A Great Story Comes With Great Stupidity

One Button: Push It, Face It

Siang itu aku hanya terbengong di hadapan laptopku, dengan posisi duduk di depan meja belajar, lembar dokumen Microsoft word yang sudah kubuka 15 menit yang lalu masih tampak polos, belum ada terketik sepatah kata pun. Aku mengalihkan pandanganku ke jendela, siapa tau aku dapat menemukan inspirasi untuk memulai paragraf awal proposal skripsiku. Bukannya mendapat kalimat fantastis, aku malah mendapati cuaca di luar mendadak berubah menjadi mendung. Awan hitam mulai meluas di angkasa, menutupi sinar matahari, angin juga mulai berhembus kencang, membuat pepohonan mulai terombang-ambing mengikuti arah datangnya angin, juga membuat beberapa ibu-ibu mulai ke luar rumah untuk mengangkat jemuran, mengantisipasi kejadian daster kesayangan terbang tertiup angin.

“Wuihhhh… anginnya sadis!” ujar Bobby yang tiba-tiba menempelkan wajahnya di jendela kamarku. “Ini enggak ada beha terbang gitu, ya?”

Aku hanya menghela nafas panjang mendengar pertanyaan Bobby. Aku lebih memilih untuk kembali fokus dengan laptopku. Berusaha mencari kalimat yang bagus untuk diketik.

“Kalo katanya hujan itu adalah raksasa lagi nangis, kalo angin kenceng gini apa coba? Raksasa kentut?” tanyanya lagi.

Aku menghentikan kegiatanku, menatapnya dengan memicingkan mataku, seperti pembunuh. Bobby mengangkat kedua tangannya bak tersangka, dengan entengnya dia bertanya, “Ke…kenapa? Salah?”

Tanpa menjawab, aku kembali sibuk dengan laptopku.

“Sensi amat, nyet.” Sungut Bobby. “Pantesan kamu jomlo menahun.”

Aku kembali menghentikan kegiatanku, lalu memutar kursi, di hadapanku kini ada si Bobby yang lagi asik ngulet di kasurku. Lagi-lagi dia memasang muka tidak bersalah.

“Bener, kan?” tanyanya. “Kamu sudah dua tahun jomlo, semenjak terakhir pacaran sama… siapa itu? Ah! Saking lamanya aku sampai lupa siapa nama mantanmu itu.”

“Vio.” Jawabku datar.

“Nah, Vio!” Bobby menepuk kedua tangannya. “Yamaha vio!”

“ITU MIO!” sanggahku, sebal.

“Hehehe…” Bobby nyengir. “Oiya, Vio sudah ngapain aja ya sama pacar barunya?”

“Kampret!” balasku emosi. Hampir saja kulempar laptopku, tapi gak jadi, mahal.

“Coba kamu cari pacar sana,” kata Bobby enteng. Seakan-akan nyari pacar itu kayak nyari air di lautan.

“Aku lagi gak pengin pacaran. Fokus skripsian.” Jawabku mantap, sambil menunjuk laptop yang ada di belakangku.

“Elaaahh… Skripsian masih bisa tahun depan.” Lagi-lagi jawaban Bobby bikin kesal.

“Biar wisudanya barengan sama kamu? Ogah.”

Bobby nyengir lagi.

Aku dan Bobby walaupun seumuran, tapi kami beda setahun saat kuliah. Setelah lulus SMA, aku langsung kuliah, sedangkan Bobby mencoba untuk mendaftar akademi polisi, sayangnya gagal. Karena trauma ditolak dan gak biasa ditolak, dia pun menyerah dan kini menjadi juniorku di kampus, walaupun beda jurusan. Aku mengambil jurusan hukum, Bobby mengambil jurusan tol cipularang, oke bukan, teknik mesin.

“Buat apa emang pacaran?”

“Ya biar ada yang nyemangatin, biar ada juga yang kamu tulis di halaman persembahan. Hahaha!” Tawa Bobby meledak, tidak lama kemudian dia menghentikan tawanya, “Kamu masih belum move on dari Vio?”

Sebuah pertanyaan yang menohok. Sebenarnya aku bukan tidak bisa move on. Aku sudah rela, ikhlas dan kata apapun yang menggambarkan kalo aku gak apa-apa Vio bahagia dengan cowok lain, aku hanya trauma untuk pacaran lagi. Aku dan Vio pacaran selama 2 tahun, walaupun kami beda kampus, kami tetap mesra. Tiap hari aku antar jemput dia, nemenin dia ngerjain tugas, ngerawat dia pas sakit. Semua masa-masa bahagia itu harus berakhir karena yang bikin Vio bahagia ternyata enggak hanya aku seorang, ada juga cowok lain di kampusnya. Aku belum siap untuk patah hati lagi. Berjuang tidak sebercanda itu.

“Aku kasih tau, ya. Untuk move on, yang perlu kamu lakuin cuma satu. buka hatimu.” Kata Bobby serius, sambil merubah posisinya menjadi duduk bersila di kasurku. “Ibarat naik lift, ya. Kalo kamu pengin naik ke atas, cuma butuh pencet satu tombol. Begitu juga move on. Kamu harus temuin ‘tombol’ untuk buka hatimu, nyet.”

“Tombol?” tanyaku, gak ngerti. “Temuinnya di mana?”

Bobby bangkit dari kasurku, lalu berjalan pelan ke arahku, dia mengarahkan telunjuknya ke arahku dan menempelkannya di atas alis kananku.

“Di sini, nih.”

“Kampret!” Aku menghempaskan tangan Bobby dari wajahku. “ ITU TAI LALAT!”

Bobby ngakak gak karuan. Sementara aku misuh-misuh, tawanya mulai reda, lalu ia merogoh kantong celananya untuk mengambil handphone. “Oiya, mau liat pacar baruku?”

“Bukannya udah, ya?” aku menggaruk dahiku. “Tiga hari yang lalu kamu jadian dan tunjukin fotonya. Namanya Anita, kan? Tinggi 165 cm, berat 45 kg, 34b?”

“Elaaahh… udah kuputusin!” Bobby mengehempaskan tangannya ke udara. “Oiya, lain tiga hari. Empat hari! Empat!”

Aku speechless. Sahabat macam apa ini gonta-ganti pacar kayak ganti menu makan sedangkan aku jomblo menahun?! Padahal aku tau, Anita itu cantik banget, Bobby emang sok playboy. Aku tau Bobby gak pernah awet kalo pacaran. Paling lama cuma 5 bulan, paling cepet 5 hari. Tapi sepertinya dia baru saja memecahkan rekor pribadinya sendiri.

“Mau liat fotonya, enggak?” Bobby menggoyang-goyangkan tangannya yang memegang hape. “Ini lebih cantik daripada Anita, lho.”

“Enggak, deh.” Tolakku. “Ntar paling ganti lagi.”

“Enggak. Kali ini aku tobat, aku mau pacaran serius sama yang sekarang. Aku bakal jaga dia.”

Aku hanya menghela nafas, aku sudah sering mendengar Bobby mengucapkan kalimat bullshit itu.

“Oiya, nyet. Ingat pesanku yang tadi, kan?” Bobby menunjukku. “All you need is one button”.

*****

Namaku Jemi, aku mahasiswa jurusan hukum semester 8. Di saat temen-temenku yang lain hanya mengambil mata kuliah skripsi, hanya aku seorang yang masih mengambil mata kuliah semester bawah karena nilaiku C. Sebenernya, mengambil mata kuliah semester bawah ini ada untungnya, ada ruginya. Ruginya adalah aku mahasiswa paling senior di kelas, dan ini memalukan apabila kita tidak lebih pintar dari mahasiswa yang masih polos dan imut-imut itu. Bayangin aja misalnya dosen bertanya padaku tapi aku gak bisa jawab? Bisa-bisa yang niat awalku mengulang mata kuliah, jadinya malah enggak lulus mata kuliah.

