyakit gue. Tapi biar cemen begitu, jangan pernah meremehkan penyakit pilek. Kita semua tau kalo pilek bisa menyebabkan hidung mampet, badan lemes dan kepala bernanah (ini kenapa jadi serem begini?). Kombinasi hidung mampet dan badan lemes itu tentunya bakal mengganggu kita dalam melaksanakan aktivitas sehari-hari. Entah kerja, kuliah atau merampok bank.

Gue pernah waktu itu lagi pilek parah. Ingus gue warnanya sampe ijo, kental, lengket, susah dibuang. Seakan-akan si ingus itu ngontrak di dalam hidung gue. Hidung berasa sudah penuh sama ingus, pas coba dikeluarin, eh gak ada ingusnya. Kalo pun ada, jumlahnya dikit banget. Bahkan lebih banyak janji-janji manis pacar dulu daripada ingus yang keluar. Gue pun jadi susah untuk bernafas. Karena belum mau mati karena cuma gara-gara sakit pilek, gue pun bernafas menggunakan… pori-pori. Ehe. YA PAKE MULUT LAH.