A Great Story Comes With Great Stupidity : 2017

Barbershop Story - Ternyata Sama Aja


"Kenapa sih kok cowok-cowok sekarang potongan rambutnya sama semua? Klimis gitu.” Pertanyaan itu meluncur dari temen gue yang berjenis kelamin cewek.

Sadar kalo rambut gue sekarang modelnya begitu juga, gue mencoba menjawab dengan diplomatis. “Ya… karena trendnya gitu.”

Abis jawab gitu, gue malah jadi mikir sendiri, “Bener juga, ya? model rambut cowok sekarang rata-rata sama semua.” Terus gue jadi inget-inget dan mencoba menganalisis kenapa bisa begitu. Setelah berpikir keras sambil menghitung estimasi pada tahun berapa Indonesia bebas dari hutang luar negeri, gue menemukan jawabannya: Ini semua karena barbershop.

Potong rambut di barbershop, selain meningkatkan gengsi, biasanya kang cukurnya juga paham dengan model rambut yang lagi ngetrend dibandingkan dengan tempat cukur biasa. Model rambut yang ngetrend biasanya: undercut, jarhead, pompadour.

Bandingkan dengan tempat cukur biasa, cuma ada deretan foto top's collection, ujung-ujungnya kita cuma bisa bilang: “Bang, rapiin aja.”

Gak keren.

Di barbershop juga biasanya lebih terkesan ekslusif. Mereka jual pomade, AC dan TV kabel sebagai fasilitas, dan biasanya selesai cukur bisa keramas. Jadi gak perlu tuh kepala gatel gara-gara potongan-potongan rambutnya nyelip di helm.

Jamaah Belum Siap


Saat bulan Ramadan, satu hal yang biasanya gak mau gue lewatkan adalah salat tarawih di masjid. Apalagi salat tarawih di hari pertama. Walaupun bakal salat tarawih desak-desakan karena masjid yang penuh, kalo gak salat tarawih pas hari pertama, bulan Ramadan terasa hambar aja gitu.
Begitu pun dengan bulan Ramadan tahun ini.

Seperti sebuah tradisi, gue tentunya gak bakal melewatkan momen salat tarawih hari pertama tahun ini.

“Salat tarawih di mana entar?” Tanya kakak gue. Setelah bertahun-tahun dinas di luar kota, tahun ini akhirnya dia kembali ke kota asalnya dan bisa puasa bareng keluarga.

Gue diem sebentar. Memikirkan akan salat tarawih di mana malam ini.

Jadi, di deket rumah gue ada beberapa masjid. Ada sekitar 4 masjid dan baru 2 masjid aja yang pernah gue kunjungi untuk salat.

23

Gue yakin setiap orang punya angka favoritnya masing-masing. Misalnya aja gue yang menjadikan angka 4 sebagai angka favorit gue karena gue lahir tanggal 4. Selain angka 4, gue juga suka beberapa angka besar yang menurut gue keren aja gitu, apalagi kalo dijadiin nomor punggung jersey sepakbola. Misalnya: 16, 23, 38, 44, 69.

Apalagi angka terakhir, favorit!

Pas kelas 2 SMA dulu, anak-anak cowok kelas gue berencana membuat jersey futsal kelas. Sebagai anak cowok yang skill futsalnya cuma sebagai pemain cadangan yang masuk kalo pemain inti sudah mau pingsan, tentunya gue memilih nomor jersey yang gede, bukan nomor-nomor ‘keramat’ kayak 7, 8, 9 atau 10. Masa udah keren-keren nomor punggung 10, tapi duduk doang jadi cadangan? Captain Tsubasa pasti sedih kalo tau hal ini!

Saat itu gue sengaja pilih nomor 16, bukan nomor 4, alasannya simple: nomor 4 itu identik sama posisi bek. Nah, gue enggak suka jadi bek karena jarang bisa nyetak gol, terus kalo gawang tim kebobolan, kita yang disalahin. Kurang bangkai apa coba? Jadi, dengan mantap gue pilih nomor 16! Sialnya, temen gue, Bima, juga pengin pake nomor itu. Dan si Bima, pemain inti kelas gue.

Barbershop Story - Tunggu, ya...

Awal bulan ini gue baru aja potong rambut.

