A Great Story Comes With Great Stupidity : Maaf Untuk Keputusan Ini

Maaf Untuk Keputusan Ini


Ada sebuah kalimat klise yang sering kita semua dengar: hidup adalah pilihan.

Mungkin banyak yang meremehkan atau menganggap kalimat itu hanya sebuah jargon semata, tapi sebenarnya jika kita telaah dan resapi dalam-dalam, kalimat itu benar adanya. Kalimat itu ada di setiap langkah kaki kita, dalam menghadapi hidup ini.

Dalam hidup ini tentunya kita sering banget terjebak dalam situasi yang membuat dilema. Kita harus memilih salah satu dari sekian banyak pilihan, untuk mencapai tujuan hidup kita. Dalam film Kingsman: The Golden Circle, Eggsy dan Merlin hanya akan berakhir dengan mabuk-mabukan jika Eggsy tidak melihat alamat Statesman di botol birnya dan pergi ke Kentucky untuk menyelamatkan dunia.

Begitupun dalam hidup gue. Sering kali gue dihadapkan dalam situasi yang di mana gue harus mengambil sebuah keputusan sulit. Sebuah keputusan yang mungkin dan bahkan masih gue sesali sampai sekarang.

Butuh keberanian yang maha dahsyat untuk gue menulis postingan ini. Butuh waktu untuk berpikir sedemikian rupa, sampai akhirnya gue bener-bener bisa mulai menuliskan ini.

Sedari 3 hari yang lalu, lebih tepatnya ini sudah gue pendam sejak 3,5 hari yang lalu, gue seperti mengalami fase di mana hal yang telah gue lakukan selama ini, penuh kebohongan belaka.

Pura-pura yang berkepanjangan.

Dosa-dosa yang terus dilakukan.

Senyum palsu yang terus mengembang.

Tapi, ini adalah kenyataan yang harus gue pikirkan.

Entahlah, gue masih belum habis pikir harus memulai pembicaraan ini dari mana. Ini semua bukan perihal gue sedang patah hati karena cinta. Bukan juga perihal gue sedang memikirkan utang negara. Maaf, urusan utang negara sampai saat ini masih belum bisa bantu.

Lalu, apa yang membuat Yoganteng begitu ragu untuk bicara?

Takut. Satu kata yang gak ingin gue beri tahukan kepada kalian. Tapi, jika ini gak kunjung gue ucapkan, justru gue yang akan menyiksa diri gue sendiri. Bayangan ketakutan itu terus menghantui gue. Sepanjang hidup ini.

Mengambil sebuah keputusan sulit yang mengharuskan gue untuk memilih, karena ini ada kaitannya dengan hidup dan mati gue. Ingin rasanya benar-benar pergi dan melupakannya. Tapi, gue gak bisa melakukan itu. Apalagi melakukannya sambil salto belakang.

Sebelum semuanya benar-benar gue katakan, mungkin hal pertama yang harus gue tulis untuk paragraf selanjutnya adalah TERIMA KASIH DAN MAAF.

Terima kasih dan Maaf Telah Melakukannya.

Gue sadar, apa yang telah gue lakukan saat itu adalah ketidak sengajaan. Mungkin kalian juga akan melakukan apa yang gue lakukan malam itu, jika terjebak di situasi genting seperti apa yang gue alami. Tapi, sejak kejadian itu gue tidak lagi merasa gue adalah gue yang dulu.

Gue bukan lagi Yoga yang polos gak tau apa-apa. Bukan Yoga yang tidak menghalalkan segala cara untuk mendapatkan keinginannya. Bukan Yoga yang blognya nangkring di singgasana page one google.

Beberapa kali gue pernah mencoba bodo amat untuk waktu yang lama. Melupakan. Tapi, gue selalu dihantui perasaan bersalah. Gue selalu berambisi untuk bisa kembali hidup tenang, seperti jalannya tes CPNS yang berlangsung beberapa hari lalu.

Benar adanya. Semua hal yang gue lakukan itu hanya alibi gue untuk tetap bisa menjalani kehidupan gue yang dulu tenang secara konsisten.

