A Great Story Comes With Great Stupidity : The Trickster

The Trickster

"Mayor, please…”

Kami semua diam, menatap Joni dengan datar. Sesekali salah seorang dari kami menggelengkan kepala, tidak percaya dengan semua argumen dia. Kami semua yakin bahwa dia adalah pembunuh yang kami cari selama 2 malam terakhir.

“Tolong, mayor…” mohonnya lagi. “Kalian salah orang! Aku orang baik.”

“Jangan percaya, mayor! Pasung aja! Bakar!” Ucap Irfan penuh semangat.

“Pasung atau bakar, nih?” Tanya sang mayor. “Yang konsisten, dong!”

“Pasung, lalu bakar!” Irfan menjawab dengan lantang.

Aku menatap pimpinan desa ini alias sang mayor, Febri, dia menatap Joni dengan tajam. Bibirnya ia gigit, lalu membuang pandangannya ke luar. Joni memasang tampang memelas, sorot matanya meminta belas kasihan dari sang mayor.

“Gak! Aku gak percaya! Eksekusi dia!” Tunjuk Febri ke arah Joni.

“YEAAAH! BAKAAAR!!!” Seluruh penduduk desa tampak senang dengan keputusan Febri sang mayor.

Wajah Joni menjadi pucat pasi.

Dengan penuh semangat puluhan warga desa menggiring Joni ke ujung desa, melewati hutan yang tak terawat. Pohon tua dan rumput menjuntai tinggi menjadi pemandangan yang mengerikan. Langkah penduduk desa terhenti di sebuah batang pohon tua yang besar sekali. 


Pohon itu adalah tempat para warga desa mengeksekusi warga yang bersalah. Sang tersangka akan dipasung ke sebuah dahan yang runcing, tepat di bagian jantungnya, kemudian tubuhnya diikat dan dibakar habis. Tulang dan abu sisa seorang warga yang dieksekusi kemarin tampak berserakan di samping akar yang besar.

Dua orang warga desa bertubuh besar mencengkram kedua tangan Joni yang masih berusaha melepaskan diri. Mereka siap menggangkat tubuh Joni dan memasungnya.

Penduduk desa mulai menyirami bensin ke tubuh Joni dengan penuh semangat, seakan-akan Joni adalah tumbuhan dan bensin adalah airnya. Febri selaku mayor berdiri paling depan dengan obor menyala di tangannya.

“Ada kata-kata terakhir?” tanyanya.


“Kalian akan menyesal jika mengeksekusiku.” Balas Joni. “Please, mayor… jangan gegabah!”

Febri menggelengkan kepalanya sambil tersenyum, lalu mengarahkan jempolnya ke leher, dari kiri ke kanan, isyarat eksekusi. Dua orang bertubuh besar itu mengangkat tubuh Joni ke udara, siap menancapkannya ke dahan pohon yang runcing.

“Nanti malam kita akan kembali tidur nyenyak, wargaku. Pembunuh di desa ini sudah mati hahaha!” kata Febri penuh kemenangan sambil mengangkat obornya ke atas.

“YEEEAAAHHH!!!” Seru seluruh penduduk desa.

Penduduk desa mulai membayangkan tubuh Joni yang terpasung sedang dilahap oleh api. Membayangkan desa mereka kembali aman supaya dapat kembali bekerja seperti biasa di pagi hari dan tidur tanpa perasaan khawatir tiap malamnya. Kan gak enak kalo lagi ena-ena tidur dan mimpi basah, eh malah dibunuh.

Joni pasrah dengan keadaannya. Tenaga dan argumennya tidak cukup kuat untuk melawan. Dengan brutal, kedua orang bertubuh kekar itu menancapkan tubuh Joni, tepat di jantungnya.

CROOOT!!!

Joni tewas seketika dengan ujung dahan pohon yang runcing tampak berbalut darah, menembus tubuhnya.

Febri mengarahkan obornya ke arah Joni untuk membakarnya.

Tapi, ‘Tuhan’ berkehendak lain. Mereka semua tidak akan kembali bekerja lagi. Jangankan bekerja, kembali ke rumahnya pun tidak. Belum sempat obor itu menyentuh Joni, sebuah ledakan dahsyat tiba-tiba terjadi, membumi hanguskan seluruh warga desa itu.