Sebenernya gue selalu malas untuk potong rambut. Entah kenapa tiap kali bercermin, gue selalu lebih suka rambut gue agak gondrong dibandingkan pendek, rapi dan klimis. Gue jadi kurang percaya diri karena menurut gue, rambut pendek dan rapi itu tidak cocok dengan kontur kepala dan struktur wajah gue. Atau dengan kata lain, rambut pendek mengurangi tingkat kegantengan gue yang sudah minus ini.

Alasan lain yang bikin gue malas untuk potong rambut adalah… malas antre.
Bagi sebagian orang, hal paling membosankan di dunia ini adalah menunggu. Entah menunggu antrean, menunggu panggilan kerja, sampai menunggu gebetan putus dari pacarnya. :’)

Gue sendiri termasuk golongan orang-orang di atas. Bukan, gue bukan golongan orang-orang yang nunggu gebetan putus dari pacarnya. Gue golongan orang yang gak suka menunggu.

Makanya, tiap mau potong rambut, gue selalu pergi ke barbershop tiap abis maghrib. Menurut gue, ‘abis maghrib’ itu adalah jam di mana enggak terlalu banyak aktifitas yang terjadi di luar rumah. Jadi, gue menyimpulkan kalo barbershop yang gue tuju pasti sepi. Bebas dari antre. Happy ending! ^_^

Dasar Majikan Jahat!

Dear hooman...

Di sini, aku, si Blaszczykowsky mau cerita lagi dikit.


Hmmm… sepertinya hasil membajak blog ini sebelumnya cukup sukses, ya? aku bacain komentar-komentar yang masuk di tulisanku itu. Ada yang bilang tulisanku lebih bagus daripada tulisannya si Yoga, ada minta aku aja terus yang nulis di blog ini, sampai-sampai ada yang bilang begini.


Yoga ngeblog dari tahun 2011 seumur-umur belum pernah dikomentarin begitu, aku baru sekali ngepost udah dapet komen begitu. Mhihihihi….

Blaszczykowsky 1 – 0 Yoga.

Tapi, ya aku bingung juga sih musti seneng atau sedih pas baca komentar yang masuk. Seneng karena enggak nyangka aja banyak yang suka sama tulisanku, sedih karena… gara-gara komentar itu, jatah makanku dikurangin sama Yoga! Dia iri dan dengki sekali sama aku.

Kalo biasanya aku makan 3x sehari, setelah tulisan itu terbit, aku cuma dikasih makan 2x. Itupun porsinya dikurangin setengah. Jangankan bikin kenyang, buat ngotorin gigi aja gak berasa.

Cerita Saat Pulang Sekolah

Tadi dari balkon rumah gue ngeliat gerombolan anak SMP pulang sekolah dengan cara jalan kaki.

Sebuah pemandangan yang kayaknya sudah jarang banget gue liat dalam beberapa tahun ke belakang. Soalnya, sekarang ini gue lebih sering ngeliat anak SMP pulang sekolah naik tank. 

Ya enggaklah! 

Naik motor motor maksud gue, padahal kan secara hukum seharusnya mereka belum boleh.
ASTAGHFIRULLAH. POLISI MANA POLISI?!
Anak-anak SMP itu harusnya pulang sekolah kalo gak naik angkutan umum, dijemput orang tua/ojek, ya… jalan kaki. Apapun alasannya, mereka belum boleh mengendarai sepeda motor sendiri. Entah karena emang skill mengendarai motornya udah kayak Valentino Rossi atau emang orang tuanya yang terlalu memanjakan anaknya, menurut gue anak SMP yang mengendarai motor itu salah. Apalagi dia naik motornya dengan posisi kayang.

Selain gak suka dengan anak SMP yang naik motor, gue juga jadi kasihan sama mereka. Kasihan dalam artian mereka enggak bisa merasakan kenikmatan pulang sekolah berjalan kaki.

Ketika memutuskan pulang berjalan kaki, ada banyak cerita dan kegiatan yang muncul. Bandingkan dengan naik motor? Paling ceritanya cuma ban bocor, kehabisan bensin, ditabrak tronton. Udah! Gak seru!

Gue sendiri dulu pas SMP pulang sekolah ya jalan kaki. Padahal jarak SMP dengan sekolah gue itu jauh. Kalo di usia sekarang gue disuruh jalan kaki dari SMP ke rumah, baru setengah jalan juga gue bakal order ojek online. Hebatnya kok dulu gue kuat, ya?