Nah, kali ini soal keuntungannya. Aku bisa ngerasain yang namanya naik lift! Dulu, pas awal-awal kuliah, aku kedapatan kelas di gedung baru berlantai 5, sayangnya gedung baru ini gak ada liftnya, dan fakultasku selalu kebagian kelas di lantai 5. Tujuh semester aku naik turun tangga! Saking lelahnya naik turun tangga mulu, waktu itu aku sempat kepikiran untuk naik jetpack, sayangnya aku gak punya. Kampretnya, pas sudah mau lulus begini, eh malah ada lift. Aku jadi percaya pepatah “Apa saja akan terlihat jadi lebih cakep saat sudah jadi mantan.”

Keberadaan lift yang sudah dinanti-nantikan para mahasiswa ini berdampak pada tingkat kenorakan mereka saat naik lift. Karena ini lift satu-satunya dan peminatnya banyak, jadilah banyak yang antri. Pas waktu itu aku lagi antri, ada seorang cowok yang antri di sebelahku sok asik dengan membuka topik pembicaraan. “Antri juga, mas?”

YAIYALAH NGANTRI, MASA IYA COSPLAY JADI PATUNG?!

Aku hanya mengangguk dan menjawab singkat. “Iya.”

“Masnya mau ke lantai berapa emang?” tanyanya lagi.

YA ELAHHH… INI ORANG GAK NGERTI APA KALO AKU MALES NGOBROL SAMA DIA?!

“Lima.” Jawabku, singkat.

“Ohhh…” dia ngangguk-ngangguk. “Kalo saya mau ke lantai dua, hehe.”

GAK NANYA, KAMPRET! LAGI PULA KE LANTAI DUA KENAPA MUSTI NAIK LIFT?! NAIK TANGGA SEMENIT JUGA SAMPE!!!

Untungnya saat itu lift yang sudah sampai ke bawah menyelamatkanku dari berubah menjadi mahluk hijau raksasa dan memukuli cowok sok asik tadi.

*****

Pagi ini aku ada mata kuliah hukum perdagangan internasional, bergabung bersama dedek-dedek semester 4. Kuliah di mulai pukul 8.00. aku melihat jam tangan yang melingkar di tangan kananku, sudah pukul 8.05. “Semoga dosennya belum datang.” Gumamku dalam hati. Dosenku ini terkenal kejam, saking kejamnya, Fir’aun kalo kenal dosenku pun akan minder. Gimana gak kejam coba kalo beliau tidak akan mengizinkan mahasiswanya masuk ke kelasnya jika datang terlambat.

Aku segera berlari dari parkiran menuju lift. Aku benar-benar bersyukur dengan keberadaan lift ini, bayangin aja kalo gak ada lift, aku bakal lari dari parkiran menuju lantai 5 naik tangga. Udah mirip adegan film The Raid. Aku Iko Uwais, dosenku Maddog.

Sepertinya hari ini adalah hari keberuntunganku, aku datang tepat saat liftnya di bawah dan pintunya terbuka. Aku segera masuk ke dalam, bergabung bersama gerombolan mahasiswa lain yang sepertinya sama-sama terancam telat. Pintu lift mulai menutup, dari kejauhan ada seorang mahasiswi setengah berlari menuju pintu lift. Dia memakai baju kaos lengan panjang bermotif belang-belang warna hitam putih, skinny jeans warna hitam, sepatu sport warna putih dan menenteng totebag.

“Narapidana kabur dari sel mana, nih?”

Aku segera menghentikan pintu lift yang akan menutup, dia pun berhasil masuk ke dalam, “Makasih. Hhhh… hhhh….” Dia mengantur nafasnya, lalu tersenyum ke arahku, manis.

“I-iya. Sama-sama.”  Aku membalas senyumnya. Duh, dari dekat begini ternyata cantik banget, kampret.

Bulir-bulir keringat tampak muncul di sekitar dahinya, membuat kulit putihnya tampak mengkilap. Dia pun mengambil karet ikat rambut dari pergelangan kirinya, lalu menguncir rambut hitam panjangnya. Cewek yang memakai baju motif belang-belang aja sudah bikin dengkulku lemes, ditambah gerakan menguncir rambut, rasanya aku mau mimisan.

Pintu lift pun tertutup, aku segera memencet tombol berangka lima. Lift mulai mulai bergerak naik ke atas, mengantarkan para mahasiswa ini ke lantai kelasnya masing-masing.

“Sarah! Oi!” terdengar suara cempreng seorang cewek yang berdiri di belakangku. Cewek yang berbaju belang-belang yang ada di depanku tampak mencari sumber suara.

“Oh, namanya Sarah.” Ujarku dalam hati.

Cewek yang bernama sarah ini akhirnya menemukan sumber suara yang memanggilnya, dia tersenyum lalu melambaikan tangannya, tanda tidak kuat melihat wajahku. Oke, bukan, tentu saja dia menyapa temannya itu.

Lift berhenti di lantai tiga. Beberapa mahasiswa yang yang ada di dalam lift beranjak ke luar, termasuk si Sarah, yang tersisa di dalam lift hanya ada aku dan seorang bapak-bapak tua yang memakai kacamata tebal, kemeja batik kebesaran dan celana bahan, dia menenteng buku tebal dengan judul “hukum perdagangan internasional”.

“Lah, dosenku.”

Awkward moment.

Aku yakin, sesaat setelah keluar dari lift akan terjadi sebuah pertarungan sengit untuk balapan sampai ke kelas.

*****

Di rumah aku jadi kepikiran dengan cewek yang bernama Sarah ini. Senyum manisnya terbayang-bayang di otakku, adegan mengikat rambut terekam dengan baik pula. Berbagai pertanyaan mulai muncul di kepalaku. Aku kuliah hampir empat tahun kenapa baru lihat cewek secantik dia di kampus? Ke mana aja aku selama ini? Vio udah ngapain aja sama pacar barunya?

Aku pun mulai berusaha mencari informasi soal sarah dan menemukan beberapa fakta.
1.Dia cewek
2.Dia cantik
3.Dia pasti anak ekonomi! Karena cewek-cewek fakultas ekonomi di kampus mana pun pasti cantik! Oke, enggak. Aku tau dia anak ekonomi karena kelasnya di lantai 3, kelas anak-anak ekonomi.

Jangan-jangan kehadiran Sarah ini adalah ‘tombol’ untuk membuka hatiku? Aku jadi enggak sabar untuk ketemu Sarah lagi… minggu depan. Nasib mahasiswa tingkat akhir, makin dikit mata kuliah yang diambil, makin dikit pula kelihatan beredar di kampus. Mau ke kampus dengan alasan bimbingan skripsi tapi proposalku sendiri masih stuck di… judul.

*****

Menunggu selama seminggu ternyata cukup menyiksaku. Aku benar-benar pengin melihat si Sarah lagi.

Aku masih di sekitaran parkiran, tolah-toleh mencari Sarah, berharap dapat satu lift lagi sama dia. Kadang perasaan bisa se-random ini, kita berharap kepada orang yang tidak tau keberadaan diri kita.

Pintu lift sudah terbuka, para mahasiswa mulai berebut untuk masuk ke dalam, dari jauh mereka sudah mirip para zombie di serial the walking dead yang liat manusia lagi tidur anteng. Aku pun segera menuju gerombolan mahasiswa itu, berkat status mahasiswa senior ini aku berhasil masuk ke dalam dan…

DEG!

ADA SARAH!

Entah kenapa kali ini Sarah terlihat lebih cantik daripada saat pertama ketemu. Sarah berdiri di bagian samping lift, dekat deretan tombol lantai yang akan dituju. Tadi aku berhadap satu lift lagi sama dia, giliran sudah ketemu gini aku malah mati gaya, bingung harus apa. Apakah aku harus kejang-kejang karena bahagia, atau langsung menyanyikan lagunya Naff yang berjudul ‘akhirnya kumenemukanmu’? aku cuma bisa tersenyum najis sambil menatap dia.

“Lantai berapa, kak?” kalimat Tanya itu keluar dari mulutnya sarah. Suaranya? Imut! Bahkan lebih imut suaranya Sarah dibandingkan suara Winny Putri Lubis yang promosiin akun pembesar payudara di instagram. Dengkulku terasa lemas.

