A Great Story Comes With Great Stupidity

Hikayat Item, Si Kucing Kurang Ajar part 2

Baca cerita sebelumnya di sini

Senin
Pulang kuliah, tanpa ganti baju gue langsung ngantar item ke vet clinic. Masalah kembali muncul: Kita gak punya kandang kucing, sedangkan jarak rumah dengan vet itu… jauh. 40 menit lah kalo gak macet.

Ryan pun membawa kardus yang lumayan besar, Item dimasukkan ke dalam, bagian atas kardus diselotip. Jenius.

“Aman, nih?” Tanya gue, gak yakin.

“Kayaknya sih.” Ryan menggaruk dahinya. “Yuk.”

Gue menaiki motor gue, Ryan gue bonceng dengan membawa kotak berisi si item. Gue pacu motor gue lebih kencang dari biasanya. Sepuluh menit awal baik-baik aja, hingga di tengah jalan raya…

“YOG! ITEM BERONTAK!!!” Jerit Ryan di belakang.

Gue yang merasakan goncangan di belakang mulai memelankan laju motor dan mulai menepi. Pas mau berenti dengan entengnya Ryan bilang, “Udah tenang lagi, nih.”

“….”

Perjalanan dilanjutkan. Dengan fokus dan cekatan gue mulai menyalip motor, mobil dan pacar temen sendiri satu persatu.

“YOOOOG! KEPALANYA ITEM KELUAR DARI KARDUS!!!”

“SERIUS?!” Gue panik. “Masukin lagi! Elus! Jitak!”

“Gak bisa! Dia berontak!!!” Ryan masih berusaha menenangkan si Item.

Motor yang gue kendarai mulai bergerak gak beraturan. Pelan-pelan gue mengarahkan motor ke pinggir jalan, pas mau berenti, Ryan bilang, “Udah tenang nih, biarin aja kepalanya di luar sambil kuelus-elus.”

“….”

Jadilah kami, dua lelaki naik motor, berboncengan dengan membawa kotak yang ada kepala kucing nongol.

Perjalanan mulai aman terkendali. Hingga kami berhenti di lampu merah yang durasi waktunya 90 detik. Jika saat hari biasa aja gue ngerasa lampu merah ini lama banget, kali ini gue ngerasa lama banget bangsat!!!

Orang-orang yang lagi nunggu lampu merah mulai memperhatikan kami dengan tatapan heran. Gue berusaha stay cool. Membuat kesan bahwa naik motor, membonceng orang yang membawa kotak dengan kepala kucingnya nongol adalah hal wajar. Beberapa detik menjelang lampu hijau, si item mau lompat ke luar dari kotak.

“YOG!!! ITEM MAU LONCAT!!!”

“Paksa masuk kepalanya!!!”

“AAAAK AKU DICAKAR!!!”

TINNNN… TINNNN… TIIIIINNNNN….

Suara klakson saling bersahutan, tanda lampu hijau muncul. Gue segera tancap gas, karena vet yang kami tuju sudah dekat. Di belakang, gue dapat merasakan Ryan masih bertarung dengan Item, beberapa menit kemudian, masalah sudah teratasi.

“Item udah masuk ke dalam lagi. Ngebut!”

Gue tarik perlahan gas motor, laju motor mulai bertambah, item gak buat masalah lagi. Dia anteng di dalam kotak, hanya suara ngeong-ngeong yang terdengar lirih yang gue dengar. Beberapa meter lagi gue tiba di vet dan nyawa si item bakal terselamatkan!

Lagi anteng nyetir, Perlahan-lahan gue merasakan punggung gue mulai anget. Tapi angetnya beda, walaupun gue udah lama gak bonceng cewek dan gak dapet pelukan dari cewek yang gue bonceng, gue tau kalo anget yang gue rasakan ini beda. Ini terasa… asing.

Ryan jerit, “KAMPREEEETTTTT… SI ITEM KENCING!”

“Ya-yakin kencing?”

Be-berarti, anget yang di punggung gue ini… kencing si Item! BANGSAAAAAAT!!!

Gue menoleh ke belakang dan melihat Ryan mencium tangannya, “Iya, kencing nih. Bau pesing.”

UDAH TAU BAU KENAPA DICIUM?!

 “AAAAAAAAAAAAAAAKKKKK!!!” Kita jerit berdua.

*****

PETSHOP & VET CLINIC

Sampai di vet clinic, Ryan segera menurunkan kardus berisi si Item, lalu mengeluarkannya.

“Yakin nih masuk? Kucing kampung loh yang kita bawa.” Tanya gue ragu.

“Biar kucing kampung tapi ini sakitnya elit.”

Gue buka pintu, Ryan menenteng si Item, kami berdua pun masuk dan langsung disambut oleh dua orang mbak-mbak, satu bagian kasir untuk petshop, satunya semacam receptionist gitu. Karena Ryan sibuk bawa si Item, gue yang daftarin Item buat berobat.

“Selamat sore. Ada yang bisa dibantu?” Tanya si mbak, ramah.

“Uhmmm… ada dokternya, mbak? Mau ngobatin kucing saya.”

“Oh, ada.” Si mbak tadi mengeluarkan sebuah kertas formulir. “Saya data dulu, ya”

Gue mengangguk. “Iya.”

“Nama kucingnya?”

Oke, ini kucing kampung namanya gak boleh terdengar kampung, dan ‘Item’, adalah nama yang kampung banget. “Uhm… Blaszczykowsky.”

“Si-siapa?”

“Blaszczykowsky.”

“Gimana? Gimana?”

“Black, aja mbak.” Kata Ryan. Okey, Black terdengar lebih modern ketimbang Item.

“Oh, Oke. Black ini jenis kucing apa?”

JENG JENG JENG!

Pertanyaan sulit. Gue dan Ryan saling bertatapan,seperti udah saling mengerti, kami menatap mbak receptionist dan dengan mantap mengatakan, “kampung.”

“Oh lokal berarti ya?”

