Hal
paling menyebalkan setelah selesai sidang skripsi adalah kita masih kena
revisi. Seharusnya, selesai sidang skripsi adalah sebuah kemerdekaan bagi
mahasiswa, tapi ternyata kemerdekaan itu palsu. Sampai revisi kita selesai lalu
lembar pengesahannya ditanda tangani oleh dosen penguji dan dosen pembimbing
barulah kemerdekaan sesungguhnya muncul.
Di
sinilah gue, di luar gedung fakultas bersama Mbak Rusna yang lagi sibuk
menelpon. Salah satu dosen penguji kami berdua saat sidang skripsi kebetulan
sama, yaitu Pak Dirman, dan kami berniat untuk mengumpulkan revisi skripsi kami
ke beliau karena deadline
mengumpulkan lembar pengesahannya… besok. Greget abis.
Mbak
Rusna menutup panggilan teleponnya.
“Ada,
mbak?” Tanya gue.
“Pak
Dirman gak ke kampus hari ini, kita disuruh ke rumahnya.”
“Aku
gak tau rumahnya. Mbak tau?”
“Tau
daerah rumahnya doang, kita ke sana aja dulu. Ntar telpon lagi bapaknya minta
petunjuk.”