Tapi, roda gak pernah diam, kecuali direm. Hidup gue akan terus berputar dan akan merasakan posisi paling atas bahkan sebaliknya, posisi paling bawah. Dan gue harus ikhlas terdegradasi ke divisi II.

Gue terjebak dalam situasi yang membuat gue harus mengambil keputusan sulit. Ambil atau tidak?

Untuk itu, gue pun akhirnya sadar, bahwa ini memang bukan helm gue. Makanya, gue akan minta maaf kepada kang parkir dan si pemilik helm, yang helmnya oleh kang parkir serahkan ke gue dan gue akui kalo itu memang helm gue, padahal bukan.

Pertama. Gue mau ngucapin terima kasih banget buat Kang Parkir di café malam itu, yang sudah mau memberikan helm itu kepada gue. Padahal jelas-jelas gue telah berbohong untuk mendapatkan helm tersebut. Mungkin, tanpa kang parkir ini, gue gak akan pernah sampai rumah dengan aman dan tentram. Bahkan sampai sekarang belum bisa pulang.

Pribadi yang selalu menjaga keamanan motor gue dan pengunjung café lain, walaupun ia tahu bahwa motor yang dijaga hanyalah titipan, bukan miliknya. Selalu ngajarin bahwa ketika dalam keadaan apapun, motor yang terparkir harus rapi. Sampai mereka sendiri yang meminta gue untuk jangan mengunci stang agar supaya gampang mengatur keluar dan masuknya motor ke parkiran.

Kedua. Gue mau ngucapin terima kasih dan maaf sebanyak-banyaknya untuk sang pemilik helm KYT yang helmnya dengan sangat terpaksa gue pakai untuk pulang ke rumah walaupun gue tau, helm kami tidak akan pernah sama. Walaupun sama-sama KYT hitam, tapi ukuran helm gue M, sedangkan helm itu L. Masih baru pula.

Ya, gue sadar. Gak semua yang membaca blog ini sepaham dengan apa yang gue lakukan. Gak bisa merasakan bingungnya gue ketika helm gue yang sebelumnya tergantung manja di spion mendadak raib dan jam sudah menunjukan pukul 11 malam. Gak bisa merasakan bahwa banyak kenangan yang telah gue lalui bersama helm tersebut.

Itulah kenapa gue juga harus sadar, bahwa gue harus tampak meyakinkan ketika meng-iyakan pertanyaan dari kang parkir, “Helm masnya yang ini?”

Sekali lagi, maaf jika gue mengambil apa yang seharusnya bukan menjadi milik gue. Bertingkah bagaimana polosnya mengiyakan pertanyaan dari kang parkir. Mencoba memeras ide licik menjadi sebuah upaya penyelamatan diri yang layak dipertimbangkan. Menyelipkan reflek iba yang membuat hati berduka.

Ya, tulisan ini berangkat dari ketakutan yang sudah sejak dulu gue simpan rapat-rapat. Takut ketika di jalan tiba-tiba helm ini akan bertemu dengan pemilik aslinya dan dia sadar karena dia punya keterikatan batin. “WAH HELM GUE NIH!”

Tapi, sepandai apapun gue menyimpan bangkai, akhirnya akan dimarahin ibu gue juga. “Ngapain nyimpan bangkai? Helm tuh disimpan, biar gak dicuri orang terus!” kata Ibu gue, sambil ngasih duit.

Ini gak bisa dipungkiri, menceritakan ini memang seperti membuka luka lama, juga peluang menjadi buronan. Hanya saja, supaya gue merasa lega, semuanya harus gue ceritakan. Jadi, tolong jangan lapor ke polisi atau FBI. Tolong.

Pertama kali gue membeli helm KYT hitam itu pada tahun 2011. Gue membeli helm saat itu karena pengen jadi anak gaul karena helm merk itu sedang booming. Saking booming-nya, kalo helm lu bukan merk KYT, lu akan dikucilkan dalam pergaulan.

Tapi, sejak pertama gue memiliki helm dan ke mana-mana selalu membawa helmnya, karena takut hilang jika ditaruh di jok, enggak ada satupun cewek yang terpesona. Gue pun udahan dengan urusan helm dan ambisi menjadi anak gaul, sampai akhir tahun 2011. Gue fokus lulus SMA, dulu.