Okey, lokal terdengar lebih enak dibandingkan kampung. Si mbak tadi segera menuliskannya di formulirnya. “Sakitnya?”

“Kencing darah, mbak.”
“KE-KENCING DARAH?!” Si mbak tampak shock mendengar jawaban kami.

“Itu, bekasnya, mbak kalo gak percaya.” Gue menunjuk arah pintu masuk sampai meja receptionist ini yang berceceran pipisnya item. Udah macam ninggalin jejak di hutan biar gak tersesat.

“O…okey. Langsung bawa masuk ke dalam aja, mas.”

Kami berdua membawa Item masuk ke ruangan si dokter, mengikuti si mbak receptionist, sementara si mbak yang tadi jaga petshop langsung ngepel lantai. Item emang kurang ajar. Bikin kerjaan orang nambah aja.

Sampai di ruangan om dokter, si Item ditaruh di atas meja. Dia berusaha lari dan berontak. Kami elus-elus biar tenang. Sang dokter pun memakai sarung tangan karet dan mulai bertanya-tanya apa yang membuat seekor kucing kampung bisa sampai di hadapannya saat ini. Setelah bercerita panjang lebar soal kencing darah yang dialami si Item, sang dokter mengarahkan tangannya ke bagian bawah perut si item, seperti mencari sesuatu, si Item yang perutnya dipencet-pencet langsung nungging dan… CROOOOOOOTTTTT!!!

PIPIS DARAHNYA ITEM KELUAR DERES BANGET!!!

Sekarang gue udah bisa bayangin gimana kalo cowok bisa menstruisasi alias TITITNYA NGELUARIN DARAH! ASLI HOROR!

Setelah tuntas pipisnya, Item di berikan suntikan antibiotic.

“Ini ada infeksi di saluran kencingnya.” Kata si dokter sambil mengambil obat antibiotic buat item melalui suntikan. “Tapi belum parah. Untung cepat dibawa ke mari.”

“Gak perlu operasi, dok?” Tanya Ryan.

“Gak perlu, belum parah soalnya.”

“Kok bisa sih kucing kencing darah begini? Seumur-umur melihara kucing, baru ini punya kucing sakitnya begini, Dok.” Tanya gue.

“Bisa karena dia pipis sembarangan, lalu ada bakteri menempel di alat kelaminnya. Bisa juga karena dia suka nahan kencing, bisa juga karena dia sukanya makan ikan aja.” Terang si om dokter. “Emang biasa dikasih makan apa?”

Mendengar penjelasan si dokter, ternyata hasil googling yang gue dapatkan bener juga. Si item komplikasi dari overdosis protein, suka nahan kencing karena takut berantem sama kucing lain kalo di luar, dan suka pipis sembarangan di mana aja.

“Dia pilih-pilih makan, Dok. Cuma mau ikan layang sama ikan tongkol.”

“Waduh. High class juga seleranya.” Si dokter geleng-geleng. “Tapi dimasak kan? Gak mentah?”

Kami mengangguk.

Sang dokter pun memberikan sebotol obat antibiotic untuk diminumkan ke si Item 2 kali sehari selama seminggu.

Dalam perjalanan ke kasir, kami baru kepikiran hal yang bener-bener penting: gimana bawa si item pulang? Kardus yang dipakai sebelumnya udah gak layak pakai.

“Beli kandang?” gue menunjuk sebuah kandang kucing berukuran sedang yang ada di dalam toko.

Karena gak ada ide lain, terpaksa kami membeli kandang. Sampai di kasir, seperti layaknya pembeli pada umumnya, bagian paling gak enak adalah saat membayar.

Ongkos dokter dan antibiotic Rp 170.000
Beli kandang Rp 250.000

INI KENAPA HARGA KANDANGNYA LEBIH MAHAL DARIPADA ONGKOS BEROBATNYA?!!!

Fix, item emang kucing kurang ajar.
 
Pelajaran yang bisa dipetik:
1. Kucing kampung, oke lokal, kalo sakit ya bawa aja ke vet. Gak bakal diketawain, kok.
2. Sebelum memelihara kucing, pastikan kucing yang akan dipelihara gak kurang ajar.
3. Sayangilah hewan peliharaan anda, sekurang ajar apapun dia.

Hikayat Item, si Kucing Kurang Ajar

Keluarga gue adalah keluarga pecinta kucing. Bukan, pecinta kucing yang gue maksud bukan mendirikan patung kucing raksasa lalu kami sembah. Keluarga gue suka banget sama kucing, walaupun cuma kucing kampung, tapi kucing yang kami pelihara selalu dirawat dengan baik. Dikasih makan, dimandiin, diajak mainan, digoreng. Pokoknya si kucing bakal baik-baik saja sampai maut memisahkan.

Kucing gue yang sekarang namanya… item. Gue kasih nama item karena ya warna bulunya item. Alasan lainnya karena gue gak kreatif ngasih nama. Sempet kepikiran ngasih nama kucing ini Blaszczykowsky. Tapi, karena ntar ribet manggilnya, ya sudah, namanya item aja.
Blaszczykowsky aka Item

Si item sudah sekitar 2 tahun dipelihara. Kegiataan si item sehari-harinya cuma makan-tidur-kencing-boker-repeat. Bener-bener gak berguna. Coba dia bisa merampok bank, pasti gue kaya raya. Si item punya keunikan dibandingkan kucing-kucing gue sebelumnya, untuk masalah makanan, dia cuma mau makan ikan mahal, misalnya aja ikan layang dan tongkol. Pernah gue kasih ayam, dia gak mau makan. Gue kasih ikan asin, dia gak mau. Gue kasih beef steak tenderloin, dia nambah. Kurang ajar. 