“He he he…” Joni terkekeh.

“Trickster menang.” Kata ‘Tuhan’. “Joni adalah Trickster.”

Hening.

“Fuck!”

“Bangsat!”

“BERAK SEKEBOOON!”

Berbagai umpatan keluar dari mulut teman-temanku. Termasuk aku juga sih yang ikutan mengumpat saking kesalnya. Iya, umpatan terakhir itu milikku. Kami berlima belas hanya bisa melihat Joni berdiri sambil tertawa di depan kami, merayakan kemenangannya dengan bangga. “Trickster always win, bro!”

“Kalo tau Joni trickster harusnya kupakai kekuatan mayorku buat gagalin voting!” Sesal Febri. “Tae!”

“Emang kamu apa aslinya, Feb?” tanyaku.

“Werewolf. Hehe.”

“WOOOOOHHH! DIA PEMBUNUHNYA TERNYATA!”

Febri pun dilemparin kacang rame-rame.

*****

Oiya, namaku Dido. Kami lagi main game bernama ‘werewolf’. Sebuah game yang menurutku seru sekali karena kami harus memerankan sebuah peran, entah peran baik atau jahat.

Game ini bercerita tentang sebuah desa yang tiap malam harinya, bakal ada manusia serigala alias werewolf yang membunuh warga desa satu per satu. Tugas kami tiap pagi adalah mencari siapa sang werewolf itu dengan cara memvoting. Seseorang yang dicurigai sebagai werewolf dan di-voting paling banyak, maka dia akan dibakar dan tidak dapat meneruskan permainan.

Pencarian siapa werewolf inipun tidak hanya membagi kami menjadi kubu jahat atau kubu baik, ada juga kubu yang tidak memihak siapapun, dia hanya mengacaukan desa, seperti psychopath yang membunuh tiap malam (entah membunuh warga desa atau werewolf, suka-suka dia) dan trickster tadi, di mana ketika ia di-voting keluar dari desa, maka otomatis seluruh warga desa mati karena di jantung Trickster telah terpasang bom waktu yang otomatis aktif jika ia dipasung, dan dialah yang menjadi pemenang game itu.



Dan Joni adalah orang yang sangat hebat dalam game ini. Dia dapat berpura-pura polos saat menjadi werewolf, dia juga dapat cerdik dan jeli saat meyakinkan warga desa untuk mencari werewolf ketika mendapatkan peran baik dan tadi, dia juga selalu menang ketika mendapatkan peran trickster.
Beda denganku yang cupu ini.

Jadi trickster, aku ketahuan dan gak pernah kena voting, lalu malam harinya dimakan werewolf.

Jadi werewolf, belum membunuh, aku sudah dibakar gara-gara kena voting hampir seluruh warga.

Jadi orang baik, aku selalu dibunuh pertama oleh werewolf. Atau yang paling nyesek, yaitu aku gak dipercaya oleh seluruh warga desa.

Pernah saat itu aku mendapatkan peran ‘Seer’. Sebuah peran yang sangat hebat karena aku tiap malamnya bangun untuk melihat identitas seorang warga desa yang kucurigai sebagai werewolf. Saat itu aku menunjuk Joni dan ‘Tuhan’ memberi petunjuk bahwa Joni termasuk golongan orang jahat. Petunjuknya cukup simpel, hanya menggunakan isyarat tangan.

V = Orang baik.
W = Orang jahat.

Ah, andai petunjuk gebetan juga suka sama kita segampang petunjuk main werewolf, pasti tidak ada yang namanya kasus ditolak saat nembak gebetan.

Setelah mengetahui identitas Joni, aku kembali tidur dengan senyum penuh kemenangan. “Kali ini mampus kau, Jon!” ucapku dalam hati.

Pagi harinya, tanpa tedeng aling aku memberitahu identitasku kepada seluruh warga dengan penuh rasa bangga.

“Aku Seer!” aku menepuk dadaku dengan bangga, lalu menunjuk Joni yang duduk tepat di depanku. “Joni W, entah dia werewolf atau lainnya, yang pasti dia di kubu jahat. Ayo voting dia! Hahaha!”

