A Great Story Comes With Great Stupidity

Ketika Adegan Tegang di Film Menjadi Antiklimaks

Selain membaca dan modusin cewek-cewek, hobi gue adalah nonton film.

Hampir semua genre film gue suka. Mulai dari action, komedi hingga fake taxi. Tapi, gue lebih suka nonton film yang action gitu, walaupun konsepnya basi banget.

Setelah nonton banyak film action, gue sadar bahwa alur film action selalu begini: Seseorang (yang akan jadi tokoh utama di film) sedang mengalami masalah hebat dan terpuruk banget. Lalu tiba-tiba ada satu peristiwa yang membuat warga panik (misalnya serangan teroris di kota). Si orang yang terpuruk tadi mau enggak mau bakal nyelamatin kota dan seluruh warga itu, jika tidak ia bakal makin terpuruk. Dia memilih untuk bertindak dan bangkit dari keterpurukannya. Masalah teratasi. Tamat.

Anehnya, gue gak pernah bosan nonton film bergenre gini.

Salah satu film yang bikin gue berpikir, “ini orang hebat banget!” di film action adalah di film Word War Z. 

Ketika Roaming Bahasa

Bepergian ke suatu daerah, selalu mendapatkan hal-hal di luar perkiraan kita. Biasanya sih berupa pengalaman selama di perjalanan. Entah pengalaman yang menyenangkan, tidak menyenangkan atau membingungkan; ini menyenangkan atau enggak sih? Bingung.

Sama halnya seperti bepergian, bertemu orang baru di daerah tertentu juga bakal membawa sebuah pengalaman baru. Pengalaman paling seru biasanya karena adanya perbedaan budaya dan bahasa. Kadang dari roaming bahasa itulah muncul pengalaman tak terduga, atau bahasa filsuf-nya sih “memunculkan reflek tawa yang patut untuk dipertimbangkan.”

Di bulan Desember tahun 2015, gue lupa tanggal berapa, gue lagi di Samarinda, bersama teman gue, Dana. Dia yang menyetir motor, gue yang dibonceng. Kami berdua menuju sebuah motel untuk menjemput teman lainnya.

Bertemu Teman Dunia Lain

Gue selalu iri, dengki dan ingin ngerusak hubungan orang lain setiap kali melihat ada blogger yang ngepost soal kopdar blogger.


Bukannya apa, di daerah gue, jangankan kopdar, blogger yang satu spesies (suka nulis cerita sehari-hari, gak jelas, agak stress) kayak gue aja sepertinya gak ada. Kalo gue liat-liat sih blogger yang ada di Balikpapan itu yang isi blognya serius, informatif dan didominasi oleh om-om, berbanding terbalik sama gue yang masih muda ini. Jadi, kalo pun ada kopdar blogger, gue udah kebayang awkward-nya duluan.

Mengenang Tahun 2016

SELAMAT TAHUN BARU! SELAMAT DATANG TAHUN 2017!

*tiup terompet*

Gimana malam tahun baruannya? Pada bakar apa? Ayam? Jagung? Rumah mantan?

Tumben alias gak seperti biasanya, malam pergantian tahun 2017 ini gue memilih seru-seruan bareng temen-temen SMP gue. Biasanya gue gak pernah mau keluar rumah karena males kejebak macet dan kaget sendirian gara-gara suara kembang api pas pulang ke rumah.

Biasanya kalo tahun baruan di rumah aja gue menghabiskan waktu untuk marathon nonton film, atau tiduran sambil dengerin lagu pake earphone. Lalu setelah pergantian tahun gue akan mengingat kembali kejadian selama setahun itu. Maka dari itu kamar merupakan tempat paling pas bagi gue untuk tahun baruan.

Tapi tahun 2016 ini agak beda. Gue pengin ketawa-ketawa sama temen-temen gue walaupun tahun 2016 ini sebenernya adalah tahun yang… biasa aja. Gak baik-baik amat, gak buruk-buruk amat juga. Banyak target yang berhasil gue raih di tahun ini, banyak juga kegagalan yang mampir. Namanya juga hidup, ya. gak bisa bahagia mulu.

Selain soal target yang gue raih, banyak juga hal-hal yang berubah selama di tahun 2016 ini.