Yang lebih kurang ajar adalah dia gak mau dipanggil “pusss”. Selayaknya kucing pada umumnya yang noleh tiap dipanggil “pusss”, si item enggak. Dia akan lewat aja dengan cool-nya sambil nyuekin yang manggil dia. Mungkin jika di dunia manusia, item adalah jenis manusia cool, yang ketika dipanggil cewek-cewek dia gak akan noleh dan berlaly begitu saja. Tapi, dia kan kucing! Gue yang ngasih makan, masa dipanggil sama majikannya sendiri gak noleh?! Kurang ajar.

Kekurangajaran lainnya adalah dia suka kencing sembarangan. Kalo kalian bilang wajar kucing kencing sembarangan di dalam rumah, oke itu emang wajar. Tapi, si item ini kencing sembarangannya, bener-bener gak tau tempat. Kucing lain biasanya kencing di pojokan atau sudut rumah. Si item kencing di… tengah jalan.

Si Item brought kencing sembarangan to the next level!

Pernah, gue lagi jalan dari dapur menuju ruang tamu, tiba-tiba nginjek air. Gue pikir itu air biasa tumpah, karena di dekat situ emang ada kulkas. Tapi, entah kenapa air yang gue injek kok agak lengket dan hangat. Gue angkat kaki, mengarahkan tangan kiri gue ke kaki yang menginjak air tadi, gue oles dikit lalu gue cium.

BANGKEEEEEEE PESING!

INI AIR KENCING!!!!

Bener-bener kurang ajar.

Pernah juga gue liat si item pipis di ruang tamu dengan mata kepala gue sendiri. Sebelumnya dia lagi tidur dengan bersahaja, tiba-tiba dia ngangkat satu kakinya, sedetik kemudian ada air dan bau menyengat. Iya, si item ngompol! Dan kalo si item kencing, ini air pipisnya banyak banget. Mungkin kalo manusia, si item adalah tipe orang yang suka nahan pipis, setelah dirasa air pipisnya banyak, dia segera pipis di tengah jalan lalu nulis nama gebetan pake air pipisnya.

Sekeluarga sempet kesel sama kebiasaan item yang suka pipis sembarangan ini. Mengeluarkan item dari rumah biar pipis di luar pun enggak membantu. Banyak kucing liar di luar sana yang jadi musuh si Item. Sekali keluar, si item bakal berantem sama kucing-kucing itu. Sedetik kemudian, dia bakal lari masuk ke dalam rumah sambil pipis karena ketakutan. Air pipisnya terpeper ke mana-mana. Kalo hoki, gak hanya air pipis yang terpeper, si item juga bakal cepirit. Selain kurang ajar, dia juga cemen.

Hingga pada suatu malam, gue inget banget waktu itu malam minggu, gue malam mingguan di rumah aja karena gak punya pacar.

Oke, fokus.

Gue yang lagi menuju ruang tamu buat nonton liga inggris karena beginilah cara jomblo malam mingguan.

Aduh, fokus. Fokus.

Pas sampai ruang tamu, gue kembali mergokin si item pipis! Posisinya sama, dia lagi tiduran di deket sofa, kakinya diangkat satu dan keluar cairan beracun itu. Tapi, malam itu, ada sesuatu yang berbeda. Air pipis si item warnanya gak bening, tapi pekat seperti… teh.

“BU, ITEM KENCING!!!” Jerit gue.

Mendengar jeritan gue, Ibu gue yang lagi tiduran di sofa segera bangkit dari posisinya dan… nginjek pipisnya item.

“KUCING KURANG AJAR!!!”

“….”

Gue segera mendatangi item dan memastikan itu beneran kencing atau darah? Atau malah kencing darah? Gue segera mengambil tissue yang ada di atas meja dan segera mengelap air berwarna pekat itu. Dari hasil identifikasi hidung gue, dapat dipastikan itu adalah kencing. Gue jadi inget, temen gue pernah air kencingnya berwarna pekat, menurut dokter penyebabnya adalah karena kebiasaan temen gue minum teh k*otak sebanyak 3 kotak sehari. Jangan-jangan si item juga mengalami masalah yang sama? Yang jadi pertanyaan: apakah kucing doyan minum teh?

Ryan, kakak gue, segera gue kabarin soal si item. Kampretnya, dia gak percaya soal pipisnya item yang jadi pekat ini. Dia juga merasa gak pernah ngasih minum item pake teh. Si item juga tampak baik-baik aja. Malam itu, kami anggap si Item lagi iseng aja mengeluarkan air kencing yang warnanya pekat.

Minggu
Pagi harinya gue bangun. Enggak, gue emang biasa bangun pagi, bukan karena gak malam mingguan ya! Saat menuju dapur, gue menemukan beberapa genangan berwarna berwarna pekat di lantai. Beberapa centimeter dari lokasi penemuan genangan, ada si Item lagi asik jilat bijinya. Oke, enggak enak banget bahasanya, tapi, tau kan maksud gue apaan?

SI ITEM KENCING PEKAT LAGI!

Gue inget kata temen gue si penderita pipis pekat, dia disuruh dokter untuk meminum air mineral 8 liter sehari agar sembuh dari pipis pekatnya. Terinspirasi cara dokter itu, gue kasih si Item minum air putih banyak-banyak.
Si item minum air dengan khidmat, gue berharap item cepet sembuh karena kondisinya jadi lemes banget. Pas dia jalan tampak gak ada gairah, makan tampak gak selera, tidurnya pun tampak lemes. (Emang ada tidur yang tampak semangat?!)

Pas malam harinya, item banyak meninggalkan genangan pipis pekatnya di mana-mana. Di ruang tamu, di dapur, di hati yang terdalam. Pokoknya di mana-mana! Dan makin lama, pipis pekat yang ditinggalkan item, warnanya makin pekat, mirip darah. Minum banyak air sepertinya membuat intensitas pipis si Item makin banyak juga.

“Bawa ke dokter, yuk?” Ajak Ryan.

Ajakan ini sebenarnya sah-sah saja, tapi jika mengingat Item adalah kucing kampung, membawa ke dokter terdengar sangat lucu sekali di otak gue. Karena biasanya kucing yang dibawa ke dokter itu adalah kucing mahalan. Gue khawatir aja pas sampai di vet, dokternya malah ketawa. Kurang ajar.