“Uh-uhmm… lima.” Aku gelagapan dan segera mengarahkan tanganku untuk memencet tombol berangka lima. Tangannya Sarah ternyata juga memencet tombol yang sama. Jari kami beradu, di sebuah tombol lift. Dunia terasa menjadi lambat, cupid datang menancapkan panahnya ke hatiku. Sayup-sayup mulai terdengar lagunya Adera – Lebih Indah.

Dan kau hadir…
merubah segalanya…
menjadi lebih indah….

Mataku yang tadinya melihat jari yang beradu, kini mengalihkan pandangannya ke wajah sarah, pipinya memerah dan mulutnya sedikit terbuka, malu. Dia segera menarik tangannya, melirikku secepat Sonic the hedgehoc berlari dan menunduk. Malu part 2. 

“Cieeee…”

Suara sumbang dan penuh penghinaan dari seorang cowok di belakangku merusak momen indahku. Aku segera meliriknya dengan pandangan kamu-mau-dilempar-keluar-dari-lift?. Cowok tadipun diam. Aku tahu bahwa cowok itu adalah juniorku. Sepertinya dia belum tau kalo aku paling gak bisa diajak bercanda.

Lift bergerak naik ke atas, tidak lama kemudian lift berhenti dan membuka pintunya, lantai tiga. Sarah segera melesat ke luar dan setengah berlari menuju kelasnya, disusul beberapa mahasiswa lain. Menyisakanku di dalam bersama cowok yang tadi nge-cieee-in aku. Pintu lift pun tertutup, aku mendorong tanganku ke depan, merenggangkan otot lenganku, mengepalkan kedua tanganku dan mulai membunyikan jari-jariku.

Kretek. Kretek. Kretek.

Sambil tersenyum dan mengangkat alis sebelah, aku menatap juniorku tadi. “Tadi kamu bilang apa? Cie?” tanyaku dengan nada datar. Juniorku tadi pipis di celana.

*****

Selama di kelas, yang biasanya aku lalui dengan menahan kantuk, kali ini berganti menjadi menahan senyum-senyum sendiri. Sangat tidak keren sekali seorang senior senyum-senyum sendiri di kelas yang berisi 99% junior, selain wibawaku akan hancur, ntar mereka mengira aku sudah gila karena skripsi.

Ketika sang dosen mengeluarkan kalimat yang ditunggu-tunggu, yaitu, “Kuliah hari ini cukup sampai di sini.” Aku langsung melesat ke luar kelas, pengin segera pulang dan senyum-senyum sendiri sepuasnya di kamar. Aku sudah berdiri di depan lift, menunggu sebentar dan pintu lift pun terbuka. Aku segera masuk ke dalam, sendirian. Lift mulai bergerak turun, beberapa saat kemudian berhenti, di lantai tiga. Pintu lift terbuka.

Ada Sarah dan beberapa temannya. Mata kami bertemu. “Tuh, udah kebuka liftnya, bilang mau pulang duluan?” kata cewek di sebelah Sarah.

“Uh…” Sarah menggigit bibir bagian bawahnya, “Ya-yaudah, aku duluan, ya.” Dia pun melangkahkan kakinya ke dalam lift, dan tersenyum tipis. Aku berusaha se-cool mungkin, padahal girang setengah mampus.

Pintu lift tertutup.

Sarah hanya diam menunduk, mungkin masih malu karena kejadian tadi pagi. Aku sendiri bingung harus apa, kalo diam begini aja aku gak bakal menghasilkan apa-apa. Aku beranikan diri untuk membuka percakapan, “Ma-mau ke bawah, ya?”

Sarah melirikku, “I-iya.”

PERTANYAAN MACAM APA ITU, JEM?! INI KAN LIFTNYA EMANG KE BAWAH, NGAPAIN DITANYA?!

“Kamu yang waktu itu hampir ketinggalan lift itu, bukan?” aku coba basa-basi lagi.

“I-iya, kak. Hehe…” jawabnya sambil tertawa kecil. “Kakak yang berhentiin pintunya, kan biar aku bisa masuk?”

“Iya haha…” aku menggaruk kepalaku. “Sama kamu yang tadi pagi barengan mencet tombol lift itu, ya?”

Mendengar pertanyaanku, Sarah kembali menunduk, sepertinya dia benar-benar malu mengingat kejadian tadi pagi, “I-itu gak sengaja, kak.” Jawabnya gelagapan.

Aku hanya tertawa melihat tingkahnya yang menyembunyikan rasa malunya. Aku pun memberanikan diri untuk menyodorkan tanganku, “Jemi. Hukum semester 8. Kita belum kenalan, kan?”

Perlahan, sarah melirikku, sedikit ragu tangannya menyambut tanganku yang sudah tergantung selama 2 detik. Dari bibir tipisnya dia menyebutkan namanya, “Sa-Sarah. Ekonomi semester 4, kak.”

Halus banget tangannya… Pasti dia gak pernah angkat-angkat batu bata.

“Oke. Cukup sampai kenalan aja, jangan terlalu agresif minta kontaknya, apa lagi minta bayarin cicilan motor.” Ucapku dalam hati.

Lift pun berhenti. Kami melepaskan jabatan tangan kami. Pintu lift mulai terbuka. Sarah melangkahkan kakinya ke depan pintu, langkah kakinya terhenti, dia menoleh ke arahku dan tersenyum, “Duluan kak.”

“Uhh… Iya.” Aku tersenyum lebar. “Hati-hati.”

*****

Sepertinya aku benar-benar lagi jatuh cinta. Orang yang jatuh cinta cenderung suka senyum-senyum sendiri, tiap melihat cermin bawaannya pengin bercermin terus, memastikan diri ini ganteng abadi, dan mulai berfantasi liar dengan orang yang membuat kita bertindak bodoh seperti tadi. Misalnya saja membayangkan lagi ngambil uang di ATM, pas mau pergi ada tukang parkir, eh tukang parkirnya ternyata Sarah. Aku sudah lama gak merasakan perasaan seperti ini. Bayangan Sarah selalu muncul di tiap aktifitasku. Selama seminggu terakhir aku jadi lebih bersemangat, proposal skripsiku pun terkena dampaknya, sekarang aku sudah masuk Bab 2.

Pukul 7 pagi aku sudah di kamar mandi, yang biasanya aku mandi hanya seperti injury time pertandingan sepak bola, alias 3 menit, kali ini aku mandi 20 menit. Ibuku sempat curiga kenapa aku mandi lama sekali. “Kamu ngapain aja di dalam sana, kok lama?!” Selidik beliau.

“Ya mandi, lah!” jawabku.

“Sabunnya kok belakangan ini cepat habis, ya?”

“Uhhh… aku buru-buru, Bu. Ntar telat.”

Parfum hampir satu botol kusemprotkan ke badanku. Baju yang biasanya kuambil langsung dari tumpukan baju, kali ini aku setrika rapi. Aku pun berangkat kuliah dengan tujuan utama bertemu Sarah dan meminta kontaknya. “Langkah awal PDKT akan terjadi hari ini!” aku mengepalkan tanganku ke udara.

Sampai di kampus, aku melirik jam tanganku yang menunjukkan pukul 8.05, “Biasanya jam segini nih Sarah datang.” Gumamku dalam hati, sambil berusaha menahan dari perbuatan hina: senyum-senyum gak jelas.

Pintu lift terbuka, aku segera menuju ke sana dan menyiapkan senyum terbaik, sampai di dalam mataku menatap ke segala penjuru, seperti terminator yang mengidentifikasi orang-orang yang ada di hadapannya, aku tidak menemukan Sarah.

Sudah rapi dan ganteng begini masa gak ketemu, sih?!

Aku menaruh kedua tanganku ke kantong celana jeansku, dan menepuk-nepuknya, “Eh, kunciku ketinggalan di motor!” aku keluar dari lift, padahal kuncinya ada di celanaku.

