A Great Story Comes With Great Stupidity : Samarinda: what a day!

Samarinda: what a day!

[Cerita PART. 1]
[Cerita PART. 2]


Cari penginapan di daerah D.I Panjaitan itu kayak pipis sambil kayang. Susah! Rata-rata bangunannya adalah toko pinggir jalan. Mendadak terbayang kalo gak nemu penginapan, gue dan Dana bakal tidur ngemper di depan toko. Sambil saling berpelukan. Bayanginnya aja udah bikin gue merinding. “Pokoknya harus segera nemuin penginapan!” batin gue.


Jalan sudah berganti nama, gue lupa waktu itu gue masuk ke jalan apa namanya. Kalo gak salah jalan P.M Noor. Jalan dengan kecepatan sedang sambil tolah-toleh nyari penginapan. Hasilnya sama, nihil! Gue pun menepi ke pinggir jalan dan segera buka google, lalu segera mengetik kalimat “hotel mesum samarinda” oke, becanda. Gue ketik keyword “penginapan murah samarinda” di kolom pencarian. Setelah hasil pencariannya muncul, gue buka satu link dan bener aja, daftar hotel dan penginapan murah terpampang, lengkap dengan alamat dan harganya. Harganya rata-rata cuma Rp 100.000/malam. 

Kampretnya: KITA GAK TAU ALAMATNYA ITU DI MANA.
Dari berbagai nama jalan, kita gak tau mana yang paling dekat dengan posisi kami sekarang. Gue scroll dari atas ke bawah, berharap ada hotel yang nama jalannya tadi kita lewati. Gue kira hasilnya nihil, ternyata ada satu hotel di jalan lambung mangkurat. Jalan itu seingat gue deket sama warung kopi tempat kita nanya arah menuju Alaya. Dan itu… lumayan jauh dari tempat acara.

Kita masih berusaha mencari penginapan yang jaraknya gak terlalu jauh dari tempat acara. Kita kembali ke daerah SPBU tempat gue isi bensin tadi dan belok ke jalan Ahmad Yani, ada sebuah hotel berlantai 3 berwarna ungu. “Coba ke situ? Tanya rate-nya aja dulu.” Ajak Dana. Karena letaknya gak terlalu jauh dari lokasi acara, kami masuk ke situ. 

Sampai di depan receptionist, kami diberitau dapet fasilitas apa aja. Kasur dua, full AC, kamar mandi dalam, dapet sarapan. Udah. Gue pikir bakal dapet hadiah umroh gratis, ternyata gak ada. Gue kecewa. “Yak, ini rate-nya, mas.” Si mas receptionist membalik sebuah plang yang ada di atas mejanya.

“Wanjir… harganya sama kayak beli gundam yang real grade.” Kata gue dalam hati.

“Okedeh, Mas. Kita ambil.” Kata Dana.

“….”

Sebenernya gue gak mau nginap di hotel ini karena menurut gue termasuk mahal. Tapi cuma hotel ini yang lokasinya cukup dekat, gue juga udah capek naik motor non stop dari Balikpapan, udah pukul 5 sore, kita berdua bener-bener kudu istirahat, mandi dan bersiap pergi lagi.

Sampai di kamar yang letaknya paling pojok dan lantai 3, Dana langsung mandi. Gue hempaskan badan gue ke kasur kayak sugar glider yang lagi terbang. Hasil gerakan ini adalah gue langsung tengkurap di kasur. Capek. Gue cek hape ada BBM dari Fita yang nanyain posisi gue di mana.

Dia: Dimana car?
Gue: Di hatimu :3


Udah bales sok imut gitu, BBM gue cuma centang, tandanya dia udah matiin hapenya. Atau tau gue bakal balas gitu, jadinya dia segera jual hapenya.