“Aku googling dulu deh penyakit kucing ini apa, siapa tau bisa diobatin sendiri.” Jawab gue.

Setelah beberapa menit googling, gue mendapat beberapa informasi dari berbagai sumber soal pipis darah ini.

1.Kucing cowok emang rentan terkena penyakit pipis darah

2.Penyebabnya yang paling umum adalah karena ‘overdosis’ protein. Protein yang terkandung terlalu banyak, sehingga mengkristal dan menyumbat saluran pencernaannya. Mirip manusia kalo ginjalnya rusak gitu, pikir gue. Kalo dipikir-pikir penyebabnya ini yang paling memungkinkan karena si Item kalo makan cuma doyan ikan aja, dikasih nasi gak mau. Otomatis dia cuma dapet protein, gak ada karbohidrat. Kucing kurang ajar memang.

3.Untuk menyembuhkannya harus dioperasi.

Oke, gue makin bingung harus bawa si item ke dokter apa enggak.

Gue pun memberitahu hasil googling  gue ke Ryan, ternyata dia juga googling dan menemukan fakta yang lebih serem: ada yang share pengalaman kucingnya pipis darah, dibiarin 3 hari, kucingnya mati.

Si item udah 2 hari! Kalo dibiarin umur si item sisa sehari!

UMUR SI ITEM SISA SEHARI!!!

“Oke, besok bawa ke dokter!” kami berdua sepakat.

[TO BE CONTINUED]

Hal-Hal Ngeselin Saat Main Clash of Clans Part. 4

HAEEEEE....

KALIAN PASTI NUNGGUIN POSTINGAN INI, YAKAN?!

Gue masih gak nyangka postingan soal “hal-hal ngeselin saat main clash of clans” yang udah gue bikin sampai 3 part ini laris banget. Sampe dicopas di mana-mana tanpa nyertain sumbernya. Ehe.

Buat yang belum baca, ini link buat baca

Nah, seiring banyaknya yang mengalami nasib sepenanggungan yaitu kesel saat main clash of clans, banyak juga yang nuntut gue untuk nulis part 4. Jujur, gue udah mulai males main karena kemaren gue sibuk magang. Jadinya gue main cuma buat ikut war dan ngambil loot dari collector. Gabut abis.

Untungnya, bulan Desember 2015, supercell ngadain update besar-besaran buat game ini. Update yang paling utama tentu town hall 11, heroes baru (Grand Warden) dan defense baru (Eagle Artillery). Awalnya gue excited banget, tapi setelah tau update lainnya, gue jadi kesel… Gimana gak kesel coba kalo update-an baru ini menimbulkan banyak “hal-hal ngeselin saat main clash of clans” yang sudah gue tulis 3 part itu banyak yang gak berlaku.

Huft.

Untungnya, berkat itu juga gue nemuin hal-hal ngeselin lainnya. Yaudah, ini hal-hal ngeselin saat main clash of clans part 4 (edisi update baru):

1.SUSAH DAPAT SHIELD

Dulu, kalo mau dapat shield gampang banget. Para clasher bertipe farming base (kayak gue) Tinggal taruh town hall di luar base, berdoa sambil menunggu ada orang baik yang cuma nyerang town hall kita, voila! Dapat shield 12 jam! Loot berkurang cuma 1000! Loot aman dari rampokan!

Setelah update baru, semua itu berubah…

Untuk dapat shield, desa kita harus hancur minimal 30%. Menaruh Town hall di luar base gak akan dapat shield, tapi cuma “guard” selama 15 menit, and for your information aja, kalo loot kalian banyak, town hall di luar, loot kalian yang tercuri juga lumayan banyak.

Jadi, pas update baru kemaren rilis, gue telat untuk meng-update. Setelah selesai update, gue buka dan pas-pasan desa gue yang town hall-nya (masih) di luar lagi diserang. Loot gue saat itu yang bisa didapat oleh musuh sebanyak 400 ribuan. Dia emang cuma nyerang town hall, tapi berapa loot gue yang kerampok? 88 RIBU SODARA-SODARAAAAA~

Sekarang, mari sama-sama menyanyikan lagu kematian untuk farming base.

Nah, untuk masalah susah dapat shield, gue kebetulan juga ngalamin. Gue pernah gak dapet shield hampir 3 hari, banyak yang nyerang desa gue gak nyampe 30% tapi kampretnya dia berhasil nyuri loot gue. Kan, kampret?

Loot berkurang banyak, tapi gak dapat shield, diserang lagi, berkurang banyak lagi, gak dapat shield lagi, repeat. Udah kayak jomlo yang tebar pesona, sok asik, sok akrab, eh gak ada yang mau. Nyesek.

2.SUSAH DAPAT LOOT

Entah ini perasaan gue aja atau emang setelah update baru, nyari loot jadi agak susah? Update baru memang membuat kita menemukan lawan yang TH-nya setara. Misalnya kalian TH 10, ya ketemu lawannya TH 9 sampai 11. Biarpun main di liga bawah sekalipun. Udah jadi rahasia umum kalo semakin tinggi Town Hall, maka semakin tinggi juga biasa pencet ‘next’ untuk mencari musuh, kayak sekarang gue TH 10, sekali next udah habis 900 gold. 100 kali pencet next udah 90.000, kan?

Giliran dapet musuh yang punya loot banyak, eh pada di dalam storage. Mau gak mau sekarang kalo farming pake troops war (gowipe), karena troops farming jadul macam giant-barcher bakal gak tembus.

Udah bikin troops mahal, biaya next berkali-kali juga mahal, dapet lootnya dikit, gak balik modal. Udah kayak berjuang bahagiain pacar, eh taunya doi cuma setengah hati pacarannya. Huft.