Aku berjalan menjauhi lift, mengamati dari kejauhan, menunggu Sarah ada di dalam sana. 10 menit berlalu, sudah 2 kali lift naik-turun. “Mungkin dia datang cepet kali, ya?” pikirku. Dengan langkah lemas aku menuju lift, tidak ada mahasiswa lain yang masuk ke dalam lift kecuali aku. Sampai di lantai 5, aku menuju kelasku, di dalam sana sudah ada dosen, aku mengetuk pintu dan mengucapkan salam. Dosenku memicingkan matanya ke arahku.

“Maaf, Pak, saya terlambat.” ucapku pelan.

“Ya silakan.” Dosenku membenarkan posisi kacamatanya. “Tutup pintunya dari luar.”

Para junior yang ada di dalam kelas terlihat menahan tawa.

Shit.

Aku memutar, tidak jadi masuk kelas dan kembali menuju lift. Langkahku terasa makin berat. Terlalu banyak berharap dan tidak sesuai dengan realita ternyata membuat hati ini sesak.

Pintu lift terbuka. Dengan rasa kecewa aku masuk ke dalam, aku hanya bisa mengutuk diriku sendiri, yang dibodohi oleh harapan-harapan yang kubuat sendiri. Laju lift ini pun terasa lebih lambat. Aku menghela nafas panjang.

Lift berhenti, aku melirik layar di bagian atas, menunjukkan lantai tiga. Perlahan pintu lift terbuka dan ada sosok yang aku harapkan. Sarah! Dia memakai kemeja flannel kotak-kotak berwarna merah yang tidak dikancing, membiarkan tanktop hitamnya terlihat, dia berdiri menunggu lift dengan seorang cowok yang dengan erat ia gandeng tangannya.

“Loh, nyet?” kata cowok itu, dia mendatangiku sambil menggandeng Sarah.
Aku mengucek mataku berkali-kali, seperti tidak percaya apa yang aku lihat.

“Bobby?” tanyaku memastikan.

“Iya, kamu ngapain? Gak kuliah?”

Pandanganku terfokus ke tangan mereka yang bergandengan erat.

“A-Aku telat, gak dibolehin masuk.” Jawabku, berusaha fokus dan cool. “Kamu ngapain di sini? Kelas anak teknik di gedung sebelah, kan?”

“Aku juga telat terus gak dibolehin masuk sama dosenku hahaha. Yaudah aku susulin dia,” Bobby menunjuk Sarah. “Oh iya, ini kenalin pacarku. Dia senasib sama kita.”

Pa-Pacar? Kretek. Ada suara hati yang patah.

Aku melirik Sarah, dia hanya menunduk sambil perlahan melepaskan genggaman tangan Bobby.

“Sarah, kenalin ini sahabatku, Jemi.” Bobby menunjukku, lalu menunjuk Sarah. “Jem, ini Sarah, yang waktu itu kamu gak mau lihat fotonya. Tapi cantikan aslinya kok dibandingkan fotonya.”

Kami pun berkenalan lagi. Canggung.

Pintu lift terbuka, kami bertiga keluar. Jika minggu lalu aku merasa lift yang membawaku turun bersama Sarah terasa sangat cepat, kali ini aku merasa sangat lambat dan menyiksa. Dadaku semakin terasa sesak.

“Kita mau ke McD, mau ikut?” ajak Bobby.

SEKALIAN AJA AJAK NGOPI KE STARBAK BIAR AKU KASIH SIANIDA!

“Enggak, deh. Aku mau pulang, skripsian.”

“Errr… yaudah kita duluan, ya. Semangat, Jem!” kata Bobby. “Tuh, udah aku semangatin, kasian kamu gak ada yang nyemangtin hahaha!”

“….”

Mereka berdua pun perlahan menghilang dari pandanganku, sambil bergandengan tangan mesra. Meninggalkanku yang tampak baik-baik saja di luar, tapi rapuh di dalam. Jika kata Bobby untuk move on aku hanya butuh satu tombol, begitu pun patah hati, aku juga hanya butuh satu tombol untuk itu.

Thank you, Bob.




######

Di tengah proses skripsian, gue ditantangin untuk bikin cerpen oleh para kampret ini, Kresnoadi, Ichsan dan Daus. Jadi kesepakatannya adalah kita bikin sebuah cerpen dengan tema yang sama, yaitu lift, dengan genre bebas, yang penting berhubungan dengan lift. Karena gue gak terlalu bisa bikin cerpen, jadilah… ini hasilnya.

Cerpen punya Kresnoadi bisa dibaca di sini.
Cerpen punya Daus bisa dibaca di sini
Cerpen punya Ichsan gak usah dibaca, tapi kalo mau buang-buang kuota ya silakan baca di sini.
 
Buat yang diem-diem baca, kalo mau ikutan, hayuk bikin~

Hikayat Item, Si Kucing Kurang Ajar part 2

Baca cerita sebelumnya di sini

Senin
Pulang kuliah, tanpa ganti baju gue langsung ngantar item ke vet clinic. Masalah kembali muncul: Kita gak punya kandang kucing, sedangkan jarak rumah dengan vet itu… jauh. 40 menit lah kalo gak macet.

Ryan pun membawa kardus yang lumayan besar, Item dimasukkan ke dalam, bagian atas kardus diselotip. Jenius.

“Aman, nih?” Tanya gue, gak yakin.

“Kayaknya sih.” Ryan menggaruk dahinya. “Yuk.”

Gue menaiki motor gue, Ryan gue bonceng dengan membawa kotak berisi si item. Gue pacu motor gue lebih kencang dari biasanya. Sepuluh menit awal baik-baik aja, hingga di tengah jalan raya…

“YOG! ITEM BERONTAK!!!” Jerit Ryan di belakang.

Gue yang merasakan goncangan di belakang mulai memelankan laju motor dan mulai menepi. Pas mau berenti dengan entengnya Ryan bilang, “Udah tenang lagi, nih.”

“….”

Perjalanan dilanjutkan. Dengan fokus dan cekatan gue mulai menyalip motor, mobil dan pacar temen sendiri satu persatu.

“YOOOOG! KEPALANYA ITEM KELUAR DARI KARDUS!!!”

“SERIUS?!” Gue panik. “Masukin lagi! Elus! Jitak!”

“Gak bisa! Dia berontak!!!” Ryan masih berusaha menenangkan si Item.

Motor yang gue kendarai mulai bergerak gak beraturan. Pelan-pelan gue mengarahkan motor ke pinggir jalan, pas mau berenti, Ryan bilang, “Udah tenang nih, biarin aja kepalanya di luar sambil kuelus-elus.”

“….”

Jadilah kami, dua lelaki naik motor, berboncengan dengan membawa kotak yang ada kepala kucing nongol.

Perjalanan mulai aman terkendali. Hingga kami berhenti di lampu merah yang durasi waktunya 90 detik. Jika saat hari biasa aja gue ngerasa lampu merah ini lama banget, kali ini gue ngerasa lama banget bangsat!!!

Orang-orang yang lagi nunggu lampu merah mulai memperhatikan kami dengan tatapan heran. Gue berusaha stay cool. Membuat kesan bahwa naik motor, membonceng orang yang membawa kotak dengan kepala kucingnya nongol adalah hal wajar. Beberapa detik menjelang lampu hijau, si item mau lompat ke luar dari kotak.

“YOG!!! ITEM MAU LONCAT!!!”

“Paksa masuk kepalanya!!!”

“AAAAK AKU DICAKAR!!!”

TINNNN… TINNNN… TIIIIINNNNN….

Suara klakson saling bersahutan, tanda lampu hijau muncul. Gue segera tancap gas, karena vet yang kami tuju sudah dekat. Di belakang, gue dapat merasakan Ryan masih bertarung dengan Item, beberapa menit kemudian, masalah sudah teratasi.

“Item udah masuk ke dalam lagi. Ngebut!”

Gue tarik perlahan gas motor, laju motor mulai bertambah, item gak buat masalah lagi. Dia anteng di dalam kotak, hanya suara ngeong-ngeong yang terdengar lirih yang gue dengar. Beberapa meter lagi gue tiba di vet dan nyawa si item bakal terselamatkan!

