A Great Story Comes With Great Stupidity : March 2017

Basa-Basi Macam Apa Ini?!

Gue kadang iri sama orang yang punya kemampuan untuk gampang akrab sama orang lain yang baru aja ditemui, apalagi orangnya jauh lebih tua dari usia kita. Temen gue, Dana, dia gampang banget akrab dengan orang tua, baik orang tua gue, orang tua pacarnya atau orang tua di bungkus wafer tango.

Orang-orang tipe ini selalu aja gampang menemukan topik yang bisa dijadikan bahan pembicaraan, walaupun cuma basa-basi doang.

Jujur, gue paling gak bisa ngobrol sama orang tua gitu. Paling hanya basa-basi di awal, lalu yaudah… diem kayak gambar jpeg.

Orang-orang seperti gue ini jika diajak ngobrol sama orang yang lebih tua, jawaban yang gue punya hanya:
1. Iya hehehe
2. Oh hahaha
3. Ehe

Sebenernya gue bukannya gak bisa. Bisa sih, tapi takut salah dalam memilih kata dan salah topik pembicaraan. Misal nih gue jemput pacar lalu ketemu bokapnya si pacar dan diajak ngobrol. Mau ngomongin sepak bola (karena biasanya laki-laki suka sepak bola), takut beda tim favorit. Mau ngomongin politik, takut beda pandangan politik. Mau muji anaknya dengan kalimat, “Anak om leh uga…” takut digampar. :(

The Trickster

"Mayor, please…”

Kami semua diam, menatap Joni dengan datar. Sesekali salah seorang dari kami menggelengkan kepala, tidak percaya dengan semua argumen dia. Kami semua yakin bahwa dia adalah pembunuh yang kami cari selama 2 malam terakhir.

“Tolong, mayor…” mohonnya lagi. “Kalian salah orang! Aku orang baik.”

“Jangan percaya, mayor! Pasung aja! Bakar!” Ucap Irfan penuh semangat.

“Pasung atau bakar, nih?” Tanya sang mayor. “Yang konsisten, dong!”

“Pasung, lalu bakar!” Irfan menjawab dengan lantang.

Aku menatap pimpinan desa ini alias sang mayor, Febri, dia menatap Joni dengan tajam. Bibirnya ia gigit, lalu membuang pandangannya ke luar. Joni memasang tampang memelas, sorot matanya meminta belas kasihan dari sang mayor.

“Gak! Aku gak percaya! Eksekusi dia!” Tunjuk Febri ke arah Joni.

“YEAAAH! BAKAAAR!!!” Seluruh penduduk desa tampak senang dengan keputusan Febri sang mayor.

Wajah Joni menjadi pucat pasi.

Dengan penuh semangat puluhan warga desa menggiring Joni ke ujung desa, melewati hutan yang tak terawat. Pohon tua dan rumput menjuntai tinggi menjadi pemandangan yang mengerikan. Langkah penduduk desa terhenti di sebuah batang pohon tua yang besar sekali. 


Pohon itu adalah tempat para warga desa mengeksekusi warga yang bersalah. Sang tersangka akan dipasung ke sebuah dahan yang runcing, tepat di bagian jantungnya, kemudian tubuhnya diikat dan dibakar habis. Tulang dan abu sisa seorang warga yang dieksekusi kemarin tampak berserakan di samping akar yang besar.

Dua orang warga desa bertubuh besar mencengkram kedua tangan Joni yang masih berusaha melepaskan diri. Mereka siap menggangkat tubuh Joni dan memasungnya.

Penduduk desa mulai menyirami bensin ke tubuh Joni dengan penuh semangat, seakan-akan Joni adalah tumbuhan dan bensin adalah airnya. Febri selaku mayor berdiri paling depan dengan obor menyala di tangannya.

“Ada kata-kata terakhir?” tanyanya.