Seluruh warga desa menatap Joni yang entah kenapa tampak tenang sekali. Kalo aku diposisi Joni aku pasti sudah pipis di celana dan pasrah dibakar.

“Kalian yakin dia Seer?” Tanya Joni seraya menunjukku. “Dido itu selalu sensi sama aku, makanya dia mau fitnah aku biar keluar pertama. Orang aku seer yang asli.”

LAH SI BANGKE! DIA MALAH NGAKU-NGAKU SEER! ITU PERANKU!!!

“Jelas-jelas aku lihat kamu semalem W!” kataku penuh emosi. “Kalian percaya sama aku. Joni itu W.”

“Ya terserah kalian.” Balas Joni tenang. “Kalo kalian voting aku, gak bakal ada yang bantu desa ini untuk nyari siapa werewolfnya.”

Hening.

Aku lihat teman-temanku saling menatap aku dan Joni secara bergantian.

“Yak. Waktu untuk diskusi selesai. Saatnya Voting!” Kata Heri yang bertugas menjadi ‘Tuhan’ dalam game ini.

Voting pun dilakukan.

Aku yang kena voting paling banyak.

Aku dibakar.

BERAK SEKEBOOON!!!

*****

Setiap malam minggu kami selalu berkumpul di rumahku untuk memainkan game ini. Malam minggu adalah jadwal wajib kami bermain. Awalnya yang main hanya teman-teman se-gengku saat SMA yang berjumlah 8 orang, tapi lama kelamaan mereka saling membawa teman (entah teman kuliah, teman kerja atau teman tapi mesra) dan pernah waktu itu kami main sampai 22 orang. Ini mau main werewolf atau main sepak bola sebenarnya?

Walaupun jadwal wajib mainnya tiap malam minggu, hari-hari biasa tidak menghalangi untuk bermain. Kami semua kecanduan dengan game ini. Terutama Joni. Jika diibaratkan pengguna narkoba, maka Joni adalah pecandu yang tinggal menunggu mati overdosis aja. Hampir tiap hari dia mengajak kami bermain.

“Kuy main!” 

Chat dari Joni itu selalu muncul di grup LINE bernama ‘Werewolf Balikpapan’ yang kami bikin. Chat Joni selalu muncul tiap habis maghrib.

Seperti kebanyakan grup chat, grup ini hanya ramai di awal, setelah beberapa minggu, 50% anggotanya hanya menjadi silent reader


Ajakan-ajakan Joni selalu berbuah tanpa balasan, alias read doang. Kalopun ada balasan juga paling dari teman yang gak bisa ikut main.

“Absen ya.”

“Lagi lembur, bro.”

“BERAK SEKEBOOOON!”


Buru-buru aku hapus huruf demi huruf yang barusan kuketik di layar hapeku itu.

*****

“Gak ada yang respon, sialan!” Sungut Joni, tangan kanannya memegang hape, sibuk meng-scroll grup chat, tangan kirinya memegang sepuntung rokok. Ada asap pekat di antara kami.

“Ya orang juga lama-lama jenuh kalo main tiap hari, Jon.” Aku menyeruput kopi buatanku sendiri. “Kamu bener-bener kecanduan, ya? Hahaha!”

“Iya. Sampe kebayang kalo kita beneran punya kekuatan kayak di kartu-kartu itu gimana, ya? Ternyata kamu werewolf, lalu Irfan itu bodyguard, Andi itu seer, Ijah itu sorcerer, aku trickster…”

Ucapan Joni membuatku semakin yakin bahwa level kecanduan Joni sudah benar-benar parah.

“Eh gimana kalo coba di grup chat ini? Anggap aja grup chat ini desa tempat werewolf beraksi. Nah, biasanya kan yang diem-diem doang itu werewolf lalu kita keluarin dari desa. Ini yang diem doang di grup chat enaknya di-kick aja kali, ya? Hahaha!” lanjutnya lagi.

“Jangan woy.” Aku menolak ide yang tidak etis itu. “Jangan ada yang nge-kick, biarin left grup sendiri kalo mereka sudah ngerasa gak nyaman.”