Lagi anteng nyetir, Perlahan-lahan gue merasakan punggung gue mulai anget. Tapi angetnya beda, walaupun gue udah lama gak bonceng cewek dan gak dapet pelukan dari cewek yang gue bonceng, gue tau kalo anget yang gue rasakan ini beda. Ini terasa… asing.

Ryan jerit, “KAMPREEEETTTTT… SI ITEM KENCING!”

“Ya-yakin kencing?”

Be-berarti, anget yang di punggung gue ini… kencing si Item! BANGSAAAAAAT!!!

Gue menoleh ke belakang dan melihat Ryan mencium tangannya, “Iya, kencing nih. Bau pesing.”

UDAH TAU BAU KENAPA DICIUM?!

 “AAAAAAAAAAAAAAAKKKKK!!!” Kita jerit berdua.

*****

PETSHOP & VET CLINIC

Sampai di vet clinic, Ryan segera menurunkan kardus berisi si Item, lalu mengeluarkannya.

“Yakin nih masuk? Kucing kampung loh yang kita bawa.” Tanya gue ragu.

“Biar kucing kampung tapi ini sakitnya elit.”

Gue buka pintu, Ryan menenteng si Item, kami berdua pun masuk dan langsung disambut oleh dua orang mbak-mbak, satu bagian kasir untuk petshop, satunya semacam receptionist gitu. Karena Ryan sibuk bawa si Item, gue yang daftarin Item buat berobat.

“Selamat sore. Ada yang bisa dibantu?” Tanya si mbak, ramah.

“Uhmmm… ada dokternya, mbak? Mau ngobatin kucing saya.”

“Oh, ada.” Si mbak tadi mengeluarkan sebuah kertas formulir. “Saya data dulu, ya”

Gue mengangguk. “Iya.”

“Nama kucingnya?”

Oke, ini kucing kampung namanya gak boleh terdengar kampung, dan ‘Item’, adalah nama yang kampung banget. “Uhm… Blaszczykowsky.”

“Si-siapa?”

“Blaszczykowsky.”

“Gimana? Gimana?”

“Black, aja mbak.” Kata Ryan. Okey, Black terdengar lebih modern ketimbang Item.

“Oh, Oke. Black ini jenis kucing apa?”

JENG JENG JENG!

Pertanyaan sulit. Gue dan Ryan saling bertatapan,seperti udah saling mengerti, kami menatap mbak receptionist dan dengan mantap mengatakan, “kampung.”

“Oh lokal berarti ya?”

Okey, lokal terdengar lebih enak dibandingkan kampung. Si mbak tadi segera menuliskannya di formulirnya. “Sakitnya?”

“Kencing darah, mbak.”
“KE-KENCING DARAH?!” Si mbak tampak shock mendengar jawaban kami.

“Itu, bekasnya, mbak kalo gak percaya.” Gue menunjuk arah pintu masuk sampai meja receptionist ini yang berceceran pipisnya item. Udah macam ninggalin jejak di hutan biar gak tersesat.

“O…okey. Langsung bawa masuk ke dalam aja, mas.”

Kami berdua membawa Item masuk ke ruangan si dokter, mengikuti si mbak receptionist, sementara si mbak yang tadi jaga petshop langsung ngepel lantai. Item emang kurang ajar. Bikin kerjaan orang nambah aja.

Sampai di ruangan om dokter, si Item ditaruh di atas meja. Dia berusaha lari dan berontak. Kami elus-elus biar tenang. Sang dokter pun memakai sarung tangan karet dan mulai bertanya-tanya apa yang membuat seekor kucing kampung bisa sampai di hadapannya saat ini. Setelah bercerita panjang lebar soal kencing darah yang dialami si Item, sang dokter mengarahkan tangannya ke bagian bawah perut si item, seperti mencari sesuatu, si Item yang perutnya dipencet-pencet langsung nungging dan… CROOOOOOOTTTTT!!!

PIPIS DARAHNYA ITEM KELUAR DERES BANGET!!!

Sekarang gue udah bisa bayangin gimana kalo cowok bisa menstruisasi alias TITITNYA NGELUARIN DARAH! ASLI HOROR!

Setelah tuntas pipisnya, Item di berikan suntikan antibiotic.

“Ini ada infeksi di saluran kencingnya.” Kata si dokter sambil mengambil obat antibiotic buat item melalui suntikan. “Tapi belum parah. Untung cepat dibawa ke mari.”

“Gak perlu operasi, dok?” Tanya Ryan.

“Gak perlu, belum parah soalnya.”

“Kok bisa sih kucing kencing darah begini? Seumur-umur melihara kucing, baru ini punya kucing sakitnya begini, Dok.” Tanya gue.

“Bisa karena dia pipis sembarangan, lalu ada bakteri menempel di alat kelaminnya. Bisa juga karena dia suka nahan kencing, bisa juga karena dia sukanya makan ikan aja.” Terang si om dokter. “Emang biasa dikasih makan apa?”

Mendengar penjelasan si dokter, ternyata hasil googling yang gue dapatkan bener juga. Si item komplikasi dari overdosis protein, suka nahan kencing karena takut berantem sama kucing lain kalo di luar, dan suka pipis sembarangan di mana aja.

“Dia pilih-pilih makan, Dok. Cuma mau ikan layang sama ikan tongkol.”

“Waduh. High class juga seleranya.” Si dokter geleng-geleng. “Tapi dimasak kan? Gak mentah?”

Kami mengangguk.

Sang dokter pun memberikan sebotol obat antibiotic untuk diminumkan ke si Item 2 kali sehari selama seminggu.

Dalam perjalanan ke kasir, kami baru kepikiran hal yang bener-bener penting: gimana bawa si item pulang? Kardus yang dipakai sebelumnya udah gak layak pakai.

“Beli kandang?” gue menunjuk sebuah kandang kucing berukuran sedang yang ada di dalam toko.

Karena gak ada ide lain, terpaksa kami membeli kandang. Sampai di kasir, seperti layaknya pembeli pada umumnya, bagian paling gak enak adalah saat membayar.

Ongkos dokter dan antibiotic Rp 170.000
Beli kandang Rp 250.000

INI KENAPA HARGA KANDANGNYA LEBIH MAHAL DARIPADA ONGKOS BEROBATNYA?!!!

Fix, item emang kucing kurang ajar.
 
Pelajaran yang bisa dipetik:
1. Kucing kampung, oke lokal, kalo sakit ya bawa aja ke vet. Gak bakal diketawain, kok.
2. Sebelum memelihara kucing, pastikan kucing yang akan dipelihara gak kurang ajar.
3. Sayangilah hewan peliharaan anda, sekurang ajar apapun dia.

Hikayat Item, si Kucing Kurang Ajar

Keluarga gue adalah keluarga pecinta kucing. Bukan, pecinta kucing yang gue maksud bukan mendirikan patung kucing raksasa lalu kami sembah. Keluarga gue suka banget sama kucing, walaupun cuma kucing kampung, tapi kucing yang kami pelihara selalu dirawat dengan baik. Dikasih makan, dimandiin, diajak mainan, digoreng. Pokoknya si kucing bakal baik-baik saja sampai maut memisahkan.

Kucing gue yang sekarang namanya… item. Gue kasih nama item karena ya warna bulunya item. Alasan lainnya karena gue gak kreatif ngasih nama. Sempet kepikiran ngasih nama kucing ini Blaszczykowsky. Tapi, karena ntar ribet manggilnya, ya sudah, namanya item aja.
Blaszczykowsky aka Item

Si item sudah sekitar 2 tahun dipelihara. Kegiataan si item sehari-harinya cuma makan-tidur-kencing-boker-repeat. Bener-bener gak berguna. Coba dia bisa merampok bank, pasti gue kaya raya. Si item punya keunikan dibandingkan kucing-kucing gue sebelumnya, untuk masalah makanan, dia cuma mau makan ikan mahal, misalnya aja ikan layang dan tongkol. Pernah gue kasih ayam, dia gak mau makan. Gue kasih ikan asin, dia gak mau. Gue kasih beef steak tenderloin, dia nambah. Kurang ajar. 