Dari SMP yang letaknya ada di sekitar perumahan, kami akan berjalan ke luar menuju jalan umum, lalu menyebrang dan berjalan melewati pasar, setelahnya kami akan berjalan lurus mengikuti jalan hingga kami akan berpisah satu per satu karena emang rumah kami semua se-arah tapi beda daerah perumahan.

Serius, gue kalo lagi naik motor kadang suka mikir, “Dulu kemana-mana jalan kaki, kok kuat ya? Sekarang mah biar naik motor aja masih kerasa capek.”
pulang sekolah jalan kaki
Gue jadi flashback ke masa SMP gue dulu dan sepertinya mendapatkan jawaban dari pertanyaan gue tadi. Mungkin alasan kenapa dulu gue kuat jalan kaki ya karena gue selalu pulang beramai-ramai bersama teman gue. Jadinya sepanjang jalan menuju rumah kami saling bertukar cerita atau melakukan banyak kegiatan bodoh, kayak gini…

Barbershop Story - Basa-Basi Macam Apa Ini?!


Gue kadang iri sama orang yang punya kemampuan untuk gampang akrab sama orang lain yang baru aja ditemui, apalagi orangnya jauh lebih tua dari usia kita. Temen gue, Dana, dia gampang banget akrab dengan orang tua, baik orang tua gue, orang tua pacarnya atau orang tua di bungkus wafer tango.

Orang-orang tipe ini selalu aja gampang menemukan topik yang bisa dijadikan bahan pembicaraan, walaupun cuma basa-basi doang.

Jujur, gue paling gak bisa ngobrol sama orang tua gitu. Paling hanya basa-basi di awal, lalu yaudah… diem kayak gambar jpeg.

Orang-orang seperti gue ini jika diajak ngobrol sama orang yang lebih tua, jawaban yang gue punya hanya:
1. Iya hehehe
2. Oh hahaha
3. Ehe

Sebenernya gue bukannya gak bisa. Bisa sih, tapi takut salah dalam memilih kata dan salah topik pembicaraan. Misal nih gue jemput pacar lalu ketemu bokapnya si pacar dan diajak ngobrol. Mau ngomongin sepak bola (karena biasanya laki-laki suka sepak bola), takut beda tim favorit. Mau ngomongin politik, takut beda pandangan politik. Mau muji anaknya dengan kalimat, “Anak om leh uga…” takut digampar. :(

The Trickster

"Mayor, please…”

Kami semua diam, menatap Joni dengan datar. Sesekali salah seorang dari kami menggelengkan kepala, tidak percaya dengan semua argumen dia. Kami semua yakin bahwa dia adalah pembunuh yang kami cari selama 2 malam terakhir.

“Tolong, mayor…” mohonnya lagi. “Kalian salah orang! Aku orang baik.”

“Jangan percaya, mayor! Pasung aja! Bakar!” Ucap Irfan penuh semangat.

“Pasung atau bakar, nih?” Tanya sang mayor. “Yang konsisten, dong!”

“Pasung, lalu bakar!” Irfan menjawab dengan lantang.

Aku menatap pimpinan desa ini alias sang mayor, Febri, dia menatap Joni dengan tajam. Bibirnya ia gigit, lalu membuang pandangannya ke luar. Joni memasang tampang memelas, sorot matanya meminta belas kasihan dari sang mayor.

“Gak! Aku gak percaya! Eksekusi dia!” Tunjuk Febri ke arah Joni.

“YEAAAH! BAKAAAR!!!” Seluruh penduduk desa tampak senang dengan keputusan Febri sang mayor.

Wajah Joni menjadi pucat pasi.

Dengan penuh semangat puluhan warga desa menggiring Joni ke ujung desa, melewati hutan yang tak terawat. Pohon tua dan rumput menjuntai tinggi menjadi pemandangan yang mengerikan. Langkah penduduk desa terhenti di sebuah batang pohon tua yang besar sekali. 


Pohon itu adalah tempat para warga desa mengeksekusi warga yang bersalah. Sang tersangka akan dipasung ke sebuah dahan yang runcing, tepat di bagian jantungnya, kemudian tubuhnya diikat dan dibakar habis. Tulang dan abu sisa seorang warga yang dieksekusi kemarin tampak berserakan di samping akar yang besar.

Dua orang warga desa bertubuh besar mencengkram kedua tangan Joni yang masih berusaha melepaskan diri. Mereka siap menggangkat tubuh Joni dan memasungnya.

