A Great Story Comes With Great Stupidity : 2017

Barbershop Story - Sudah, Om. Sudah.


Gue kadang iri sama cewek. Bukan, ini bukan perkara mereka selalu bisa menganggap diri mereka selalu benar dan cowok selalu salah, atau selalu menjadikan PMS sebagai alasan untuk marah-marah ke cowok, atau juga soal mereka bisa dapet 1.7863.089 love di instagram hanya dengan nge-post foto selfie dilengkapi caption yang sama sekali gak nyambung dengan fotonya sedangkan cowok kalo nge-post foto selfie akan di-block massal.

Ini semua soal rambut.

Lebih tepatnya, soal salah potong rambut.

Menurut gue, ada ketidak adilan yang terjadi saat cewek dan cowok salah potong rambut. Cewek akan bertindak penuh drama dan penyesalan saat salah potong, seakan-akan salah potong rambut adalah sebuah akhir dari dunia, padahal mereka sehari-harinya… berhijab.

YAKAN GAK KELIATAN JUGA. HHHHH…

Kalo pun mereka sehari-harinya enggak berhijab, masih banyak model rambut pendek yang membuat mereka tetap tampak cantik.

Sekarang, mari bandingkan dengan cowok.

Maaf Untuk Keputusan Ini


Ada sebuah kalimat klise yang sering kita semua dengar: hidup adalah pilihan.

Mungkin banyak yang meremehkan atau menganggap kalimat itu hanya sebuah jargon semata, tapi sebenarnya jika kita telaah dan resapi dalam-dalam, kalimat itu benar adanya. Kalimat itu ada di setiap langkah kaki kita, dalam menghadapi hidup ini.

Dalam hidup ini tentunya kita sering banget terjebak dalam situasi yang membuat dilema. Kita harus memilih salah satu dari sekian banyak pilihan, untuk mencapai tujuan hidup kita. Dalam film Kingsman: The Golden Circle, Eggsy dan Merlin hanya akan berakhir dengan mabuk-mabukan jika Eggsy tidak melihat alamat Statesman di botol birnya dan pergi ke Kentucky untuk menyelamatkan dunia.

Begitupun dalam hidup gue. Sering kali gue dihadapkan dalam situasi yang di mana gue harus mengambil sebuah keputusan sulit. Sebuah keputusan yang mungkin dan bahkan masih gue sesali sampai sekarang.

Muncul di Koran

Bagi sebagian orang, bisa masuk koran itu merupakan suatu kebanggaan. Gue pun juga merasa begitu. Seperti ada kebahagiaan tersendiri ketika ada satu keinginan di dunia ini yang akhirnya bisa dicoret dari whistlist. Untungnya gue bukan anggota Kingsman, jadi peluang untuk masuk koran, masih terbuka.


Gue sudah pernah beberapa kali masuk koran. Bukan, ini masuk koran bukan karena melakukan aksi kriminal dan pelecehan seksual, tapi berupa sesuatu yang positif. 

Positif memakai narkoba. Ehe.

YA ENGGAKLAH!

Suatu kegiatan yang positif, membanggakan, layak diganjar piala adipura. Pokoknya yang masuk koran dan efeknya gak bikin jadi menambah aib keluarga lah.

Pengalaman pertama kali wajah gue nongol di koran itu di awal tahun 2012, pas gue kelas 12 SMA. Waktu itu kota Balikpapan lagi mau ulang tahun. Temen gue, Alip punya kenalan seorang wartawan. Berkat dialah wajah gue dan teman-teman se-geng gue sukses merusak mata mengisi di salah satu halaman Koran yang isinya ucapan dan harapan kami terhadap kota Balikpapan di ulang tahunnya.

Pilek Ini Membunuhku

Tiap pagi, cuaca di kota Balikpapan belakangan ini selalu turun hujan. Ini membuat hubungan gue dan kasur menjadi semakin sulit untuk dipisahkan. Enggak cukup sampai di situ, tiap bangun tidur juga hidung gue mendadak mampet, badan anget, kepala pusing. Iya, itu tandanya gue mau cedera hamstring.

YA ENGGAKLAH!

Tandanya gue mau pilek.

Memang cemen sih penyakit gue. Tapi biar cemen begitu, jangan pernah meremehkan penyakit pilek. Kita semua tau kalo pilek bisa menyebabkan hidung mampet, badan lemes dan kepala bernanah (ini kenapa jadi serem begini?). Kombinasi hidung mampet dan badan lemes itu tentunya bakal mengganggu kita dalam melaksanakan aktivitas sehari-hari. Entah kerja, kuliah atau merampok bank.

Gue pernah waktu itu lagi pilek parah. Ingus gue warnanya sampe ijo, kental, lengket, susah dibuang. Seakan-akan si ingus itu ngontrak di dalam hidung gue. Hidung berasa sudah penuh sama ingus, pas coba dikeluarin, eh gak ada ingusnya. Kalo pun ada, jumlahnya dikit banget. Bahkan lebih banyak janji-janji manis pacar dulu daripada ingus yang keluar. Gue pun jadi susah untuk bernafas. Karena belum mau mati karena cuma gara-gara sakit pilek, gue pun bernafas menggunakan… pori-pori. Ehe. YA PAKE MULUT LAH.

Makan, aja. Makan.

Kayaknya waktu berjalan cepat banget. Kemaren gue lagi ‘bersih-bersih’ laptop. Hapusin file-file yang gue rasa sudah gak penting karena menuh-menuhin memori. Mulai dari foto-foto sama mantan sampai revisian skripsi, gue hapus! Huahahahaha! Terus pas lagi ubek-ubek folder seputar kuliah, gue nemu folder “PLP”. PLP sendiri merupakan singkatan dari Praktik Latihan Profesi, alias magang, saat gue kuliah semester 7 lalu. Karena lupa isinya apaan, gue buka, ada folder “tugas”, buka lagi, folder “data”, buka lagi, voila! koleksi fake taxi!

Ya enggaklah!

Di dalam folder PLP itu isinya data dan file document selama gue magang mengajar di sebuah SMA pada tahun 2015 lalu. Enggak hanya itu, ada juga folder foto yang isinya tentu saja koleksi fake taxi. Astaghfirullah. Fokus. Fokus. Isinya yaaaa foto-foto selama gue magang di sekolah itu bersama 5 teman gue.

Ngeliat foto-foto itu gue jadi mikir, “Gila! perasaan baru kemaren magang, taunya udah 2 tahun lalu!”