Yang lebih kurang ajar adalah dia gak mau dipanggil “pusss”. Selayaknya kucing pada umumnya yang noleh tiap dipanggil “pusss”, si item enggak. Dia akan lewat aja dengan cool-nya sambil nyuekin yang manggil dia. Mungkin jika di dunia manusia, item adalah jenis manusia cool, yang ketika dipanggil cewek-cewek dia gak akan noleh dan berlaly begitu saja. Tapi, dia kan kucing! Gue yang ngasih makan, masa dipanggil sama majikannya sendiri gak noleh?! Kurang ajar.

Kekurangajaran lainnya adalah dia suka kencing sembarangan. Kalo kalian bilang wajar kucing kencing sembarangan di dalam rumah, oke itu emang wajar. Tapi, si item ini kencing sembarangannya, bener-bener gak tau tempat. Kucing lain biasanya kencing di pojokan atau sudut rumah. Si item kencing di… tengah jalan.

Si Item brought kencing sembarangan to the next level!

Pernah, gue lagi jalan dari dapur menuju ruang tamu, tiba-tiba nginjek air. Gue pikir itu air biasa tumpah, karena di dekat situ emang ada kulkas. Tapi, entah kenapa air yang gue injek kok agak lengket dan hangat. Gue angkat kaki, mengarahkan tangan kiri gue ke kaki yang menginjak air tadi, gue oles dikit lalu gue cium.

BANGKEEEEEEE PESING!

INI AIR KENCING!!!!

Bener-bener kurang ajar.

Pernah juga gue liat si item pipis di ruang tamu dengan mata kepala gue sendiri. Sebelumnya dia lagi tidur dengan bersahaja, tiba-tiba dia ngangkat satu kakinya, sedetik kemudian ada air dan bau menyengat. Iya, si item ngompol! Dan kalo si item kencing, ini air pipisnya banyak banget. Mungkin kalo manusia, si item adalah tipe orang yang suka nahan pipis, setelah dirasa air pipisnya banyak, dia segera pipis di tengah jalan lalu nulis nama gebetan pake air pipisnya.

Sekeluarga sempet kesel sama kebiasaan item yang suka pipis sembarangan ini. Mengeluarkan item dari rumah biar pipis di luar pun enggak membantu. Banyak kucing liar di luar sana yang jadi musuh si Item. Sekali keluar, si item bakal berantem sama kucing-kucing itu. Sedetik kemudian, dia bakal lari masuk ke dalam rumah sambil pipis karena ketakutan. Air pipisnya terpeper ke mana-mana. Kalo hoki, gak hanya air pipis yang terpeper, si item juga bakal cepirit. Selain kurang ajar, dia juga cemen.

Hingga pada suatu malam, gue inget banget waktu itu malam minggu, gue malam mingguan di rumah aja karena gak punya pacar.

Oke, fokus.

Gue yang lagi menuju ruang tamu buat nonton liga inggris karena beginilah cara jomblo malam mingguan.

Aduh, fokus. Fokus.

Pas sampai ruang tamu, gue kembali mergokin si item pipis! Posisinya sama, dia lagi tiduran di deket sofa, kakinya diangkat satu dan keluar cairan beracun itu. Tapi, malam itu, ada sesuatu yang berbeda. Air pipis si item warnanya gak bening, tapi pekat seperti… teh.

“BU, ITEM KENCING!!!” Jerit gue.

Mendengar jeritan gue, Ibu gue yang lagi tiduran di sofa segera bangkit dari posisinya dan… nginjek pipisnya item.

“KUCING KURANG AJAR!!!”

“….”

Gue segera mendatangi item dan memastikan itu beneran kencing atau darah? Atau malah kencing darah? Gue segera mengambil tissue yang ada di atas meja dan segera mengelap air berwarna pekat itu. Dari hasil identifikasi hidung gue, dapat dipastikan itu adalah kencing. Gue jadi inget, temen gue pernah air kencingnya berwarna pekat, menurut dokter penyebabnya adalah karena kebiasaan temen gue minum teh k*otak sebanyak 3 kotak sehari. Jangan-jangan si item juga mengalami masalah yang sama? Yang jadi pertanyaan: apakah kucing doyan minum teh?

Ryan, kakak gue, segera gue kabarin soal si item. Kampretnya, dia gak percaya soal pipisnya item yang jadi pekat ini. Dia juga merasa gak pernah ngasih minum item pake teh. Si item juga tampak baik-baik aja. Malam itu, kami anggap si Item lagi iseng aja mengeluarkan air kencing yang warnanya pekat.

Minggu
Pagi harinya gue bangun. Enggak, gue emang biasa bangun pagi, bukan karena gak malam mingguan ya! Saat menuju dapur, gue menemukan beberapa genangan berwarna berwarna pekat di lantai. Beberapa centimeter dari lokasi penemuan genangan, ada si Item lagi asik jilat bijinya. Oke, enggak enak banget bahasanya, tapi, tau kan maksud gue apaan?

SI ITEM KENCING PEKAT LAGI!

Gue inget kata temen gue si penderita pipis pekat, dia disuruh dokter untuk meminum air mineral 8 liter sehari agar sembuh dari pipis pekatnya. Terinspirasi cara dokter itu, gue kasih si Item minum air putih banyak-banyak.
Si item minum air dengan khidmat, gue berharap item cepet sembuh karena kondisinya jadi lemes banget. Pas dia jalan tampak gak ada gairah, makan tampak gak selera, tidurnya pun tampak lemes. (Emang ada tidur yang tampak semangat?!)

Pas malam harinya, item banyak meninggalkan genangan pipis pekatnya di mana-mana. Di ruang tamu, di dapur, di hati yang terdalam. Pokoknya di mana-mana! Dan makin lama, pipis pekat yang ditinggalkan item, warnanya makin pekat, mirip darah. Minum banyak air sepertinya membuat intensitas pipis si Item makin banyak juga.

“Bawa ke dokter, yuk?” Ajak Ryan.

Ajakan ini sebenarnya sah-sah saja, tapi jika mengingat Item adalah kucing kampung, membawa ke dokter terdengar sangat lucu sekali di otak gue. Karena biasanya kucing yang dibawa ke dokter itu adalah kucing mahalan. Gue khawatir aja pas sampai di vet, dokternya malah ketawa. Kurang ajar.

“Aku googling dulu deh penyakit kucing ini apa, siapa tau bisa diobatin sendiri.” Jawab gue.

Setelah beberapa menit googling, gue mendapat beberapa informasi dari berbagai sumber soal pipis darah ini.

1.Kucing cowok emang rentan terkena penyakit pipis darah

2.Penyebabnya yang paling umum adalah karena ‘overdosis’ protein. Protein yang terkandung terlalu banyak, sehingga mengkristal dan menyumbat saluran pencernaannya. Mirip manusia kalo ginjalnya rusak gitu, pikir gue. Kalo dipikir-pikir penyebabnya ini yang paling memungkinkan karena si Item kalo makan cuma doyan ikan aja, dikasih nasi gak mau. Otomatis dia cuma dapet protein, gak ada karbohidrat. Kucing kurang ajar memang.

3.Untuk menyembuhkannya harus dioperasi.

Oke, gue makin bingung harus bawa si item ke dokter apa enggak.

Gue pun memberitahu hasil googling  gue ke Ryan, ternyata dia juga googling dan menemukan fakta yang lebih serem: ada yang share pengalaman kucingnya pipis darah, dibiarin 3 hari, kucingnya mati.

Si item udah 2 hari! Kalo dibiarin umur si item sisa sehari!

UMUR SI ITEM SISA SEHARI!!!

“Oke, besok bawa ke dokter!” kami berdua sepakat.

[TO BE CONTINUED]

Hal-Hal Ngeselin Saat Main Clash of Clans Part. 4

HAEEEEE....

KALIAN PASTI NUNGGUIN POSTINGAN INI, YAKAN?!