Penduduk desa mulai menyirami bensin ke tubuh Joni dengan penuh semangat, seakan-akan Joni adalah tumbuhan dan bensin adalah airnya. Febri selaku mayor berdiri paling depan dengan obor menyala di tangannya.

“Ada kata-kata terakhir?” tanyanya.

Dear Hooman

Meow!

Oh maaf, sepertinya aku musti pakai bahasa manusia untuk menyapa pembaca blog ini (itu pun paling yang baca udah diancam aib keluarganya bakal diumbar). Jadi, aku ulang deh.

Halo!

Aku cuma mau ngasih tau kalo saat ini, blog ini statusnya adalah sedang aku bajak. Yoganya sudah aku kunciin di tempat yang paling aku benci, yaitu kamar mandi. Lagian dia lama banget di kamar mandi, habis-habisin sabun aja.

Sesuai dengan salam yang kuucapin pertama tadi, kalian pasti tau siapa aku. Belum tau? Baiklah, aku adalah seekor kucing peliharaan Yoga bernama Black, Nama asliku sebenarnya adalah Item, tapi karena terdengar kampungan, namaku diganti menjadi Blaszczykowsky, lalu diganti lagi menjadi ‘Black’, biar gampang disebut dan mengurangi risiko lidah keseleo.

Psikotes Oh Psikotes

Menjadi sarjana yang salah jurusan itu ternyata bisa fatal banget. Saat mencari kerja, jadi susah banget. Karena jurusan yang dipilih enggak sesuai minat dan gak pengin terjebak di dunia kerja yang salah juga, saat mencari pekerjaan, mau enggak mau ya harus mencari lowongan kerja yang sesuai minat tapi persyaratannya adalah menerima semua jurusan.

Dan itu sulit banget.

Satu lagi, gue lah sarjana salah jurusan itu.

Dengan gelar sarjana pendidikan ekonomi ini, seharusnya gue melamar pekerjaan sebagai guru. Entah kenapa, jiwa gue bilang kalo gue gak bakal cocok jadi guru. Gue pernah mengajar sebelumnya (saat magang), asik sih sebenernya, tapi… kok rasanya bebannya berat banget.

Masa depan puluhan anak-anak polos di sekolah itu di tangan gue. Salah-salah ngasih ilmu bisa-bisa mereka malah tersesat. Harusnya gue kasih ilmu ekonomi, malah gue kasih ilmu kebal. Kan bahaya. Entar makin banyak Limbad di Indonesia.

Kebimbangan di hati gue itulah yang mendorong gue untuk melamar kerja tidak sebagai guru. Gue yakin, masa depan bangsa ini akan menjadi lebih baik karena keputusan gue ini. Gue juga yakin, Pak Anies Baswedan pasti sedih kalo baca tulisan ini.

Posisi atau pekerjaan yang gue incar jelas yang berhubungan dengan ekonomi, biar ilmu gue gak terlalu mubazir, selain itu gue juga mengincar posisi ODP (Officer Development Program) atau MT (Bukan, ini bukan Mario Teguh, tapi Management Trainee). Biasanya bank atau perusahaan gitu yang membuka lowongan seperti ini. Kedua posisi itu intinya adalah kalo gue keterima, gue bakal training selama 1 tahun, lalu lulus dan jadi manager. Pokoknya jabatannya lumayan tinggi gitu. Gue juga enggak terlalu paham sih, ini juga dikasitau sama temen gue.

***

Malam itu gue dapet sebuah e-mail yang memberitahukan bahwa gue lolos seleksi berkas. Gue baca baik-baik e-mail tersebut, kata demi kata.

Kepada Yth.
Bapak/Ibu Peserta Tes Management Trainee

Kami dari PT. XXX mengucapkan SELAMAT ANDA LOLOS tahap seleksi berkas. Kami mengundang Bapak/Ibu untuk mengikuti seleksi tahap berikutnya yaitu psikotest dan FGD yang akan dilaksanakan pada:
….

Gue langsung jerit kegirangan! Lari mengitari lapangan sambil selebrasi buka baju.

Gimana gak girang coba kalo gue lolos seleksi berkas untuk posisi MT, cuy! EM TE!!! MARIO TEGUH, EH MANAGEMENT TRAINEE!!!

Lima detik kemudian gue langsung googling: APA ITU FGD YA ALLAH?!