Sebuah Upaya Untuk Tidak Menjadi Anak Durhaka

Kayaknya hampir semua anak di dunia ini pasti pengin bahagiain orang tuanya. Kalo pun gak bisa bahagiain, minimal gak nyusahin. Misalnya dulu lahirnya brojol sendiri. Ehe. *dikeplak*

And yeah… gue termasuk dalam golongan anak-anak yang pengin bisa bahagiain orang tuanya. Gue gak mau bikin mereka kecewa, apalagi sampai durhaka, terutama ke ibu gue. Ya bayangin aja perjuangan Ibu mengandung selama 9 bulan, terus melahirkan, tapi pas sudah gede malah durhaka, pasti beliau kecewa, kan? Astaghfirullah! Keren juga gue bisa nulis begini!

Mungkin kita semua sudah sering baca atau denger soal cerita Malin Kundang.


Buat yang belum tau, gue ceritain dikit. Jadi, itu kisah yang menceritakan tentang anak yang durhaka kepada ibunya. Si Malin merantau dan berpisah dengan ibunya. Hari demi hari terus berganti, sang Ibu terus menunggu kepulangan si Malin, tapi si Malin tak kunjung pulang hingga bertahun-tahun.

Suatu hari, Malin akhirnya pulang. Tapi, Malin Kundang yang sekarang sudah ganteng dan koaya roaya. Ibunya dengan penuh suka cita menyambut kedatangan si Malin. Bukannya senang bertemu dengan Ibunya, dia malah gak ngakuin ibunya yang miskin. Jelas ibunya kecewa dong, ya? Karena kecewa, dengan the power of emak-emak, si Ibu mengutuk Malin menjadi…

[spoiler alert]

Pemuda Ini Disuruh Bugil, Alasannya Bikin Netizen Geleng-geleng Kepala

Setelah takut dengan ‘kutukan’ angka 23, ternyata hasil tesnya sesuai harapan gue, alias gue lolos ke tahap selanjutnya. Uhuy!

Tes selanjutnya adalah tes kesehatan alias medical check up (MCU) dan psikiatri. Jarak antara pengumuman dan tes selanjutnya sekitar 3 minggu, jadi dalam waktu 3 minggu itu gue jadi rajin jogging, berusaha tidur di bawah jam 12 malam, makan wortel. Pokoknya biar sehat aja gitu.

Setelah 3 minggu melaksanakan kegiatan penuh pencitraan itu, akhirnya hari yang ditunggu-tunggu pun datang juga. Bagi gue, selama pencarian kerja, ini pertama kalinya gue tes kesehatan. Jadi, ya… gue deg-degan lah! Takut dibius tanpa sadar, terus dipegang-pegang, terus divideoin dan disebar di internet. Hmmm… kayaknya gue kebanyakan nonton fake hospital, deh.

Pukul 7.10 pagi gue sampai di rumah sakit yang sudah ditunjuk untuk tes kesehatan ini. Menurut pengumuman, tesnya sih mulai pukul 8 pagi. Di parkiran ada beberapa orang yang berpakaian sama seperti gue; kemeja putih-celana hitam-pantofel, khas pengangguran orang lagi cari kerja. Gue ikuti langkah mereka menuju sebuah gedung. Tiba-tiba setan di kepala gue kayak bisikin gitu, “Sliding tackle mereka dari belakang biar mereka cedera dan gagal di tes kesehatan!”

Untungnya iman gue kuat. Gue langsung zikiran. Niat jelek itupun hilang.

Sampai di dalam gedung, kami bertemu security yang mengarahkan kalo tesnya di lantai 3. Kami segera menuju lift dan masuk ke dalamnya. Beberapa detik kemudian lift yang membawa kami ke lantai 3 terbuka dan… UDAH RAME ANJER!

Gue segera mengambil formulir dan mengambil nomor antrian. Gue dapet nomor 39. Gila nih, jam 7 pagi aja sudah dapet nomor 39, yang dapet nomor 1 itu nginap apa gimana?!

Gue pun mengisi formulir tadi dan mencari tempat duduk. Oiya, malam harinya, mulai pukul 8 malam, kami sudah disuruh untuk puasa makan dan hanya diperbolehkan minum air putih. Entahlah gue bakal dipanggil jam berapa dan nambah berapa jam lagi puasanya.

Pukul 8 pagi, satu per satu nomor antrian mulai dipanggil. Gue ngobrol-ngobrol dan kenalan dengan beberapa peserta tes di situ, mulai dari pertanyaan standar soal nama dan posisi yang kami pilih, sampai hal penting kayak ‘ntar diapain aja, ya?’

Lalu ada yang mulai cerita, dia sebenernya sudah punya pekerjaan, terus nyoba-yoba rekrutmen ini dan lolos, jadi dia sudah pernah MCU sebelumnya, katanya entar di salah satu tahapan disuruh bugil untuk pemeriksaan hernia dan ambeien.

“Bu-bugil?” Tanya gue.

“Iyalah. Terus biasanya sih entar pantat kita ditusuk pake alat gitu.” Lanjut dia.

“Di…tusbol?” Tanya orang yang duduk di sebelah gue. “Gak perjaka dong kita entar?! Disodomi, cuk!”

“Ya… emang gitu. Terus biasanya sih kayak di-korek gitu.”

“ANJER NGILU! FAAAK!!!”

“Te-terus, tau enggaknya ambeien dari mana?” Tanya gue.

“Kalo kamu teriak kesakitan, nah berarti ambeien. Kan kalo ambeien ada benjolan gitu di sekitar lubang 'itu'.” Jawab dia.

Oke. Kalo pas ditusbol gak merasa sakit berarti gak ambeien, tapi itu juga bisa berarti… sudah terbiasa ditusbol. Karena sesehat-sehatnya orang, kalo ada ‘benda asing’ nyasar ke ‘situ’, pasti teriak juga, lah!

Pukul 10.20 akhirnya nomor urut gue dipanggil. Gue segera menuju meja registrasi, menyerahkan nomor antrian, menyerahkan formulir yang gue isi di awal tadi, menyerahkan undangan tes, menyerahkan mahar, ijab Kabul, sah menikah. *lho*

Di meja registrasi itu gue diberi formulir lagi untuk diisi, lalu diberi daftar tes apa saja yang musti gue lakukan beserta nomor ruangannya, lalu juga disuruh pilih mau makan apa. Pilihannya ada 4: nasi goreng, burger, sandwich, roti bakar. Asoy, ya? Kirain bakal dikasih makanan rumah sakit alias bubur. Setelah itu gue menandatangani daftar hadir dan ternyata peserta tesnya… 87 orang.

MAMPUS YANG URUTAN TERAKHIR!

UNTUNG PAKE NOMOR ANTRIAN BUKAN BERDASARKAN ABJAD!

KALO ENGGAK, GUE YANG TERAKHIR!

Tes pertama: ambil darah, tes urine, anjer pipisnya over capacity! Beres.

Tes kedua: pemeriksaan berat dan tinggi badan, tekanan darah dan suhu badan. Lalu tes buta warna dan tes mata.

“Sehari-harinya pake kacamata?” Tanya si dokter.

“Enggak, Dok. Masih normal kayaknya ini.”