Pukul 6 sore gue mandi dan sumpah, seger banget rasanya. Capek di badan terasa hilang saat air mulai membasahi kepala. Oke, cukup sampai di sini aja penjelasan gue mandinya, gak perlu sampe adegan sabunan. 20 menit kemudian gue selesai dan segera berpakaian rapi.

“Jam berapa otw?” Tanya Dana sambil tiduran.
“jam 6.45 aja.”
“Okey, sempet lah tidur sejam dulu.”
“INI UDAH MAU JAM SETENGAH 7, BANGKE!”

*****
-Buddhist Center-

Pukul 7 kurang kami sampai di tempat acara, dari luar panggungnya tampak megah. Deretan kursi bagian depan udah terisi. 80% penonton adalah orang tua dari murid yang les di tempat lesnya itu. Bener-bener strategi bisnis yang menarik: tempat les bikin konser tahunan, yang tampil muridnya, orang tuanya pasti nonton anaknya tampil, untuk nonton harus membeli tiket, tempat les kaya raya.

Pukul 7.15 acara konser dimulai. Diawali pertunjukan piano oleh anak-anak kecil yang mungkin masih berumur sekitar 7 tahun. Atau 9 bulan. Pokoknya masih kecil-kecil gitu. Lalu penampilan biola oleh anak-anak SD lainnya juga. Setelah 6 instrumen, muncul deh yang udah tua-tua. Ummm… yang remaja maksud gue.

Satu persatu pemain biola muncul dengan memakai dress putih untuk cewek dan jas hitam untuk cowok, kemudian mereka duduk di kursinya. Gue perhatiin satu-satu, mencari Fita.

“Nyet, itu Fita!” kata Dana.
“Mana?”
“Itu pas arah jam 12-mu!”
“Eh iya, itu dia.”

Pacar macam apa gue ini gak kenalin pacarnya sendiri.

Setelahnya gue fokus untuk nonton. Bagi gue dan Dana, ini pertama kalinya kita nonton konser musik klasik. Biasanya kami nonton gigs band metal. Lebih dari 12 aransemen dimainin oleh Fita dan kelompoknya. Gue cuma bisa diem nyaksiin Fita mainin biolanya. Dana berusaha mencari celah untuk moshing. Sayangnya gagal.

“Keren pacarmu, nyet.” Kata Dana. Gue cengengesan. “Pake pelet apa kamu kok dia bisa mau sama kamu?”

“Bangke.”

Menjelang 2 lagu terakhir, tiba-tiba Fita berubah posisi, yang tadinya main biola, kini jadi main piano. “Dia bisa main piano juga?” Tanya Dana heran.

“Yoi.”

“Si anying… bener-bener keren pacarmu, nyet.”

Gue kembali cengengesan. Bangga punya pacar yang punya kelebihan di bidang tertentu. Seenggaknya kalo dipamerin ke temen, gak cuma pamerin parasnya doang, tapi juga kelebihannya. Ehe. *cengengesan*

Pukul 10 malam konser pun selesai. Banyak yang maju ke depan panggung buat foto-foto. Kaum ini didominasi oleh orang tua murid yang mau foto anaknya. Gue ikutan ke depan, nyari dedek-dedek gemes. Ehm, maksud gue Fita. 
Tangannya, om! yang di belakang mau motret juga!
Ternyata dia sibuk foto bareng yang lain. Gue tunggu dia di tangga deket panggung. Beberapa menit kemudian dia turun. Gue lambaikan tangan biar dia liat gue karena dia… rabun kalo gak pake kacamata. Dia senyum, menuruni tangga dengan hati-hati sambil menenteng biolanya di tangan kirinya. Dia cantik banget malam itu dengan dress putihnya, ujung rambutnya yang biasanya lurus kini dibuat keriting, bawaannya pengin gue unyel-unyel rambutnya. 
Gue datangin dia, “Keren,” kata gue. 
Dia nunduk, malu. “Makasih ya…”
 
gak usah di-cieeee-in!
Pukul setengah 11 malam hampir semua penonton udah pulang. Gue dan Dana masih di dalam. Rencananya mau ngajak makan malam bareng, nyatanya gak bisa. Gue lupa kostnya Fita nerapin aturan jam pulang. Gak boleh di atas jam setengah 11.