Namun, awal tahun 2012, gue kembali dikenalkan dengan sebuah trend oleh seorang teman (bukan orang Nigeria) yang bisa membuat status anak gaul tercapai. Saat itu banyak yang menempelkan sticker logo-logo band metal di helmnya. Makin banyak stickernya, maka makin gaul. Tapi, gue tidak melakukannya. Gue terlalu sayang dengan si helm. Gue biarkan dia mulus dilapisi cat hitamnya. Kalo pun ada motif, itu bekas tergores karena disundul temen yang gue bonceng. Gue masih yakin bahwa gue bisa sampai ke tujuan yang gue mau.

Gue harus bisa jadi NAGH GAWL.

Memasuki awal tahun 2013, gue sudah gak tau harus melakukan cara apa lagi. Ya, akhirnya gue pun ingat ternyata gue sudah lulus SMA. Tingkat kegaulan adalah fana. Tidak ada lagi yang peduli apa merk helm lo, berapa banyak sticker yang nempel di helm lo, berapa liter air mineral yang lo minum tiap hari.

Teman-teman SMA gue mulai saling terpisah demi kuliah. Gue sendiri saat itu sibuk ikut komunitas Stand Up Comedy. Selain menambah teman, tujuan gue adalah agar percaya diri ngomong di depan orang banyak.

Di tahun 2014, entah sudah berapa kali kami berpindah-pindah café untuk openmic (LATIHAN), saat itu kami dipersilakan untuk openmic di sebuah café baru, di tengah kota Balikpapan. Sebut saja Café BOSZ.

Café ini suasananya benar-benar tertutup. Terdapat dua bagian café, bagian luar dan dalam. Kami openmic di bagian dalam yang tempatnya lebih luas dan tertutup.

Malam itu gue memarkirkan sepeda motor gue. Melepas helm dan menaruhnya di atas tangki motor gue. Memutar spion kanannya ke arah gue, pantulan wajah gue terpampang nyata di sana. Setelah merasa ganteng maksimal, gue turun dari motor, lalu memindahkan helm gue di spion kanan.

“Jangan dikunci stang, ya, Mas.” Kata kang parkir yang berdiri gak jauh dari gue. Karena takut digebuk pake lighstick-nya, gue mengiyakan dan berjalan pelan masuk ke dalam café.

Beres openmic dan review, saat itu sudah pukul 11 malam. Kami (anak-anak stand up, bukan anak Nigeria) keluar sebagai pengunjung café terakhir. Begitu sampai di luar, ternyata jok motor yang ada di parkiran sudah basah semua. Ternyata tadi hujan dan kami yang di dalam sama sekali enggak tau.

“Itu helmnya saya kumpulin di ujung, biar gak basah.” Kata kang parkir sambil menunjuk tumpukan helm yang tersusun rapi.

Saat itulah gue bersyukur menaruh helm di spion, bukan digantung di jok, karena nasib helm gue akan berakhir menjadi gayung. Atau Danau.

Gue dan teman-teman yang lain segera menyerbu tumpukan helm itu dan mengambil miliknya masing-masing. Di saat teman-teman gue mendapatkan helmnya dan pulang dengan bahagia, gue malah enggak menemukan helm gue.

Rasa panik dan takut segera menyergap gue.

Bayangan kenangan gue bersama si helm langsung terputar begitu saja di kepala gue. Tapi, ada hal yang lebih penting untuk diingat: rumah gue jauh dan gak mungkin gue pulang gak pake helm.

“Pak, helm yang di motor itu, mana, ya?” Tanya gue, sambil menunjuk motor vixion gue.

“Helmnya yang gimana?” kang parkir malah balik bertanya.

“Merk KYT, warna hitam.”

Kang parkir dan temen gue, Dana, mulai membantu gue untuk menemukan sang helm. Mondar-mandir di sepanjang teras café, dan gak ada helm merk KYT di situ. Helm temen-temen gue juga gak ada yang sama seperti gue.

GUE MASIH SABAR UNTUK SEGERA MENEMUKANNYA.