Jadi, gue duduk, dipakein kacamata, di hadapan gue ada dinding yang jaraknya lumayan jauh dari tempat gue duduk, kira-kira... 50 kilometer lah. 

Di dinding itu ada deret huruf dan gue disuruh baca. Ukuran hurufnya ganti-ganti, kadang kecil, kadang gede, kadang 36B. Tiap kali merasa susah baca, akan ditambah atau dikurangi lensanya.

Hasil tesnya: GUE MINUS SODARA-SODARAAAA. Mata kanan gue minus 0.75, mata kiri 0.5. Yah, kayaknya gue musti sering-sering makan wortel nih biar sehat.

Tes ketiga: rekam jejak jantung.
Bukan, ini gue bukannya disuruh nelan kamera untuk merekam aktivitas jantung gue. Gue masuk ke ruangan si dokter. Kemudian si dokter menurunkan letak kacamatanya, menatap gue dengan tajam. “Buka bajunya, lalu baring di tempat tidur.”

Terus gue nurut-nurut aja. Gue buka baju, baring di kasur. Dada gue digrepe diusap dengan kapas yang kayaknya sudah dikasih alkohol gitu di beberapa titik. Ada rasa dingin setelah diusap pakai kapas tadi. Lalu badan gue dipasangi beberapa kabel di titik-titik yang terasa dingin tadi. Gue sudah kayak bahan percobaannya dokter franskenstein. 


Lalu gue disuruh bernafas secara normal, jangan panik, jangan mencret, biasa aja. Terus ya… udah. Hasilnya keluar. Selesai. Pake baju lagi.

Tes keempat: rontgen
Gue masuk ke ruangan rontgen, disuruh buka baju lagi, lalu disuruh memegang semacam ‘papan’ gitu yang ukurannya se-badan gue, lalu disuruh hadap tembok. lalu… udah.

CEPET BANGET!

Tes kelima: sarapan
WAINI YANG PALING DITUNGGU-TUNGGU! SUDAH PUASA HAMPIR 15 JAM! LAPAR, BOS!

Jadi, waktu sarapan ini dicatat dan 2 jam kemudian gue sudah musti ambil darah lagi. Inilah kenapa gak ada menu soto babat ataupun kambing guling.

Tes keenam: Gue lupa namanya apaan, pokoknya ini tes yang disuruh bugil. :v

Abis sarapan seharusnya gue kenyang, lah ini apaan, gue deg-degan! Gue teringat obrolan pas tadi pagi. Soal ditusbol. Pantat gue langsung deg-degan.

Satu hal yang patut gue syukuri saat itu adalah ruang tesnya dibedakan antara cowok dan cewek. Jadi, peserta tes cowok bakal diperiksa oleh dokter cowok, begitupun sebaliknya. Bayang-bayang fake hospital langsung sirna.

Setiap kali ada cowok yang keluar dari ruangan dokter, gue jadi makin deg-degan. Dia keluar dengan langkah berat, tatapan kosong, seperti hidupnya beda setelah keluar dari ruang itu.

Setelah gue menunggu kurang dari satu jam, seorang dokter keluar dari ruangannya dan menyebut nama gue. Gue menarik nafas dalam-dalam, lalu berdiri dari sofa menuju ruangan si dokter, diiringi doa oleh peserta tes lain yang duduk bareng gue tadi.

Gue masuk, lalu dipersilakan duduk, ditanya-tanya soal riwayat penyakit yang gue dan keluarga gue punya. Setelah ngobrol-ngobrol bentar, bagian gak enaknya dimulai nih.

“Silakan buka bajunya, lalu baring di kasur.” Kata om dokter.

Gue langsung buka baju gue. Setelah bertelanjang dada, gue mengarahkan tangan ke ikat pinggang gue.

“Celananya nanti.” Cegah si dokter. “Sabar.”

“….”

Gue langsung naik ke kasur, berbaring. Om dokter kemudian menekan di beberapa titik di badan gue. Dari atas menuju bawah. Kayaknya sih jantung, hati, lambung, titit.

“Oke, sekarang duduk menghadap saya.” Kata om dokter sambil menyalakan senter.

Lalu beliau menyenteri mata, telinga dan mulut gue. Mencatat beberapa poin, entahlah apa yang ditulis gue enggak tau.

“Silakan turun dari kasur.” Om dokter ngeloyor pergi meninggalkan gue. “Lalu buka celananya untuk pemeriksaan hernia dan ambeien.”

WAH INI BAGIAN GAK ENAKNYA.

Dengan berat hati, gue mulai membuka ikat pinggang gue, lalu memisahkan kancing celana gue yang awalnya terpasang erat, menurunkan ritsliting dan membiarkan celana gue turun sendiri. Suara kepala ikat pinggang gue yang menghantam lantai terdengar syahdu.

Om dokter kembali menemui gue, lalu menatap ke arah bawah, arah anaconda gue. “Hmmmm… itu celana dalamnya juga diturunkan.”

“Ehehehe.”

USAHA GUE UNTUK TIDAK BUGIL GAGAL SODARA-SODARA.

Dengan sangat terpaksa akhirnya pertahanan gue satu-satunya bobol juga. Celana dalam gue ikut turun. Ini untuk pertama kalinya gue bugil di depan cowok. Si om dokter menatap sebentar, lalu memberikan komentarnya.

“Yoga, titit kamu bagus, mantap dan cerdas! KOMPOR GASSSS!”

Oke, enggak gitu. Beliau cuma bilang, “Oke, sekarang hadap samping.”

Gue nurut. Om dokter kembali memperhatikan dengan seksama. “Sekarang balik badan dan… nungging.”

NUNGGING, CUY!

BAGIAN PALING GAK ENAK DARI BAGIAN GAK ENAKNYA DIMULAI NIH.

Karena gue pengin tes ini cepet selesai, yaudahlah gue balik badan dan sedikit membungkukkan badan. Suara sarung tangan karet yang terpasang terdengar di telinga gue. Gue gak berani noleh ke belakang, gue bener-bener berusaha fokus untuk gak teriak, apalagi mendesah.

“Oke, sudah. Silakan pakai lagi celananya.” Kata om dokter.

“Su-sudah, Dok?” Tanya gue.

“Iya, sudah.”

“Cepet amat! Gak berasa!” Gue ngomongnya dalam hati. Takut aja dokternya ngira gue minta ditusuk lagi.

Om dokter kemudian membuang sarung tangannya ke tempat sampah, lalu kembali ke mejanya, sementara itu gue kembali berpakaian dan segera menuju meja si dokter. Beliau kemudian mengecek tes apa saja yang sudah gue lalui seharian ini dan ternyata sisa 1 tes lagi.

“Ini tinggal ambil darah lagi baru selesai. Jam berapa tadi sarapan?” Tanya beliau.

“Setengah sebelas, Dok.”