“Kalian nginap, kan? Besok pagi aja kalian jalan, gimana? Tadi kita ijin ke bu kost paling lama jam 11 pulangnya.” Kata Nella, temen sekostnya Fita yang juga ngisi acara malam itu.

“Iya kalo dia bangun pagi.” Kata gue pesimis, gue hapal kelakuannya Fita yang susah bangun pagi, apa lagi besok hari minggu, ditambah kecapean habis nampil, lebih enak tidur.

Si Fita nunduk malu, aibnya kebongkar.

“Ntar aku bangunin dia.” Balas Nella. “Kalian nginap di mana sih?”

Gue pun ngasih tau di mana gue nginap, sekalian minta kasitau di mana tempat makan yang murah. Gue bener-bener gak ada makan dari siang sampai malam. Penghematan. :’)

“Sekitaran hotelmu itu banyak kok jual makanan. Murah!”

“Okedeh. Kita cari makan dulu.” Gue balik badan. “Bangun pagi ya besok!”

“Iyaaaaa…” kata Fita.

-CARI MAKAN-
Berbekal info dari Nella, gue dan Dana langsung menuju arah hotel dan mencari tempat makan.

“Mau makan apa?” Dana tolah-toleh, “Nasi goreng?”
“Sembarang, yang penting perut keisi.”
“Eh ayam penyet kayaknya enak tuh…”
“Jadi makan apa, nih?”
“Ayam penyet aja.”
“Oke.”
“Eh sate aja yok!”

Ternyata ngajak makan cowok sama ribetnya kayak ngajak makan cewek. Jika cewek selalu menjawab dengan "sembarang aja" maka cowok akan menjawab dengan labil. Kami akhirnya mutusin buat makan sate. Selama makan, kita bahas soal konser tadi.

“Tadi ada pemain biola masih kelas 1 SMA tapi udah main biola 8 tahun. Kamu 8 tahun yang lalu ngapain aja, nyet?” Dana membuka obrolan.

“8 tahun yang lalu?” Gue berusaha menerawang masa lalu. “Umurku sekarang 20 tahun, 8 tahun yang lalu umurku berarti 12, itu aku kelas 1 SMP dan aku… belajar karate. Kamu, nyet?”

“Kalo aku 8 tahun yang lalu… pertama kali nonton bokep.”

Pembicaraan tidak gue lanjutkan.

Sate pesanan kita datang. 1 porsi isinya lontong sepiring dan 10 tusuk sate. Setelah makan, gue menuju motor, Dana yang bayar. Untuk urus-urusan bayar selama di perjalanan kita emang saling bayarin, ntar pas di Balikpapan tinggal hitung total pengeluaran, baru bagi dua.

Kami segera menuju hotel. Gue tancap gas dengan kecepatan 60 km/jam. Gue udah kangen meluk kasur. Dana diem aja selama gue bonceng. Gue curiga dia nahan boker.

“Ntar kalo ke Samarinda lagi jangan makan di situ lagi.” Kata Dana pelan.

“Ke…kenapa? Enak aja kok tadi.” Kata gue.

“Enak sih enak, tapi…”

“Ta… tapi, apa?” Gue jadi mikir yang enggak-enggak. Gue kepikiran acara reportase investigasi, jangan-jangan sate yang Dana makan bukan daging ayam, tapi daging tringgiling.

“1 porsi masa 40 rebu!”

“BAJIGUR… MAU NAIK HAJI KAYAKNYA ITU TUKANG SATE!”


“Nih makanya sate sisa tadi kubawa ke hotel. Sayang beli mahal-mahal gak dihabisin!”