Setelah googling dan akhirnya menemukan titik terang bahwa FGD itu adalah Focus Group Discussion yang artinya adalah… bentar, gue buka google translate dulu.

Oke, jadi FGD sendiri merupakan sebuah kelompok diskusi yang terdiri dari 6 sampai 8 orang dalam sebuah ruangan dan duduk membuat lingkaran. Mereka akan mendiskusikan sebuah topik yang diberikan oleh HRD atau moderator FGD dalam kurun waktu tertentu. Serta dalam FGD, biasanya moderator juga, dibantu oleh seorang penilai atau notulen (red-perusahaan/HRD).

Sampai di sini gue takut, karena gue gak pernah melakukan FGD sebelumnya. Saat di kampus, dosen gue gak pernah menggunakan metode FGD. Paling banter juga presentasi kelompok, itupun yang ngasih pertanyaan juga hasil kongkalikong sebelum kelas dimulai.

Mahasiswa yang mau presentasi: “Ntar kalian Tanya ini, ya.” *ngasih kertas pertanyaan yang jawabannya sudah terekam jelas di otak*

Mahasiswa yang jadi penonton: “Oke! Biar sama-sama dapat nilai!”


Gue pun berusaha tenang, berpikir keras perihal FGD ini, lalu menyimpulkan bahwa poin penting dari FGD adalah kita bisa memecahkan suatu masalah, yang artinya adalah gue musti punya ilmunya, biar gak asal ngasih solusi.

Gue segera bongkar rak buku gue, mencari buku ilmu manajemen gue saat kuliah semester 2 lalu, kemudian gue belajar. Membaca dari awal buku ilmu manajemen yang tebalnya bisa dipakai untuk membuat sapi gegar otak gue lakuin, demi suksesnya gue saat FGD.

Psikotes? Gampang! Beberapa minggu sebelumnya gue sempet ikut psikotes juga di suatu perusahaan dan lolos, tapi gagal di interview terakhir. Jadi, psikotes itu gampang lah, ya?

***

Pukul setengah 9 gue tiba di tempat tes. Dari parkiran sudah ada beberapa orang yang gue yakini adalah satu spesies seperti gue, yaitu pencari kerja. Jumlah mereka ada sekitar 5 orang. Setan di kepala gue tiba-tiba muncul dan bilang, “Mereka sainganmu, ayo celakakan mereka! Sliding tackle satu per satu biar mereka tidak bisa ikut tes! Lumayan sainganmu akan berkurang!”

Untungnya malaikat segera menyadarkan gue.

“Jangan lalukan itu Yoga. Ingat, rezeki itu sudah ada yang mengatur. Ingat juga, kamu pakai pantofel, sepatumu bakal rusak kalo melakukan sliding tackle di aspal. Kamu mau rugi apa?”

Sampai di tempat tes, gue melakukan registrasi, gue lihat-lihat, yang ikut tes ini lumayan banyak. Sekitar 70-an orang.

Gue pun masuk ke dalam ruangan, lalu memilih meja yang letaknya agak belakang. Dinginnya AC membuat gue mengurungkan niat gue untuk melepas jaket. Gue menggosok-gosokkan kedua tangan gue biar hangat. Seorang laki-laki bertubuh tinggi besar duduk di bangku kosong sebelah gue.

“Kosong, Mas?” tanyanya, ramah.

Gue mengangguk. Dia pun duduk, meletakkan tasnya di samping meja. Lalu melihat ke arah gue dan menjulurkan tangannya. “Saya Steve, Mas.”

“Yoga.” Jawab gue.

Lalu diem-dieman. Ya mau ngobrolin apalagi coba? Tapi kalo diem-dieman begini gak enak juga. Entah berapa jam ke depan, dia bakal bersama-sama gue mengerjakan psikotes. Gue musti berinteraksi dengan dia. Tapi, gimana caranya? Gue pengin membuka percakapan dengan mengatakan, “dingin, ya?” tapi takut dianggap kode minta peluk. Akhirnya gue Tanya-tanya aja soal kuliahnya dia. Ternyata dia lulusan universitas kota tetangga, baru lulus 2016 kemaren kayak gue, tapi dia satu angkatan di atas gue. Ternyata dia juga kakak kelas gue pas SMA, tapi gue enggak kenal. Balikpapan sempit, bos!

Kami lalu disuruh mengisi formulir untuk mengikuti tes ini, sambil mengisi formulir, seorang bapak-bapak bertubuh tambun berdiri di atas panggung, dengan mic di tangan, dia berkata, “LET’S MAKE SOME NOISEEEE!!!