Sejak saat itu, semangat hidup gue mengalami penurunan yang luar biasa. Terlihat jelas dari jumlah ion yang ada di tubuh gue.

“Helm masnya yang ini?” tanya kang parkir, sambil menyodorkan sebuah helm KYT hitam.

Gue pandangi helm di tangan kang parkir itu dengan seksama. Helm itu terlalu bagus dan mulus untuk gue. Tidak ada bekas lecet-lecet karena kesundul helm lain. Tidak ada bekas goresan di kaca beningnya yang bentuknya seperti beha karena keseringan dinaik-turunkan kaca hitamnya. Tidak ada sisa-sisa potongan rambut juga di dalamnya.

“INI BUKAN HELM GUE.”

Gue masih percaya, masih banyak orang jujur di dunia ini. Tapi, mungkin ini bukan jalan untuk seorang Yoganteng. Selama ini gue sebenarnya bukan berada di jalan yang seharusnya, tapi gue berjalan di jalan milik pemerintah.

Dengan kilat gue menatap Dana. Dia pun menatap gue. Seperti paham apa arti tatapan gue, dia mengangguk, yang kira-kira jika diartikan: “BILANG IYA! IYA!!!”

Gue memperhatikan sekitar, melirik ke dalam café siapa tau di dalam ternyata masih ada pengunjung café yang kebetulan lagi ke toilet saat gue keluar tadi. Gue benar-benar bingung saat itu. Gue belum siap menjadi seorang kriminil.

Di sinilah kejujuran seorang anak polos diuji.

Kalo gue bilang bukan, gue pulang gak pakai helm, bisa aja di jalan gue kecelakaan atau ditilang yang berakibat fatal. Jika bilang iya, gue takut ternyata kang parkirnya lagi menguji gue karena sudah ada kamera tersembunyi di berbagai tempat.

Karena gue lebih mementingkan keselamatan, dengan ragu gue mengiyakan pertanyaan dari kang parkir. Beliau pun menyerahkan helm tersebut tanpa ragu sedikit pun.

“Saya taruh di atas sana tadi. Soalnya di bawah penuh.” Kata kang parkir, menunjuk sebuah bangunan dari kayu, tempat untuk meletakkan tandon.

“Owalah! Hahaha! Yaudah, makasih, Pak!”

Gue segera memberi dia uang parkir, lalu memakai helm dan segera ngebut dengan kecepatan 100 km/jam dari café itu.

Di jalan, gue berusaha mencari pembenaran atas tindakan gue. Menurut gue, helm gue itu tertukar. Si pemilik helm asli ini pasti juga kebingungan mencari helmnya, lalu melihat helm gue, ya diambil aja tanpa bertanya ke kang parkir. Selain itu juga tidak ada pengunjung café lain lagi selain kami. Jadi, pasti itu helm tertukar!

Setelah kejadian itu gue kadang suka menghilang 1 minggu full gak nongol di jalan raya. Bahkan pernah 1 bulan. Itu karena bensin langka.

Tapi, gue tetep nyoba untuk kembali dan mengumpulkan sisa-sisa keberanian yang ada, sambil berharap orang asli yang punya helm gak pernah bertemu dengan helmnya lagi.

Berusaha membuat helm itu lecet supaya tampak seperti helm lama. Berusaha memakainya tanpa takut dan was-was tapi aslinya gue sedang meneteskan air mata. Karena kaca helmnya lupa gue turunin. Kelilipan anjir.

Berusaha membuat helm gue menjadi berbeda dengan menempelkan sticker-sticker lucu, meskipun kenyataanya gue benci itu.

Jadi, semoga dugaan gue soal helm tertukar itu benar adanya.

*****

Ya mungkin itulah yang harus kalian ketahui. Satu lagi, sepertinya gue mustahil untuk mengembalikan helm itu. Selain café BOSZ itu sudah bangkrut, helm itu juga… udah hilang lagi.

Waktu itu di tahun 2015, gue lagi berobat ke rumah sakit. Begitu sampai di parkiran, gue sempat galau mau naruh helm di jok atau di spion karena ini pertama kalinya gue ke rumah sakit ini.