Gue masih gak nyangka postingan soal “hal-hal ngeselin saat main clash of clans” yang udah gue bikin sampai 3 part ini laris banget. Sampe dicopas di mana-mana tanpa nyertain sumbernya. Ehe.

Buat yang belum baca, ini link buat baca

Nah, seiring banyaknya yang mengalami nasib sepenanggungan yaitu kesel saat main clash of clans, banyak juga yang nuntut gue untuk nulis part 4. Jujur, gue udah mulai males main karena kemaren gue sibuk magang. Jadinya gue main cuma buat ikut war dan ngambil loot dari collector. Gabut abis.

Untungnya, bulan Desember 2015, supercell ngadain update besar-besaran buat game ini. Update yang paling utama tentu town hall 11, heroes baru (Grand Warden) dan defense baru (Eagle Artillery). Awalnya gue excited banget, tapi setelah tau update lainnya, gue jadi kesel… Gimana gak kesel coba kalo update-an baru ini menimbulkan banyak “hal-hal ngeselin saat main clash of clans” yang sudah gue tulis 3 part itu banyak yang gak berlaku.

Huft.

Untungnya, berkat itu juga gue nemuin hal-hal ngeselin lainnya. Yaudah, ini hal-hal ngeselin saat main clash of clans part 4 (edisi update baru):

1.SUSAH DAPAT SHIELD

Dulu, kalo mau dapat shield gampang banget. Para clasher bertipe farming base (kayak gue) Tinggal taruh town hall di luar base, berdoa sambil menunggu ada orang baik yang cuma nyerang town hall kita, voila! Dapat shield 12 jam! Loot berkurang cuma 1000! Loot aman dari rampokan!

Setelah update baru, semua itu berubah…

Untuk dapat shield, desa kita harus hancur minimal 30%. Menaruh Town hall di luar base gak akan dapat shield, tapi cuma “guard” selama 15 menit, and for your information aja, kalo loot kalian banyak, town hall di luar, loot kalian yang tercuri juga lumayan banyak.

Jadi, pas update baru kemaren rilis, gue telat untuk meng-update. Setelah selesai update, gue buka dan pas-pasan desa gue yang town hall-nya (masih) di luar lagi diserang. Loot gue saat itu yang bisa didapat oleh musuh sebanyak 400 ribuan. Dia emang cuma nyerang town hall, tapi berapa loot gue yang kerampok? 88 RIBU SODARA-SODARAAAAA~

Sekarang, mari sama-sama menyanyikan lagu kematian untuk farming base.

Nah, untuk masalah susah dapat shield, gue kebetulan juga ngalamin. Gue pernah gak dapet shield hampir 3 hari, banyak yang nyerang desa gue gak nyampe 30% tapi kampretnya dia berhasil nyuri loot gue. Kan, kampret?

Loot berkurang banyak, tapi gak dapat shield, diserang lagi, berkurang banyak lagi, gak dapat shield lagi, repeat. Udah kayak jomlo yang tebar pesona, sok asik, sok akrab, eh gak ada yang mau. Nyesek.

2.SUSAH DAPAT LOOT

Entah ini perasaan gue aja atau emang setelah update baru, nyari loot jadi agak susah? Update baru memang membuat kita menemukan lawan yang TH-nya setara. Misalnya kalian TH 10, ya ketemu lawannya TH 9 sampai 11. Biarpun main di liga bawah sekalipun. Udah jadi rahasia umum kalo semakin tinggi Town Hall, maka semakin tinggi juga biasa pencet ‘next’ untuk mencari musuh, kayak sekarang gue TH 10, sekali next udah habis 900 gold. 100 kali pencet next udah 90.000, kan?

Giliran dapet musuh yang punya loot banyak, eh pada di dalam storage. Mau gak mau sekarang kalo farming pake troops war (gowipe), karena troops farming jadul macam giant-barcher bakal gak tembus.

Udah bikin troops mahal, biaya next berkali-kali juga mahal, dapet lootnya dikit, gak balik modal. Udah kayak berjuang bahagiain pacar, eh taunya doi cuma setengah hati pacarannya. Huft.

3.GAMPANG KENA REVENGE

Dulu, kalo mau revenge musuh yang habis ngerampok desa kita itu peluangnya kecil banget, karena pas mau nge-revenge bisa aja:
-Lawan lagi online
-Lawan lagi punya shield (karena gampang dapet shield)

Sedangkan sekarang, bikin troops buat farming aja sudah beda tipis kayak war, alias bikinnya lama. Jelas saat menunggu troops selesai, kita keluar dari game. Yakali online sejam buat nunggu troops selesai. Troopsnya selesai, baterai hape kita juga selesai masa berlakunya alias bocor.

Keluar dari game tanpa shield tentunya bikin risiko desa kita diserang juga jadi gede. Risiko lainnya adalah karena sekarang susah dapet loot, maka orang-orang akan memilih jalan pintas yaitu: revenge.

Kenapa revenge? Ya karena orang susah dapet shield jadi kemungkinan untuk me-revenge lebih gampang.

Efek berantai dari update ini mengerikan sekali, yak.

4.TOWN HALL PREMATUR/RUSHING TOWN HALL


Gue paling sebel sama orang yang sudah upgrade town hall tapi town hall sebelumnya belum mentok. Di clan gue disebutnya ‘prematur’. Orang-orang kayak gini menurut gue adalah clasher egois. Kenapa? Karena dengan dia upgrade town hall sebelum semuanya maksimal, dia akan jadi beban clan.
Bingung?

Begini, misal nih ada town hall 10 prematur di clan, maka saat clan war, kemungkinan besar akan dapat lawan yang susah, karena saat clan war, musuh yang ditemukan berdasarkan kekuatan defensenya. #cmiiw

Biasanya juga, clasher town hall prematur ini hanya mementingkan upgrade defense, tanpa diimbangi upgrade troops. Selain dapat lawan susah, basenya dia gampang diratain musuh, troops dia gak bakal mampu ratain musuh. BEBAN, KAN?

Udah mirip sama temen yang maunya nongkrong di tempat gaul, tapi gak punya duit, giliran diutangin, marah-marah pas ditagih. Kampret maksimal.

5.Archer Queen

Archer Queen (AQ) adalah heroes yang didapatkan saat kita di Town Hall 9. Kekuatannya adalah bisa menghilang dan memunculkan beberapa biji archer. Uh… biji terdengar agak gak enak, ya? 

Menurut gue, AQ adalah heroes paling kampret karena jarak tembaknya lumayan jauh, jadi dia bisa nembakin storage ataupun defense kita pada saat defense kita sibuk nembakin troops lain. Misalnya golem.

AQ menjadi tambah ngeselin saat udah di atas level 20, karena susah banget buat bunuhnya. Dulu pas masih TH 9, gue pernah dibantai sama AQ level 40 + 4 healer level max. Desa gue rata 60% lebih cuma dengan AQ. Kampret memang.

6. HODE

Hode itu istilah orang yang punya akun tapi menyamar sebagai lawan dari jenis kelamin aslinya di dunia nyata. Hode emang biasa banyak muncul di game online, biasanya pelakunya cowok yang nyamar jadi cewek, tujuannya? Dia bakal godain gamer cowok, biar bantuin dia, karena cowok gamer kebanyakan cowok jomlo level 99, sekalinya disepik cewek, langsung luluh, padahal yang nyepik bukan cewek beneran.
 
Hode ini nyebelin karena membuat clasher cowok yang jomblo, makin kerasa jomblonya. Hhhhhhh….

7. PELIT DONATE

Selain lost connection saat lagi attack di war, orang yang pelit donate adalah hal yang paling bikin gue kesel di Clash of Clans. Misalnya aja begini:


Apa sih susahnya isi dulu request di bawahnya, baru elu request minta isi troops? Konsep dasar clan kan saling tolong menolong, bukannya penyuplai kebutuhan elu doang? Jangan egois lah kalo jadi clasher. Udah kayak pacar yang maunya dibayarin mulu, gak mau gantian. Hhhhhh.