3.GAMPANG KENA REVENGE

Dulu, kalo mau revenge musuh yang habis ngerampok desa kita itu peluangnya kecil banget, karena pas mau nge-revenge bisa aja:
-Lawan lagi online
-Lawan lagi punya shield (karena gampang dapet shield)

Sedangkan sekarang, bikin troops buat farming aja sudah beda tipis kayak war, alias bikinnya lama. Jelas saat menunggu troops selesai, kita keluar dari game. Yakali online sejam buat nunggu troops selesai. Troopsnya selesai, baterai hape kita juga selesai masa berlakunya alias bocor.

Keluar dari game tanpa shield tentunya bikin risiko desa kita diserang juga jadi gede. Risiko lainnya adalah karena sekarang susah dapet loot, maka orang-orang akan memilih jalan pintas yaitu: revenge.

Kenapa revenge? Ya karena orang susah dapet shield jadi kemungkinan untuk me-revenge lebih gampang.

Efek berantai dari update ini mengerikan sekali, yak.

4.TOWN HALL PREMATUR/RUSHING TOWN HALL


Gue paling sebel sama orang yang sudah upgrade town hall tapi town hall sebelumnya belum mentok. Di clan gue disebutnya ‘prematur’. Orang-orang kayak gini menurut gue adalah clasher egois. Kenapa? Karena dengan dia upgrade town hall sebelum semuanya maksimal, dia akan jadi beban clan.
Bingung?

Begini, misal nih ada town hall 10 prematur di clan, maka saat clan war, kemungkinan besar akan dapat lawan yang susah, karena saat clan war, musuh yang ditemukan berdasarkan kekuatan defensenya. #cmiiw

Biasanya juga, clasher town hall prematur ini hanya mementingkan upgrade defense, tanpa diimbangi upgrade troops. Selain dapat lawan susah, basenya dia gampang diratain musuh, troops dia gak bakal mampu ratain musuh. BEBAN, KAN?

Udah mirip sama temen yang maunya nongkrong di tempat gaul, tapi gak punya duit, giliran diutangin, marah-marah pas ditagih. Kampret maksimal.

5.Archer Queen

Archer Queen (AQ) adalah heroes yang didapatkan saat kita di Town Hall 9. Kekuatannya adalah bisa menghilang dan memunculkan beberapa biji archer. Uh… biji terdengar agak gak enak, ya? 

Menurut gue, AQ adalah heroes paling kampret karena jarak tembaknya lumayan jauh, jadi dia bisa nembakin storage ataupun defense kita pada saat defense kita sibuk nembakin troops lain. Misalnya golem.

AQ menjadi tambah ngeselin saat udah di atas level 20, karena susah banget buat bunuhnya. Dulu pas masih TH 9, gue pernah dibantai sama AQ level 40 + 4 healer level max. Desa gue rata 60% lebih cuma dengan AQ. Kampret memang.

6. HODE

Hode itu istilah orang yang punya akun tapi menyamar sebagai lawan dari jenis kelamin aslinya di dunia nyata. Hode emang biasa banyak muncul di game online, biasanya pelakunya cowok yang nyamar jadi cewek, tujuannya? Dia bakal godain gamer cowok, biar bantuin dia, karena cowok gamer kebanyakan cowok jomlo level 99, sekalinya disepik cewek, langsung luluh, padahal yang nyepik bukan cewek beneran.
 
Hode ini nyebelin karena membuat clasher cowok yang jomblo, makin kerasa jomblonya. Hhhhhhh….

7. PELIT DONATE

Selain lost connection saat lagi attack di war, orang yang pelit donate adalah hal yang paling bikin gue kesel di Clash of Clans. Misalnya aja begini:


Apa sih susahnya isi dulu request di bawahnya, baru elu request minta isi troops? Konsep dasar clan kan saling tolong menolong, bukannya penyuplai kebutuhan elu doang? Jangan egois lah kalo jadi clasher. Udah kayak pacar yang maunya dibayarin mulu, gak mau gantian. Hhhhhh.

Yang lebih kampret adalah pelit donate buat cc war. Bahkan sampai preparation day sisa 1 jam, cc war belum full semua.

Clasher kayak gini kick-able dari clan. Karena selain egois, juga gak peduli sama clan, kan? Dia cuma mau ikut war tanpa mau bantu isiin cc war! Semacam cuma mau dapet jatahnya aja, tapi gak mau keluar duit. Hhhhhh.

8. MATA-MATA

Membangun sebuah clan yang solid itu susah. Selain harus punya anggota yang loyal, juga punya anggota baru sebagai regenerasi. Sayangnya, untuk merekrut anggota kadang susah. Ada yang datang-datang minta jabatan, ada yang maunya request mulu gak mau donate, ada juga yang diam-diam mata-mata musuh di clan war.

Iya, yang terakhir kampret banget.

Clasher itu bergabung ke clan kita untuk memberikan informasi di mana letak trap dan hidden tesla, serta apa isi cc war. Udah mirip sama orang yang datang dihubungan kita, eh diem-diem dia ternyata mau nikung pacar kita.

Maka dari itu, berhati-hatilah saat menerima anggota. Karena orang menghalalkan berbagai cara untuk memenangi war, salah satunya mengirim mata-mata. Maka dari itu ubah setting clan kalian menjadi invite only atau closed saat war. Saran gue, saat sudah dapat lawan, segera cek seluruh anggota lawan (terutama yang gak ikut war), ingat-ingat namanya dan jangan sampai dia di-accept saat berusaha join.

Tapi, pernah di clan gue ada yang punya 2 akun. Akun lainnya berada di clan lain, saat war, akun lainnya itulah dijadikan mata-mata, dia join clan lawan dan diterima. Dia pun ngasih informasi di maa letak trap dan hidden tesla, serta apa isi cc war.

Yak, alasan gue bisa nulis poin ini karena gue udah pernah ngalamin. Pengalaman emang guru terbaik.

9. PAKE CHEAT

Dulu pas masih TH 7, saking keselnya main CoC, gue sempet mikir, “Ini ada cheatnya gak sih?” GUE YAKIN KALIAN PASTI MIKIR GITU, YAKAN?!