Beliau menatap jam tangannya. “Berarti tunggu 40 menit lagi, ya.”

Gue mengangguk, ijin untuk keluar ruangannya sambil mengucapkan terima kasih.

Tes ketujuh: tes darah kedua.
Setelah menunggu 40 menit sambil ngobrol-ngobrol, gue masuk ke ruangan yang sama saat pertama kali ambil darah. Jika sebelum sarapan gue diambil darah melalui lengan kanan, kali ini lengan kiri gue jadi sasaran.

Semua tes kesehatan sudah gue lalui, gue menyerahkan check-list tes yang sudah gue lalui ke meja registrasi di awal, lalu diperbolehkan pulang. Sekitar pukul 12.45 gue pulang meninggalkan rumah sakit.

*****

Besoknya, gue lanjut tes psikiatri. Ini semacam tes kepribadian gitu. Cuma disuruh jawab pertanyaan dengan jawaban ‘iya’ atau ‘tidak’ aja.

Kelihatannya gampang dan gak mungkin ada hambatan, kan? Oh, jangan salah!

Sampai di ruangan tesnya bersama ke-87 peserta lain, gue dibikin pusing.
1. Soal tesnya ternyata menggunakan LJK dan musti diisi pakai pensil 2B.
2. Gue gak bawa kotak pensil karena di pengumumannya disuruh bawa pulpen. Namanya juga cowok, ada pulpen sebiji di dalam tas juga udah bagus.
3. Untungnya ada pensil 2B sebatang di tas gue, tapi penggaris buat hitamin LJK-nya gak ada
4. Soal tesnya 565 soal
5. Waktu tesnya 2,5 jam

Akhirnya gue hitamin LJK secara manual. Awalnya lancar-lancar aja, tapi lama kelamaan tangan gue sakit. Gue noleh ke belakang, waktu sisa 30 menit lagi dan gue masih kurang 100-an soal lagi.

Jika di awal gue menggunakan metode baca soal, hitamin jawaban. Kali ini gue mengganti strategi. Baca soal, titikin jawaban, baca soal selanjutnya, hitaminnya belakangan. Cara ini lumayan efektif, dalam 10 menit, 100 soal tadi selesai di angka 564.

LAH. KELEWAT SATU SOAL INI MAH!

Gue kembali telusuri soal dan jawabannya, ternyata bener, gue kelewat 1 soal yang berbunyi: “Apakah anda pengguna marijuana (ganja)?”

Dan jawaban gue: “IYA”

Untung gue teliti dan segera mengganti jawaban gue, kalo enggak, pasti gue lagi diperiksa BNN dan postingan ini enggak bakal ada. Lima menit sebelum waktu tes selesai, gue mengumpulkan lembar jawaban gue, istirahat sebentar lalu pulang.

Yah, doakan aja gue lolos lagi ke tahap selanjutnya. Perjalanan gue masih panjang sih. Sekarang, yang bisa gue lakuin cuma berdoa.






---
sumber gambar:
https://www.kaskus.co.id/thread/583bf55556e6af4b2c8b456a/ini-dia-cara-efektif-menghentikan-kebiasaan-makan-banyak/
http://harga.web.id/info-terbaru-biaya-tes-rekam-jantung-elektrokardiogram-ekg.info

Pecinta Kopi, Jangan Sampai Melewatkan 5 Kedai Kopi Paling Top di Yogyakarta


Photo credit: pegipegi.com
Entah kenapa, ngopi selalu diidentikkan dengan yang namanya sumber inspirasi. Penulis maupun blogger terkenal selalu meng-upload foto di sebuah café, di atas mejanya ada laptop, bersebelahan dengan secangkir kopi. Seakan-akan kurang afdol rasanya kalo nulis enggak sambil ngopi. Padahal, inspirasi menulis itu gak hanya dari ngopi, bisa dari mana aja. Dari hal-hal yang ada di sekitar kita, cerita teman terdekat bahkan travelling.

Selain Bandung, Yogyakarta selalu menjadi destinasi impian gue untuk liburan. Enak kali ya kalau jalan-jalan ke Yogyakarta, lalu tiap harinya mampir ke kedai kopi untuk menulis cerita jalan-jalan hari itu.

Berkunjung ke Yogyakarta berarti kalian sudah siap untuk melupakan sejenak kesibukkan atau kepenatan beban pikiran kalian. Kota Yogyakarta memang seakan memiliki pesona tersendiri yang terasa sangat dekat dengan ikatan batin seseorang. Dari mana asal kalian, pasti akan selalu ada rasa tertinggal yang membuat kalian ingin kembali lagi ke Kota Pelajar ini.  Yogyakarta memang memiliki beragam jenis objek wisata yang bisa kalian kunjungi, mulai dari wisata alam, budaya, sejarah, dan juga lainnya. Semua hal yang kalian temukan di Yogya, pasti akan terasa begitu bermakna dan tidak tergantikan meskipun kalian menemukan wisata serupa di daerah lain. Bahkan turis mancanegara pun rela mengeluarkan biaya lebih hanya untuk kembali ke Kota ini.

Menjadi salah satu kota tujuan utama wisata di Indonesia, tentunya Yogyakarta memiliki akomodasi memadai untuk para wisatawan termasuk penginapan, villa, resort, dan hotel. Selain terkenal dengan kuliner khas Gudeg, di Yogyakarta kalian juga bisa menemukan banyak pilihan tempat untuk ngopi yang bisa membuat kalian para pecinta kopi semakin cinta dengan kota ini. Tidak hanya banyak, kedai-kedai kopi di Yogyakarta ini pun masih bisa dibanderol dengan harga yang cukup murah dan juga memiliki desain kafe yang unik dan menarik. Lalu, apa saja tempat ngopi paling seru di Yogyakarta yang bisa kalian kunjungi?

That Awkward Moment...

Kayaknya penyakit lama gue kumat: abis lebaran lupa kalo punya blog. Hahahaha!

Iseng-iseng ngecek blog sendiri, update postingan terakhir bulan lalu, menjelang lebaran. Terus belum balas-balasin komen, belum blogwalking balik, belum dapet kerja. Sedih pokoknya.

By the way, kok rasanya agak awkward gini, ya? lama gak posting, terus tau-tau sok asik nulis gini. Sama awkward-nya kayak pas ketemu pacar lagi gandengan sama cowok lain di mall, padahal tadi bilangnya lagi tiduran di kamar.

Dan yeah, gue bingung mau nulis apaan nih. Hahaha! Sialan! Ada beberapa draft tulisan lama yang gak selesai diketik, mau gue lanjutin tapi feel-nya beda, mau nulis cerita baru, belakangan ini gak ada kejadian seru. Jadi, sekian postingan kali ini. *digampar*

Yaudah, gue nulis asal aja deh, ya?