Gue perhatikan keadaan sekitar. Dua motor yang mengapit motor gue, menaruh helmnya di spion, merk helmnya pun sama seperti gue. Bahkan lebih mulus kondisinya daripada gue. Di belakang motor gue juga ada kursi, tempat penjaga parkir duduk. Jadi, yaudahlah gue taruh aja di spion.

Gue beres berobat sekitar pukul setengah 1 siang, begitu sampai parkiran lagi-lagi helm gue gak ada di spion. Badan gue langsung lemes. Dompet gue juga ikutan lemes. 

Ya, mungkin bagi mereka yang hidupnya bergelimang harta dan memiliki penghasilan $3800/bulan akan bilang, "Gue kalo helmnya hilang ya tinggal beli lagi, kalo enggak hilang ya gue hilangin sendiri terus beli lagi."

Hem…

Gue langsung melirik ke langit-langit dan sudut-sudut parkiran. Ada kamera cctv! Jangan-jangan ini gue dikerjain nih. Soalnya kedua motor yang mengapit motor gue, helm mereka masih tergantung manja di spion.

KENAPA HARUS HELM GUE YANG DIAMBIL, BANGKAI?!

SUDAH BULUK MASIH AJA DICOLONG!

Niat jahat untuk mengambil helm di motor sebelah sempat terbesit di pikiran gue. Tapi, gue sadar bahwa tindakan yang dulu gue lakuin adalah salah. Gue gak mau mengulangi kesalahan yang sama dan dihantui lagi perasaan bersalah terus-terusan. Yang lebih penting, kalo ini beneran gue dikerjain, pas kegep malunya dobel.

Gue mendatangi tukang parkir yang tadi duduk di dekat motor gue, menanyakan perihal keberadaan helm gue. Kata dia sebelum dia pergi untuk makan siang, masih ada. Dia pun menunjukkan rekaman cctv untuk membantu mencari siapa pencuri helm gue. Sayangnya, kamera cctv tidak menyorot daerah tempat motor gue terparkir. “Ngapain ada cctv kalo gitu, ya?”

Gue pasang muka memelas dan kebingungan.

“Ini, Mas. Ada helm ketinggalan waktu itu, udah seminggu gak ada yang ngambil. Kalo mau, masnya pake aja dulu.” Kata dia, sambil menyerahkan helm yang kondisinya mengenaskan.

Helm itu berwarna putih-pink dengan motif gambar kucing. Warna putihnya sudah pudar menjurus kekuningan, tali helmnya sudah tidak bisa dipasang, kaca helmnya gak ada. Make helm ini membuat tingkat kegaulan turun hingga ke angka minus 169.


Daripada gue pulang gak pake helm dan ditilang polisi, gue terima helm itu dengan terpaksa. Gue gak peduli helm ini timpang sekali dipakai dengan motor vixion gue. Yang penting, gue bisa sampai rumah.

Di perjalanan pulang gue mikir, mungkin ini adalah karma dari kejahatan gue di masa lalu, tapi saat itu gue benar-benar terpaksa melakukannya. “Maaf untuk keputusan ini”.

*****

Jika orang-orang lagi ribut soal peringatan peristiwa G30S/PKI, gue bersama beberapa teman blogger membuat proyekan iseng untuk memperingati kejadian yang gak kalah penting, di tanggal 30 September juga, yaitu… G30S/MKI.

Tahun lalu, di tanggal 30 September, Heru sang Pangeran Wortel membuat tulisan penuh penyesalan yang berujung pada perubahan genre ngeblognya. 

Kami berinisiatif memperingatinya dengan membuat tulisan yang bertema tentang pengambilan keputusan terberat dalam hidup. Gerakan ini kami sebut: G30S/MKI (Maaf untuk Keputusan Ini).

Tulisan temen-temen blogger lain, bisa baca di sini:

58 comments

HELM HARMY KITTY. WAKAKAKAK. Kejantananmu diragukan lagi, Jok!

Reply

"Ini bukan helm gue."

Jalan woy jalaaan. Si kampret! :))

Reply

Yang didapat akhirnya malah lebih bagus. Pertahankan pola yang sudah diterapkan.