Gue mendadak pengin ke kost-nya Nella buat nabok dia karena memberikan informasi palsu. Kata-kata Nella masih membekas di ingatan gue, “Sekitaran hotelmu itu banyak kok jual makanan. Murah!”

Pas bagian “murah”-nya menggema di kepala gue. Murah… murah… murah… muraaaaaahhh~

MURAH DARI HONGKONG!

Karena terlalu lelah untuk ke kost Nella, gue langsung pulang menuju hotel. Bersyukurlah kau, Nell, gak jadi gue tabok malam itu. 15 menit kemudian kami sampai di hotel, gue langsung loncat ke kasur. Kali ini pake gaya bajing loncat. Lepas sepatu di kasur, lepas baju di kasur, pokoknya semua serba gue lakuin di kasur saking capeknya. Bahkan cuci muka gue lakuin di kasur! Gue aktifin hape karena di Buddhist center gak ada sinyal, ada chat dari Fita yang ngucapin terima kasih udah datang nonton. Dia juga nanya mau ke mana besok pagi.

Dia: “Besok kamu pulang ke Balikpapan jam berapa car?”
Gue: “Jam 10an kayaknya deh…”
Dia: “Berarti jam berapa kita ketemuan?”
Gue: “Lebih cepat lebih baik. Pagi, jam 8an :p”
Dia: “Mau ke mana emang?”
Gue: “paling deket sih Alaya kan? Atau cari sarapan aja baru pulang.”
Dia: “okey… bangunin ya car. Takut gak bisa bangun pagi :’)”


Setelah saling ngucapin good nite, gue set alarm pagi biar bisa bangunin Fita juga. Gue mau tidur cepet. Sementara Dana menyetel TV, kebetulan tim favoritnya, Juventus lagi tanding. Malam itu, gue tutup dengan doa, semoga besok pagi gak hujan. Karena kalo hujan, Samarinda pasti banjir. Ibu kota emang identik dengan banjir, ya?

Pukul setengah 7 gue bangun dan segera lari menuju jendela, menyibak gordennya dan Tuhan mengabulkan doa gue. Cuaca cerah! Gue segera nelpon Fita buat bangunin dia. Panggilan pertama langsung diangkat, suaranya terdengar males, khas orang yang nyawanya belum terkumpul semua. Sampai gue yakin dia bener-bener udah bangun dan menuju kamar mandi, gue matiin telponnya.

Gue bangunin Dana juga. Jika bangunin pacar gue lakuin dengan cara menelpon, maka khusus untuk Dana, gue bangunin dengan cara tendang-sampai-jatuh-dari-kasur. Setelah Dana bangun dan nyawanya terkumpul semua, kita berdua segera menuju ke bawah untuk sarapan. Sampai di bawah, sarapannya belum siap. Dana menatap gue dengan pandangan membunuh. Kesel dibangunin pagi padahal gak ada apa-apa. Kami naik lagi ke lantai 3. Kampret.

Karena perut udah keroncongan, kami makan sate sisa tadi malam. Kami makan dengan pelan, tiap gigitan kami nikmati perlahan. Begitulah efek makan setelah tau harganya di luar perkiraan. Tiba-tiba keinginan untuk menabok Nella timbul lagi.

Pukul 7.15 kami turun lagi ke bawah buat sarapan. Kali ini sarapannya udah siap. Gue cuma ambil roti dan sereal. Ntar kan makan juga sama Fita, pikir gue. Selesai makan, kami naik lagi ke atas, Dana segera mandi, gue sendiri asik nonton TV sambil chat sama pacar. Mastiin dia gak ketiduran di kamar mandi.

Pukul setengah 9 Fita baru pergi dari kostnya. Padahal tadi katanya mandi jam 7. Mandinya satu setengah jam?! Cewek emang gitu, lama banget mandinya. Sampai sekarang gue masih gak ngerti ngapain sih cewek lama-lama di kamar mandi? Mandinya sambil ngitung berapa jumlah bulu pada sikat wc? sambil ngitung berapa volume air dalam baknya?