Barbershop Story - Ternyata Sama Aja


"Kenapa sih kok cowok-cowok sekarang potongan rambutnya sama semua? Klimis gitu.” Pertanyaan itu meluncur dari temen gue yang berjenis kelamin cewek.

Sadar kalo rambut gue sekarang modelnya begitu juga, gue mencoba menjawab dengan diplomatis. “Ya… karena trendnya gitu.”

Abis jawab gitu, gue malah jadi mikir sendiri, “Bener juga, ya? model rambut cowok sekarang rata-rata sama semua.” Terus gue jadi inget-inget dan mencoba menganalisis kenapa bisa begitu. Setelah berpikir keras sambil menghitung estimasi pada tahun berapa Indonesia bebas dari hutang luar negeri, gue menemukan jawabannya: Ini semua karena barbershop.

Potong rambut di barbershop, selain meningkatkan gengsi, biasanya kang cukurnya juga paham dengan model rambut yang lagi ngetrend dibandingkan dengan tempat cukur biasa. Model rambut yang ngetrend biasanya: undercut, jarhead, pompadour.

Bandingkan dengan tempat cukur biasa, cuma ada deretan foto top's collection, ujung-ujungnya kita cuma bisa bilang: “Bang, rapiin aja.”

Gak keren.

Di barbershop juga biasanya lebih terkesan ekslusif. Mereka jual pomade, AC dan TV kabel sebagai fasilitas, dan biasanya selesai cukur bisa keramas. Jadi gak perlu tuh kepala gatel gara-gara potongan-potongan rambutnya nyelip di helm.

Jamaah Belum Siap


Saat bulan Ramadan, satu hal yang biasanya gak mau gue lewatkan adalah salat tarawih di masjid. Apalagi salat tarawih di hari pertama. Walaupun bakal salat tarawih desak-desakan karena masjid yang penuh, kalo gak salat tarawih pas hari pertama, bulan Ramadan terasa hambar aja gitu.
Begitu pun dengan bulan Ramadan tahun ini.

Seperti sebuah tradisi, gue tentunya gak bakal melewatkan momen salat tarawih hari pertama tahun ini.

“Salat tarawih di mana entar?” Tanya kakak gue. Setelah bertahun-tahun dinas di luar kota, tahun ini akhirnya dia kembali ke kota asalnya dan bisa puasa bareng keluarga.

Gue diem sebentar. Memikirkan akan salat tarawih di mana malam ini.

Jadi, di deket rumah gue ada beberapa masjid. Ada sekitar 4 masjid dan baru 2 masjid aja yang pernah gue kunjungi untuk salat.

23

Gue yakin setiap orang punya angka favoritnya masing-masing. Misalnya aja gue yang menjadikan angka 4 sebagai angka favorit gue karena gue lahir tanggal 4. Selain angka 4, gue juga suka beberapa angka besar yang menurut gue keren aja gitu, apalagi kalo dijadiin nomor punggung jersey sepakbola. Misalnya: 16, 23, 38, 44, 69.

Apalagi angka terakhir, favorit!

Pas kelas 2 SMA dulu, anak-anak cowok kelas gue berencana membuat jersey futsal kelas. Sebagai anak cowok yang skill futsalnya cuma sebagai pemain cadangan yang masuk kalo pemain inti sudah mau pingsan, tentunya gue memilih nomor jersey yang gede, bukan nomor-nomor ‘keramat’ kayak 7, 8, 9 atau 10. Masa udah keren-keren nomor punggung 10, tapi duduk doang jadi cadangan? Captain Tsubasa pasti sedih kalo tau hal ini!

Saat itu gue sengaja pilih nomor 16, bukan nomor 4, alasannya simple: nomor 4 itu identik sama posisi bek. Nah, gue enggak suka jadi bek karena jarang bisa nyetak gol, terus kalo gawang tim kebobolan, kita yang disalahin. Kurang bangkai apa coba? Jadi, dengan mantap gue pilih nomor 16! Sialnya, temen gue, Bima, juga pengin pake nomor itu. Dan si Bima, pemain inti kelas gue.

Barbershop Story - Tunggu, ya...

Awal bulan ini gue baru aja potong rambut.

Sebenernya gue selalu malas untuk potong rambut. Entah kenapa tiap kali bercermin, gue selalu lebih suka rambut gue agak gondrong dibandingkan pendek, rapi dan klimis. Gue jadi kurang percaya diri karena menurut gue, rambut pendek dan rapi itu tidak cocok dengan kontur kepala dan struktur wajah gue. Atau dengan kata lain, rambut pendek mengurangi tingkat kegantengan gue yang sudah minus ini.

Alasan lain yang bikin gue malas untuk potong rambut adalah… malas antre.
Bagi sebagian orang, hal paling membosankan di dunia ini adalah menunggu. Entah menunggu antrean, menunggu panggilan kerja, sampai menunggu gebetan putus dari pacarnya. :’)

Gue sendiri termasuk golongan orang-orang di atas. Bukan, gue bukan golongan orang-orang yang nunggu gebetan putus dari pacarnya. Gue golongan orang yang gak suka menunggu.

Makanya, tiap mau potong rambut, gue selalu pergi ke barbershop tiap abis maghrib. Menurut gue, ‘abis maghrib’ itu adalah jam di mana enggak terlalu banyak aktifitas yang terjadi di luar rumah. Jadi, gue menyimpulkan kalo barbershop yang gue tuju pasti sepi. Bebas dari antre. Happy ending! ^_^

Dasar Majikan Jahat!

Dear hooman...

Di sini, aku, si Blaszczykowsky mau cerita lagi dikit.


Hmmm… sepertinya hasil membajak blog ini sebelumnya cukup sukses, ya? aku bacain komentar-komentar yang masuk di tulisanku itu. Ada yang bilang tulisanku lebih bagus daripada tulisannya si Yoga, ada minta aku aja terus yang nulis di blog ini, sampai-sampai ada yang bilang begini.


Yoga ngeblog dari tahun 2011 seumur-umur belum pernah dikomentarin begitu, aku baru sekali ngepost udah dapet komen begitu. Mhihihihi….

Blaszczykowsky 1 – 0 Yoga.

Tapi, ya aku bingung juga sih musti seneng atau sedih pas baca komentar yang masuk. Seneng karena enggak nyangka aja banyak yang suka sama tulisanku, sedih karena… gara-gara komentar itu, jatah makanku dikurangin sama Yoga! Dia iri dan dengki sekali sama aku.

Kalo biasanya aku makan 3x sehari, setelah tulisan itu terbit, aku cuma dikasih makan 2x. Itupun porsinya dikurangin setengah. Jangankan bikin kenyang, buat ngotorin gigi aja gak berasa.

Cerita Saat Pulang Sekolah

Tadi dari balkon rumah gue ngeliat gerombolan anak SMP pulang sekolah dengan cara jalan kaki.