Yang lebih kampret adalah pelit donate buat cc war. Bahkan sampai preparation day sisa 1 jam, cc war belum full semua.

Clasher kayak gini kick-able dari clan. Karena selain egois, juga gak peduli sama clan, kan? Dia cuma mau ikut war tanpa mau bantu isiin cc war! Semacam cuma mau dapet jatahnya aja, tapi gak mau keluar duit. Hhhhhh.

8. MATA-MATA

Membangun sebuah clan yang solid itu susah. Selain harus punya anggota yang loyal, juga punya anggota baru sebagai regenerasi. Sayangnya, untuk merekrut anggota kadang susah. Ada yang datang-datang minta jabatan, ada yang maunya request mulu gak mau donate, ada juga yang diam-diam mata-mata musuh di clan war.

Iya, yang terakhir kampret banget.

Clasher itu bergabung ke clan kita untuk memberikan informasi di mana letak trap dan hidden tesla, serta apa isi cc war. Udah mirip sama orang yang datang dihubungan kita, eh diem-diem dia ternyata mau nikung pacar kita.

Maka dari itu, berhati-hatilah saat menerima anggota. Karena orang menghalalkan berbagai cara untuk memenangi war, salah satunya mengirim mata-mata. Maka dari itu ubah setting clan kalian menjadi invite only atau closed saat war. Saran gue, saat sudah dapat lawan, segera cek seluruh anggota lawan (terutama yang gak ikut war), ingat-ingat namanya dan jangan sampai dia di-accept saat berusaha join.

Tapi, pernah di clan gue ada yang punya 2 akun. Akun lainnya berada di clan lain, saat war, akun lainnya itulah dijadikan mata-mata, dia join clan lawan dan diterima. Dia pun ngasih informasi di maa letak trap dan hidden tesla, serta apa isi cc war.

Yak, alasan gue bisa nulis poin ini karena gue udah pernah ngalamin. Pengalaman emang guru terbaik.

9. PAKE CHEAT

Dulu pas masih TH 7, saking keselnya main CoC, gue sempet mikir, “Ini ada cheatnya gak sih?” GUE YAKIN KALIAN PASTI MIKIR GITU, YAKAN?!

Gue pun googling dan youtobe-ing ke sana ke mari, dan mendapatkan informasi soal ‘cheat’. Tapi, saat itu ada malaikat yang bisikin telinga gue, “Main game pake cheat itu cuma buat banci!” gue pun mengurungkan niat main pake cheat.
Cheat yang gue dapat waktu itu adalah xmod. Jadi, yang gue baca sih katanya kalo make xmod ini bisa nentuin minimal loot yang dicari saat farming. Misal, minimal 100.000, maka saat pencet ‘next’ cari musuh, musuh yang lootnya di bawah 100.000 gak bakal muncul. Lebih hemat biaya next.

Bisa juga selalu online walaupun kita keluar dari game. Hal ini bikin loot kita aman baik dari serangan musuh maupun revenge.

Bisa juga digunakan sebagai sarana latihan saat war alias simulasi sebelum attack sehingga 6 star saat war, begitu mudah didapatkan. Pokoknya banyak fiturnya. Untungnya iman gue kuat. Gue gak tertarik make begituan.

Menginjak TH 9, ada lagi yang namanya bot. Nah, bot ini lebih kampret karena game kita akan dimainkan oleh bot alis robot secara otomatis. Dia akan bikin troops sendiri (Barbarian-Archers), mencari lawan sendiri dan akan menyerang collector yang isinya full, secara otomatis. Begitu terus sampai kaya raya.

Bagaimana gue tau? Karena gue make! Huahahaha. Oke, enggak. Gue gak sehina itu. Ada seorang mantan anggota clan gue yang make bot. Dia yang awalnya TH 9 cupu mendadak cepet banget progresnya, tau-tau udah TH 10 dan lagi-lagi progresnya cepet. Defensenya hampir maksimal! Gue keselip! Bangke!

Iman gue sempet goyah pengin pake bot juga apalagi di TH 10, gue kesusahan cari loot, gue juga sibuk magang. Tapi, niat itu gue urungkan. Alasannya simple, town hall tinggi, bebannya makin tinggi juga, terutama saat clan war. Gue liat mantan anggota clan itu saat war, kemampuannya cupu abis. Selalu dapat 1 star doang. Emang sih game-mu keliatan keren kalo level tinggi, tapi apa gunanya kalo skill main game-mu gak berkembang?

Gue berusaha main jujur, sambil latihan dengan berbagai kombinasi troops untuk ratain TH 10 di multiplayer, yang gue yakin bakal bermanfaat saat di clan war.

Nah, setelah update besar-besaran kemaren, gue gak tau xmod ataupun bot itu masih bisa digunakan apa enggak. Gue harap sih gak bisa.

10. TOWN HALL 11 DAN EAGLE ARTILLERTY

Walaupun gue masih town hall 10, tapi gue udah mikir betapa kampretnya town hall 11 ini. Logika dasar aja, saat naik town hall 11 maka kita akan dapat hero baru bernama Grand Warden dan defense baru bernama eagle artillery. Dengan troops maksimal town hall 10 aja sulit untuk ratain town hall 10 maksimal, apalagi dengan munculnya town hall 11? Sepertinya impossible buat nyerang town hall 11.

Kenapa gue bisa pesimis begitu? Karena adanya Eagle Kampret Artillery!

Eagle Artillery ini range atau jangkauannya seluruh area!


Dan damage-nya gede banget. Bahkan untuk golem, damage-nya 3x lipat!
TIGA KALI LIPAT!

Gue pernah iseng nyobain nyerang town hall 11 dan hasilnya…
 
:'(
Iya, Archer Queen gue mati dalam 2 kali serangan Eagle Artillery. Beda dengan town hall 9 yang sekarang sudah punya Freeze Spell, maka dia bisa nyerang town hall 10-yang-punya-inferno. Lah, yang town hall 10 mau nyerang town hall 11 modalnya apa?! Rasanya udah kayak mau nemuin orang tua pacar, tapi kita cuma modal cinta, gak punya apa-apa. Huft.

Mungkin gue harus nyobain gimana rasanya nyerang TH 11 pas di TH 11 aja, karena adanya Grand Warden.

11. FANSNYA BANG OLYMPUS

Tujuan gue nulis clan tag dan ID gue di postingan part 2 dan 3 adalah untuk menyakinkan pembaca kalo gue bener-bener ngalamin hal ngeselin itu. Gue cuma pengin ngasih liat biarpun gue kesel main COC, tapi stats gue dan achievement gue lumayan lah, gak jelek-jelek amat. Bukannya ngajak join ke clan gue.

Tapi, setelah postingan itu booming, banyak yang join ke clan gue. Karena clan gue di-setting invite only, banyak yang mau join dengan cara nyepik,

“Fansnya bang Olympus”
“Habis baca hal-hal ngeselin main coc di internet
“Gue mata-mata, accept please”

Karena beberapa ada yang lumayan bagus stats maupun troopsnya (gak TH prematur), orang-orang yang ngakunya fans gue itupun di-accept. Setelah di-accept, ya seperti clan pada umumnya, ada prosesi perkenalan, nanya-nanya, dll. Kampretnya, pas mereka diikuti war, eh malah left clan.
Kejadian ini gak sekali dua kali, tapi sering kali.

Makanya, tiap ada yang mau join dan bawa nama-nama Olympus atau blog ini, langsung di-reject. Bikin malu gue aja. :(

Okey, itu dulu yang bisa gue share di Hal-Hal Ngeselin Saat Main Clash of Clans Part. 4. Yang mau liat stats gue bisa ke clan tag #QP8LVRV , ID gue Olympus. Ingat, yang mau liat stats gue. Kalo mau join dan loyal, keyword joinnya jangan bawa-bawa nama gue ataupun blog ini. Udah pasti bakal di-REJECT.
BAKAL DI-REJECT. *Sengaja diulang biar serem*

OKEH. FARMING DULU! SALAM CLASHER! CLASH ON!