Reply

nanggung amat. aturan mah abis itu sekalian ganti motor jadi scoopy pink trus ditempelin stiker helokiti :3

Reply

"Ini bukan helm gue!" TERNYATA HELM DIA!

Wakakak. Asyik juga baca curhatan pake format MKI.

Reply

eh kenapa aku malah terharu dan terhanyut baca curhatan yang ini ya, Yog? ada pedih-pedihnya gitu. *INI YANG NARUH BAWANG MERAH DISINI SIAPA*

ini persis kayak kejadian sandal swallowku pas sholat ied tahun lalu.

ke masjid petentang petenteng pake sandal swallow buluk warna ijo. namun antara naas dan beruntung, saat pulang, karena terlalu lama ngibril dengan teman SD yang lama tak berjumpa, aku pulang terakhiran. sisa sandal tinggal dua onggok. dua pasang. yang satu sepertinya punyaku dan punya temanku. eh, usut punya usut, sandal swallow ijonya kok lebih kinclong dan satu ukuran di atas sandal swallowku. mulus, cuy. belum ada codetnya macem sandal swallow lamaku tadi. karena nggak ada orang lain, aku putuskan pake sandal tsb karena temen udah nanyain kalau itu sandalku atau bukan.

dan besoknya, saat tetangga-tetangga saling main untuk bersilaturahim, aku melihat salah satunya memakai sandal swallow penuh codet. njir, itu punyaku. tapi entah kenapa aku tidak tergerak untuk menukarkannya dgn sandal swallow yg kemarin kubawa pulang.

dan sekarang aku jadi nulis pengakuan dosa. dan sekarang aku merasa berdosa. arrrghhh, yoga!

Reply

Konsentrasiku langsung goyah begitu melihat foto pertama...

Betul, keliatan timpang kalo pake helm itu. Wajah si yoga kan mirip predator nih, jadi harusnya pake helm predator. #MaafUntukKomentarIni

Reply

Entah knapa baca ini rasanya kuingin memaki2 :'))

Kok jd ngingetin gue sm cerita legenda soal kapak yg kecebur di danau gtu yak? Tau crtnya gak si?
Itu kang parkir seolah2 dewinya, mstinya pas kang parkirnya nnya "ini helm nya bukan?" mstinya lu jawab bukan, biar dpt 2 yg bagus sama dpt pnya lu jg yg udh jelek. Ulang lagi coba dialognya, ulang! Wkwkw.

Umm.. Itu helm.. Unyu bner. Buat gue aja siniiii. Ntr gue tuker... Sama helm doraemon gue.. Warna pink juga. Gmn? Berminat?

Reply

KENAPA HARUS HELM SIH ANJIR :))))

Jadi motor lo Vixion? Gue kirain RX-King dari YKCB. Eh, satu lagi... Lo berobat di rumah sakit ya? Gue kirain ke dukun santet.

Reply

Pertamanya kirain masalah apa. Ternyata helm!! Entah, ngakak berkali-kali dah baca ini. Kalo aku ngalamin ini jg, emang pasti dilema berat dan kepikiran berhari-hari. Tapi sejauh ini ngga pernah ngalamin helm ilang atau ketuker Alhamdulillah. Soalnya emang belom bisa ngendarain motor sendiri -__-
Yaampun, rejeki bgt ya dapet yg hello kitty haha :")

Reply

Sepemikiran sama aku nih mahasiswa semester 5 atu.

Reply

Baru baca beberapa paragraf, langsung kesel ih. Apaan Yoganteng. Yogampar rame-rame yooooook kali ah.

Tapi untungnya happy ending ya. Helmnya ucul anet sik. Cocok banget sama pecinta kucing dan Gemini bajingak seperti kamu, Yogs.

Btw soal helm KYT, aku juga sempat kejangkit virus beli-helm-KYT-biar-jadi-nagh-gawl. Waktu itu helm-ku KYT warna pink. Terus ditempelin stiker hasil dapat dari acara musik metal. MHUAHAHAHAHAHA. Pada akhirnya aku ngerasa helm itu berat dan aku beralih ke XYZ yang nggak lama menggantikan tahta KYT di page one. Eh maksudnya di tahta helm nagh gawl. Terus sekarang betah pake helm MDS Capello karena besar dan ringan.