Gue pun googling dan youtobe-ing ke sana ke mari, dan mendapatkan informasi soal ‘cheat’. Tapi, saat itu ada malaikat yang bisikin telinga gue, “Main game pake cheat itu cuma buat banci!” gue pun mengurungkan niat main pake cheat.
Cheat yang gue dapat waktu itu adalah xmod. Jadi, yang gue baca sih katanya kalo make xmod ini bisa nentuin minimal loot yang dicari saat farming. Misal, minimal 100.000, maka saat pencet ‘next’ cari musuh, musuh yang lootnya di bawah 100.000 gak bakal muncul. Lebih hemat biaya next.

Bisa juga selalu online walaupun kita keluar dari game. Hal ini bikin loot kita aman baik dari serangan musuh maupun revenge.

Bisa juga digunakan sebagai sarana latihan saat war alias simulasi sebelum attack sehingga 6 star saat war, begitu mudah didapatkan. Pokoknya banyak fiturnya. Untungnya iman gue kuat. Gue gak tertarik make begituan.

Menginjak TH 9, ada lagi yang namanya bot. Nah, bot ini lebih kampret karena game kita akan dimainkan oleh bot alis robot secara otomatis. Dia akan bikin troops sendiri (Barbarian-Archers), mencari lawan sendiri dan akan menyerang collector yang isinya full, secara otomatis. Begitu terus sampai kaya raya.

Bagaimana gue tau? Karena gue make! Huahahaha. Oke, enggak. Gue gak sehina itu. Ada seorang mantan anggota clan gue yang make bot. Dia yang awalnya TH 9 cupu mendadak cepet banget progresnya, tau-tau udah TH 10 dan lagi-lagi progresnya cepet. Defensenya hampir maksimal! Gue keselip! Bangke!

Iman gue sempet goyah pengin pake bot juga apalagi di TH 10, gue kesusahan cari loot, gue juga sibuk magang. Tapi, niat itu gue urungkan. Alasannya simple, town hall tinggi, bebannya makin tinggi juga, terutama saat clan war. Gue liat mantan anggota clan itu saat war, kemampuannya cupu abis. Selalu dapat 1 star doang. Emang sih game-mu keliatan keren kalo level tinggi, tapi apa gunanya kalo skill main game-mu gak berkembang?

Gue berusaha main jujur, sambil latihan dengan berbagai kombinasi troops untuk ratain TH 10 di multiplayer, yang gue yakin bakal bermanfaat saat di clan war.

Nah, setelah update besar-besaran kemaren, gue gak tau xmod ataupun bot itu masih bisa digunakan apa enggak. Gue harap sih gak bisa.

10. TOWN HALL 11 DAN EAGLE ARTILLERTY

Walaupun gue masih town hall 10, tapi gue udah mikir betapa kampretnya town hall 11 ini. Logika dasar aja, saat naik town hall 11 maka kita akan dapat hero baru bernama Grand Warden dan defense baru bernama eagle artillery. Dengan troops maksimal town hall 10 aja sulit untuk ratain town hall 10 maksimal, apalagi dengan munculnya town hall 11? Sepertinya impossible buat nyerang town hall 11.

Kenapa gue bisa pesimis begitu? Karena adanya Eagle Kampret Artillery!

Eagle Artillery ini range atau jangkauannya seluruh area!


Dan damage-nya gede banget. Bahkan untuk golem, damage-nya 3x lipat!
TIGA KALI LIPAT!

Gue pernah iseng nyobain nyerang town hall 11 dan hasilnya…
 
:'(
Iya, Archer Queen gue mati dalam 2 kali serangan Eagle Artillery. Beda dengan town hall 9 yang sekarang sudah punya Freeze Spell, maka dia bisa nyerang town hall 10-yang-punya-inferno. Lah, yang town hall 10 mau nyerang town hall 11 modalnya apa?! Rasanya udah kayak mau nemuin orang tua pacar, tapi kita cuma modal cinta, gak punya apa-apa. Huft.

Mungkin gue harus nyobain gimana rasanya nyerang TH 11 pas di TH 11 aja, karena adanya Grand Warden.

11. FANSNYA BANG OLYMPUS

Tujuan gue nulis clan tag dan ID gue di postingan part 2 dan 3 adalah untuk menyakinkan pembaca kalo gue bener-bener ngalamin hal ngeselin itu. Gue cuma pengin ngasih liat biarpun gue kesel main COC, tapi stats gue dan achievement gue lumayan lah, gak jelek-jelek amat. Bukannya ngajak join ke clan gue.

Tapi, setelah postingan itu booming, banyak yang join ke clan gue. Karena clan gue di-setting invite only, banyak yang mau join dengan cara nyepik,

“Fansnya bang Olympus”
“Habis baca hal-hal ngeselin main coc di internet
“Gue mata-mata, accept please”

Karena beberapa ada yang lumayan bagus stats maupun troopsnya (gak TH prematur), orang-orang yang ngakunya fans gue itupun di-accept. Setelah di-accept, ya seperti clan pada umumnya, ada prosesi perkenalan, nanya-nanya, dll. Kampretnya, pas mereka diikuti war, eh malah left clan.
Kejadian ini gak sekali dua kali, tapi sering kali.

Makanya, tiap ada yang mau join dan bawa nama-nama Olympus atau blog ini, langsung di-reject. Bikin malu gue aja. :(

Okey, itu dulu yang bisa gue share di Hal-Hal Ngeselin Saat Main Clash of Clans Part. 4. Yang mau liat stats gue bisa ke clan tag #QP8LVRV , ID gue Olympus. Ingat, yang mau liat stats gue. Kalo mau join dan loyal, keyword joinnya jangan bawa-bawa nama gue ataupun blog ini. Udah pasti bakal di-REJECT.
BAKAL DI-REJECT. *Sengaja diulang biar serem*

OKEH. FARMING DULU! SALAM CLASHER! CLASH ON!