“Mereka juga diem pasti biar di-kick, mau left grup mereka gak enak.” Balas Joni.

Ada benarnya juga sih teori Joni. Aku menduga temen-temen yang diem aja di grup ini karena:
1. emang sibuk
2. takut dianggap sok asik karena gak semuanya sudah saling kenal lama
3. gak ngerti cara membalas chat

Jadi, daripada merusak pertemanan dan memutuskan tali silaturahmi, lebih baik gak usah ada yang di-kick. Walaupun kesel juga kalo yang read banyak, yang respon itu-itu aja.

*****

“Kuy main! Sudah 2 minggu lebih nih kita gak main.” Chat dari Joni kembali muncul di grup chat.

“Kuy. Sini ke rumah.” Balasku dengan cepat. “Abis Isya’ aja. Bawa makanan jangan lupa.”

Entah kenapa malam itu yang merespon banyak. Hampir semua anggota grup mengiyakan ajakan Joni untuk bermain. Sepertinya mereka ini emang jenuh karena saat itu kami hampir tiap hari bermain. Jeda waktu 2 minggu tanpa bermain ini ternyata mampu memulihkan semangat mereka lagi.

Pukul 8 kurang rumahku sudah ramai. Sepuluh orang sudah berkumpul di balkon atas rumahku, mereka duduk di sofa ataupun lesehan, membentuk posisi lingkaran.

“Udah bisa main kan orangnya segini?” Tanya Heri.

“Bisa sih. Tapi Joni belum datang.” Kataku, pelan.

“Main aja duluan, biar gak kemaleman.” Irfan memberi saran.

Untungnya aku berpedoman pada sistem demokrasi, jadi aku mengikuti suara terbanyak untuk segera memulai permainan. Jika aku berpedoman pada sistem otoriter, mereka semua sudah aku usir dari rumahku.

Tiga babak tak terasa sudah kami mainkan. Makin ramai pula yang main, tapi Joni belum juga datang. Aku merasa ada yang beda, permainan ini hambar tanpa aksi-aksi Joni. Aku melirik jam di hapeku. Pukul 9.17.

“Mana nih si Joni?” Tanya Irfan. “Dia yang ngajak malah dia yang gak datang, bangke!”

Aku segera mengambil hapeku, mencari kontak Joni dan menelponnya, nomornya tidak aktif. “Kemana pula anak ini?” gumamku dalam hati.

Baru saja aku meletakkan hapeku, sebuah sms muncul di layar hapeku, dari nomor yang tidak kukenal. Aku buka sms tersebut.

“Kak Joni kecelakaan. Tolong maafkan semua kesalahan kakakku selama di dunia. Kami sekeluarga akan membawa dia ke Samarinda. Raka.”

Seketika tubuhku membatu setelah membaca sms dari Raka, adiknya Joni. Mulutku seperti terkunci saat hendak memberitahu berita duka ini kepada teman-teman yang lain. Ada perasaan takut dan tidak percaya saat itu. Rasanya seperti saat main werewolf memasuki sesi malam di mana werewolf beraksi dan kita sebagai villager hanya bisa tutup mata, menanti aksi pembunuhan yang dilakukan werewolf selesai.

“EH! LIAT TWITTER! ADA BERITA KECELAKAAN BERUNTUN!” Jerit Heri dengan mata setengah melotot menatap hapenya. “Ini deket rumah Joni, kan?”

“Joni gak datang, jangan-jangan…” kata Irfan, pelan.

Suasana menjadi sangat hening saat itu.

“I-iya… Jo-joni…” aku tak sanggup mengatakannya, tanganku bergetar menunjukkan sms yang baru saja kuterima. Semua teman-temanku yang membaca sms itu refleks menaruh kedua telapak tangannya ke arah wajah.

“Innalillahiwaina ilaihirajiun…”

Malam itu resmi kami semua berduka.

*****

Besok paginya, kami semua yang terkumpul dalam grup Werewolf Balikpapan ini mendatangi rumah Joni. Sepi. Rumahnya tertutup rapat. Tidak ada orang sama sekali. Sepertinya kami telat, Joni sudah keburu dibawa ke Samarinda. Aku coba telpon Raka, nomornya tidak aktif.