Ya enggaklah!

Beliau ternyata adalah orang yang mengirim e-mail, beliau kemudian menjelaskan apa sih MT itu? bagaimana tahapan yang musti dilalui agar terpilih? bagaimana jenjang karirnya? bagaimana kalo yang dibilang teman sama pacarmu itu ternyata selingkuhannya?

Setelah semua penjelasan tadi, tanpa basa-basi, soal pun dibagikan.

Gue berusaha setenang mungkin. Karena katanya poin penting dari psikotes adalah kita musti tenang, gak boleh tegang. Karena kalo tegang bakal bahaya banget, entar yang harusnya mengeluarkan alat tulis, malah mengeluarkan alat vital. Astaghfirullah.

Seingat gue tes waktu itu ada 9 sesi, di mana setiap sesi itu terdiri dari 20 soal dengan berbagai jenis tes. Dan tiap sesi saat itu diberi waktu hanya 6 menit.

Sesi 1 tes pengetahuan umum (ah, gampang!).

Sesi 2 tes persamaan kata (masih gampang!).

Sesi 3 tes hubungan kata. (Gak ada yang lebih sulit nih?)

Sesi 4 tes pengertian kata (Mana soal yang sulitnya woy?)

Sesi 5 tes aritmatika (Hgggg... TADI BECANDA AJA YA ALLAH INI KOK JADI SULIT BENERAN?)

Sesi 6 tes deret angka (Mampus gue! Mampus!)

sesi 7 tes potongan gambar (Ah! Lumayan bisa nih)

sesi 8 tes kemampuan ruang (speechless)

sesi 9 tes menghafal cepat (WAKTUNYA 1 MENIT DOANG NIH?!)

Selesai dengan 9 sesi, otak gue mulai korslet dan mengeluarkan asap. Apakah selesai? Oh belum! Masih ada tes Koran. Bukan, tes Koran ini artinya bukan disuruh untuk menjual Koran, apalagi disuruh membuat karya seni dari bubur Koran. Tapi… disuruh menjumlahkan deretan angka, dari atas ke bawah.
Deretan angkanya kayak gini dan banyak, ini cuma 1/8-nya doang
1 jam kemudian, tes terkutuk itu akhirnya selesai juga. selesai ngerjain tes ini rasanya pengin ngemil bodrex extra. Aslik! Pusing banget kepala gue!

Bapak-bapak tambun tadi kembali berdiri di atas panggung, menjelaskan bahwa tes Koran tadi adalah tes terakhir dari psikotes ini. Kami semua dipersilakan keluar ruangan dulu dan disuruh kembali 2 jam kemudian untuk mengecek hasilnya, jika lolos, baru deh FGD.

Hening.

KIRAIN LOLOS ENGGAKNYA KE TAHAP SELANJUTNYA ITU DARI REKAPAN HASIL PSIKOTES DAN FGD!

Gue keluar ruangan dan memilih untuk mencari makan karena sudah pukul setengah 1 juga. bersama Steve dan temannya (Gue lupa namanya karena orangnya asik sendiri sama hp, mungkin kita namakan saja dia Tukijo), kami bertiga pergi ke sebuah warung yang letaknya enggak jauh dari tempat tes itu.

Sambil makan siang, kami bertukar cerita sudah memasukkan lamaran ke mana aja, bertukar info soal lowongan kerja, lalu bertukar nomor hape. Enggak, gue masih normal. Tukaran nomor hape kan biar gampang infoin kalo ada lowongan. Jangan suudzon begitu, ya!

2 jam kemudian kami kembali ke tempat tes.

Gue lumayan deg-degan walaupun lebih banyak pesimisnya sih, karena soal tesnya emang susah banget. Di sesi aritmatika dan kemampuan ruang gue jawab cuma dikit. YA 20 SOAL DALAM 6 MENIT MANA BISA, YA! BARU MO NGITUNG WAKTUNYA JUGA UDAH ABIS DULUAN! WHY WE FALL IN LOVE WITH PEOPLE WE CAN’T HAVE?!
Sampai di depan ruangan tes yang tertutup, di sana sudah ada beberapa peserta lain yang tampak lemas, sepertinya mereka enggak lolos. Kami bertiga menuju ke depan pintu, di sana tertempel sebuah kertas berisi daftar nama yang lolos untuk FGD dan cuma 5 orang doang. Iya, 5 doang. Ini mau sesi FGD apa main futsal sebenernya sih?