Sebuah pemandangan yang kayaknya sudah jarang banget gue liat dalam beberapa tahun ke belakang. Soalnya, sekarang ini gue lebih sering ngeliat anak SMP pulang sekolah naik tank. 

Ya enggaklah! 

Naik motor motor maksud gue, padahal kan secara hukum seharusnya mereka belum boleh.
ASTAGHFIRULLAH. POLISI MANA POLISI?!
Anak-anak SMP itu harusnya pulang sekolah kalo gak naik angkutan umum, dijemput orang tua/ojek, ya… jalan kaki. Apapun alasannya, mereka belum boleh mengendarai sepeda motor sendiri. Entah karena emang skill mengendarai motornya udah kayak Valentino Rossi atau emang orang tuanya yang terlalu memanjakan anaknya, menurut gue anak SMP yang mengendarai motor itu salah. Apalagi dia naik motornya dengan posisi kayang.

Selain gak suka dengan anak SMP yang naik motor, gue juga jadi kasihan sama mereka. Kasihan dalam artian mereka enggak bisa merasakan kenikmatan pulang sekolah berjalan kaki.

Ketika memutuskan pulang berjalan kaki, ada banyak cerita dan kegiatan yang muncul. Bandingkan dengan naik motor? Paling ceritanya cuma ban bocor, kehabisan bensin, ditabrak tronton. Udah! Gak seru!

Gue sendiri dulu pas SMP pulang sekolah ya jalan kaki. Padahal jarak SMP dengan sekolah gue itu jauh. Kalo di usia sekarang gue disuruh jalan kaki dari SMP ke rumah, baru setengah jalan juga gue bakal order ojek online. Hebatnya kok dulu gue kuat, ya?

Dari SMP yang letaknya ada di sekitar perumahan, kami akan berjalan ke luar menuju jalan umum, lalu menyebrang dan berjalan melewati pasar, setelahnya kami akan berjalan lurus mengikuti jalan hingga kami akan berpisah satu per satu karena emang rumah kami semua se-arah tapi beda daerah perumahan.

Serius, gue kalo lagi naik motor kadang suka mikir, “Dulu kemana-mana jalan kaki, kok kuat ya? Sekarang mah biar naik motor aja masih kerasa capek.”
pulang sekolah jalan kaki
Gue jadi flashback ke masa SMP gue dulu dan sepertinya mendapatkan jawaban dari pertanyaan gue tadi. Mungkin alasan kenapa dulu gue kuat jalan kaki ya karena gue selalu pulang beramai-ramai bersama teman gue. Jadinya sepanjang jalan menuju rumah kami saling bertukar cerita atau melakukan banyak kegiatan bodoh, kayak gini…

Barbershop Story - Basa-Basi Macam Apa Ini?!


Gue kadang iri sama orang yang punya kemampuan untuk gampang akrab sama orang lain yang baru aja ditemui, apalagi orangnya jauh lebih tua dari usia kita. Temen gue, Dana, dia gampang banget akrab dengan orang tua, baik orang tua gue, orang tua pacarnya atau orang tua di bungkus wafer tango.

Orang-orang tipe ini selalu aja gampang menemukan topik yang bisa dijadikan bahan pembicaraan, walaupun cuma basa-basi doang.

Jujur, gue paling gak bisa ngobrol sama orang tua gitu. Paling hanya basa-basi di awal, lalu yaudah… diem kayak gambar jpeg.

Orang-orang seperti gue ini jika diajak ngobrol sama orang yang lebih tua, jawaban yang gue punya hanya:
1. Iya hehehe
2. Oh hahaha
3. Ehe

Sebenernya gue bukannya gak bisa. Bisa sih, tapi takut salah dalam memilih kata dan salah topik pembicaraan. Misal nih gue jemput pacar lalu ketemu bokapnya si pacar dan diajak ngobrol. Mau ngomongin sepak bola (karena biasanya laki-laki suka sepak bola), takut beda tim favorit. Mau ngomongin politik, takut beda pandangan politik. Mau muji anaknya dengan kalimat, “Anak om leh uga…” takut digampar. :(

The Trickster

"Mayor, please…”

Kami semua diam, menatap Joni dengan datar. Sesekali salah seorang dari kami menggelengkan kepala, tidak percaya dengan semua argumen dia. Kami semua yakin bahwa dia adalah pembunuh yang kami cari selama 2 malam terakhir.

“Tolong, mayor…” mohonnya lagi. “Kalian salah orang! Aku orang baik.”

“Jangan percaya, mayor! Pasung aja! Bakar!” Ucap Irfan penuh semangat.

“Pasung atau bakar, nih?” Tanya sang mayor. “Yang konsisten, dong!”

“Pasung, lalu bakar!” Irfan menjawab dengan lantang.

Aku menatap pimpinan desa ini alias sang mayor, Febri, dia menatap Joni dengan tajam. Bibirnya ia gigit, lalu membuang pandangannya ke luar. Joni memasang tampang memelas, sorot matanya meminta belas kasihan dari sang mayor.

“Gak! Aku gak percaya! Eksekusi dia!” Tunjuk Febri ke arah Joni.

“YEAAAH! BAKAAAR!!!” Seluruh penduduk desa tampak senang dengan keputusan Febri sang mayor.

Wajah Joni menjadi pucat pasi.

Dengan penuh semangat puluhan warga desa menggiring Joni ke ujung desa, melewati hutan yang tak terawat. Pohon tua dan rumput menjuntai tinggi menjadi pemandangan yang mengerikan. Langkah penduduk desa terhenti di sebuah batang pohon tua yang besar sekali. 


Pohon itu adalah tempat para warga desa mengeksekusi warga yang bersalah. Sang tersangka akan dipasung ke sebuah dahan yang runcing, tepat di bagian jantungnya, kemudian tubuhnya diikat dan dibakar habis. Tulang dan abu sisa seorang warga yang dieksekusi kemarin tampak berserakan di samping akar yang besar.

Dua orang warga desa bertubuh besar mencengkram kedua tangan Joni yang masih berusaha melepaskan diri. Mereka siap menggangkat tubuh Joni dan memasungnya.

Penduduk desa mulai menyirami bensin ke tubuh Joni dengan penuh semangat, seakan-akan Joni adalah tumbuhan dan bensin adalah airnya. Febri selaku mayor berdiri paling depan dengan obor menyala di tangannya.

“Ada kata-kata terakhir?” tanyanya.

Dear Hooman

Meow!

Oh maaf, sepertinya aku musti pakai bahasa manusia untuk menyapa pembaca blog ini (itu pun paling yang baca udah diancam aib keluarganya bakal diumbar). Jadi, aku ulang deh.

Halo!

Aku cuma mau ngasih tau kalo saat ini, blog ini statusnya adalah sedang aku bajak. Yoganya sudah aku kunciin di tempat yang paling aku benci, yaitu kamar mandi. Lagian dia lama banget di kamar mandi, habis-habisin sabun aja.