Entah itu helm KYT sekarang di mana, yang jelas helm KYT-ku nggak pernah hilang atau tertukar sih. Anak baik-baik emang, gini...

Reply

Bang****att helokitiii hahahahahahahaa
😂😂😂😂😂😂

Reply

Butuh keberanian yang maha dahsyat untuk gue menulis postingan ini? makanya bismillah duluu =))

Reply

Biar ganteng, pakenya KYT?
Apalah dayaku yang cuma punya BMC dan helm legenda, hadiah motor Honda.
*Tingkat kegantengan, langsung minus 169 Hahaha

Reply

Helmnya lucu hello kitty, tapi gapapa yang penting SNI dan engga kena tilang polisi :v semua gara-gara konspirasi tukang parkir emang dah -_-

Reply

Gak nyangka penyesalan mengakui barang yang sebenarnya bukan milik menjadi selebar dan sepanjang ini. Awalnya saya penasaran, masalah apa yang sedang lo alami sampe segalau itu haha... ketakutan apa yang bikin lo mau mengakuinya dengan menulis postingan ini, dan ternyata semua adalah tentang helm. Hahaha ada bagian yang bikin saya ketawa ngakak sampai mengeluarkan air mata wkwk ceritanya benar2 gokil meski harusnya saya ikut prihatin yaaak. Bila dalam keadaan seperti itu juga saya pasti dilema banget dan merasa bersalah telah memilih pilihan yang salah tapi apa boleh buat. Nasib telah menjadi bubur. Helmnya orang lain udah di tangan jadi beban dibawa kemana-mana meski saya tebak juga sih kemungkinan besar helm lo ketukar karena merk dan warnanya ya sama hehe. Nasib.. nasib. Ujung-ujungnya helm lo hilang lagi, kemudian ditawarkan dengan pilihan yang sama dan lagi2 lo juga harus memilih hal yang sama, tragis banget. Yang ini malah helmnya berubah unyu unyu gitu hahah... but watever seharusnya kejadian hilangnya helm itu bisa jadi pelajaran buat ke depannya lebih berhatihati dan jangan lagi mengakui sesuatu yang bikin milik kita. Dilema iya, tp bila bertentangan dengan hati pasti beban perasaan yang bakal kita bawa kemana-mana. *reminder juga buat saya

Reply

Saat tahu helm ilang tuh bikin lemes, persis pas helmku ilang pas aku shalat jama'ah di masjid, begitu balik ke motor dan lihat helm sudah tidak bergantung manja di spion ahh...
Tapi santai aja bro, kamu tetep keren kok, tetep keren meski pake helm pink kembang kembang gitu hehe

Reply

Haduhh jadi inget kejadian masa lalu ketika saya dan temen saya diem-diem nyolong pentil motor punya orang, abisan pada jaman itu lagi ngetren banget pentil motor warna-warni kaya pentil motor roket, granat dkk btw helmnya cuco banget

Reply

Pembukaannya bikin salah sangkai oooiii!!!
Kirain kenapa, kirain gawat, kirain melakukan sebuah dosa yang amat sangat biadab. Ingin ku berkata kampret!

Kalau ngomongin helm, pas jaman SMA dulu, helm aku yang cuman merk BMC hilang sampai dua kali. Bayangkan merk BMC yang masih di bawah level KYT sama INK aja diembat? Rakus banget tuh malingnya. Akhirnya g pernah lagi ada niat buat beli helm bagus, mending beli helm SNI yang murah meriah, biar g digondol maling.

Reply

congrats bro lu udah menyatakan semua perasaan lu di sini.
siapa tahu yang punya helm bisa baca dan langsung minta ganti rugi sama lu kan. alhamdulillah.

Namanya manusia ya kadang suka kegoda sama sesuatu yang wow.
akupun sering seperti itu.
karna memang nikmat sekali, lanjutkan.

btw, helm mu yang terakhir sepertinya paling the best deh.
Semoga helm personel cheribell itu ga akan hilang lagi dan selalu menemanimu hingga akhir hayat kelak

Reply

Gue pikir cuman sendal doang yang bisa diambil orang. Helm juga bisa. Hmmmmm.