(Bukan) Tukang Parkir

Gue termasuk mahasiswa yang paling males berurusan ke kampus.

Alasannya simpel. Setelah sampai di kampus, biasanya sinyal hape gue cuma sebatang, gue coba angkat ke atas siapa tau sinyalnya nambah, eh beneran. Jadi dua batang! Pas gue turunin, eh jadi SOS. Sama sinyal aja kena PHP. Kampret. 

Selain susah sinyal, di kampus gue juga susah cari parkiran! Walaupun disediakan lahan parkir yang cukup banyak, tetep aja untuk dapet tempat parkir itu susah. Pernah, waktu itu gue ke kampus, karena gak mungkin bawa motor masuk ke dalam kelas, gue pun cari parkiran dulu. Gue jalan pelan-pelan sambil tolah-toleh nyari parkiran, ternyata parkirannya penuh. Gue gak nyerah gitu aja! Gue coba jalan agak ke depan siapa tau ada yang kosong, ternyata penuh juga, gue jalan lagi, eh udah keluar kampus. Gue gak jadi kuliah.

Sulitnya mencari tempat parkir ini berbanding lurus dengan tingkat kebrutalan orang saat melihat lahan kosong. Biasanya lahan kosong ini ada di depan fakultas, karena depan fakultas itu parkiran khusus untuk dosen. Mungkin karena putus asa dan takut kejadian kayak gue, melihat depan fakultas lumayan kosong, mereka parkir gitu aja dengan wajah tanpa dosa.

Selain parkir tidak pada tempatnya, orang-orang ini juga parkir asal taruh motor aja gitu. Yang penting lahan kosong tadi bisa dimasukin motor, padahal ya itu space biar motor yang parkir bisa keluar.

Parkiran yang harusnya lenggang bagi dosen tapi diisi oleh mahasiswa juga ini berefek apa? DOSEN JADI SUSAH MAU NGELUARIN MOTOR SODARA-SODARA~

Beberapa kali misalnya lagi lewat depan fakultas, gue liat ada seorang dosen yang kesusahan ngeluarin motornya, sebagai mahasiswa yang baik tentunya gue… buang muka biar gak disuruh. Iya, gue emang sekampret itu.

Sayangnya, ketepatan waktu gue buang muka kalah cepat dengan kecepatan mata dosen menemukan korban untuk disuruh-suruh.

“Mas! Mas!” Panggil sang dosen.

Begonya, gue noleh.

“Tolongin Ibu sini keluarin motor.” Pinta sang dosen dengan wajah bahagia, yang entah kenapa di mata gue terlihat seperti bilang, “Akhirnya dapat korban juga! Huahahahahaha!”

Dengan setengah terpaksa gue pun bantuin beliau.

Sebenernya ada beberapa alasan kenapa gue gak mau disuruh buat bantuin. Alasan pertama adalah karena gue gak kuat angkat-angkat motor. Brengseknya orang-orang yang suka parkir sembarangan ini adalah motornya dikunci stang.

KAN SUSAH GESERNYA, KAMPRET

Lengan gue isinya cuma tulang yang dilapisi daging, gak ada ototnya sama sekali, sedangkan aktifitas geser-geser motor yang dikunci stang itu membutuhkan otot yang menonjol di sekujur lengan. Sebagai cowok, tentunya gue gak mungkin gue nolak perintah ibu dosen itu dengan bilang, “Aduh, Bu. Saya gak kuat.”

Kalo gue bilang begitu, sang dosen pasti bakal bilang, “Cowok kok gak kuat angkat motor?!” Lalu dosen itu gulung lengan bajunya dan mengangkat motor. Ke udara.

Sebagai lelaki, kita harus jaga image. Pura-pura gak lihat lebih baik.

Alasan kedua, karena diolokin temen. Entah kenapa tiap gue bantuin dosen ngeluarin motor, bukan image sebagai anak baik yang gue dapat dari temen-temen gue, misalnya aja “Wah, Yoga anak baik, ya. Bantuin dosen yang kesusahan.”

Tapi yang gue dapat adalah, “Wah, Yoga cocok jadi tukang parkir, ya!”

Kurang ajar memang.


Karena males disuruh-suruh inilah, gue paling menghindari berkeliaran di sekitar fakultas. Gue ke fakultas kalo bener-bener ada keperluan aja, misalnya ngambil daftar hadir, ngurus administrasi, menculik dosen. Itupun setelah gue pastikan di fakultas gak ada dosen yang tukang nyuruh-nyuruh keluarin motor.

*****

Kemaren, gue baru aja ngurus KRS semester 8. Yeah, semoga ini adalah KRS-an terakhir gue. Gue pengin cepet-cepet lulus, tapi ya harus nyusun skripsi dulu. #KemudianNangis

Sebelum nyusun KRS, tentunya gue harus konsultasi ke dosen wali gue dulu, setelah mata kuliah yang bakal gue ambil disetujui, baru gue bisa KRS-an. Padahal ya semester 8 ini mata kuliah gue cuma tinggal skripsi, gak perlu bimbingan juga bisa, kan?

Pagi itu di dalam fakultas rame banget. Mahasiswa berjubel di dalam, AC menempel di atas tempat gue duduk terasa gak berfungsi. Beberapa mahasiswi duduk berdempetan di kursi yang tersedia, saling berbagi agar tidak ada yang hamstring karena kelamaan berdiri. Di dalam fakultas, gue cowok sendiri, karena gue kuliah jurusan FKIP, maka fakultas yang isinya didominasi oleh cewek merupakan pemandangan biasa. Gue sendiri sudah lebih dari 30 menit berada di dalam fakultas, menunggu giliran konsultasi KRS-an.