Dari 5 nama itu ojelas… enggak ada nama gue.

Untungnya gak ada nama si Steve dan Tukijo juga. Jadi gak nyesek-nyesek amat pas tau kenyataan bahwa gue gagal. Kami bertiga saling tatap-tatapan, lalu menghela nafas dan mulai berbalik badan, untuk kembali ke parkiran sambil berusaha tegar. “Belum rejeki.”

***

Di perjalanan pulang gue jadi mikir, selain belum rejeki, kayaknya gue gagal karena terlalu meremehkan psikotes dan terlalu fokus untuk FGD. Seharusnya gue fokus di psikotes yang jelas-jelas tahapan pertama yang musti gue lalui. Gue juga enggak berusaha sebaik mungkin padahal jelas-jelas saingan gue banyak. Mungkin karena itulah Tuhan menegur gue, bahwa MT di perusahaan ini bukan rejeki gue.

Baiklah, masih ada panggilan tes kerja lainnya, semoga kali ini rejeki gue.






--
Sumber dan referensi:
http://www.kompasiana.com/febyunsoed/tips-dan-trik-menghadapi-focus-group-discussion-fgd_550d7f71a33311211e2e3b3d
http://saungdejavu.blogspot.co.id/2013/04/tes-koran.html


Muka Pasaran

Katanya, setiap manusia di bumi ini punya kembaran setidaknya 7 orang. Walaupun enggak 100% sama, tapi tingkat kemiripannya benar-benar bikin kita setidaknya berpikir, “Itu si anu bukan, sih?”

Sudah banyak cerita soal orang-orang yang bertemu ‘kembarannya’ ini. Cerita yang pertama kali gue tau adalah ada orang Indonesia yang mirip dengan pemain bokep sepak bola asal Brazil, Ronaldinho.
Lalu ada juga di Skotlandia sana, ada orang yang secara tidak sengaja bertemu dengan orang lain yang mirip banget dengan dia saat akan naik pesawat. Epic-nya, mereka duduk sebelahan.

Terus ada juga, seorang teman blogger kita, si Icha Khalifa yang ternyata mirip sama Mia Khalifa.

Selain wajahnya mirip, nama mereka sama-sama menggunakan nama ‘Khalifa’. Hmmmm… apakah ini kebetulan?

Gue sendiri juga sering sih dibilang mirip gitu sama seseorang. Terakhir ada yang bilang gue mirip sama Andrew Garfield. Nama gue sendiri kebetulan Yogarfield Cahya Putra. Hmmmm… kebetulan?

Satu hal yang perlu diketahui adalah, dibilang mirip dengan orang lain, itu enggak enak. Gue punya beberapa pengalaman perihal dibilang mirip dengan orang lain.

Ngomentarin: Keyword Menuju Blog

Sebagai seorang blogger, hal pertama yang biasanya dilakukan ketika lagi buka blogger.com adalah:
1. Ngecek apakah ada komentar baru di blog?
2. Ngecek berapa pengunjung blog per hari?
3. Ngecek AdSense apakah sudah $3800/bulan atau belum?

Menurut gue ya normal aja melakukan hal di atas, apalagi untuk poin nomor 1 dan 2. Kalo buka blogger.com lalu enggak ngelakuin dua poin teratas itu rasanya kayak pacaran, tapi enggak boleh gandengan karena bukan muhrim.

Untuk poin 3 sih gue belum bisa melakukannya, nyoba daftar aja ditolak mulu sama google. Huhuhu. Kayaknya gue musti nyoba daftar Adsense di altavista deh, ya? Biar anti-mainstream.

(((altavista)))

Anyway, walaupun belum bisa menghasilkan uang dari pasang iklan di blog, ya gue gak sedih-sedih amat sih, karena tujuan gue ngeblog cuma berbagi cerita aja, bukan ngejar receh google. Kalopun dapet recehan, ya… Alhamdulillah, enggak dapet, ya… enggak apa-apa. Karena gue percaya rezeki itu sudah ada yang mengatur? Betul tidak? Bangkai, gue bisa bijak juga ternyata.