Daripada pusing mikirin hal gak penting kayak gitu, gue pun segera mandi juga. Tentunya setelah Dana keluar dari dalam kamar mandi.

Pukul 9 Fita gak ada kabar, gue takut dia nyasar karena pengetahuannya soal jalan Samarinda bener-bener payah. Hampir 3 tahun tinggal di Samarinda tapi dia gak tau jalan. Akhirnya dia ngabarin kalo udah di parkiran. Gue dan Dana segera check out dari hotel dan nyusulin Fita ke parkiran.

Karena sepagi ini belum ada cafĂ© yang buka, mall pun pasti masih baru buka, kita mutusin buat cari sarapan di warung. Penghematan. :’)

Sebagai anak kost sejati Fita tau tempat makan yang murah, dia ngajak sarapan di daerah yang kalo gak salah namanya Pramuka. Sayangnya lebih banyak warung yang tutup karena hari minggu. Bilangnya anak kost sejati tapi ini kok gagal nemu warung, hah?!

Ke luar dari kawasan pramuka, kami menuju perkotaan. Banyak mall. Apakah harus makan di mall? Apa kabar penghematan? Karena faktor perut orang Indonesia yang kalo belum makan nasi itu sama aja belum makan, roti dan sereal yang gue makan di hotel sudah tidak mampu menahan lapar lagi. Kami masuk ke Mall lembuswana dan ke… KFC.

-KFC -
“Makan sini bawa pulang?” kata mbak pelayan KFC.
“Makan sini, mbak.” Jawab Dana.
“Untuk makan bertiga kami ada paket dengan bonus CD.”
“Ummm… boleh. Ini ayamnya bebas mau apa aja?”
“Bebas.”
“Saya pesan dada. Kamu apa, nyet? Fita apa?”
“Dada!” jawab gue tegas. “Yang sebelah kiri! Lebih gede!”

Gue dikeplak Fita, bikin malu.

“CD-nya mau yang mana?” lanjut si mbak kfc, berusaha mengabaikan permintaan gue tadi.
“Uhhh… CD-nya yang berenda-renda, mbak.” Jawab gue.

Kali ini Fita pura-pura gak kenal sama gue. Mbak-mbak KFC pasti merasa ini adalah hari sialnya nemu pembeli kayak gue.

Setelah pesanan datang, kami bertiga naik ke lantai 2 dan mulai makan sambil ngobrol. Bahas konser soal tadi malam lagi. Untungnya topik “8 tahun yang lalu ngapain aja” udah dibahas tadi malam. Fita mulai cerita awal mula belajar biola. Jadi, kisah ini bermula ketika Fita SMP dan nonton anime La Corda D’oro, dia jadi tertarik belajar biola. Gue jadi ingat saat gue SMP, stasiun tv Animex lagi jaya-jayanya, gue sendiri pas SMP suka nonton anime… sergeant keroro. Sejak nonton Keroro gue juga jadi tertarik untuk menginvasi bumi.
 
inspirasi bisa datang dari mana aja, termasuk dari anime.
“Gara-gara film itu aku jadi tertarik biola, lalu pas ulang tahun dibelikan papaku biola padahal belum bisa main. Jadi buat gaya-gayaan aja.” Fita lanjutin ceritanya. “Terus pas SMK mulai belajar otodidak.”

“Terus bisa sampai nampil di mana-mana itu cuma otodidak?” Dana penasaran.

“Pas mulai kuliah, ada ekskul biola. Ya sudah ikut aja, lalu pelatihnya itu punya tempat les. Aku dikasih beasiswa buat belajar di sana. Sempet jadi pengajar juga di sana. Baru karena sibuk kuliah, ya aku berenti dari sana, ikut yang di kampus aja.”

Denger cerita dari Fita bikin gue makin bangga sama dia.
 
