A Great Story Comes With Great Stupidity

Muka Pasaran

Katanya, setiap manusia di bumi ini punya kembaran setidaknya 7 orang. Walaupun enggak 100% sama, tapi tingkat kemiripannya benar-benar bikin kita setidaknya berpikir, “Itu si anu bukan, sih?”

Sudah banyak cerita soal orang-orang yang bertemu ‘kembarannya’ ini. Cerita yang pertama kali gue tau adalah ada orang Indonesia yang mirip dengan pemain bokep sepak bola asal Brazil, Ronaldinho.
Lalu ada juga di Skotlandia sana, ada orang yang secara tidak sengaja bertemu dengan orang lain yang mirip banget dengan dia saat akan naik pesawat. Epic-nya, mereka duduk sebelahan.

Terus ada juga, seorang teman blogger kita, si Icha Khalifa yang ternyata mirip sama Mia Khalifa.

Selain wajahnya mirip, nama mereka sama-sama menggunakan nama ‘Khalifa’. Hmmmm… apakah ini kebetulan?

Gue sendiri juga sering sih dibilang mirip gitu sama seseorang. Terakhir ada yang bilang gue mirip sama Andrew Garfield. Nama gue sendiri kebetulan Yogarfield Cahya Putra. Hmmmm… kebetulan?

Satu hal yang perlu diketahui adalah, dibilang mirip dengan orang lain, itu enggak enak. Gue punya beberapa pengalaman perihal dibilang mirip dengan orang lain.

Ngomentarin: Keyword Menuju Blog

Sebagai seorang blogger, hal pertama yang biasanya dilakukan ketika lagi buka blogger.com adalah:
1. Ngecek apakah ada komentar baru di blog?
2. Ngecek berapa pengunjung blog per hari?
3. Ngecek AdSense apakah sudah $3800/bulan atau belum?

Menurut gue ya normal aja melakukan hal di atas, apalagi untuk poin nomor 1 dan 2. Kalo buka blogger.com lalu enggak ngelakuin dua poin teratas itu rasanya kayak pacaran, tapi enggak boleh gandengan karena bukan muhrim.

Untuk poin 3 sih gue belum bisa melakukannya, nyoba daftar aja ditolak mulu sama google. Huhuhu. Kayaknya gue musti nyoba daftar Adsense di altavista deh, ya? Biar anti-mainstream.

(((altavista)))

Anyway, walaupun belum bisa menghasilkan uang dari pasang iklan di blog, ya gue gak sedih-sedih amat sih, karena tujuan gue ngeblog cuma berbagi cerita aja, bukan ngejar receh google. Kalopun dapet recehan, ya… Alhamdulillah, enggak dapet, ya… enggak apa-apa. Karena gue percaya rezeki itu sudah ada yang mengatur? Betul tidak? Bangkai, gue bisa bijak juga ternyata.

Nah, kadang saat mengecek jumlah pengunjung dan mendapati bahwa blog ini datangin lebih banyak pengunjung dari hari biasanya (misalnya biasa 500 visitor/day, kali ini jadi 501 visitor/day), gue tentunya mengecek ‘sumber lalu lintas’ karena penasaran: Apa yang membawa orang-orang ini kesasar di blog gue?

Ketika Adegan Tegang di Film Menjadi Antiklimaks

Selain membaca dan modusin cewek-cewek, hobi gue adalah nonton film.

Hampir semua genre film gue suka. Mulai dari action, komedi hingga fake taxi. Tapi, gue lebih suka nonton film yang action gitu, walaupun konsepnya basi banget.

Setelah nonton banyak film action, gue sadar bahwa alur film action selalu begini: Seseorang (yang akan jadi tokoh utama di film) sedang mengalami masalah hebat dan terpuruk banget. Lalu tiba-tiba ada satu peristiwa yang membuat warga panik (misalnya serangan teroris di kota). Si orang yang terpuruk tadi mau enggak mau bakal nyelamatin kota dan seluruh warga itu, jika tidak ia bakal makin terpuruk. Dia memilih untuk bertindak dan bangkit dari keterpurukannya. Masalah teratasi. Tamat.

Anehnya, gue gak pernah bosan nonton film bergenre gini.

Salah satu film yang bikin gue berpikir, “ini orang hebat banget!” di film action adalah di film Word War Z. 

Ketika Roaming Bahasa

Bepergian ke suatu daerah, selalu mendapatkan hal-hal di luar perkiraan kita. Biasanya sih berupa pengalaman selama di perjalanan. Entah pengalaman yang menyenangkan, tidak menyenangkan atau membingungkan; ini menyenangkan atau enggak sih? Bingung.

Sama halnya seperti bepergian, bertemu orang baru di daerah tertentu juga bakal membawa sebuah pengalaman baru. Pengalaman paling seru biasanya karena adanya perbedaan budaya dan bahasa. Kadang dari roaming bahasa itulah muncul pengalaman tak terduga, atau bahasa filsuf-nya sih “memunculkan reflek tawa yang patut untuk dipertimbangkan.”

Di bulan Desember tahun 2015, gue lupa tanggal berapa, gue lagi di Samarinda, bersama teman gue, Dana. Dia yang menyetir motor, gue yang dibonceng. Kami berdua menuju sebuah motel untuk menjemput teman lainnya.