Reply

Karma IS REAL!!! SEKARANG KAU AKHIRNYA MERASAKANNYA ANAK MUDA! HAHAHA!

Tuhan di masa lalu sudah mengujimu dengan helm yang sebenarnya bukan milikmu. Dan akhirnya sekarang helm yang bukan punyamu telah kembali diambil-Nya dan digantikan dengan helm HARMY KITTY! KARMA IS REAL!!!

Reply

ngakak anjir hahaha

apa-apaan pake diperingati segala. segitu krusialnya ya keputusan si pangeran wortel haha.

paling ngeselin itu, ilang helm. apalagi helm mahal. gue pake helm honda aja masih ilang, mana helm hondanya minjem pula. kan giman ini ngebalikinnya coba, mau beli-beli di mana?

masa iya beli motor dulu -_-

Reply

ahahahaha :D

kalian, sukses bikin sha ketawa2 dengan postingan MKI iniihh

ngerti banget rasanya disundul sama temen pas boncengan :D

Reply

Mengenang kata almarhum bang Napi,"Kejahatan terjadi bukan karena niat pelakunya, tapi karena kesempatan." Tulisan ini membuktikan segalanya.

Tapi, selamat, karena sudah sukses untuk meminta maaf~

Reply

Daaaan penjualan helm KYT pun tiba-tiba naik drastis setelah postingan ini up dan muncul di halaman pertama google wkwkwk

XD

Ini lagi nge-trend gitu ya, postingan confession ini
Seru juga kayaknya. Mau ikutan tapi bingung juga soalnya itu blog ku udah kayak diary beneran. Hampir semua hal udah disampaikan dan diakui secara transparan hahahahaha

Terus ngucapin minta maaf dan makasih lebih sering di komen IG atau whatsap wkwkwk :V

Reply

Hahahah... pengen tenang dan aman selama perjalanan pulang, eh nyatanya masih merasa bersalah sampai di rumah bahkan sampai sekarang.

Iya sih itu emang salah menurut gue, nah yang gak gue habis pikir gimana pas ketemu orang yg punya helm trus helmnya jadi berubah gitu... kasian...

Reply

ANJER AWKWARD MOMENT ITU PASTI HAHAHAHAHAHA. ETAPI CUMA SWALLOW, MASIH BISA IKHLAS KALO HILANG. :')

Reply

OH IYA TAU. :))

YA GAK MUNGKIN JUGA SIH KALO JUJUR DI SITUASI KAYAK ITU. :(

Reply

itu motor bangsawan, jangan disebut-sebut.

Reply

HAPPY ENDING JIDATMU KECIL! :"

WANJER. ITU UDAH GAWL MAX! :)))

Reply

SALAHKAN TUKANG PARKIRNYA!!!

Reply

(((KEREN)))
((PINK KEMBANG KEMBANG)))

Reply

JAMAN GUE SMP BANGET INI PENTIL BAN ANEH ANEH BENTUKNYA :))
Tapi sekarang sudah dilarang sama polisi ._.

Reply

kadang maling gak pandang bulu sih. helm hadiah motor aja kadang bisa raib juga. apalagi helm scoopy. sering banget tuh hilang karena kan bentuknya bagus.

Reply

JANGAN SALAH. ITU BENAR-BENAR KEPUTUSAN YANG KRUSIAL! WAJIB DIPERINGATI!

Maling emang gak pandang bulu. :')

Reply

karena ini proyekan jadi bukan trend juga sih. :(

Reply

WOOOYYY GUE NGAKAK ANJEER. GUE BARU BACA INI

BANGKEEEE
UDAH AH. MAU MEMAKI SEKALIGUS NGAKAK SAJA

Reply

Post a Comment

Terima kasih sudah meluangkan waktu kalian untuk membaca postingan gue. Gak perlu ninggalin link blog untuk dapet feedback, karena dari komentar kalian pasti dapet feedback yang sepadan kok.

Terima kasih!