Sesuai dengan salam yang kuucapin pertama tadi, kalian pasti tau siapa aku. Belum tau? Baiklah, aku adalah seekor kucing peliharaan Yoga bernama Black, Nama asliku sebenarnya adalah Item, tapi karena terdengar kampungan, namaku diganti menjadi Blaszczykowsky, lalu diganti lagi menjadi ‘Black’, biar gampang disebut dan mengurangi risiko lidah keseleo.

Psikotes Oh Psikotes

Menjadi sarjana yang salah jurusan itu ternyata bisa fatal banget. Saat mencari kerja, jadi susah banget. Karena jurusan yang dipilih enggak sesuai minat dan gak pengin terjebak di dunia kerja yang salah juga, saat mencari pekerjaan, mau enggak mau ya harus mencari lowongan kerja yang sesuai minat tapi persyaratannya adalah menerima semua jurusan.

Dan itu sulit banget.

Satu lagi, gue lah sarjana salah jurusan itu.

Dengan gelar sarjana pendidikan ekonomi ini, seharusnya gue melamar pekerjaan sebagai guru. Entah kenapa, jiwa gue bilang kalo gue gak bakal cocok jadi guru. Gue pernah mengajar sebelumnya (saat magang), asik sih sebenernya, tapi… kok rasanya bebannya berat banget.

Masa depan puluhan anak-anak polos di sekolah itu di tangan gue. Salah-salah ngasih ilmu bisa-bisa mereka malah tersesat. Harusnya gue kasih ilmu ekonomi, malah gue kasih ilmu kebal. Kan bahaya. Entar makin banyak Limbad di Indonesia.

Kebimbangan di hati gue itulah yang mendorong gue untuk melamar kerja tidak sebagai guru. Gue yakin, masa depan bangsa ini akan menjadi lebih baik karena keputusan gue ini. Gue juga yakin, Pak Anies Baswedan pasti sedih kalo baca tulisan ini.

Posisi atau pekerjaan yang gue incar jelas yang berhubungan dengan ekonomi, biar ilmu gue gak terlalu mubazir, selain itu gue juga mengincar posisi ODP (Officer Development Program) atau MT (Bukan, ini bukan Mario Teguh, tapi Management Trainee). Biasanya bank atau perusahaan gitu yang membuka lowongan seperti ini. Kedua posisi itu intinya adalah kalo gue keterima, gue bakal training selama 1 tahun, lalu lulus dan jadi manager. Pokoknya jabatannya lumayan tinggi gitu. Gue juga enggak terlalu paham sih, ini juga dikasitau sama temen gue.

***

Malam itu gue dapet sebuah e-mail yang memberitahukan bahwa gue lolos seleksi berkas. Gue baca baik-baik e-mail tersebut, kata demi kata.

Kepada Yth.
Bapak/Ibu Peserta Tes Management Trainee

Kami dari PT. XXX mengucapkan SELAMAT ANDA LOLOS tahap seleksi berkas. Kami mengundang Bapak/Ibu untuk mengikuti seleksi tahap berikutnya yaitu psikotest dan FGD yang akan dilaksanakan pada:
….

Gue langsung jerit kegirangan! Lari mengitari lapangan sambil selebrasi buka baju.

Gimana gak girang coba kalo gue lolos seleksi berkas untuk posisi MT, cuy! EM TE!!! MARIO TEGUH, EH MANAGEMENT TRAINEE!!!

Lima detik kemudian gue langsung googling: APA ITU FGD YA ALLAH?!

Setelah googling dan akhirnya menemukan titik terang bahwa FGD itu adalah Focus Group Discussion yang artinya adalah… bentar, gue buka google translate dulu.

Oke, jadi FGD sendiri merupakan sebuah kelompok diskusi yang terdiri dari 6 sampai 8 orang dalam sebuah ruangan dan duduk membuat lingkaran. Mereka akan mendiskusikan sebuah topik yang diberikan oleh HRD atau moderator FGD dalam kurun waktu tertentu. Serta dalam FGD, biasanya moderator juga, dibantu oleh seorang penilai atau notulen (red-perusahaan/HRD).

Sampai di sini gue takut, karena gue gak pernah melakukan FGD sebelumnya. Saat di kampus, dosen gue gak pernah menggunakan metode FGD. Paling banter juga presentasi kelompok, itupun yang ngasih pertanyaan juga hasil kongkalikong sebelum kelas dimulai.

Mahasiswa yang mau presentasi: “Ntar kalian Tanya ini, ya.” *ngasih kertas pertanyaan yang jawabannya sudah terekam jelas di otak*

Mahasiswa yang jadi penonton: “Oke! Biar sama-sama dapat nilai!”


Gue pun berusaha tenang, berpikir keras perihal FGD ini, lalu menyimpulkan bahwa poin penting dari FGD adalah kita bisa memecahkan suatu masalah, yang artinya adalah gue musti punya ilmunya, biar gak asal ngasih solusi.

Gue segera bongkar rak buku gue, mencari buku ilmu manajemen gue saat kuliah semester 2 lalu, kemudian gue belajar. Membaca dari awal buku ilmu manajemen yang tebalnya bisa dipakai untuk membuat sapi gegar otak gue lakuin, demi suksesnya gue saat FGD.

Psikotes? Gampang! Beberapa minggu sebelumnya gue sempet ikut psikotes juga di suatu perusahaan dan lolos, tapi gagal di interview terakhir. Jadi, psikotes itu gampang lah, ya?

***

Pukul setengah 9 gue tiba di tempat tes. Dari parkiran sudah ada beberapa orang yang gue yakini adalah satu spesies seperti gue, yaitu pencari kerja. Jumlah mereka ada sekitar 5 orang. Setan di kepala gue tiba-tiba muncul dan bilang, “Mereka sainganmu, ayo celakakan mereka! Sliding tackle satu per satu biar mereka tidak bisa ikut tes! Lumayan sainganmu akan berkurang!”

Untungnya malaikat segera menyadarkan gue.

“Jangan lalukan itu Yoga. Ingat, rezeki itu sudah ada yang mengatur. Ingat juga, kamu pakai pantofel, sepatumu bakal rusak kalo melakukan sliding tackle di aspal. Kamu mau rugi apa?”

Sampai di tempat tes, gue melakukan registrasi, gue lihat-lihat, yang ikut tes ini lumayan banyak. Sekitar 70-an orang.

Gue pun masuk ke dalam ruangan, lalu memilih meja yang letaknya agak belakang. Dinginnya AC membuat gue mengurungkan niat gue untuk melepas jaket. Gue menggosok-gosokkan kedua tangan gue biar hangat. Seorang laki-laki bertubuh tinggi besar duduk di bangku kosong sebelah gue.

“Kosong, Mas?” tanyanya, ramah.