Sudah lewat 3 minggu sejak berita duka itu datang. Malam itu aku duduk sendirian di balkon, melirik ke sofa yang biasa diduduki oleh Joni. Samar-samar sosok Joni seperti muncul di hadapanku.

Aku jadi kangen dia.

Kangen semua argumen penuh kebohongannya, kangen emosinya dia saat menjadi korban pertama dari werewolf yang membuatnya musti menunggu lama untuk bermain lagi, kangen ide gila dia soal menganggap grup chat kami adalah desa werewolf beneran.

Aku membuka hapeku dan masuk ke aplikasi LINE. Membuka grup chat yang kali ini benar-benar sepi tidak ada lagi sosok yang meramaikan walaupun isinya hanya ajakan untuk bermain werewolf.

Aku mengetik sebuah chat di grup.

“Main kuy? Tribute to Joni.”

Balasan chat langsung bermunculan, mengiyakan ajakanku. Setelah menyesuaikan jadwal masing-masing agar kami semua yang ada di grup itu bisa berkumpul semua, diputuskan bahwa besok malam lah kami akan bermain werewolf lagi, untuk mengenang sosok Joni.

“Fix, besok malam, ya?” aku kirim chat itu dan keluar dari aplikasi LINE.

Keesokan harinya, aku membuka kembali grup chat dan mendapati jawaban bahwa beneran nanti malam kami akan bermain. Aku scroll dari bawah ke atas, hingga menemukan chat terakhir yang kukirim.

‘dibaca oleh 21’

Aku mengecek total anggota grup, semuanya ada 22 orang. 21 adalah jumlah maksimal anggota yang membaca. Sedangkan Joni… akun miliknya masih ada di grup. Itu artinya… Joni nge-read?

Tanpa ba-bi-bu aku segera menanyakan hal janggal ini di grup. 

“Kalian kirim pesan yang read berapa? Kok aku 21, ya? Harusnya kan 20 doang minus Joni.” Lengkap dengan screen shoot chat di hapeku.

Chat balasan segera bermunculan.

“Punyaku sudah ku-end chat. Eh, iya. Kok 21 punyamu? :o”

“Aku juga end chat dari semalem. Itu bug kali, ya? :|”

“Coba Joni di-kick dulu, Do. Kok aku jadi merinding, ya?”

Dengan cepat aku klik anggota grup dan meng-kick Joni dari grup, berharap apa yang terjadi ini gak ada unsur horror sama sekali. Selesai meng-kick Joni, aku mengirim chat lagi.

“Tes.”

"...Tis." balas salah seorang anggota grup.

Kurang dari 20 menit, chatku barusan dibaca oleh 20 orang.
Berarti beneran yang sebelumnya… Joni juga read? Tapi kan Joni sudah meninggal?

Bulu kudukku mulai berdiri. Ada hawa dingin melewati tengkukku.

Sebuah chat masuk ke hapeku, mataku tertuju pada pengirimnya, ada nama Joni tertera! Fak! Gimana caranya coba arwah bisa ngirim chat?! Di akhirat ada yang jualan kuota apa?! Aslik! aku merinding!

Aku melempar hapeku ke kasur. Memegang leher bagian belakangku yang terasa dingin. Mencubit sendiri pipiku dan berharap ini cuma mimpi. Sakit. ternyata aku sudah bangun.

Dengan segenap keberanian dan diiringi rasa penasaran aku ambil lagi hapeku, lalu menutup mataku dan hanya menyisakan sedikit untuk mengintip, jariku membuka chat dari Joni, pelan-pelan aku baca isi chatnya... 

“Trickster always win, bro. :)”

Tidak lama kemudian muncul foto Joni bersama Raka di sebuah gerai kopi yang sepertinya bukan di Balikpapan, mungkin Samarinda. Raka bergaya dengan mengangkat gelas minumannya, sedangkan Joni melambai ke arah kamera, dengan gipsum yang membungkus tangan kanannya.

Dengan cepat aku membalas chat Joni: “Oh fuck you, Trickster. BERAK SEKEBOOON!!!”