Untuk membunuh kebosanan, gue buka hape, scroll timeline twitter yang mulai sepi ditinggal penggunanya, gak ada yang seru, gue buka path, melihat teman-teman alay yang bangun tidur aja musti update, temen-temen yang sudah kerja tapi lebih sering update di starbucks ketimbang di kantor, temen-temen yang masih nganggur, karena baru update bangun pukul 11.30 pagi. Sudah pengangguran, alay pula.

Sesekali gue melirik keadaan sekitar, melihat ada adik tingkat gue yang sudah selesai bimbingan dengan dosen walinya, kini dia sibuk menggrepe keyboard laptopnya untuk KRS-an, ada juga yang senasib dengan gue, masih menunggu dosen, muka ngantuk penuh kebosanan tergambar jelas di wajahnya. Beberapa dosen juga tampak mondar-mandir, dari ruangannya, ke meja admin, memberikan berkas, kembali lagi. Fakutas bener-bener sibuk dan ramai, sudah mirip pasar.

Seorang dosen perempuan tampak berjalan menuju luar fakultas, langkah kakinya besar-besar untuk mempersingkat waktu. Pintu yang dibukanya tidak ditahan, dibiarkan tertutup otomatis. Belum ada semenit, pintu itu kembali terbuka, dosen yang tadi keluar berdiri di depan pintu,

“Itu motor scoopy siapa yang parkir di depan?” tanyanya.

Semua mahasiswa yang ada di dalam fakultas menoleh ke luar. Dinding fakultas yang didominasi kaca lebar membuat kami semua bisa melihat keadaan luar dari dalam dengan jelas. Semua mahasiswa yang ada di dalam kompak menggeleng, bukan motor salah satu dari mereka.

“Aduh, saya mau keluar, menghalangi jalan, tuh.” Keluh sang dosen.

Bau-bau gak enak, nih.

“Mas, mas!”

Tuh, kan bener.

Karena gue cowok sendiri di dalam fakultas, jelas panggilan itu buat gue. Gue gak mungkin pura-pura budek, atau pun nyamar jadi cewek, gue gak bawa wig dan kaos kaki buat disumpelin di dada.

“Iya, Bu?”

“Bisa tolong keluarin keluarin motor Ibu?”

Gue menghela nafas, baiklah. Gue berdiri dan menuju luar fakultas. Para mahasiswa yang melihat kursi kosong yang gue tinggalkan segera berebutan karena mulai hamstring. Terjadi pertumpahan darah untuk menduduki kursi gue itu. Ada yang ngeluarin golok, ada yang nyewa tukang pukul, ada juga yang nelpon mafia Italia. Pokoknya keadaan chaos abis.

Sampai di luar fakultas, keadaannya berbanding terbalik dengan yang ada di dalam. Di luar sepi, kayak hati gue. Cuma ada 2 orang mahasiswi berdiri di pinggir fakultas melihat gue, mungkin mereka gak mau masuk ke dalam karena di dalam pengap.

“Yang itu, Mas.” Dosen itu menunjuk motornya.

Gue menggaruk kepala, berusaha mencari cara terbaik untuk mengeluarkan motor sang dosen. Otak gue mulai bekerja menyusun rencana. Okey, majuin motor scoopy kampret yang halangan jalan, geser motor dosen sebesar 45 derajat, mundurin dikit, banting stir, mundurin lagi, keluar deh.

“Bisa, Mas?”

“Bisa, Bu.” Jawab gue mantap.

Gue mulai menjalankan rencana yang ada di kepala gue. Kampretnya, motor scoopynya dikunci stang. Gue coba majuin, geser, majuin geser hingga memberikan space untuk keluarnya motor sang dosen. Setelah berhasil gue pindahin, gue geser dikit motor sang dosen, dan selanjutnya sesuai rencana. Motor sang dosen kini sudah ada di pinggir jalan.

“Makasih, ya, Mas!” kata sang dosen, tanpa ngasih dua ribuan.

Gue hanya tersenyum sambil menangguk dan segera kembali masuk ke dalam fakultas. Pas gue mau nutup pintu, gue liat 2 cewek yang berdiri di samping fakultas tadi berjalan pelan menuju depan fakultas, mau masuk, nih? Pikir gue.

Gue tahan handle pintunya agar si pintu tidak menutup, kedua cewek tadi ternyata berjalan ke arah berlawanan, gak menuju ke dalam fakultas, tapi ke… parkiran. Mereka pun duduk di motor scoopy-kampret-yang-halangan-jalan-dikunci-stang-pula-dan-susah-payah-gue-pindahin. Lalu, mereka memakai helm, seorang cewek yang duduk di depan mengeluarkan kunci, memundurkan motor scoopy tadi dan tancap gas.

LAH, ITU MOTOR ELU?!

KENAPA TADI DIEM AJA KAYAK GAMBAR .JPEG?!

KENAPA PAS MAU GUE PINDAHIN GAK CEGAH GUE SAMBIL BILANG, “MAS ITU MOTOR SAYA. GAK USAH DIPINDAHIN, KITA JUGA MAU KELUAR KOK”?!!!

ITU BUANG-BUANG ENERGI GUE SEBESAR 500 KILO JOULE, BANGKAI!!!


Asli, gue speechless di depan pintu. Gue cuma bisa mengelus dada duo serigala dan kembali ke aktifitas gue sebelumnya: nunggu giliran.

“Cie tukang parkir.” ejek temen gue. Karena udah terlalu kesel, kalo gue tanggapin pasti gue bakal berubah jadi mahluk hijau raksasa. Gue berusaha mengabaikan ejekannya. Dengan mengeluarkan sebilah pisau.

Seorang temen mengintip ke ruangan dosen wali, kebetulan dosen wali kami sama. “Udah kosong, tuh. Ayok konsul.”

Kami pun menuju ke ruang dosen wali, mengetuk pintunya, mengucapkan salam dan menyampaikan tujuan kami.

“Permisi, Bu. Kita mau KRS-an.” Kata temen gue.

“Nanti aja, ini sudah jam istirahat makan siang. Satu jam lagi, ya!”

“….”

Gue jadi makin males berurusan dengan kampus.