Gue mengangguk. Dia pun duduk, meletakkan tasnya di samping meja. Lalu melihat ke arah gue dan menjulurkan tangannya. “Saya Steve, Mas.”

“Yoga.” Jawab gue.

Lalu diem-dieman. Ya mau ngobrolin apalagi coba? Tapi kalo diem-dieman begini gak enak juga. Entah berapa jam ke depan, dia bakal bersama-sama gue mengerjakan psikotes. Gue musti berinteraksi dengan dia. Tapi, gimana caranya? Gue pengin membuka percakapan dengan mengatakan, “dingin, ya?” tapi takut dianggap kode minta peluk. Akhirnya gue Tanya-tanya aja soal kuliahnya dia. Ternyata dia lulusan universitas kota tetangga, baru lulus 2016 kemaren kayak gue, tapi dia satu angkatan di atas gue. Ternyata dia juga kakak kelas gue pas SMA, tapi gue enggak kenal. Balikpapan sempit, bos!

Kami lalu disuruh mengisi formulir untuk mengikuti tes ini, sambil mengisi formulir, seorang bapak-bapak bertubuh tambun berdiri di atas panggung, dengan mic di tangan, dia berkata, “LET’S MAKE SOME NOISEEEE!!!

Ya enggaklah!

Beliau ternyata adalah orang yang mengirim e-mail, beliau kemudian menjelaskan apa sih MT itu? bagaimana tahapan yang musti dilalui agar terpilih? bagaimana jenjang karirnya? bagaimana kalo yang dibilang teman sama pacarmu itu ternyata selingkuhannya?

Setelah semua penjelasan tadi, tanpa basa-basi, soal pun dibagikan.

Gue berusaha setenang mungkin. Karena katanya poin penting dari psikotes adalah kita musti tenang, gak boleh tegang. Karena kalo tegang bakal bahaya banget, entar yang harusnya mengeluarkan alat tulis, malah mengeluarkan alat vital. Astaghfirullah.

Seingat gue tes waktu itu ada 9 sesi, di mana setiap sesi itu terdiri dari 20 soal dengan berbagai jenis tes. Dan tiap sesi saat itu diberi waktu hanya 6 menit.

Sesi 1 tes pengetahuan umum (ah, gampang!).

Sesi 2 tes persamaan kata (masih gampang!).

Sesi 3 tes hubungan kata. (Gak ada yang lebih sulit nih?)

Sesi 4 tes pengertian kata (Mana soal yang sulitnya woy?)

Sesi 5 tes aritmatika (Hgggg... TADI BECANDA AJA YA ALLAH INI KOK JADI SULIT BENERAN?)

Sesi 6 tes deret angka (Mampus gue! Mampus!)

sesi 7 tes potongan gambar (Ah! Lumayan bisa nih)

sesi 8 tes kemampuan ruang (speechless)

sesi 9 tes menghafal cepat (WAKTUNYA 1 MENIT DOANG NIH?!)

Selesai dengan 9 sesi, otak gue mulai korslet dan mengeluarkan asap. Apakah selesai? Oh belum! Masih ada tes Koran. Bukan, tes Koran ini artinya bukan disuruh untuk menjual Koran, apalagi disuruh membuat karya seni dari bubur Koran. Tapi… disuruh menjumlahkan deretan angka, dari atas ke bawah.
Deretan angkanya kayak gini dan banyak, ini cuma 1/8-nya doang
1 jam kemudian, tes terkutuk itu akhirnya selesai juga. selesai ngerjain tes ini rasanya pengin ngemil bodrex extra. Aslik! Pusing banget kepala gue!

Bapak-bapak tambun tadi kembali berdiri di atas panggung, menjelaskan bahwa tes Koran tadi adalah tes terakhir dari psikotes ini. Kami semua dipersilakan keluar ruangan dulu dan disuruh kembali 2 jam kemudian untuk mengecek hasilnya, jika lolos, baru deh FGD.

Hening.

KIRAIN LOLOS ENGGAKNYA KE TAHAP SELANJUTNYA ITU DARI REKAPAN HASIL PSIKOTES DAN FGD!

Gue keluar ruangan dan memilih untuk mencari makan karena sudah pukul setengah 1 juga. bersama Steve dan temannya (Gue lupa namanya karena orangnya asik sendiri sama hp, mungkin kita namakan saja dia Tukijo), kami bertiga pergi ke sebuah warung yang letaknya enggak jauh dari tempat tes itu.

Sambil makan siang, kami bertukar cerita sudah memasukkan lamaran ke mana aja, bertukar info soal lowongan kerja, lalu bertukar nomor hape. Enggak, gue masih normal. Tukaran nomor hape kan biar gampang infoin kalo ada lowongan. Jangan suudzon begitu, ya!

2 jam kemudian kami kembali ke tempat tes.

Gue lumayan deg-degan walaupun lebih banyak pesimisnya sih, karena soal tesnya emang susah banget. Di sesi aritmatika dan kemampuan ruang gue jawab cuma dikit. YA 20 SOAL DALAM 6 MENIT MANA BISA, YA! BARU MO NGITUNG WAKTUNYA JUGA UDAH ABIS DULUAN! WHY WE FALL IN LOVE WITH PEOPLE WE CAN’T HAVE?!
Sampai di depan ruangan tes yang tertutup, di sana sudah ada beberapa peserta lain yang tampak lemas, sepertinya mereka enggak lolos. Kami bertiga menuju ke depan pintu, di sana tertempel sebuah kertas berisi daftar nama yang lolos untuk FGD dan cuma 5 orang doang. Iya, 5 doang. Ini mau sesi FGD apa main futsal sebenernya sih?

Dari 5 nama itu ojelas… enggak ada nama gue.

Untungnya gak ada nama si Steve dan Tukijo juga. Jadi gak nyesek-nyesek amat pas tau kenyataan bahwa gue gagal. Kami bertiga saling tatap-tatapan, lalu menghela nafas dan mulai berbalik badan, untuk kembali ke parkiran sambil berusaha tegar. “Belum rejeki.”

***

Di perjalanan pulang gue jadi mikir, selain belum rejeki, kayaknya gue gagal karena terlalu meremehkan psikotes dan terlalu fokus untuk FGD. Seharusnya gue fokus di psikotes yang jelas-jelas tahapan pertama yang musti gue lalui. Gue juga enggak berusaha sebaik mungkin padahal jelas-jelas saingan gue banyak. Mungkin karena itulah Tuhan menegur gue, bahwa MT di perusahaan ini bukan rejeki gue.

Baiklah, masih ada panggilan tes kerja lainnya, semoga kali ini rejeki gue.






--
Sumber dan referensi:
http://www.kompasiana.com/febyunsoed/tips-dan-trik-menghadapi-focus-group-discussion-fgd_550d7f71a33311211e2e3b3d
http://saungdejavu.blogspot.co.id/2013/04/tes-koran.html