A Great Story Comes With Great Stupidity

Minta Tanda Tangan Dosen Tak Pernah Sekampret Ini

Hal paling menyebalkan setelah selesai sidang skripsi adalah kita masih kena revisi. Seharusnya, selesai sidang skripsi adalah sebuah kemerdekaan bagi mahasiswa, tapi ternyata kemerdekaan itu palsu. Sampai revisi kita selesai lalu lembar pengesahannya ditanda tangani oleh dosen penguji dan dosen pembimbing barulah kemerdekaan sesungguhnya muncul.
Di sinilah gue, di luar gedung fakultas bersama Mbak Rusna yang lagi sibuk menelpon. Salah satu dosen penguji kami berdua saat sidang skripsi kebetulan sama, yaitu Pak Dirman, dan kami berniat untuk mengumpulkan revisi skripsi kami ke beliau karena deadline mengumpulkan lembar pengesahannya… besok. Greget abis.

Mbak Rusna menutup panggilan teleponnya.

“Ada, mbak?” Tanya gue.

“Pak Dirman gak ke kampus hari ini, kita disuruh ke rumahnya.”

“Aku gak tau rumahnya. Mbak tau?”

“Tau daerah rumahnya doang, kita ke sana aja dulu. Ntar telpon lagi bapaknya minta petunjuk.”

Ngomentarin: Fakta Hewan (18+)

Dari gue kecil, keluarga gue selalu memelihara tuyul kucing. Jadi bisa dibilang kalo antara gue dan kucing itu akrab banget. Ajaibnya, setelah hidup bersama kucing yang silih berganti, kemaren gue baru tau ternyata kucing-kucing itu punya bahasanya sendiri yang ditujukan ke majikannya.

Gokil.

Setelah dapat info tadi, gue mencoba menjadi majikan yang baik bagi kucing gue, si Blaszczykowsky alias Black alias si Item. Gue mencoba menerjemahkan gambar di atas dengan kelakuan si item, karena akhir-akhir ini si item kelakuannya makin kurang ajar. Setelah dikasih sarapan, dia bakal pergi main seharian di luar rumah, pulang pas sore, ngeong-ngeong minta makan, abis dikasih makan, dia pergi lagi dan besok paginya baru pulang langsung ngeong-ngeong minta makan… dan kembali ke awal. Item cuma numpang makan aja di rumah. Kurang ajar banget, kan?

Entah apa yang terjadi dengan si Item sampai dia berubah begitu. Gue pengin si item kembali seperti dulu. Item yang masih jadi kucing rumahan. Kerjanya tidur terus di bawah meja, gak pernah kelayapan, kalo pun ke luar rumah, itu pun cuma untuk pipis dan boker, lalu kembali masuk ke rumah dan tidur lagi. Item bener-bener gak pernah kelayapan, apalagi kenal dunia malam.

Kasih HI-FIVE!

Status mahasiswa yang nunggu waktu wisuda ini bener-bener menyiksa. Karena udah gak ada kegiatan ya kegiatan gue rata-rata cuma bangun, makan, berusaha untuk gak tidur lagi. Kegiatan yang monoton ini membawa gue ke liburan bareng temen-temen SMP gue dulu, refreshing ceritanya.


Tujuan kami adalah Pantai Lamaru. Sebelum sampai di pantai, di perjalanan, Dana selaku supir membuka percakapan, “Pada tau Rama, kan?”

“Rama? Yang dulu temen sekelas kita pas kelas 7 itu, kan?” jawab gue, disambut dengan oh-iya-tau-tau-kenapa? sama temen-temen yang lain.

“Dia itu aneh banget.” Dana memelankan laju mobilnya. “Entah dapat kontakku dari mana, tiba-tiba hubungin aku dan... mau pinjem duit.”

Sampai di sini ya gue setuju kalo Rama emang aneh. Begini, normalnya ketika kita minta tolong ke orang lain, pastikan orang yang akan kita mintain tolong adalah bener-bener akrab, bukan yang sekedar temen doang. Misalnya aja gue minta tolong ke Dana, jelas wajar karena intensitas kita ketemu masih sering. Sedangkan si Rama ini… setelah lulus SMP sudah gak ada kabarnya bagaimana, dan juga masa SMP itu sudah 7 tahun yang lalu. Walaupun dulunya satu kelas, ketika ada orang yang ‘hilang’ 7 tahun dan tiba-tiba muncul untuk minjem duit, gue yakin banyak yang gak bakal nolongin, karena Rama sudah jadi orang ‘asing’ di hidup kita.

Berdamai dan Berbuat Kebaikanlah

Di dunia ini ada dua jenis manusia.

Yang pertama adalah orang-orang yang setelah putus dia gak pernah teguran lagi sama mantannya. Sedangkan yang kedua adalah orang-orang yang setelah putus dia tetep berteman sama mantannya sambil berharap dapat jatah mantan ketika ketemuan.

Gue sendiri tipe pertama.

Antara gue dan mantan, setelah putus selalu tercipta sebuah kondisi di mana kami seperti tidak pernah mengenal satu sama lain. Seperti waktu yang sudah kami lalui bersama itu tidak pernah terjadi. Padahal ya semua kontak maupun akun social medianya masih punya. Sebenernya lebih ke guenya sih yang males berhubungan lagi. Apalagi kalo dia sudah punya pacar baru. Males.

Gue pun menobatkan bertemu dengan mantan adalah ketakutan nomor satu dalam hidup gue.

Entah kenapa gue takut aja. Takut perasaan yang dulu tiba-tiba muncul lagi. Takut luka di hati yang capek-capek disembuhin terbuka lagi. Takut ditagih utang gara-gara pas makan gue bilang, “Pake duitmu dulu, ya, ntar aku ganti.” tapi gak gue ganti-ganti sampe putus. Pokoknya, gue takut aja gitu.

Tapi, beberapa bulan yang lalu, gue pengin berubah aja. Gue pengin berdamai dengan masa lalu gue. Gue pengin memaafkan dan melupakan semua yang terjadi di masa lalu. Gue gak pengin punya ‘musuh’ dalam hidup gue. Momen lebaran pun menjadi saat yang tepat, setelah lama tidak kontakan, ada beberapa mantan yang akhirnya kontakan lagi sama gue. Chating sama mantan rasanya ya biasa aja, kayak temen lama yang gak pernah saling bertukar kabar. Ketakutan gue akan perasaan yang dulu tiba-tiba muncul lagi ternyata enggak kejadian. Pokoknya, ya gue jadi ‘berdamai’ dengan mantan gue.

Damainya gue dan mantan ini pun membawa gue ke sebuah pengalaman yang gak gue sangka-sangka.