---
Nb: Gue lagi pengin nulis fiksi gara-gara kayaknya udah lama aja gak nulis fiksi, selain itu gue juga lagi sering main werewolf bareng temen-temen gue, ditambah gue juga kemaren nonton ulang serial Sherlock Holmes makanya tiba-tiba kepikiran bikin cerita yang agak misteri atau horor, jadilah cerita ini. :p



Sumber gambar: 
http://www.werewolfyk.com/2016/08/penjelasan-karakter-werewolf-lite-pack.html 
https://pixabay.com/p-1117687/?no_redirect
https://www.merdeka.com/gaya/6-cara-untuk-buat-hari-tak-lagi-jadi-suram.htmlhttp://socialtextjournal.com/mengenali-karakter-seseorang-hanya-dari-caranya-memegang-handphone/

38 comments

BERAK SEKEBOOOON!

Ngakak sialan. Saya kira cerita horor, ternyata cerita biadab.

Reply

Nggak mudeng samasekali sama game inii... Norak banget ya...
Hikss... T.T

Jadi ini ceritanya fiksi didalem fiksi ya..

Reply

BERAK SEKEBOOON!!

Main werewolf ber22 org sepertinya menarik

Reply

Gokil ini anak. Saking seringnya main werewolf sampai jadi tulisan fiksi. Keren-keren! :))

Tapi apaan, berak capung! Gue udah mau sedih di bagian menuju akhir, eh mendadak kesel. Jon. Jon. :(

Reply

Hahaha, saya nggak paham Werewolf sebelumnya. Cuma ngerti dikit-dikit aja. Oh iya, berak sekebon itu kira-kira seberapa besar kebonnya ya? Terus, anggaplah kebonnya 3 hektare. Berapa ukuran usus besar dari orang tersebut? Eh, ini ngawur.

Main werewolf terus dong. Nanti bikin Hangout.

Reply

werewolf asing banget di telingaku hehe

Reply

BERAK SEKEBOOON!!

ni cerita ga ada horror-horrornya pisan.
Kemarin kemarin aku juga sering baca tulisan gara gara warwolf bisa jadi curhatan yang luar biasa menggugah selera.
kayaknya gue kudu main werwolef juga neh

Reply

Wah , werewolf dibikin jadi cerpen.

Ini horror-nya dimana ?! Kirain ada pocong atau tuyul gituh yg ikutan werewolf.

Temen sekelasku juga pernah main werewolf , tapi di game android gituh. Tapi pas dia main , malah langsung uninstall , katanya takut tiba-tiba ada pemain GGS muncul di layar smartphone-nya.

Reply

Gua ga tau mau bilang apa..
anda ternyata kreatif sekali
saya salut..
-.-

Reply

Njir. Aku kok terharu ya sama ending-nya, Yogs. Lemah banget hati ini. Alhamdulillah ya Joni-nya ternyata nggak mati dalam kecelakaan. Pake ngestarbak (itu di starbak kan?). Pasti minum kopi yang harga 40 ribu deh! Jumawa! PUP SEKAKUUUUUUUUUUUS!!!!!!!!!!!!!

Btw ini nama tokohnya kok pada menimbulkan imajinasi liar sik. Nama Joni, ngingatin aku sama om-om khayalanku waktu jaman sekolah. Om Joni. Dan dido.... itu kayak nama 'mainan' yang typo. Nice...

Reply

Wkwk kok kesel yah bacanya, aku kira apa ternyata werewolf, 22 orang lagi,gokil wkwkwk

Reply

warewolf? beberapa bulan lalu juga diajak main yg beginian, tapi beda nama. temen-temenku nyebutnya "detektif-detektif'an" *namanya norak banget* haha
konsepnya hampir sama sih, tapi kita pake kartu remi gitu hahaha

ada pembunuh, warga biasa sama polisi kalau ngga salah. nanti mereka suruh nebak, siapa pembunuhnya. kalau votingnya bener & tinggi..berarti sang pembunuh itu mati dan warga sekampung selamat. udah gitu aja. awal-awal emang asik, tapi lama-lama bosan juga main beginian

Reply

Yog, tahukah kamu, bahwa bagian pembuka di tulisanmu ini, yg soal cerita pohon tua tempat lokasi gantung menggantung perasaan itu hampir mirip dengan cerita pendek Seno Gumira Ajidarma, Sebatang Pohon di luar desa (di buku Saksi Mata)..