Nah, kadang saat mengecek jumlah pengunjung dan mendapati bahwa blog ini datangin lebih banyak pengunjung dari hari biasanya (misalnya biasa 500 visitor/day, kali ini jadi 501 visitor/day), gue tentunya mengecek ‘sumber lalu lintas’ karena penasaran: Apa yang membawa orang-orang ini kesasar di blog gue?

Ketika Adegan Tegang di Film Menjadi Antiklimaks

Selain membaca dan modusin cewek-cewek, hobi gue adalah nonton film.

Hampir semua genre film gue suka. Mulai dari action, komedi hingga fake taxi. Tapi, gue lebih suka nonton film yang action gitu, walaupun konsepnya basi banget.

Setelah nonton banyak film action, gue sadar bahwa alur film action selalu begini: Seseorang (yang akan jadi tokoh utama di film) sedang mengalami masalah hebat dan terpuruk banget. Lalu tiba-tiba ada satu peristiwa yang membuat warga panik (misalnya serangan teroris di kota). Si orang yang terpuruk tadi mau enggak mau bakal nyelamatin kota dan seluruh warga itu, jika tidak ia bakal makin terpuruk. Dia memilih untuk bertindak dan bangkit dari keterpurukannya. Masalah teratasi. Tamat.

Anehnya, gue gak pernah bosan nonton film bergenre gini.

Salah satu film yang bikin gue berpikir, “ini orang hebat banget!” di film action adalah di film Word War Z. 

Ketika Roaming Bahasa

Bepergian ke suatu daerah, selalu mendapatkan hal-hal di luar perkiraan kita. Biasanya sih berupa pengalaman selama di perjalanan. Entah pengalaman yang menyenangkan, tidak menyenangkan atau membingungkan; ini menyenangkan atau enggak sih? Bingung.

Sama halnya seperti bepergian, bertemu orang baru di daerah tertentu juga bakal membawa sebuah pengalaman baru. Pengalaman paling seru biasanya karena adanya perbedaan budaya dan bahasa. Kadang dari roaming bahasa itulah muncul pengalaman tak terduga, atau bahasa filsuf-nya sih “memunculkan reflek tawa yang patut untuk dipertimbangkan.”

Di bulan Desember tahun 2015, gue lupa tanggal berapa, gue lagi di Samarinda, bersama teman gue, Dana. Dia yang menyetir motor, gue yang dibonceng. Kami berdua menuju sebuah motel untuk menjemput teman lainnya.

Bertemu Teman Dunia Lain

Gue selalu iri, dengki dan ingin ngerusak hubungan orang lain setiap kali melihat ada blogger yang ngepost soal kopdar blogger.


Bukannya apa, di daerah gue, jangankan kopdar, blogger yang satu spesies (suka nulis cerita sehari-hari, gak jelas, agak stress) kayak gue aja sepertinya gak ada. Kalo gue liat-liat sih blogger yang ada di Balikpapan itu yang isi blognya serius, informatif dan didominasi oleh om-om, berbanding terbalik sama gue yang masih muda ini. Jadi, kalo pun ada kopdar blogger, gue udah kebayang awkward-nya duluan.

Mengenang Tahun 2016

SELAMAT TAHUN BARU! SELAMAT DATANG TAHUN 2017!

*tiup terompet*

Gimana malam tahun baruannya? Pada bakar apa? Ayam? Jagung? Rumah mantan?

Tumben alias gak seperti biasanya, malam pergantian tahun 2017 ini gue memilih seru-seruan bareng temen-temen SMP gue. Biasanya gue gak pernah mau keluar rumah karena males kejebak macet dan kaget sendirian gara-gara suara kembang api pas pulang ke rumah.

Biasanya kalo tahun baruan di rumah aja gue menghabiskan waktu untuk marathon nonton film, atau tiduran sambil dengerin lagu pake earphone. Lalu setelah pergantian tahun gue akan mengingat kembali kejadian selama setahun itu. Maka dari itu kamar merupakan tempat paling pas bagi gue untuk tahun baruan.

Tapi tahun 2016 ini agak beda. Gue pengin ketawa-ketawa sama temen-temen gue walaupun tahun 2016 ini sebenernya adalah tahun yang… biasa aja. Gak baik-baik amat, gak buruk-buruk amat juga. Banyak target yang berhasil gue raih di tahun ini, banyak juga kegagalan yang mampir. Namanya juga hidup, ya. gak bisa bahagia mulu.

Selain soal target yang gue raih, banyak juga hal-hal yang berubah selama di tahun 2016 ini.