Dana-Fita-Gue
Semoga Dana gak liat foto hasil crop-an ini.
“Oh, iya. Nella mana?” Tanya gue. “Tadi dia bangunin kamu?”

“Apaan, Nellanya aja masih molor pas aku pergi.” Jawab Fita.

Gue jadi bener-bener pengin gebok Nella beneran. Udah ngasih informasi palsu soal tempat makan, gak bangunin Fita juga. Untung gue bangun pagi. Hih!

Pukul 11 kita selesai makan dan ngobrol, gue dan Dana udah musti balik pulang ke Balikpapan. Gue bonceng Fita buat nunjukin jalan pulang, Dana ngesot naik motornya Fita. Gue jalan dengan kecepatan sedang, melewati banyak gang-gang kecil buat motong jalan, akhirnya kami sampai di sekitar jalan pelabuhan Samarinda. Tinggal lurus aja sampai deh jembatan sungai Mahakam dan ninggalin Samarinda.

Kami berhenti di sebuah pos pelabuhan kapal feri untuk bertukar motor. Selayaknya pasangan yang bakal pergi dan gak tau kapan bisa ketemu lagi, gue genggam erat tangannya Fita, dia juga begitu. Gue tatap dia, sambil senyum. Mata kami bertemu, bibirnya mulai tersenyum juga, “Hati-hati di jalan. Jangan ngebut.” Katanya.

“Iyaaaa…” jawab gue sok tegar. Gue masih pengin lama-lama bareng dia. Tapi cuma itu yang bisa gue ucapin. Gue gak mau ngucapin kalimat perpisahan karena gue yakin, kita pasti ketemu lagi. Ntah kapan. Biarlah semesta bekerja.

Dana pun naik ke jok belakang, pertanda kami harus pergi. Gue menyalakan mesin motor, menutup kaca helm, menatapnya untuk terakhir kali sebelum menuju Balikpapan.

“Dadaaaah… sampai ketemu lagi. Ajarin aku biola kalo pulang ke Balikpapan.” Kata Dana.

Gue pun mulai menggeber si Fixie. Meninggalkan Samarinda dan Fita, dengan senyum bahagia. "What a day..." batin gue.


Bonus:


Tangan belang karena kepanasan PP Samarinda-Balikpapan pukul 11 siang. Lain kali ingatin gue buat pake sunblock. Eh, sarung tangan!

17 comments

hasek selese juga ceritanya. haha kasian bat lu yog di kibulin sama Nella :v nyesek tjoy sate seporsi 40rebu..

Reply

Emang sih cewek jago musik itu keren. Kamu pake pelet apasih yog ?? :))

Reply

Hahaha ngakak abis pas baca!!
http://jevontar.co.vu

Reply

Lho perasaan gue udah komen deh. Itu berarti miris juga ya, ujungnya tetep ketemu cuman sebentar. Yabegitulah cara LDR bekerja. Btw, itu tangan lo jadi parah banget. Sepanas itukah Samarinda-Balikpapan?

Reply

hehe iya akhirnya selesai juga ceritanya :)))

iye, sampe sekarang gue masih emosi sama nella. kampret..

Reply

semua aja suudzon aku pake pelet! :<

Reply

#KemudianPromosiLinkBlog #huft

Reply

ya gitulah... yang penting gue nonton dia tampil :D

errr.. iya, gue ke samarinda kan pukul 10.30, pas balik ke balikpapan jam segitu juga, gosong tangan gue :|

Reply

serem ceritanya,jadi takut

Reply

Pakai pelet. ..pasti.

Reply

Cantik x cewek lu pas lagi konser bang beda banget sama yg aslinya.

Reply

cieeeeee..........cmiw..cmiw

Reply

Post a Comment

Terima kasih sudah meluangkan waktu kalian untuk membaca postingan gue. Gak perlu ninggalin link blog untuk dapet feedback, karena dari komentar kalian pasti dapet feedback yang sepadan kok.

Terima kasih!