Dan awalnya saya pikir ini tulisan terinspirasi dari tulisannya SGA itu, tapi ternyata soal joni dan kecanduan werewolfnya. Ya seperti kata sang filsuf di tulisannya Yoga AS "jangan gampang menilai.." ya seyogyanya mungkin memang benar ya, trickster selalu menang..

Ya bagaimana pun ditipu lewat sebuah pesan duka merupakan salah satu bentuk kekesalan yg keterlaluan, merusak perasaan

Reply

Ini lo jangan-jangan aslinya kalo main beginian 20an orang juga lagi? Buseeet. Kapan beresnya. Hahaha.

Btw, jarang-jarang nih nulis beginian. :b

Reply

Ha ha Joni kau memang bedebah!!! Btw baru kali ini nih aku baca cerpen karangan Om Cupang Sambalado. Keren abis cees.

Hidup Yoga Cupang Sambalado!

Reply

Sama-sama ketipu anjir. Kirain bakalan kayak nightmare side.

Reply

TELEK PITIQ, BERAK SEKEBOOON, KEBON KACAAANG.

gue udah mau komen innalillahi tadinya, tapi gak jadi, berubah jadi ALLAHU AKBAR!

Btw, gue belum prnah kalo main werewolf secara langsung, biasa mainnya di telegram doang, seru kali ya kalo main langsung.

berak sekeboon.

Reply

Dikira cerita trickster kek anime itu ternyata, btw keren nih kalo dijadiin film :D

Reply

Faakk Faakk

pas baca awalnya uda bikin kesel sama Mayor. kenapa dia begok banget sumpaahh. masak pake nanya pasung ato bakar? berak sekebon.
dan semakin kesel ketika ini cuma game.
ya kali mengahayatinya sampe drama drama di dunia nyataaa,,,,
semakin kesel pas joni ini macemmm voldemort, kapan matinya?
tadi uda innalillah kenapa hidup lagi.
trickster ini emang banget yaaa
yaawwooohhhh
kok kesel ya?

Reply

WAH AKU TELAH MEMBUAT DUA LELAKI PARH BAYA TERTIPU! :)))

Reply

NORAK! :((

Iya, semacam itulah :p

Reply

cepet pulang ke balikpapan makanya biar bisa join main :))

Reply

Karena gak tega bikin tokoh yang gue bikin mati, yaudah hidupin lagi :(

Reply

coba tanya ke orang yang membuat diksi itu :')

Reply

pocong ikutan main werewolf gundulmu...

ah apaan main game kok lewat hp, main langsung lebih seru \o/

Reply

INI NGAPAIN TERHARU WOY :)))

Hmmm... FANTASI DIJAGA!

Reply

WAHAHAHA... emang tujuannya bikin kesel sih xD

Reply

mungkin karena perannya cuma 3itu jadi cepet bosen. kalo di werewolf banyak perannya, makin banyak yg main makin seru :))

Reply

aku gak pernah baca karya beliau, mz :'))

muehehe sebenernya gak mau pake acara mati gitu, gak berani, tapi tiba2 inget film batman yg dark knight rises, si batmanobikin peenduduk ngira dia berkorban, eh taunya autopilotnya udah dibenerin, gak jadi mati. Niru dari situ ide masih hidupnya Joni si trickster :))

Reply

belum pernaaah haha. paling banyak waktu itu 18 orang. mainnya sejam sendiri 1 game :))

Reply

sabar mbak dian :(

enak main langsung sih, kalo main di telegram moderatornya kan bot, jadi pasti adil, kalo main langsung moderatornya bisa gak adil dan bikin makin kesel haha

Reply

Post a Comment

Terima kasih sudah meluangkan waktu kalian untuk membaca postingan gue. Gak perlu ninggalin link blog untuk dapet feedback, karena dari komentar kalian pasti dapet feedback yang sepadan kok.

Terima kasih!